Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Kritik Muhammad al-Ghazali terhadap literalisme dan antirasionalisme

PADA 1989, ulama Salafi yang berpengaruh dan produktif, Muhammad al-Ghazali (w. 1996) melakukan sesuatu yang tak terpikirkan: dia menulis serangkaian kritik tajam terhadap pengaruh Wahhabi atas keyakinan Salafi. Al-Ghazali merasa galau. Dia semakin kesal atas antirasionalisme dan ketakbermoralan mereka yang mengaku sebagai kaum Salafi, dan kaum puritan pada umumnya.

Meskipun sadar akan pengaruh Wahhabi pada Islam kontemporer, al-Ghazali tidak berani mengkritik Wahhabi secara eksplisit atau langsung. Sebaliknya, dia menyebut mereka sebagai Ahl al-Hadits era modern, dan dia benar-benar mengkritisi apa yang dia sebut sebagai literalisme, antirasionalisme, dan pendekatan mereka atas teks-teks Islam yang antiinterpretasi.

Ahl al-Hadits adalah ungkapan halus yang merujuk pada gerakan literalis dalam sejarah Islam yang mengklaim sungguh-sungguh mengikuti tradisi Nabi Muhammad saw, dan juga menggunakan penafsiran dan nalar, tanpa pengaruh “yang merusak”. Ahl al-Hadits menyibukkan diri mereka dengan menghimpun, mendokumentasi, dan meriwayatkan hadis-hadis yang dinisbahkan pada Nabi dan para Sahabat, dan mengklaim bahwa mereka menyandarkan penilaian hukum mereka pada hadis-hadis ini, tanpa tercampuri oleh subjektivitas manusia.

Pada abad ke-4 H./ke-10 M., terdapat keserupaan yang kuat antara pengikut Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H./855 M.), pendiri mazhab Hanbali, dan Ahl al-Hadits–walaupun Ahl al-Hadits menyatakan tidak mengikuti mazhab mapan mana pun dan hanya menjadi pengikut kebenaran.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Tentang “Puisi Paskah” itu
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Keserupaan ini sangat rekat seringkali, sehingga pada satu periode waktu tertentu, istilah Ahl al-Hadits merujuk pada para sarjana Hanbali yang literalis dan suka menerjemahkan hukum secara kaku. Yang terpenting, dalam tradisi yurisprudensi, Ahl al-Hadits merepresentasikan pikiran tertutup, konservatisme dan kebodohan.

Bagi al-Ghazali, pada zaman dan eranya, pendekatan kaum Salafi terhadap teks-teks Islam betul-betul mengingatkannya pada literalisme Ahl al-Hadits pada periode pramodern, yang suka mewicarakan hal-hal detail menyangkut aturan tertentu dan menentang setiap orientasi rasionalis di dalam Islam.

Dengan menggunakan istilah Ahl al-Hadits untuk mendeskripsikan kaum Wahhabi, al-Ghazali juga sedang menyentil kontroversi historis lama antara apa yang disebut sebagai kalangan “ahli farmasi” dan kalangan “dokter” Islam. Menurut sejumlah sarjana klasik, mereka yang menghimpun dan meneruskan hadis, Ahl al-Hadits, ibarat ahli obat yang membuat dan memelihara bahan kimia, namun tidak tahu bagaimana cara mendiagnosis suatu penyakit atau menentukan obat yang tepat.

Sementara itu, para ahli hukum lebih mirip dengan dokter, yang menggunakan bahan yang disuplai oleh ahli farmasi, tetapi juga memanfaatkan pengetahuan dan penguasaan yang lebih baik untuk memberi pengobatan atas suatu penyakit tertentu.

Demikian pula, al-Ghazali yakin bahwa Ahl al-Hadits era modern, yang juga dia sebut sebagai kaum tradisionis, tahu bagaimana menghimpun dan menghafal hadis, namun tak tahu bagaimana mengolah bahan-bahan sumber itu dengan metodologi hukum, demi menghasilkan yurisprudensi.

Baca juga:  Nasionalisme Islam Nusantara

Para tradisionis (yakni, ahli farmasi) tidak mengerti bagaimana mengaplikasikan metode-metode hukum pada bahan-bahan mentah itu, bagaimana menyeimbangkan antara bukti yang saling bersaing dan bertentangan, bagaimana menimbang tujuan-tujuan hukum di hadapan alat atau sarana, bagaimana menilai kepentingan pribadi di hadapan kepentingan publik, bagaimana menganalisis ketegangan antara aturan-aturan tertentu dan prinsip hukum tertentu, bagaimana menyeimbangkan antara penghargaan atas preseden dan tuntutan akan perubahan, bagaimana memafhumi alasan-alasan di balik perbedaan pendapat, dan bagaimana mengkaji banyak kepelikan yang menyertai proses penetapan suatu putusan hukum.

Al-Ghazali berpendapat bahwa kalangan tradisionis tidak terdidik dalam bidang teori hukum atau seluk-beluk metodologi hukum, dan oleh karena itu, tidak memenuhi syarat untuk mengeluarkan putusan hukum. Kenyataannya, menurut al-Ghazali, ketika para tradisionis ini melangkahi yurisprudensi dan berupaya mempraktikkan hukum, mereka pada akhirnya bertindak sebagai pelempar hadis–yakni, melemparkan hadis-hadis kepada lawan-lawan mereka untuk mengalahkannya.

Akhirnya, al-Ghazali menuduh kaum Wahhabi sebagai tak lebih dari para pelempar hadis-hadis Nabi. Para pelempar hadis, karena kebodohan mereka akan teori dan metodologi yurisprudensi, memperlakukan hukum dengan gaya oportunistik dan tak keruan.

Mereka melacak ribuan pernyataan dan ucapan yang dinisbahkan pada Nabi, demi menemukan apa pun yang bisa mereka gunakan untuk mendukung sikap yang sudah terbentuk dan ditentukan sebelumnya. Dalam kenyataannya, mereka memanfaatkan hadis-hadis yang diriwayatkan mengenai Nabi dengan cara semena-mena dan semaunya, guna mengafirmasi pandangan apa pun yang ingin mereka dukung. [su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Buku, Manuskrip, Unta
Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Akibatnya, sikap tradisionis (atau pelempar hadis) ini sering berujung pada merancukan kebiasaan serta preferensi kultural mereka dengan hukum Islam. Mereka suka memilih-milih dalam memungut pelbagai bukti yang mendukung bias budaya mereka, dan kemudian mengklaim bahwa praktik budaya itu adalah bentuk hukum Islam yang diperintahkan.

Al-Ghazali menegaskan bahwa lantaran orang-orang ini tidak bertindak sesuai dengan metodologi yang ketat, atau pendekatan yang berpegang pada prinsip tertentu dalam memikirkan Kehendak Tuhan, mereka ujung-ujungnya merusak hukum Islam.

Al-Ghazali tidak hanya menuduh Ahl al-Hadits atau kaum tradisionis–akhirnya, kaum Wahhabi–sebagai kelompok yang merusak hukum Islam. Dia mengecam Ahl al-Hadits modern, atau kaum Wahhabi, karena mereka menghidupkan fanatisme yang mencemarkan citra Islam di dunia.

Al-Ghazali mengingatkan kita bahwa sumber kegagalan umat Muslim berada pada diri mereka sendiri. Dia menandaskan bahwa kegagalan untuk mendemokratisasi, menghargai hak asasi, memodernisasi, dan membela reputasi Islam di dunia bukanlah produk dari konspirasi jagat yang membenci Islam. Menurutnya, jika umat Islam menyalahkan orang lain atas kegagalan yang mereka alami, ini bertentangan dengan etika Islam; umat Muslim harus melihat ke dalam diri mereka sendiri.[]

pelemparhadist - Para Pelempar Hadis

Mohamad “Zuk” Marzuki

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi