Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Mengulas karya Carlos Maria Dominguez

Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku (Carlos Maria Dominguez, Rumah Kertas).

Bagaimana jika kita menemukan buku aneh yang membawa menuju pengelanaan dan menemui orang-orang dengan koleksi buku  yang hebat? Menyusuri sampai ke seberang samudera? Yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kisah itu tertuang indah dalam novelet karya Carlos Maria Dominguez, berjudul Rumah Kertas. Novelet setebal 76 halaman ini, di tiap halamannya menyajikan kisah yang menggoda sidang pembaca untuk terus membaca dan tanpa rehat.

Alkisah, suatu hari, Bluma Lenon, seorang dosen sastra Amerika Latin di Universitas Cambridge meninggal dunia akibat tertabrak mobil, ketika berjalan sambil membaca Poems karya Emile Dickinson. Buku memang mampu merubah takdir seseorang. Ada yang membaca Siddharta-nya Hesse dan akhirnya gandrung terhadap kebatinan, ada pula yang menuntaskan Hemingway dan akhirnya kecanduan olahraga, serta ada ribuan perempuan muda yang kian rumit hidupnya, gara-gara membaca karya Dumas.

Dan Bluma termasuk “korban” itu, tapi dia bukan satu-satunya!

Leonard Wood, seorang profesor tua pengajar bahasa-bahasa kuno, lumpuh setelah Encyclopaedia Britannica jatuh dan menimpa kepalanya. Seorang lagi bernama Richard mengalami patah kaki pasca terpelanting, karena gagal mengambil Absalom Absalom! karya William Faulkner yang menyempil di atas rak.

Bluma kemudian dimakamkan di Cambridge. Cukup banyak yang hadir dalam pemakaman itu. Profesor Richard Laurel pun memberikan pidato perpisahan yang memukau, sampai tiba pada penghujung pidato perpisahan itu, dia mengatakan bahwa Bluma mengabdikan hidupnya pada  kesusastraan dan tanpa pernah diduga sastra pula yang merenggutnya. Pidato itu di kemudian hari langsung menjadikan orang-orang bersepakat dan menolak pernyataan Laurel itu. Bluma tidak mati gara-gara puisi, tapi karena mobil, atau sebaliknya.

Si tokoh “aku”, yang kemudian menggantikan posisi Bluma, memilih untuk tidak masuk dalam perdebatan yang tidak mengesankan itu. Hingga di suatu pagi, “aku” mendapatkan paket kiriman–yang sebenarnya untuk mendiang Bluma–berprangko Uruguay. Paket itu tanpa alamat pengirim, dan ternyata isinya adalah buku.

Baca juga:  Hidup Hanya Menunda Ngopi di Surga

rimbawana -  Para Pencandu Buku

Buku itu berjudul La linea de sombra terjemahan dari bahasa Spanyol, The Shadow-Line karya Joseph Conrad. Namun buku itu kotor, terdapat banyak remahan semen, dan juga kerikil. Dia pun bingung dengan keadaan buku tersebut. Tidak ada keterangan apa pun di dalamnya, selain sebuah tulisan tangan persembahan dari Bluma, yang kira-kira berbunyi seperti ini: “Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi  mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu. Maaf, kalau aku bertingkah sedikit mirip penujum buatmu dan sudah kubilang sedari awal: kau takkan pernah melakukan apa pun yang mengejutkanku. 8 Juli 1994.” (Dominguez, 2016: 5).

Seminggu kemudian, apa yang dilakukan “aku” ialah mencari dokumentasi konferensi Monterrey, acara yang pernah diikuti oleh Bluma. Di sana dia tidak menemukan seorang bernama “Carlos”, sedangkan balasan surat elektronik (surel) pertama dari pihak penyelenggara tak banyak membantu.  Namun seorang penulis Uruguay yang juga bertindak sebagai pembicara di konferensi itu, memberitahunya, bahwa ada seorang bernama Carlos Brauer, seorang bibliofil dari negaranya.

Tak dinyana, pertemuan dengan nama Carlos Brauer itu membawanya pada cerita yang mengesankan. Selama libur musim panas, “aku” terbang menuju Buenos Aires, kota kelahirannya, dan kemudian berlayar menuju Montevideo, Uruguay, sambil membawa buku yang penuh dengan remahan semen itu.

Di Montevideo, dia bertemu dengan Jorge Dinarli, seorang pemilik toko buku lawas. Dari Dinarli pulalah dia dapatkan nama Agustin Delgado, sahabat Carlos Brauer. Dinarli menyatakan bahwa Carlos sudah tak lagi tinggal di tempat sebelumnya, di Rocha, namun dekat La Paloma. Tapi Dinarli tak yakin, bahwa Carlos masih di sana. “Aku” pun disarankan untuk berkorespondensi dengan Delgado.

Dan La linea de sombra membawanya makin jauh.

Hatta, “aku” pun menelpon Delgado, dan Delgado mau menemuinya. Sesampainya di “ruang kerjanya” dia pun takjub. Ruang kerja yang Delgado maksudkan adalah ruang tamu luas yang dipenuhi rak-rak kaca besar di sekujur dinding ,dari lantai sampai ke langit-langit, dipenuhi buku-buku. Pelbagai buku ada di kamar tidur, kamar pembantu, kamar mandi, dan juga dapur.

Baca juga:  Proposal Cinta

Delgado pun mengajak mengobrol. Dari Delgado, dia mendapatkan informasi soal Carlos Brauer, yang lebih mendalam. Setidaknya, begini yang “aku” dapat: Carlos  adalah orang yang melebihi Delgado dalam perbukuan, bukunya amat banyak, mungkin lebih dari duapuluh ribu (bandingkan dengan kepunyaan Delgado berada 20000 angka di bawahnya).

Menurut Delgado, Carlos membubuhkan catatan di antara marjin, dan menggarisbawahi kata-kata yang belum dia pahami, alhasil bukunya penuh dengan coretan. Menurut Delgado, tak perlu sampai memakai cara “kanibal” ini. Bagi Delgado, buku itu harus bersih, apalagi kalau buku tua yang sudah langka. Maka Delgado pun meminta Carlos untuk berhati-hati terhadap buku-bukunya, dan tentu, Carlos tidak mengindahkannya.

Sampai suatu hari, Carlos merasa kesulitan untuk menemukan buku yang dia cari, saking banyaknya dan dia lupa di mana menaruh buku itu. Delgado bilang, dia harus membuat sistem indeks yang sedemikian  rupa, agar Carlos bisa menemukan buku-bukunya. Carlos sebenarnya sudah menyiapakan sistem indeks sedemikan rupa.

Namun di suatu malam yang masygul, Carlos terlalu banyak minum anggur, dan temannya lupa telah menaruh lilin di atas lemari kartu indeks. Dan tahu apa yang terjadi? Carlos terbangun dengan api  yang sudah menjalar  dan asap menyesaki ruangan, tapi untungnya belum  sampai ke rak bukunya. Suatu pukulan yang amat mendalam buat Carlos, dan hal ihwal yang tidak mau dibayangkan oleh bibliofil.

Carlos pun pindah rumah, terang Delgado. Sekarang di dekat La Paloma, di tepi laut. Dia membuat bangunan  dari balok-balok kayu dan beratapkan rumbia. Dan buku-bukunya? Buku-bukunya diangkut oleh truk menuju persinggahanya yang baru. Sesampainya buku-buku itu di La Paloma, dia menyuruh kuli bangunan untuk melakukan perihal yang gila: menyemen tumpukan buku-buku itu dan menjadikannya dinding rumah!

Baca juga:  Buku, Manuskrip, Unta

Sesampainya disana, La Paloma, persinggahan Carlos, “aku” sudah tak lagi mendapati Carlos. Dia hanya mendapati bangunan yang temboknya dari buku-buku, rusak dan ambruk. Ini adalah kegilaan, ambisi seseorang yang tenggelam. Dia pun akhirnya tahu dari mana buku Joseph Conrad itu berasal, dan kenapa penuh dengan remahan semen: dari tembok-tembok buku itu! Dia dapati cerita dari nelayan di La Paloma, suatu ketika Carlos memukuli tembok itu, mencari sesuatu, dan ternyata buku itulah yang dia cari.

“Aku” pun teringat ucapan Delgado, yang pernah berkata saat dia menemuinya: Carlos pun mengungkapkan, ketika berada di Monterreya, dia bertemu dengan perempuan Inggris. Perempuan  Inggris  yang cantik itu–entah dimaknai sebagai kebetulan ataupun tidak–menyatakan bahwa Bluma meninggal dunia, ketika almarhum menginginkan Poems-Emilie Dickinson miliknya.

Arkian, lengkap sudah puzzle dari cerita ini. Carlos tahu bahwa Bluma sedang dalam proses pengerjaan penerjemahan karya Joseph Conrad (“aku” menemukan tulisan Bluma di komputernya sehari setelah kepulangannya, sebuah pesan kepada Carlos), dan Bluma amat perlu menggunakan buku La linea de sombra itu. Sedangkan di London, ternyata Bluma telah mati persis seperti yang dia katakan kepada Carlos selama mereka di Monterrey. Guru Besar itu mampus sesuai dengan keinginan pamungkasnya: bersama Poems.

Rumah Kertas oleh Carlos Maria Dominguez ini bertaburan judul-judul buku, berikut kisah-kisahnya. Walaupun prosa ini berhalaman tipis, memang, seperti yang dibilang oleh New York Times, “menghantui pembacanya jauh sesudah ditutup”. Buku ini juga berhamburan penulis-penulis Latin yang mungkin tidak kita kenal, seperti Joseph Conrad. Akhirnya, yang terpenting dalam karya ini adalah, mendorong seseorang untuk terus mencari buku-buku dan mendarasnya, mengumpulkan, dan tanpa disadari akan ada kisah yang terbangun dari perjalanan mencari buku-buku itu.[]

covercarlos -  Para Pencandu Buku

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi