Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ayo belajar dari Paulo Freire

Bagaimana caranya seseorang menyadari dunia yang sebenarnya? Bagaimana seorang manusia memahami dirinya dan dunia menurut realitas objektif?. Dua pertanyaan umum itu, bagi suatu waktu di masa lampau sangat sulit diterima. Manusia dibentuk berdasarkan pada apa yang dianggap sebagai keumuman bukan pada apa realitas objektif yang seharusnya diketahui. Tak penting bagi sekelompok pekerja perkebunan untuk mengenal dirinya dan dunia objektif, sebab tugas dan fungsinya adalah memenuhi kebutuhan hidup. Begitu suatu cerita di masa lalu.

Pertanyaan lainnya muncul, mengapa sekalipun para pekerja telah mencurahkan (atau mengorbankan?) tenaga, waktu, dan relasi sosial untuk bekerja, tetapi kebutuhan dasariah mereka tak pernah terjamin? Tentu saja sudah sangat jamak kita temukan seorang buruh kesulitan membayar uang sewa tempat tinggal, kesulitan saat anak-anaknya butuh biaya literasi (sekolah, buku, menikmati ruang publik). Mengapa sekalipun tugas dan fungsinya sebagai pekerja ditekuninya berpuluhtahun tak mampu memastikan dirinya berada pada posisi yang terjamin, bahkan biaya pemakaman dirinya sendiri tak pernah dapat diprediksi?. Apakah dunia objektif memang menindas sekelompok manusia?. Apakah kebenaran dunia yang objektif itu pada dasarnya memang hanya mampu menjamin kesejahteraan sekelompok manusia sedangkan yang lainnya tidak?.

Dua alinea di atas memang ditulis untuk mempertimbangkan kembali apakah pendidikan kritis masih relevan bagi kondisi dunia hari ini atau tidak. Kita akan mencoba bertanya seperti Herbert Kohl, “bagaimana seandainya Paulo Freire tak pernah ada”.  Pertanyaan-pertanyaan di atas juga akan membantu kita memahami mengapa seandainya jika di dunia ini tak ada penindasan mengapa pendidikan kritis dibutuhkan?. Bukankah arah emansipasi yang diterima oleh kalangan terdidik selama ini bersandar pada satu narasi besar ini:

“Kesejahteraan setiap manusia itu tergantung pada seberapa besar manusia mencurahkan dirinya dalam kerja yang meningkatkan nilai.”

Logika besar arah emansipasi ini tentu saja keliru, tetapi bagaimana membuktikan bahwa ide ini keliru? Untuk membuktikan bahwa narasi dasar ini keliru berbagai ahli dalam pendidikan kritis mengawali dengan sebuah pertanyaan penting. Bagaimana caranya setiap orang mampu berpikir kritis terhadap “dunia yang terberi” untuk sampai ke “dunia realitas objektif” agar mampu bertolak dari realitas yang ril hingga memperoleh kesempatan emansipatif dalam arti yang utuh? Yakni bahwa seberapa pun keras kerja dicurahkan oleh seseorang, selama posisinya sebagai yang tertindas tidak pernah dipahami maka transformasi selalu gagal, dengan kata lain, kesejahteraan hanya ilusi. “Kita butuh cara baru yang sesuai bagi negara-negara dunia ketiga untuk mengatasi struktur tradisional dan masuk ke dunia modern” kata Paulo Freire, seorang pedagog pendidikan kritis asal Brazil. Freire lahir di Recife, Pernambuco pada tanggal 19 September tahun 1921, dan meninggal di usia 75 tahun pada tanggal 2 Mei tahun 1997 di Sao Paulo.

Baca juga:  Teologi Asy’ariah di Era Kontemporer

Beberapa Konteks Pendidikan Kritis

Secara umum gagasan mengenai pendidikan kritis dibentuk oleh beberapa premis (asumsi dasar). Pertama, sejarah manusia modern hadir dalam relasi yang tak terelakkan lagi bersifat eksploitatif. Zaman modern menjanjikan manusia lepas dari penindasan dengan hadirnya perubahan. Sistem pasar swa-tata dan globalisasi modal memberi janji kepada manusia bahwa dengan kehadirannya, kesejahteraan manusia akan terpenuhi. Tetapi mengapa ada ketimpangan kesejahteraan dalam ruang geografis yang sama?. Janji-janji bahwa masa depan manusia akan lebih baik dengan kehadiran sistem-sistem baru ternyata tak dapat menjamin secara minimal kesejateraan dasariah.

Kedua, proses dehumanisasi merupakan disposisi (daya-sebab) dari relasi korelatif yang timpang. Freire mengembangkan teorinya dari pengalaman bersama komunitas petani desa bahkan juga anak-anak di Brazil dan Chile. Teori Freire dimaksudkan untuk memperlihatkan relasi antara pendidikan dan proses pembentukan manusia menjadi manusia (fully human). Menurut Freire, syarat pendidikan menjadi proses humanisasi dilandasi oleh tiga syarat yakni kritis, dialogis, dan praksis (Roberts, 2000). Oleh karena itu, syarat bagi pendidikan yang emansipatif bagi Freire adalah pendidikan yang memandang bahwa prosesnya tak  bebas nilai, “tak ada pendidikan yang netral”. Pendidikan harus menjadi instrumen yang digunakan untuk memfasilitasi manusia dan realitas objektif. Pendidikan harus memfasilitasi setiap subjek menjadi manusia, dan memotong penindasan lewat transformasi praksis.

Ketiga, manusia memiliki kecenderungan untuk menyerap watak “penindas” di dalam dirinya sebagai konsekuensi dari keadaan kelas tertindas. Hal ini disebut oleh Freire sebagai kontradiksi diri “kelompok tertindas”. Kecenderungan subjek manusia untuk menyerap watak penindas bagi Freire adalah tantangan pertama bagi transfromasi sosial. Nyaris seluruh waktu digunakan Freire untuk menyibak mengapa watak penindas merupakan hal yang keliru bagi manusia, dan mengapa hal ini merupakan salah-satu persoalan laten di dalam proses transformasi sosial. Bagi Freire, membuka kesadaran kelas tertindas atas persoalan-persoalan yang dihadapinya justru seringkali terjenggal oleh watak penindas di dalam kesadaran kelas tertindas. Maka pendidikan kritis adalah sekaligus melakukan pembalikan atau pematahan epistemologis (une coupure epistemoloque) dari kesadaran kelas tertindas. Hanya dengan melakukan hal inilah, emansipasi dalam arti yang sebenarnya dapat dicapai. Maka, pendidikan kritis dalam hal ini tidak hanya sangat berguna bagi kelas tertindas, tetapi juga bagi penindas.

Tiga premis tersebut akan membantu menjelaskan bagaimana proyek-proyek pendidikan kritis Freirean digerakkan. Pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran mengenai posisi subjek di dalam realitas dunia yang terberi, entah menyadari bahwa sang subjek merupakan penindas atau yang ditindas. Pendidikan kritis adalah upaya menaklukkan kontradiksi diri antara penindas dan yang tertindas. Subjek harus mampu mengobjektivikasi penindas, dan menaklukkannya, bukan mengidentifikasikan diri justru dengan penindas.

Baca juga:  Perang Aceh

Kesadaran dalam Pendidikan Kritis

Kata kunci utama dalam pendidikan kritis adalah kesadaran. Menurut Freire, problem utama dari kelompok tertindas bukanlah soal kesadaran terhadap realitas objektif saja, melainkan juga soal kesadaran akan posisi sebagai kelas tertindas. Dalam konteks ini, kita melihat bahwa Freire termasuk yang memberi nafas lain dalam pendidikan emansipatif. “Persoalannya, seringkali kelas tertindas justru mengidentifikasi dirinya dengan penindas daripada sebagai yang tertindas” (Freire, 2005: 48). Di sinilah kunci pertama pendidikan kritis Freire, yakni memisahkan antara “kesadaran” penindas dan “kesadaran” kelas yang tertindas. Mengapa diferensiasi kesadaran ini begitu penting? sebab untuk memastikan penindasan berhenti perlu untuk memberi realitas objektif mengapa kesadaran penindas merupakan hal yang keliru. Bagi Freire, letak tak emansipatif pendidikan konvensional atau tradisional bukan sekedar mereproduksi kesadaran semu, melainkan tak mampu menunjukkan bagaimana menjadi manusia dengan melepaskan diri dari watak penindas.

Pendidikan konvesional dan pendidikan kritis berangkat dari langkah yang berbeda. Pendidikan konvensional sekalipun memuat nilai progresif belum tentu berangkat atau bertolak dari aktivitas dan nilai emansipatif sehingga akan terus mereproduksi penindasan karena tanpa bertolak dari nilai emansipatif. Disposisi penindasan selalu tersedia sekalipun belum teraktualisasi. Sedangkan pendidikan kritis sejak awal, harus bertolak dari aktivitas dan nilai emansipatif yakni dengan menunjukkan diferensiasi kesadaran kelas penindas dan kelas tertindas. Pendidikan kritis dengan demikian sebagaimana kata Freire juga bermaksud “..mengatasi otoritarianisme dan proses alienasi intelektual” (Freire, 2005: 86). Dalam hal ini sebagaimana kita lihat bahwa kurang lebih, ide-ide Marxian mendapatkan tempat yang inheren bagi Freire. Maka kesadaran yang dimaksud oleh Freire bukanlah kesadaran yang lepas dari subjek, melainkan yang melekat pada subjek yang membawanya menuju realitas objektif.

Diferensiasi kesadaran ini juga menjadi kunci mengapa Freire menyatakan bahwa pendidikan konvensional merupakan pendidikan model bank, yakni menjadikan peserta didik sebagai objek input pengetahuan. Seorang guru memiliki tugas untuk memindahkan (to transfer) pengetahuan kepada murid, dan bukan mentransformasi (to transform) proses pembelajaran menjadi proses pembebasan. Pendidikan model bank menurut Freire membentuk subjek yang pasif, sebab mereka diperlakukan sebagai objek. Sedangkan dalam pendidikan kritis, relasi antara guru dan murid dibentuk oleh nilai serta aktivitas emansipatif. hal ini memberi ruang bagi pembentukan subjek yang aktif; subjek yang terbebaskan. Maka tak salah jika Freire melihat pendidikan seharusnya bertindak sebagai praktik pembebasan.

Pendidikan Hari Ini

Ide dasar Freire mengenai diferensiasi kesadaran ini mengingatkan kita bahwa pendidikan hari ini yang menjanjikan demokrasi atau kesetaraan pada kenyataan tidak pernah benar-benar menyentuh persoalan. Pendidikan modern hanya memindahkan kesadaran menindas terhadap kelas yang sebenarnya tertindas. Pendidikan tak pernah melihat bahwa kapitalisme global telah menjadi jalan kekerasan, dan dengan berbagai cara justru mendukungnya. Akhirnya seberapa pun mutakhirnya inovasi pendidikan hari ini, reproduksi kekerasan berlangsung. Sekolah dan universitas berlomba-lomba memamerkan betapa kompetennya lulusan masing-masing lembaga dalam pembagian kerja kapitalistik. Sekolah dan universitas akan dihempaskan oleh pasar jika tak mampu memberikan lulusan yang kompeten dalam mekanisme kerja Pasar Baru. Sehingga problem pendidikan hari ini secara tak langsung juga hanya punya niat mulia agar para peserta didiknya menjadi kelas menenengah yang harus hidup hemat, tak boros, dan berlibur, kemudian mati tenang.

Baca juga:  Generasi Pasca - Televisi

Pendidikan Kritis sebenarnya tengah menjalankan proyek humanisme apresiatif yang bertolak dari nilai dan aktivitas emansipatif. Persis, dalam hal inilah relevansi paradigma pendidikan kritis begitu penting bagi dunia pendidikan di Indonesia. Dibandingkan dengan model Pendidikan Abad 21 yang bersandar pada nalar Pasar Baru, Pendidikan Kritis justru berawal dari pandangan bahwa lembaga pendidikan merupakan komunitas yang terintegrasi secara luas. Sekolah bukan merupakan pabrik, melainkan ruang pertemuan sosial. Setiap pertemuan sosial melibatkan konten komunikasi yang sarat makna. Pendidikan Kritis membebaskan subjek dalam relasi-relasi sosial sebab mengandalkan semacam cara pandang apresiatif. Menjadi manusia berarti pembentukan kapasitas yang mampu memaknai realitas secara mendalam, dan memiliki posisi tertentu atasnya sehingga apresiasi objektif dapat mengemuka. Hal ini terlihat dari bagaimana praktik pendidikan kritis di negara-negara dunia ketiga selalu dilakukan dengan memanfaatkan makna-makna lokal yang telah menjadi pegangan hidup komunitas.

Pendidikan Kritis memulai segalanya dari apresiasi objektif. Kebudayaan, alam, manusia, dan horizon manusia yang hakiki merupakan sarana-sarana penting dalam pendidikan kritis. Oleh karena itu, pendidikan kritis mendapat tempat dalam proyek humanisasi spesifik, dan bukan oleh proyek humanisasi universal. Pendidikan yang pro-Pasar akan bersandar pada humanisasi universal di mana asumsi-asumsinya tentang manusia dibentuk oleh ekonomi moneter dan mencerabutkan diri dari dasar antropologis. Maka jangan heran jika persoalan pendidikan tak pernah selesai, sebab pendidikan menjadi begitu monoton, dan menjadi begitu “fluktuatif” mengikuti inflasi, karena melandaskan diri pada semesta irasional. Pendidikan Kritis justru sebaliknya, akan begitu “hidup” karena mengikuti evolusi manusia, dan begitu dinamis mengikuti realitas fisik yang berkembang serta dialektis.[]

ok - Pendidikan Kita Hari Ini

Rujukan

Freire, Paulo, Pedagogy of The Oppressed, terj. Myra Bergman Ramos, USA: The Continuum International Publishing Group Inc, 2005.

__________, Education for Critical for Critical Consciousness, New York: Continuum, 2005.

Roberts, Peter, Education, Literacy, and Humanization; Exploring the Work of Paulo Freire, USA: Bergin & Garvey, 2000.

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi