Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan untuk Lembaga Pelayanan Publik

Hampir setiap waktu, kita semua mengeluh tentang lembaga-lembaga pelayanan kesehatan publik: tentang perawat rumah sakit yang galak, dokter yang tak beretika. Keluhan ini seharusnya dipahami bukan sebagai fitnah atau itikad buruk, namun dimaknai sebagai betapa pentingnya sebuah lembaga pelayanan kesehatan publik yang bermartabat dan menghargai manusia.

Keluhan menunjukkan bahwa tempat-tempat pelayanan kesehatan publik itu masih bekerja, seberapapun buruknya. Dan, justru itu yang penting: tempat-tempat itu masih bekerja karena masyarakat masih mempercayainya. Sebuah keluhan adalah bentuk lain sebuah optimisme, sebuah keyakinan, bahwa yang buruk masih bisa diperbaki.

Izinkanlah saya bercerita tentang Socrates. Ia seorang filsuf di Athena, Yunani, yang lahir tahun 469 sebelum masehi. Ia seperti lalat yang berputar-putar dan membuat orang gelisah dan kembali mempertanyakan apa yang selama ini dianggap benar.

Baca juga:  Gegeran Mencari Sekolah yang Tetap Menyisakan Ruang Resistensi

Penguasa mulanya membiarkan Socrates, hingga pada suatu titik: ia tak bisa lagi ditoleransi. Seorang penyair, politisi, dan orator bersatu untuk mendakwanya: “Socrates telah merusak generasi muda, karena tidak mengakui dewa-dewa kota.”

Pengadilan mengetok palu. Socrates bersalah. Ia bisa saja mendapat keringanan hukuman, jika mau bertobat dan mengakui kesalahan itu. Namun, Socrates menolak. Di pengujung hari, kita semua tahu, Socrates akhirnya mati setelah diperintahkan menenggak secawan racun cemara.

Kita tentu bukan Socrates. Tapi saya percaya: Socrates dan kita semua sama-sama percaya, bahwa asumsi-asumsi yang mendasari sebuah kebenaran masih bisa dipertanyakan. Socrates mempertanyakan kebenaran tentang para dewa, sama seperti halnya kita yang mempertanyakan ‘apa yang diyakini lembaga-lembaga layanan publik sebagai sebuah prosedur yang benar’.

Baca juga:  Herodotus, Sang Globalis Pertama

Selama bertahun-tahun, dunia kesehatan dan institusi rumah sakit tak ubahnya dewa dalam kehidupan masyarakat modern. Kita datangi mereka, menyerahkan harapan dan doa tentang sebuah kesembuhan. Sebagian besar dari kita akhirnya, syukurlah, tersembuhkan. Namun, sebagian dari kita justru terbunuh harapan di bangsa-bangsal dan kamar-kamar rumah sakit.

Tidak, kita tidak sedang memperdebatkan takdir hidup dan mati yang menjadi milik Tuhan. Kita hanya mempertanyakan, mengapa kita sering mendengar rumah sakit yang membunuh harapan pasien-pasien ini sebelum ajal datang?

Pelayanan yang buruk, dokter yang tak mampu berkomunikasi dengan baik, kesalahan-kesalahan tindakan medis, perlakuan terhadap pasien yang disesuaikan dengan tebal-tipisnya kocek: semuanya mematikan harapan, justru sebelum Tuhan menentukan apakah mereka bakal tetap hidup atau mati.

Baca juga:  Sumpah “Galau” Pemuda

Perlakuan-perlakuan yang mematikan harapan ini tak pernah diadili secara benar. Di negeri ini, keluhan terhadap mereka yang membunuh harapan itulah yang diadili. Seakan-akan keluhan akan merusak kredibilitas institusi dan dunia kesehatan. Kita butuh banyak Socrates untuk menyuarakan ini terus-menerus untuk didengar. Persoalannya: siapa yang mau mengorbankan diri, menjadi martir seperti Socrates, hanya untuk menyuarakan keresahan terus-menerus? []

socrates - Pengadilan Socrates...

Ilustrasi Historead – Pengadilan Socrates…

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi