Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Sepi selalu saja menjejali angin, pula menjajal tetes bening embun malam. Apalagi ketika langit menyibak pekat sepi rambutnya seperti topeng hitam. Seram.

Sepi bukan hal yang pahit maupun getir. Bukan hal yang manis atau  menggembirakan melainkan sebuah rangkaian proses dari pencarian sebuah makna. Bagiku, sepi adalah pria yang selalu membutuhkan kehangatan wanita atau sebaliknya.

“Mas, jangan buat aku kesepian lagi,” ucapmu. Detik-detik terakhir pertemuan kita.

Masygul. Perpisahan ini siratan sepi. Sepi adalah kelambu. Kainnya ditenun dari angin dan benangnya terbuat dari embun. Hingga kenikmatan terasa di ujung ubun-ubun. Erangan demi erangan telah terbang bersama angin bebas. Menerobos kuping-kuping dinding hotel yang cukup menggairahkan tetamu yang datang dan tentu berharap menepis sepi.

“Meskipun aku pergi untuk selamanya. Adik takkan pernah merasa kesepian. Karena adik punya sang penakluk sepi,” jawabku.

Lagi-lagi denting jarum jam yang bertengger mengiringi debaran jantung yang membisiki daun telinga. Malam hendak pulang menuju ambang fajar. Tak terasa sudah berapa jam aku telah menghabiskan waktu bersamanya di kamar hotel.

Kemudian kita membujuk jendela mata. Pelan-pelan aku mengikuti irama denting jarum jam. Jemari tersimpul. Tangan-tangan beku mulai mencair seakan ikan mangsi memainkan jemarinya. Mulut-mulut kami masih bisu. Kata-kata telah bersemadi dalam rongga goa dingin. Hanya kecap daun bibir sesekali terdengar.

***

 Pasir putih bergumul dengan angin liar di tepi pantai Papuma1). Matamu selalu melongoh pada angin bisu. Kusapu pandangan kepada pipimu yang halus serasa mata menatap gelap. Tanpa cahaya. Membelalak. Kucoba berkata sepatah kata untuk mengusir sepi yang kau undang. Malah kau tetap bisu bagai arca. Kucoba memegang tanganmu dan kuremas amat pelan. Justru pandanganmu tetap menjurus ke laut. Mencoba lagi, mengelus sebahu rambutmu. Malah kau masih menggagu.

Ganjil. Padahal, sebelumnya, kau sengaja mengajakku ke sini; Pantai Papuma. Demi melampiaskan terjangan rindu. Sudah berbulan-bulan lamanya tak bersua. Betapa bahagianya diriku. Seperti anak burung yang tersesat berhari-hari dan akhirnya bertemu dengan induknya.

Aku sudah menghormati keputusanmu untuk berkunjung ke pantai Papuma. Meski cukup memberatkan hati. Meski pilihanku Oleng Sibuttong2) sebagai tempat bercengkrama. Tempat yang akan mengulang kembali masa-masa indah dulu. Tempat yang membuat kita seperti anak kecil meski umur kita sudah beranjak kepala empat. Tempat untuk mengemas serpihan cinta-sayang kita yang terdapat dalam kotak pandora.

Aku masih bingung dengan sikapmu. Kau masih saja asyik dengan adegan laut, sedari tadi. Apa mungkin karena cintaku tak sebesar perasaan cinta suamimu!3) Atau yang kulakukan ini merupakan suatu kejahatan terhadap suamimu?

Aku terhanyut dengan bisumu serasa bayang-bayang setia menemani tubuh tuannya. Kusilap dengan matahari yang sudah jenuh melotot. Dan sebentar lagi bersembunyi di punggung gunung.

“Ayo pulang, sayang. Sebentar lagi akan petang.” Tawarku seraya aku memegang lengannya. Menariknya pelan.

Dia langsung terbangun dari lamunannya.

Sepanjang jalan pulang, ia masih membisu sedari tadi. Aku pun diam seribu kata sampai kita berhenti di terminal.

“Terima kasih mas sudah mengajakku jalan-jalan. Aku senang banget dengan jalan-jalannya. Sekali lagi, terima kasih masku sayang.” Ucapnya sebelum naik bus sembari ia memegang tanganku serta sungkem.

Aku langsung terhanyut dalam keniscayaan tiada tara. Bahwa kelak ia akan menjadi permaisuri kendati pun telah memunyai suami. Aku turut mengembangkan pipi, tersenyum. Hingga ia melambaikan tangannya dari balik kaca bus.

Baca juga:  Pak Guru Suhadi, Musala, dan Pohon Beringin

***

Malam. Mata gemintang memicingkan bulan sabit yang tengah menggantung dengan penuh hasrat. Awan-gemawan mulai bergumul dengan bintang-gemintang sampai-sampai menyeretku dalam pangkuan remang-remang—buaian penuh misteri.

Pikiran kusut. Tak tahu apa yang sedang aku pikirkan! Aku termangu dalam bisu malam. Serasa pungguk sedang menunggu rembulan yang tak kunjung tiba. Pasukan angin menyelusup pori-pori diri. Dingin menyelimuti. Tubuh mencoba bergetar seperti angsa sehabis mandi di sungai. Berharap mengusir dingin yang menyerang.

Aku beranjak dari serambi rumah menuju kamar tidur. Menudung tubuh dengan selimut. Tubuh melekuk seperti U. Lalu debaran jantung menyembul dada. Nafas tersengal-sengal. Pikiran kusut pun lenyap dari benak. Yang ada cuma ilusi: adegan syur sepasang manusia berlainan jenis. Tanpa sehelai kain melekat pada tubuh. Huh. Nafas kian megap-megap. Ilusi itu semakin cekat, nyata. Seakan benak mampu mendedah adegan demi adegan. Ada apa ini? Kenapa ilusi kian melamat dalam benak? Apa mungkin dingin sengaja diundang oleh sepi (atas kesendirianku)!

Menit hengkang terganti jam. Tak terasa sudah sejam lebih aku bertarung dengan kondisi dingin yang mencekam. Membuatku tak berdaya menepis ilusi. Aku tak tahan semua ini. Aku ingin mengusirnya. Tapi bagaimana lagi? Aku masih seperti alif atau angka 1.4) Saking jenuh, kuhempaskan kaku tubuhku dari atas ranjang. Keluar rumah untuk mencari wanita malam.

Mobil kulaju dengan kencang. Hasrat ingin cepat sampai tujuan. Di mana wanita-wanita malam sering melempar senyum. Berpose agar mengundang syahwat pria hidung belang, mungkin sepertiku. Menunjukkan lekuk tubuhnya yang ramping maupun yang gembrot.

Mobil kulaju dengan pelan di sepanjang tempat mangkal wanita-wanita malam. Melihat kondisi sekitar. Ya, fase seleksi wanita malam. Siapa yang hendak aku jemput sebagai penawar dingin dan sepi kali ini!

Kuinjak rem tiba-tiba. Mataku menangkap sesuatu yang membakar tubuh.  Menggairahkan. Wanita itu berpakaian cukup sederhana. Rok midi yang tipis, berwarna putih. Terbalut baju kemeja biru muda yang minim. Tampaklah singset tubuhnya. “Cantik nan jelita wanita itu,” gumamku.

Hasratku memilih dia. Kubuka kaca mobil sembari mengajaknya. Wanita itu langsung masuk ke dalam mobil. Tanpa basa-basi. Mataku menangkap sedikit sinyal, isyarat, pada sebagian wanita-wanita malam. Mulai dari mencibir, iri, hingga senyum sebagai tanda salut mendapatkan pelaris. Wanita malam juga ingin hidup layak dan sejahtera.

Tibalah aku pada penghujung perjuanganku—mengusir dingin dan sepi. Kita berdua sudah berada dalam kamar hotel berbintang. Saat seperti inilah yang sering membuat manusia alpa dengan segalanya, mungkin termasuk aku.

Wanita malam itu hanya diam. Mungkin malu atau (jangan-jangan) takut kepadaku. Heran. Baru kali ini, aku bertemu dengan wanita penghibur sepertinya. Berbeda dengan wanita-wanita malam lain—yang pernah direbahi. Yang sering nyerocos dan ganjen. Aku pun linglung dengan hasrat-birahi yang terpendam. Nafas tersengal dan degupan cepat jantung mulai musnah. Segalanya raib. Aku hanya duduk di sampingnya. Tanpa sepatah kata maupun genit. Seperti kumbang kelapa ompong yang tak sanggup lagi mengisap cairan batang pohon.

“Mas silahkan setubuhi aku. Terserah kamu.” Ucapnya sembari menundukkan kepala.

Baca juga:  Bencana Alam Perdana

Aku terharu dengan ucapnya. Ia terlalu polos dan lugu. Kenapa ia harus menjadi wanita malam. Wanita penghibur bagi para lelaki yang memunyai hati kerontang akan nafsu birahi.

Suhu badanku berubah hangat. Normal. Dingin terhempas dari lubang kecil tubuh. Riak gejolak birahi telah sirna. Iba. Sepertinya malaikat-malaikat kudus, mungkin, menyiramiku dengan air surga.

“Ini ongkosmu. Kamu pulang saja. Aku tak ingin melihatmu mangkal lagi.”

Dia hanya mengangguk. “Terima kasih mas. Semoga Tuhan membalasnya. Terima kasih.” Ucapnya pelan.

***

            Entah berapa lama aku hidup sendiri. Aku tak sadar. Heran dengan tubuhku. Semakin lama terasa bau tanah. Kulit  mulai keriput bagai tanah kering kerontang. Sehabis mandi pun seluruh kulit masih terasa kotor. Digaruk atau diusap sedikit kulit sudah tertempel debu putih.

Sempat beberapa malam yang lalu, aku lupa kejadiannya. Aku becermin pada kaca, saat malam temaram. Dan apa yang kulihat sungguh tak masuk akal, mustahil. Wajah tampak peot. Sepasang daun bibir lembek. Bola mata redup. Hidung tak semancung paruh burung pintang. Padahal umurku masih berkepala empat. Ada apa denganku? Apa kena tenung? Atau memang sudah tua!

Tak nyana dengan keadaanku seperti ini. Kalau dinilai dari faktor biologis tentunya umurku masih dibilang cukup muda. Dan mustahil aku berperawakan seperti kakek yang berumur tujuh-puluh. Apalagi aku tak menikah bahkan bisa dikatakan jarang melakukan hubungan badan dengan para wanita. Coba bandingkan dengan kaum padri dan rahib yang selibat. Mereka tampak awet muda. Namun—

Selama ini, mungkin batin dan pikiranku merasa kesepian di rumah ini. Padahal, sepulang kantor, aku selalu meluangkan waktu bagi Sunyi; putriku semata wayang, yang diadopsi dari perempuan muda yang tak bernama. Aku selalu menemaninya dalam mengejakan PR dari sekolahnya. Di akhir pekan, aku selalu mengajaknya pergi ke tempat wisata. Kadang mengajaknya ke toko buku untuk memborong buku cer-gam (cerita bergambar) kesukaannya.

“Ayah, ayo dongeng,” ujar Sunyi dari balik pintu seraya membuka pintu dan berlari ke pangkuanku.

“Ayah, aku mau tidur. Hayo lanjutkan dongeng ‘istana 100 peri bisu.’ Aku makin penasaran.” Tambah Sunyi penuh harap.

Kutatap Sunyi, matanya memancarkan silau cahaya biru agar aku berdongeng kisah itu lagi. Kendati pun kisah yang kudongengkan hanyalah ilusi.            “Baiklah anakku, sayang. Ayah akan memulainya. Mari duduk di samping ayah.” Tawarku dengan bingung. Karena malam itu kotak imajinasiku tertutup rapat sekali hingga aku susah untuk memulai. Lebih-lebih rumit untuk menyambung dongeng itu.

Ia sangat senang sekali. Wajahnya tampak bersinar serasa bulan berhasil mengusir barisan kabut hitam.

“Ayah, ayah. Sebentar. Sunyi mau cerita dulu-an.” Tukas Sunyi.

“Ada apa sayang?” jawabku pelan berharap bisa mengulur-ulur waktu memulai dongeng.

“Tadi siang waktu Sunyi dapat pelajaran IPA, Pak Guru menerangkan tentang cara kerja makhluk hidup dalam melestarikan kehidupannya. Salah satu manusia melestarikan hidupnya dengan pernikahan. Antara pria dan wanita. Sehingga hasil dari pernikahan itu menghasilkan anak. Dan anak itu yang akan melestarikan sejarah keluarganya. Lalu ada teman Sunyi yang bertanya; apa manusia bisa memunyai keturunan tanpa seorang ibu, Pak? Semua teman sekelas langsung melongoh, menjuruskan pandangan, terhadapku. Sembari sebagian teman-teman tertawa geli. Aku sempat kesal. Pak Guru menenangkan suasana kelas yang gaduh. Makanya, Sunyi ingin tahu; siapakah bunda yang melahirkanku, ayah, dan di mana bunda berada sekarang?” Ungkapnya rendah.

Baca juga:  Syekh Imam Tabbri

Aku manggut-manggut. Lidah telah beku. Terjejali perkataan Sunyi.  Yakni ungkapan pilu Sunyi. Kupeluk tubuhnya tepat di muka dada. Seakan Sunyi mampu mendengarkan jeritan hati sepi ini—yang berasak-asak pada jejaruman waktu.

“Sunyi tahu nggak  cerita Yesus?” tanyaku datar.

“Iya. Tahu.”

“Ayo coba ceritakan,” pintaku.

“Yesus lahir dari rahim Bunda Maria. Dia punya Bapa Allah bukan! Jadi lengkap bukan! Ada Bapa Allah, Bunda Maria, dan terciptalah Yesus. Kalau Sunyi cuman punya Ayah bukan!”

“Anak Ayah pintar.” Pujiku dengan tersenyum.

“Begini sayang, bundamu itu ada. Tapi kau tak bisa melihatnya.”

Sunyi terdiam sejenak. Melongo. Ia biarkan tubuhnya merebah ke kasur.

“Lho, kalau begitu sama dengan Yesus dong. Bapa Allah kan nggak bisa dilihat dengan mata telanjang kita.” Potongnya.

Aku hanya tersenyum.

“Sayang, bundamu itu bernama Sepi. Dia tinggal di sini. Di rumah ini. Sunyi tak bisa melihat bunda. Tapi, ayah yakin Sunyi dapat merasakan belaian kasih sayang darinya.” Lirihku meyakinkan Sunyi.

Sunyi menatap kosong pada langit-langit. Kedip matanya cukup cepat.  Sembari ia melenting-lentingkan kepalanya pelan di atas bantal. Sepertinya Sunyi kebingungan dengan perkataanku.

“Pantas saja, setiap Sunyi tidur selalu ada tangan dingin yang memelukku. Sunyi merasa tentram saat tidur. Sunyi bisa pulas.” Tambahnya dengan yakin.

“Kehadiran bundamu itu akan membuat Sunyi tenang dan damai. Ya sudah, sekarang Sunyi tidur. Pejamkan mata, sayang! Kalau bundamu ingin cepat hadir di sisimu! ” Rayuku.

Kemudian kubaringkan tubuhku dengan posisi miring di samping Sunyi.  Seraya mengelus-elus tubuhnya agar kantuk hinggap di jendela matanya supaya nyenyak. Entah sampai kapan aku harus membohongi Sunyi seperti ini. Tentang keberadaan bundanya saja tak tahu. Apalagi namanya hanya asal-asalan.  Sebab aku sendiri tak tahu siapa wanita yang melahirkannya. Aku hanya mengadopsi Sunyi, saat berumur 3 tahun, dari sebuah panti asuhan yang sebentar lagi kolaps. Ironisnya, para kapitalis di negeri ini telah memicingkan mata, enggan untuk menyisihkan hartanya.

Kali pertama, aku membawa Sunyi ke rumah ini sebagai penakluk sepi. Tapi sebaliknya, kehadiran Sunyi di rumah ini justru menisik sepi-sepi yang lain. Karena ia mengidamkan sesosok bunda di sampingnya. Dan semenjak malam itu, setiap Sunyi terlelap, aku selalu menatap wajahnya seakan ada sepi-sepi yang lain di rumah ini.[]

penisiksepi - Penisik Sepi

Ilustrasi Historead

Catatan Kaki
 
  • Sebuah tempat wisata pasir putih, dekat dengan area Watu Ulo, yang terletak di sebelah selatan kota Jember.
  • Tempat wisata kolam renang yang berada di sebelah utara kota Jember, tepatnya di desa Biting Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
  • [Seorang laki-laki berkata: “Yang diinginkan laki-laki dari seorang perempun adalah agar perempuan itu selalu memahaminya.” Perempuan itu lantas berteriak di muka sang lelaki: “Kebutuhan perempuan dari seorang laki-laki adalah untuk dicintai.” (Socrates).] Disadur dari novel terjemahan The Girls of Riyadh (Kisah Email Empat Gadis Yang Menghebohkan Saudi Arabia) karya Rajaa Alsanea, halaman 79, Ufuk Press (2007).
  • Lebih jelasnya, dengarkan lagu dangdut yang sempat popular di era 1990-an, berjudul Angka Satu, yang dikumandangkan oleh penyanyi dangdut  Caca Handika.
Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi