Perang Aceh

Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

26 Maret | Seri Linimasa Aceh Historead

Perang Aceh dijadikan penanda.  Aceh, sebelum dan sesudahnya. Peristiwa itu dikenang dengan heroik sekaligus romantik. Bahkan sampai sekarang. Walau telah berbilang tahun.

Perang ini disebut-sebut mengakibatkan pengeluaran paling besar bagi Kerajaan Belanda. Setidaknya pengeluaran terbesar dalam kurun  eksploitasi mereka di kepulauan nusantara. Perang Aceh juga dianggap tidak benar-benar selesai. Pun sampai kedatangan Jepang pada perang Asia Pasifik di nusantara.

Tidak selesainya perang itu, disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, riwayat yang mengatakan setelah Sultan Aceh ditangkap, tidak pernah ada penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Belanda. Sampai sekarang, cerita itu diwariskan dari generasi ke generasi. Menjadi ingatan sosial.

Fragmen dari kisah itu, dapat dibaca dari beberapa buku sejarah, misalnya dari buku oleh Zentgraf. Ada foto epik yang dimuat di buku Zentgraf itu . Sultan, berdiri bersama Putera Mahkota, dan didampingi oleh para Uleebalang (bangsawan Aceh). Lalu, dihadapannya, ada lukisan besar Ratu Belanda. Pembesar Belanda di Aceh juga berdiri menghadap Sultan. Dari foto itu, jelas terlihat ada upacara penting. Ada yang menafsirkan, itu merupakan upacara penyerahan kedaulatan. Lalu, mulailah narasinya bergerak dari fragmen itu. Sultan, dengan heroik menolak menandatangani surat pernyataan penyerahan kedaulatan itu. Satu cerita menyebutkan, entah benar, Sultan merobek-robek surat pernyataan itu. Baginya, perjuangan melawan invasi Belanda sudah diserahkan kepada rakyat yang dipimpin ulama. Cerita tersebut hidup sampai sekarang.

Baca juga:  Friedman Menjawab Pertanyaan Seorang Kawan

Kedua, peranan ulama dalam perang. Awalnya, Perang Aceh, merupakan konfrontasi antara dua entitas politik, Kerajaan Aceh — yang mempertahankan kedaulatannya, melawan Kerajaan Belanda — yang bermaksud menguasai wilayah itu. Serupa dengan yang terjadi di abad ke-17 sebelumnya, di Selat Malaka, ketika Kerajaan Aceh berperang melawan Portugis. Namun, Perang Aceh berbeda dari sebelumnya, seketika ini berubah menjadi perang Sabil, karena keterlibatan ulama.

Perang pun berlarut-larut.

Ketika para bangsawan Aceh memutuskan berhenti melawan, mereka mengirim surat ke ulama. Meminta untuk menghentikan perlawanan. Ulama menolak. Ada kisah yang lalu menjadi khas untuk menggambarkan polarisasi kalangan bangsawan dan ulama. Sejak di masa kesultanan, uleebalang menjadi bagian  mesin birokrasi kerajaan, tentu berfikir pragmatis. Sedangkan ulama, yang mulai tersingkir perannya, sejak berakhirnya masa Sultanah, ada di kubu ideologis.

Baca juga:  Sejarah Kubah

Perang, bagi kalangan uleebalang, tidak bisa dilihat hitam-putih. Ada masanya perlawanan diberikan. Ada saatnya, perlawanan dihentikan. Namun, tidak bagi ulama. Perang yang dikobarkan itu adalah perkara oposisi binner; hidup-mati, hitam-putih, iman-kafir. Konstruk tersebut kemudian menjadi ingatan sosial; ulama berperang, uleebalang menyerah. Satu pihak menjadi anti Belanda, satu pihak lain menjadi kaki tangan Belanda. Ingatan sosial tersebut terus berlanjut, terutama ketika terjadi revolusi sosial. Revolusi yang kemudian mengakhiri dominasi bangsawan dalam struktur sosial masyarakat Aceh.

Ketiga, apa yang disebut Aceh Pungo (kegilaan Aceh). Aceh Pungo adalah perlawanan sporadis yang dilakukan oleh orang Aceh. Penusukan kepada serdadu Belanda dan aksi berani mati lainnya dilakukan. Dalam perspektif orang Aaceh, hal itu bagian dari Perang Aceh. Namun Belanda akan mengatakan hal berbeda. Bagi mereka, Aceh Pungo itu merupakan bentuk rasa frustasi orang Aceh, atas keadaan yang mereka alami setelah kalah perang.

Perang Aceh kemudian dikonstruk sebagai kisah epik. Para pejuang, wartawan, akademikus, intelektual, pegiat seni dan budayawan menjadikan kisah demi kisah dari perang sebagai penunjuk tentang akan identitas Aceh yang heroik. Bahkan mungkin fanatik dan keras. Perang Aceh lalu diperingati sebagai titik anjak bagaimana cerita mengenai Aceh dibentang.

Baca juga:  Keislaman, Kebangsaan, dan Kebudayaan

Ketika Belanda pergi, kemudian datang lagi ketika Jepang kalah, narasi Perang Aceh menjadi senjata perlawanan sepanjang masa revolusi. Pun juga ketika Darul Islam meledak. Argumen dari kalangan Darul Islam menjadikan Perang Aceh sebagai cara berbicara dengan Pemerintah Pusat. Begitu ketika Aceh Merdeka naik ke panggung politik, juga dimulai dari argumen soal Perang Aceh dan keabsahan posisi Aceh di Indonesia setelah perang itu.

Sampai kini, setiap tanggal 26 maret, dua hari yang lalu, Perang Aceh dibicarakan lagi. Tetapi tidak senyaring dulu. Bisa jadi karena sudah telalu berjarak. Atau, Perang Aceh telah kehilangan daya dobraknya, setelah kekecewaan demi kecewaan menumpuk. Ternyata, di luar hingar bingar narasi perang, ada persoalan yang lebih nyata. Memang, hidup ini ternyata tidak melulu soal romantik.[]

perangaceh - Perang Aceh

Ilustrasi Historead

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi