Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Bagaimana kau bisa mencintai istrimu? Atau mungkin tepatnya, mengapa kau mencintai istrimu?

Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana cinta itu tumbuh. Aku pernah bertanya pada sejumlah perempuan, bagaimana mereka tahu jika rasa suka itu adalah cinta. Tak ada yang bisa menjawab dengan tepat. Tak ada yang bisa memastikan bahwa pasangan hidup kita adalah orang yang tepat, sampai kita menjalani hidup bersamanya.

Istriku adalah adik angkatan di fakultas yang sama. Usia kami terpaut empat tahun. Aku tak tahu kapan cinta itu tumbuh. Namun itu semua terjadi setelah aku lulus kuliah dan bekerja.

Kecantikan? Ya, istriku cantik. Aku bukanlah orang suci yang memilih perempuan tanpa memperhatikan kecantikan. Toh pada akhirnya kecantikan adalah urusan selera. Sama seperti soto. Aku suka soto Madura, sementara temanku lebih menyukai soto Betawi.

Namun yang aku sukai dari istriku adalah kekerasan hatinya. Kemandiriannya. Aku tidak terlalu suka perempuan yang terlalu manja. Hidup bukan untuk bermanja-manja, setidaknya jika kita bukan anak konglomerat atau pejabat.

Aku suka dia, karena dia mau kuajak nonton pertunjukan teater di kampus, bukan bioskop. Lagipula waktu itu di kota kami satu-satunya gedung bioskop yang tersisa baru saja terbakar, setelah yang lainnya bangkrut. Lalu pada makan malam pertama kami (atau kedua, entahlah, aku lupa), aku menyampaikan lamaran itu.

Aku tidak memintanya menjadi pacar. Aku memintanya menjadi istri.

Lagu Ari Lasso terdengar dari pelantang suara. Sentuhlah dia tepat di hatinya. Dia kan jadi milikmu selamanya.

Aku mengucapkan itu, setelah menghabiskan satu piring nasi goreng yang sebenarnya tidak terlalu kunikmati karena perutku mulas. Pejantan mana yang tak mulas, ketika malam itu dia hendak melayangkan lamaran pernikahan. Lagipula aku tak punya rekam jejak cukup baik dalam urusan lamar-melamar perempuan. Tak ada perempuan yang berniat menjadikanku belahan hati mereka. Jadi, tak ada alasan malam ini aku tak akan menghantam tembok yang sama.

Tapi tidak. Rupanya Tuhan berkehendak lain. Malam itu dia bingung, bagaimana ada lelaki yang pacaran saja belum sudah mengajaknya menikah. Namun kami akhirnya menikah. Dalam resepsi pernikahan sederhana di halaman rumahnya, kuambil gitar dan kunyanyikan salah satu lagu ADA Band. Suara saya tak enak-enak amat jelas. Namun Kami pun meresmikan lagu itu sebagai soundtrack kehidupan cinta.

Baca juga:  Meludahi Jalan Malioboro

Walau badai menghadang. Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu

Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam

Dua budaya yang berbeda dipertemukan. Jawa-Madura. Islam modernis-Islam NU sedikit abangan. Kelas menengah terpelajar-kelas menengah bawah. Dalam sejarah keluarga istriku, hanya istriku yang kuliah. Sementara aku dan tiga saudaraku adalah penghuni kampus perguruan tinggi negeri. Ibuku juga alumnus perguruan tinggi negeri terkenal.

Dua tahun pertama kami menikah, kami tak punya anak. Kami menghuni rumah kos, dan aku diberhentikan dari pekerjaan. Saya tak terlalu suka mengingat masa itu. Tapi pernah juga kami tak punya duit cukup untuk membeli makanan enak. Untunglah, kami hidup di sebuah kota di mana makanan tak terlampau mahal.

Kami ke mana-mana naik sepeda motor Yamaha 80, yang tak bisa dipacu terlampau kencang dan bahkan tak kuat naik tanjakan. Jadi ke mana-mana, kami selalu menghindari jalan yang menanjak. Kalau terlalu panas, mesinnya mati dan harus ditunggu beberapa menit untuk dipacu lagi.

Kami tak terlampau menempati rumah kos dan memilih menempati rumah sendiri, tipe sederhana, yang dicicil pembayarannya ke bank setiap bulan. Kami tak punya cukup uang, jadi kami pilih bambu yang dipotong-potong untuk dijadikan pagar rumah.

Bapak mertua datang membawa kendi berisi ayam yang sudah mati. Dia berdoa, lalu ditanam di salah satu sudut pagar. Aku tak percaya hal-hal begini. Namun aku biarkan saja dia melakukannya, untuk menghormatinya. Aku anggap toh akhirnya nanti ayam itu membusuk dan jadi humus. Tentu baik bagi tanaman di halaman.

Perabotan rumah kami tak banyak. Rumah baru. Keluarga kecil. Tahun ketiga pernikahan, anak pertama kami lahir. Laki-laki. Bagaimana dia dilahirkan, mungkin itu yang menambah satu alasan mengapa aku mencintai istriku.

Aku ini mungkin suami yang menyebalkan. Selama kehamilan anak pertama, aku tak bisa kasih bahagia istri. Pernah suatu malam, dia ngidam: sayang, belikan aku sayur asam. Alamak. Hampir jam dua belas malam, dari mana pula gagasan ingin makan sayur asam itu muncul. Kalau itu dari sang jabang bayi di perut, aku hanya bilang: ah, Nak, kau memang punya selera humor tinggi.

Baca juga:  Lelaku Petani Jawa

Aku bingung, di mana bisa cari sayur asam malam-malam begini. Akhirnya kujawab: besok, ya?

Dia cemberut. Lalu menangis diam-diam. Sementara aku molor.

Pernah suatu kali pula, dia minta kedondong. Aku selalu lupa beli. Sampai akhirnya, ibu mertuaku yang datang bawa kedondong.

Malam dia hendak melahirkan, kurang lebih sama. Dia berjalan mondar-mandir di rumah sembari menarik-mengembuskan napas. Kalau tak ada halangan, pagi dia melahirkan. Sementara aku, tak tahu harus berbuat apa-apa. Kusetel televisi, menanti dia yang tak bisa tidur, sembari nonton semifinal sepak bola piala dunia.

Sulit benar dia melahirkan. Rupanya kepala bayi di perutnya seperti nyangkut. Perawat-perawat kurang ajar di rumah sakit menjadikan istriku bahan tebakan, atau mungkin bahkan taruhan: jam berapa bayinya lahir. Meleset semua.

Lalu malam hari, anakku lahir. Kepalanya lonjong seperti makhluk UFO, ada tanda hitam bundar tepat di dahinya. Pikiran pertamaku: waduh, anak ini seperti Alien. Kata dokter, kepalanya memanjang karena harus ditarik. Jika tidak segera dilahirkan jam itu, pilihannya hanya dibedah cesar.

Itulah salah satu jawaban kenapa aku mencintai istriku. Mungkin kalau aku jadi dia, sudah pingsan dari tadi, dan aku akan menolak untuk hamil dan melahirkan

Anak kami kedua lahir dua tahun kemudian. Tidak terlalu sulit. Lahir di pagi hari. Laki-laki.

Selain sudah teruji menghadapi rasa sakit, istriku lebih teruji mengerjakan pekerjaan tangan disbanding aku. Kau tak akan percaya, dia yang membuat meja makan dengan tangannya sendiri dari pintu bekas yang tak terpakai.

Dia beli kayu untuk kaki meja, dan dipalunya sendiri. Aku hanya bantu sedikit, atau mungkin dibilang terlalu sedikit membantu. Dia hantamkan godam ke paku dan tak lama kemudian kami sudah punya meja makan sederhana namun kuat.

Baca juga:  Feminisasi Kemiskinan

Bisakah kau bayangkan: seorang perempuan mengerjakan pekerjaan tukang. Selamat tinggal semua teori kaum feminis.

“When she does not find love, she may find poetry. Because she does not act, she observes, she feels, she records; a color, a smile awakens profound echoes within her,” kata Simone de Beauvoir dalam Second Sex.

Ah, Simone. Jangan bilang begitu di hadapan istriku.

“When she does not find love, she may find poetry. Because she does not act, she observes, she feels, she records; a color, a smile awakens profound echoes within her,”

Kadang aku tergoda juga, jatuh hati pada perempuan lain. Namun tak pernah ada yang kuseriusi. Cukup suka saja. Setelah itu selesai. Disimpan di hati, tak pernah terungkapkan. Aku pikir: apa yang lebih romantis dari seorang perempuan yang menghantamkan palu ke paku dan membuat sebuah meja.

Kadang kami bertengkar. Namun kami akan segera berdamai, setelah berciuman dan bercinta dengan ganas.

Suatu hari seorang kawan mengirimkan meme soal perempuan dan poligami via BlackBerry Messenger. Di situ tertulis, ada empat jenis perempuan dalam merespons keinginan poligami sang suami. Pertama, wanita kufur yang akan bilang: langkahi dulu mayatku. Kedua, wanita yang tipis imannya, yang mengatakan: kembalikan aku kepada orang tuaku. Ketiga, wanita yang imannya sedang, yang mengatakan: gak papa asal bisa adil. Keempat, wanita yang tinggi imannya, yang bilang:… (ah, kau pasti sudah tahu apa yang bakal dikatakan wanita jenis ini).

Istriku seperti biasa hanya ketawa, dan dia memberi jawaban jenis perempuan kelima: ‘Boleh saja poligami, asal perempuan itu mengalami saat-saat dulu seperti aku alami bersamamu.’

Nah, bagaimana pula menjawabnya? Memangnya aku Doraemon yang punya kantong ajaib yang bisa menyediakan mesin waktu untuk kembali ke masa dulu.

Jadi, mengapa aku mencintai istriku? Jika kau ditanya itu, kau tak akan bisa menjawabnya, hingga kau menjalani hidup bersamanya, memahaminya, tak peduli seberapa buncit perut kita saat tua nanti. []

oryza - Perempuan yang Membuat Meja Makan di Rumahku

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi