Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang anjuran Al Quran pada manusia untuk berpikir dan mencari kebenaran, apa pun bentuknya

Sebelum memperoleh pencerahan sekali pun, seseorang akan mengetahui bahwa segala sesuatu bisa membuktikan keberadaan Tuhan. Namun, naluri fitriah ini akan hilang ketika ia mulai berbaur dengan masyarakat yang korup, karena urusan duniawi telah mencegahnya untuk mengarungi samudra wawasan tak terpermanai. (al-Ghazali)

Kita telah membangun sebuah peradaban yang di dalamnya elemen-elemen terpenting sangat bergantung pada sains dan teknologi. Kita juga telah menyusun segalanya, hingga hampir tidak ada orang yang bisa memahami hakikat sains dan teknologi. Inilah jalan menuju bencana. Kita mungkin bisa hidup dengan itu semua untuk sementara waktu, tetapi cepat atau lambat campuran ketidaktahuan dan kekuasaan yang mudah terbakar ini akan meledak di wajah kita. (Carl Sagan)

“APA Islam menolak teori Darwin?” tanya Nidhal Guessoum. Dia seorang Guru Besar Fisika dan Astronomi di American University of Sharjah, Uni Emirat Arab (UEA). Sebagai pembuka dalam esai ini, aku ingin mencuplik, pokok pikiran sarjana (yang Muslim) ini, tentang al-Qur’an dan teori evolusi Darwin. Menurut Guessoum, kita tidak punya pilihan selain menerima fakta yang telah terbukti kuat, dan evolusi adalah sebuah fakta alam yang telah dibuktikan melalui metode yang berbeda-beda. Teori Darwin tentu saja bukan teori final perihal subjek ini, seperti halnya teori gravitasi Newton, kemudian diikuti teori yang sangat kuat, kecuali dalam beberapa aspek kecil. Sekarang, masalah bisa datang dari dua arah: (1) pemafhuman materialistis terhadap teori evolusi, yang meniadakan segala bentuk rencana atau tujuan Ilahi di balik proses itu, dan (2) pemahaman harfiah terhadap sejumlah ayat al-Qur’an, khususnya yang berkenaan dengan penciptaan manusia perdana: Adam dan Hawa (Guessoum, 2014: 580).

Kebanyakan, bila tidak semua, konflik nyata itu bisa diredam melalui bacaan dan penalaran yang tidak terlalu kaku, baik terhadap al-Qur’an maupun terhadap teori ilmiah itu. Sebenarnya, menurut Guessoum, yang bertentangan dengan teori evolusi Darwin itu ialah penafsiran sejumlah individu terhadap al-Qur’an. Al-Qur’an sejatinya tidak menafikan proses evolusi di mana pun, sekalipun ia mengedepankan konsep Adam dan Hawa. Sudah ada banyak penelitian yang membahas isu ini (misalnya, apa yang dikenal dengan “Hawa-nya Mitokondria”–Mithochondrial Eve), dan kita tidak perlu kaget bila nanti di masa depan kita mungkin menetapkan bahwa Adam dan Hawa penuh berada di sana! Hingga masa itu, kita harus mengakui bahwa evolusi sebagai sebuah proses yang berada berlangsung dan niscaya (lihat Mayr, 2010 dan Olson, 2004). Menurut Guessoum, Tuhan memilih pasangan tertentu di antara Homo Sapiens lelaki dan perempuan, lantas meniupkan ruh kepada mereka, sehingga mereka berbeda dari rekan-rekan mereka. Ia juga mengartikan makan buah terlarang sebagai kesadaran mereka akan bentuk peralihan mereka dari sekadar ‘binatang’, menjadi benar-benar manusia yang punya tingkat pemahamanan yang tinggi (Guessoum, 2014: 581). Tapi, tidak seorang pun tahu pasti apa atau bagaimana segala sesuatunya pernah terjadi. Lantas, apakah sains secara umum dapat berdampingan dengan agama?

***

Kita telah terbiasa berpikir bahwa agama harus menyediakan informasi bagi kita. Apakah Tuhan ada? Bagaimana mayapada terbentuk? Namun, fenomena ini adalah penyimpangan modern. Agama tidak pernah seharusnya menyediakan jawaban atas pertanyaan yang berada dalam jangkauan akal manusia. Itu adalah peran logos. Tugas agama, sangat mirip dengan seni, ialah membantu kita hidup secara kreatif, damai dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah didedahkan dan pelbagai masalah yang tidak bisa kita pecahkan: kematian, penderitaan, kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan pada ketidakadilan dan kekejaman kehidupan.

Selama berabad-abad, orang-orang di semua budaya menemukan bahwa dengan mendorong kekuatan penalaran mereka sampai pada batasnya, membentang bahasa sampai ujungnya, dan hidup sedapat-dapatnya tanpa pamrih dan penuh kasih, mereka mengalami suatu ‘transendensi’ yang memungkinkan mereka merangkul penderitaannya dengan tenang dan berani. Rasionalitas ilmiah dapat memberi tahu kita mengapa kita menderita kanker, bahkan dapat menyembuhkan kita dari penyakit. Tetapi tidak dapat meredakan kengerian, kekecewaan dan kesedihan yang datang bersama diagnosis itu, juga tak dapat membantu kita untuk mati dengan baik. Itu tidak berada dalam wewenangnya. Akan tetapi, agama tidak akan bekerja secara otomatis; ia membutuhkan upaya besar dan tidak akan berhasil, jika ia dangkal, palsu, memberhala, atau memperturutkan kehendak sendiri (lihat Conner, 2005).

Agama adalah disiplin amaliah, dan wawasannya tidak berasal dari spekulasi abstrak, namun dari latihan spiritual dan gaya hidup yang berdedikasi. Tanpa amalan seperti itu, musykil untuk mamafhumi kebenaran ajarannya. Hal ihwal ini juga berlaku untuk filsafat rasionalisme. Orang-orang datang kepada Socrates bukan untuk belajar sesuatu–dia selalu menekankan bahwa dia tidak punya apa-apa untuk diajarkan kepada mereka–melainkan untuk mengalami perubahan pikiran. Peserta dialog Socrates menemukan berapa sedikit yang mereka ketahui dan bahwa makna proposisi yang paling sederhana sekalipun, tak dapat mereka rengkuh. Kejutan kebodohan dan kebingungan itu, serupa dengan perubahan ke arah kehidupan filosofis, yang tidak bisa dimulai sampai anda terjaga, bahwa anda tidak tahu apa-apa.

Tetapi, sekalipun itu memakzulkan sisa-sisa kepastian pamungkas yang sampai saat tersebut merupakan landasan kepastian bagi kehidupan banyak orang, sawala Socrates tidak pernah agresif. Diskursusnya dilakukan dengan sopan, lembut dan penuh pertimbangan. Jika dialog membangkitkan kebencian atau dendam, ia akan gagal! Tidak ada pemaksaan agar lawan bicara memerima sudut pandang anda: sebaliknya, masing-masing menawarkan pendapatnya sebagai hadiah kepada orang lain dan memungkinkan mereka untuk mengubah sudut pandang sendiri. Socrates, Plato dan Aristoteles, para pendiri rasionalisme Barat, tidak melihat pertentangan antara akal dan yang transenden. Mereka mengerti bahwa kita merasakan kebutuhan mendesak untuk mendorong kekuatan penalaran kita ke titik, di mana mereka tidak bisa pergi jauh lagi dan masuk ke dalam kondisi ketidaktahuan yang bukannya membuat frustasi, melainkan merupakan sumber ketakjuban, kekaguman dan kepuasan (Doren, 1999).

Baca juga:  Islam dan Negara

Agama bukanlah hal ihwal yang instan. Kita telah melihat upaya besar yang dilakukan oleh para yogin, Kabbalis, mufasir, rabi, ritualis, rabib, cendekiawan, filsuf, sang perenung, serta orang-orang awam dalam liturgi ketaatan sehari-hari. Semua mampu mencapai tingkat ‘ekstasis’ dengan memperkenalkan kita pada jenis cara mengetahui yang berbeda, “mendorong kita keluar dari diri kita sendiri”. Pada periode modern pun, para ilmuan, rasionalis, dan filsuf telah mengalami sesuatu yang serupa. Einstein, Wittgenstein dan Popper, yang tidak memiliki “keyakinan” agama konvensional, cukup nyaman berada di antara rasionalitas dan yang transenden. Pemahaman agama tidak hanya menuntut upaya intelektual yang berdedikasi untuk melampaui “berhala-berhala pikiran”, tetapi juga gaya hidup penuh kasih yang memungkinkan kita keluar dari prisma ideologis.

Logos yang agresif, yang berusaha untuk menguasai, mengontrol dan membunuh oposisi, tidak dapat membawakan wawasan transenden ini. Pengalaman membuktikan bahwa ini hanya mungkin jika orang menumbuhkan sikap reseptif, mendengarkan, tidak berbeda dengan kita mendekati seni, musik atau puisi. Agama memerlukan kenosis, ‘kapabilitas negatif’, dan hati yang ‘mengalami dan menerima’. Kekonsistenan pelbagai agama dalam menekankan pentingnya sifat-sifat ini menunjukkan bahwa mereka, entah bagaimana, telah melekat di dalam cara manusia ‘mengalami’ dunia. Jika tidak dibangkitkan oleh agama, mereka dihidupkan kembali oleh para penyair, novelis dan filsuf.

Dalam kebanyakan budaya pramodern, ada dua cara berpikir, berbicara dan memperoleh pengetahuan yang diakui. Orang Yunani menyebutnya mythos dan logos (Armstrong, 2005). Keduanya penting dan tidak satu pun yang dianggap lebih unggul dibanding yang lain; keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Masing-masing memiliki bidang kompetensi dan dianggap tidak bijaksana untuk mencampurbaurkan keduanya. Logos (‘nalar’) adalah cara berpikir pragmatis yang memungkinkan individu untuk berfungsi secara efektif di dunia. Ia, karenanya, harus bersesuaian secara akurat dengan kenyataan eksternal.

Manusia membutuhkan logos untuk membuat senjata yang efisien, mengatur masyarakat atau merencanakan sebuah ekspedisi. Logos berpandangan visioner, terus-menerus mencari cara-cara baru untuk mengendalikan lingkungan, meningkatkan wawasan lama, atau menciptakan sesuatu yang baru. Logos penting bagi keberlangsungan hidup spesies kita. Namun, ia memiliki keterbatasan: ia tidak dapat melipur kesedihan manusia atau menemukan makna tertinggi dari perjuangan hidup. Untuk itu, manusia beralih kepada mythos atau ‘mitos’ (Trefil, 2012).

Hari ini, kita hidup dalam masyarakat logos yang ilmiah dan mitos telah jatuh ke dalam kehinaan. Dalam bahasa populer, sebuah ‘mitos’ adalah sesuatu yang tidak benar. Namun, pada masa lalu, mitos bukanlah sekehendak hati; melainkan seperti logos, ia membantu orang untuk hidup secara kreatif di tengah dunia kita yang membingungkan, meskipun dalam cara yang berbeda. Mitos mungkin telah menyampaikan pelbagai kisah tentang dewa-dewi, namun sesungguhnya mitos berfokus pada aspek yang lebih sukar dimengerti, membingungkan dan tragis dari keadaan manusia yang berada di luar kewenangan logos. Mitos telah disebut sebagai bentuk primitif psikologi. Ketika sebuah mitos mendeskripsikan pahlawan-pahlawan menapaki jalan mereka menembus labirin, turun ke mayapada yang gelap atau memerangi monster-monster, ini tidak dipahami sebagai cerita faktual. Kisah itu dirancang untuk membantu manusia berdamai dengan wilayah-wilayah kabur di dalam jiwa, yang sulit untuk dijangkau, tetapi memengaruhi pikiran dan perilaku kita secara mendalam. Ketika Freud dan Jung mulai memetakan pencarian ilmiah mereka akan jiwa, mereka secara naluriah berpaling kepada mitos-mitos kuno ini. Sebuah mitos tidak pernah diniatkan sebagai uraian akurat atas sebuah peristiwa sejarah; ia adalah sesuatu yang dalam pengertian tertentu pernah terjadi, namun sekaligus juga terjadi setiap saat.

Namun, sebuah mitos tidak akan efektif jika orang sekadar “percaya” padanya. Mitos pada dasarnya sebuah program aksi. Ia dapat menempatkan anda pada sikap rohani atau psikologis yang benar, tetapi terserah pada anda untuk mengambil langkah berikutnya dan membuat “kebenaran” mitos itu menjadi kenyataan dalam kehidupan anda sendiri. Satu-satunya cara untuk menakar nilai dan kebenaran sebuah mitos adalah dengan melakukan tindakan atasnya. Mitos tentang pahlawan, misalnya, yang mengambil bentuk yang sama pada hampir semua tradisi budaya, mengajari masyarakat bagaimana membuka potensi heroik mereka sendiri. Kelak, cerita tokoh-tokoh sejarah seperti Buddha, Yesus, atau Muhammad Saw dibuat memenuhi paradigma ini, supaya para pengikut bisa meniru mereka dengan cara yang sama. Ketika dipraktikkan, sebuah mitos dapat mengungkapkan kepada kita, kebenaran yang sangat mendalam perihal kemanusiaan kita. Ia menunjukkan kepada manusia bagaimana hidup secara lebih berlimpah  dan intens, bagaimana berhadapan dengan terbatasnya kehidupan kita, dan bagaimana bertahan menanggungkan penderitaan jasmaniah. Tetapi, jika kita pupus menerapkannya pada situasi kita, sebuah mitos akan tetap abstrak dan sulit dipercaya.

Sejak awal, manusia menghidupkan kembali mitos-mitos mereka dalam pelbagai bentuk upacara yang memengaruhi partisipannya secara estetis, sebagaimana setiap karya seni mengantarkan mereka ke dimensi eksistensi nun lebih tinggi. Mitos dan ritual, dengan demikian, tidak dapat dipisahkan, sebegitunya sehingga sering menjadi bahan perdebatan ilmiah, manakah yang lebih dahulu datang: kisah mistikal atau ritus yang melekat padanya. Tanpa ritual, mitos tidak akan masuk akal dan akan tetap gelap tak tertembus sebagaimana not musik, yang tidak dapat dimengerti bagi kebanyakan kita, hingga ia ditafsirkan melalui alat musik (Armstrong, 2011: 508).

***

Agama, oleh karenanya, bukanlah sesuatu yang terutama menyangkut pikiran manusia, melainkan lebih pada perbuatan mereka. Kebenarannya diperoleh melalui amalan langsung. Tidak ada gunanya membayangkan anda akan dapat menyetir mobil, hanya dengan membaca buku manual atau mempelajari peraturan lalu lintas belaka. Anda tidak dapat belajar menari, melukis atau memasak dengan menekuni teks atau resep. Agama adalah sebuah disiplin praktis yang mengajari kita menemukan kemampuan baru pikiran dan hati. Tidak ada gunanya menimbang ajaran-ajaran agama secara otoritatif untuk menilai kebenaran atau kepalsuannya, sebelum menjalani cara hidup religius. Anda akan menemukan kebenaran–atau ketiadaan kebenaran–di dalamnya hanya setelah anda menerjemahkannya ke dalam ritual atau perbuatan etis. Tak berbeda dengan setiap keterampilan, agama memerlukan ketekunan, kerja keras dan disiplin. Tetapi, orang-orang yang tidak mencoba menerapkannya, tidak akan dapat mengalami kemajuan sama sekali. Orang beragama merasa sulit untuk menjelaskan bagaimana pengaruh ritual dan amal mereka, persis sebagaimana seorang perselancar mungkin tidak sepenuhnya sadar akan hukum fisika yang memungkinkan dia meluncur di atas ombak dengan menggunakan sebilah papan tipis.

Baca juga:  Nasionalisme Islam Nusantara

Dalam teologi posmodern yang telah berhasil menemukan kembali praktik, sikap dan cita-cita yang sangat sentral bagi agama sebelum datangnya masa modern. Itu tidak berarti, tentu saja, bahwa semua agama adalah sama! Masing-masing tradisi merumuskan yang “Suci” secara berbeda, dan, ini tentu akan memengaruhi cara orang mengalaminya. Terdapat perbedaan penting antara Brahmana, Nirwana, Allah Swt, dan Dao, tetapi itu tidak berarti bahwa yang satu adalah “benar” dan yang lain “salah”. Tentang ini, tak seorang pun dapat memiliki kata akhir. Semua sistem iman telah berupaya keras menampilkan, bahwa yang ultima tidak dapat diungkapkan secara memadai dalam suatu sistem teoretis, betapa pun mengagumkannya, karena ia terletak di luar jangkauan kata-kata dan konsep.

Paul Tillich dengan masygul menuturkan bahwa sulit untuk berbicara tentang Tuhan hari ini, karena orang-orang langsung bertanya apakah Tuhan ada. Ini berarti, simbol Tuhan tidak lagi bekerja. Alih-alih menunjukkan melampaui dirinya sendiri ke arah sebuah realitas tak terlukiskan, bangunan ide yang dikonsepsikan secara manusiawi yang kita sebut “Tuhan” itu telah menjadi akhir cerita. Kita telah melihat bahwa selama awal periode modern, gagasan ihwal Tuhan direduksi menjadi hipotesis ilmiah dan Tuhan menjadi penjelasan akhir dari alam semesta. Alih-alih menyimbolkan yang tak terlukiskan, Tuhan sebenarnya diciutkan menjadi hanya deva, tuhan yang lebih rendah, yang merupakan anggota kosmos dengan fungsi dan lokasi tertentu (Dixon; Cantor; Pumfrey, 2010: 16).

Ketika itu terjadi, hanya masalah waktu sebelum ateisme menjadi proposisi yang laik, karena para ilmuan segera dapat menemukan penjelasan hipotesis alternatif yang membuat “Tuhan” jadi ‘redundan’. Masalah ini tidak akan menjadi bencana andai gereja-gereja tidak mengandalkan bukti ilmiah. Jalan lain menuju pengetahuan telah disepelekan di dunia modern, dan rasionalitas ilmiah sekarang dianggap sebagai tolok ukur yang dapat diterima menuju kebenaran. Orang-orang telah terbiasa untuk berpikir tentang Tuhan sebagai ide yang “jelas”, “berbeda”, dan terbukti dengan sendirinya. Bukankah Descartes, pendiri filsafat modern, mengatakan kepada mereka bahwa keberadaan Tuhan bahkan lebih jelas dan lebih nyata daripada salah satu teorema Euclid? Bukankah Newton yang agung itu bersikeras bahwa agama seharusnya ‘gampang’?

Pada awal periode modern, orang Barat jatuh cinta dengan cita-cita kepastian mutlak yang, tampaknya, mungkin tak dapat digerapai. Namun, sebagian orang enggan untuk melepaskannya, mereka cenderung mengompensasi secara berlebihan, menyatakan kepastian untuk kepercayaan dan doktrin yang hanya bisa bersifat sementara. Hal ihwal ini mungkin menyambung nada agresif bagi banyak wacana modern. Sedikit sekali “filsuf” Socratik dewasa ini, yang tahu bahwa mereka kekurangan kebijaksanaan. Terlalu banyak orang beranggapan bahwa mereka sajalah yang memilikinya, dan dalam hal-hal sekuler maupun agama, bahkan tidak mau tampil untuk mempertimbangkan sudut pandang saingan atau secara serius menilai bukti yang mungkin melemahkan mereka.

Pencarian kebenaran kini laiknya panggung permusuhan dan persaingan. Ketika memperdebatkan sebuah isu dalam politik atau media, di pengadilan hukum atau akademis, tidak cukup untuk menetapkan apa yang benar; kita juga harus mengalahkan–dan bahkan mempermalukan–lawan-lawan kita. Meskipun kita banyak mendengar tentang pentingnya ‘dialog’, sangat jarang kita mendengar pertukaran pandangan yang benar-benar Socratik. Masalah ini sering terlihat jelas dalam debat publik, sehingga alih-alih mendengarkan secara reseptif kepada peserta lain, panelis cukup menggunakan ucapan mereka sebagai bahan giliran bagi pendapat cemerlang mereka sendiri yang akan memberikan coup de grace. Bahkan, ketika isu-isu yang diperdebatkan terlalu rumit dan beraneka segi untuk sebuah solusi yang sederhana, jarang diskusi ini diakhiri dengan aporia Socratik yang realistik atau pengakuan bahwa pihak “lain” mungkin memiliki kelebihan.

Pada masa lampau, para teolog menemukan bahwa dialog panjang lebar dengan kaum ateis membantu mereka untuk memperbaiki ide-ide mereka sendiri. Sebuah kritik ateistik yang berwawasan harus disambut, karena bisa menarik perhatian kita pada pemikiran teologis yang tidak lagi memadai atau memberhala. Diskusi tertulis filsuf ateis JJC Smart dan rekan ateisnya JJ Haldane menunjukkan contoh kesopanan, ketajaman intelektual, dan integritas, dan memperlihatkan betapa perdebatan seperti itu bisa sangat berharga–setidaknya dalam memperjelas bahwa tidaklah mungkin untuk tiba pada simpulan mengenai ada atau tidak adanya Tuhan melalui argumen rasional semata (lihat Baggini, 2003).

Sebuah kritik ilmiah atas kepercayaan konvensional juga dapat membantu dalam mengungkapkan keterbatasan pola pikir harfiah yang saat ini menghalangi pemahaman. Alih-alih mengatakan bahwa mythos kuno adalah faktual, mungkin akan lebih baik mempelajari arti asli kosmologi kuno dan menerapkannya secara analogis pada situasi kita sendiri. Alih-alih menempel pada pembacaan harfiah bab pertama Kitab Kejadian, lebih bermanfaat menghadapi implikasi visi Darwin tentang alam yang “bergigi dan bercakar merah”.

Hal ihwal ini bisa menjadi selaksa meditasi tentang penderitaan kehidupan yang tak tersiah, membuat kita mawas akan kelemahan setiap solusi teologis yang rapi, dan memberikan apresiasi baru perihal Kebenaran Mulia Pertama Buddhisme: “Hidup adalah penderitaan (dukkha)”–suatu pemahfuman yang sangat diperlukan bagi pencerahan dalam hampir semua agama.

Kita tidak boleh mengidealkan masa lalu. Setiap zaman memiliki fanatiknya sendiri, dan selalu ada orang-orang yang kurang terampil secara teologis daripada yang lain dan menafsirkan kebenaran agama dalam cara faktual yang boyak. Kita kini memiliki pandangan berbeda tentang iman sehingga sekarang mungkin sulit untuk diterima, karena selalu sulit untuk melampaui keterbatasan zaman kita sendiri.

Kita, mungkin, tidak akan pernah bisa menyadari sepenuhnya suasana hati budaya kita sendiri, justru karena kita cenderung memutlakkannya. Hari ini, kita meyakini bahwa karena kita merasionalisasi iman dan menganggap kebenarannya sebagai faktual, seperti inilah hal itu seharusnya selalu dilakukan. Tetapi, ini melibatkan standar ganda. “Masa lalu direlatifkan, dalam rangka analisis sosio-historis ini dan itu. Namun, masa kini anehnya tetap kebal terhadap relativisasi,” kritik Peter L. Berger (Berger, 1970: 58).

Baca juga:  Kesusastraan dan Politik dari Masa ke Masa

Kita cenderung menganggap bahwa “modern” berarti “superior”, dan sementara ini memang benar dalam bidang-bidang seperti: matematika, sains, teknologi itu, tidak mesti benar untuk disiplin yang lebih intuitif–terutama, tentu saja: teologi.

Pada masa lalu, orang-orang religius terbuka terhadap segala macam kebenaran yang berbeda. Cendekiawan Yahudi, Kristen dan Muslim siap untuk belajar dari pagan Yunani yang berkorban untuk berhala-berhala, serta untuk satu sama lain. Tidak benar bahwa sains dan agama selalu siap menarik pedang: di Inggris, Protestan dan etos Puritan dirasa cocok dengan sains modern awal dan membantu dalam memajukan dan penerimaannya. Mersende, yang masuk ke dalam satu cabang yang sangat keras dari Ordo Fransiskan, mengambil cuti dari doa-doanya untuk melakukan eksperimen ilmiah dan ide-ide matematisnya masih dibahas hari ini. Para Jesuit mengajak Descartes muda untuk membaca Galileo dan terpesona oleh ilmu pengetahuan modern-awal.

Memang, telah dikatakan bahwa perkumpulan ilmiah pertama bukanlah Royal Society, melainkan Serikat Yesus. Tetapi, seiring kemajuan modernitas, kepercayaan diri meredup dan sikap-sikap mengeras. Thomas Aquinas telah mengajarkan ilmu Aristotelian, ketika hal ihwal itu masih kontroversial untuk dilakukan dan telah mempelajari filsuf Yahudi dan Muslim, sementara sebagian besar orang sezamannya secara refleks mendukung Perang Salib. Namun, Gereja pasca-Tridentina yang defensif menafsirkan teologinya dengan kekakuan yang dia rasa menjijikkan.

Doktrin Protestan modern perihal infalibilitas literal kitab suci pertama kali dirumuskan pada 1870 oleh Hodge dan Warfield, ketika metode ilmiah kritik Alkitab merongrong “keyakinan” yang dianggap benar secara faktual. Seperti doktrin Katolik yang baru dan sangat kontroversial tentang infalibilitas kepausan, yang didefinisikan pada 1870 itu, mengungkapkan kerinduan akan kepastian mutlak, pada masa ketika masalah ini terbukti merupakan produk imajinasi semata.

Saat ini, ketika sains itu sendiri menjadi kurang pasti, mungkin merupakan waktu untuk kembali para teologi yang memastikan lebih dekat, tetapi lebih terbuka terhadap keheningan dan ketidaktahuan. Di sini mungkin dialog dengan bentuk-bentuk ateisme Socratik yang lebih bijaksana dapat membantu untuk membongkar gagasan yang telah menjadi berhala.

Pada masa lalu, orang sering disebut “ateis” ketika masyarakat berada dalam transisi dari satu perspektif agama ke yang lain: Euripides dan Protagoras dituduh “ateis”, ketika mereka mendustakan para dewa Olympia demi mendukung teologi yang lebih transenden; Nasrani dan Muslim pertama, yang bergerak menjauh dari paganisme tradisional, disiksa oleh “ateis” yang sezaman dengan mereka. Kritik ateistik yang cerdas dapat membantu kita harus pergi ke dalam apa yang disebut kaum mistikus sebagai “gelap malam jiwa” atau “awan ketidaktahuan” (Caputo, 2014: 61).

Perihal ini tidak akan mudah bagi orang-orang yang terbiasa mendapatkan informasi seketika dengan satu klikan mouse. Namun, kebaruan dan keanehan kapabilitas negatif ini, bisa menyentakkan kita ke dalam kesadaran bahwa rasionalisasi retak, bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh pengetahuan.

Orang religius itu obsesif. Mereka ingin hidup penuh dengan makna. Mereka selalu ingin mengintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, keterpesonaan dan wawasan yang datang kepada mereka dalam mimpi, dalam perenungan tentang alam, dan dalam hubungan mereka dengan satu sama lain dan dengan dunia hewan. Alih-alih dihancurkan dan menjadi sakit hati lantaran kesedihan hidup, mereka berusaha mempertahankan perdamaian dan ketenangan di tengah rasa sakit yang melanda. Mereka mendambakan keberanian untuk mengatasi teror kematian; alih-alih menjadi tamak dan kejam, mereka bercita-cita untuk hidup secara murah hati, berbesar hati dan adil, serta mengisi penuh setiap bagian dari kemanusiaan mereka. Tinimbang menjadi “cangkir sehari-hari”, mereka ingin, seperti kata Konfusius, “Mengubah diri menjadi bejana ritual nan indah dengan kesucian yang mereka lihat dalam hidup” (Armstrong, 2011: 512).

Para pemeluk agama mencoba menghormati misteri tak terlukiskan yang mereka rasakan dalam setiap manusia dan menciptakan masyarakat yang menghormati yang asing, yang aneh, yang papa dan tertindas. Tentu saja mereka sering gagal. Namun secara keseluruhan, mereka mendapati bahwa disiplin agama membantu mereka untuk melakukan semua ini. Mereka yang menjalankannya secara tekun menunjukkan bahwa adalah mungkin bagi manusia fana untuk hidup dalam tataran yang lebih tinggi, yang Ilahi atau seperti Tuhan, dan dengan demikian menggugah diri sejati mereka.

Arkian, al-Qur’an menganjurkan manusia agar berpikir dan mencari kebenaran, apa pun bentuknya. Manusia harus selalu berpikiran terbuka dan punya sudut pandang yang luas. Oleh karena itu, semakin sempit pendekatan seseorang terhadap agama-agama, semakin rentan ia terjebak dalam kesulitan. Sains juga mesti dipandang dari sudut pandang yang luas, yaitu sebagai pencarian atas kebenaran dan pemahaman umum, bukan sekadar fakta atau penjelasan, yang bisa senantiasa diperbaiki, kadang dengan teori-teori sangat baru.

Dengan cara pandang seperti itu terhadap sains dan agama, maka landasan bersama antarkeduanya bisa lebih mudah ditemukan; baik sains dan agama merupakan kekuatan yang memacu manusia untuk menemukan kebenaran, melalui institusi keagamaan di satu sisi, dan melalui metode saintifik di sisi lain. Kedua kekuatan ini harus berjalan bergandengan, bukan malah saling berlawanan arah. Namun, jangan sampai dukungan yang saling melengkapi ini didorong hingga ke batasnya yang ekstrem. Maksudnya, keduanya harus dikenali, misalnya, melalui pencarian fakta-fakta ilmiah dalam teks-teks keagamaan. Mencuplik Rudolf Otto (1958), laiknya manusia, agama adalah mysterium, tremendum et fascinan, misterius, menakutkan sekaligus memesona. Karena itu, kita harus tetap rendah hati.[]

coverimannalar - Pergumulan Iman - Nalar

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi