Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang karya Cormac McCarthy

ALKISAH, bumi dilanda bencana yang maha maut. Iklim berubah secara drastis, abu dari hutan-hutan yang terbakar menghalangi teriknya matahari. Udara menjadi dingin dan lembab, salju pun turun bercampur debu, hewan mati, tanaman tak tumbuh, bumi menjadi sepi dan hanya segelintir orang yang bertahan.

Mereka hidup di jagat yang sepi, mencari makan dengan jalan menjarah rumah-rumah yang ditinggal mati pemiliknya. Dan ketika makanan habis, harus tetap ada yang dimakan. Mereka harus bertahan. Kelaparan dan naluri untuk tetap hidup membuat manusia melupakan sisi kemanusiaan dan menghancurkan peradaban agung yang telah terbentuk ribuan tahun. Memaksa manusia memangsa sesamanya.

Seorang ayah dan anak lelakinya yang masih kecil, terseok-seok melakukan perjalanan panjang, melintasi benua Amerika yang telah hangus terbakar. Dengan perbekalan seadanya yang ditaruh di atas kereta belanja, mereka melakukan perjalanan panjang ke arah selatan menuju pantai, daerah yang bersuhu lebih hangat daripada di tempat-tempat lain yang telah menjadi dingin dan lembab.

Bukan perjalanan yang mudah, karena selain harus berjuang untuk memperoleh makanan, tempat yang laik untuk tidur, mereka juga harus waspada terhadap kehadiran orang-orang asing yang mengincar perbekalan mereka. Dan yang lebih mengerikan: Mereka harus menghadapi beberapa orang telah menjadi kanibal.

Dalam The Road, kita diajak menyelami perjuangan ayah dan anak dalam bertahan hidup di dunia pasca tragedi dahsyat. Uniknya dari awal hingga akhir, penulis sama sekali tak menjelaskan peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi, sehingga bumi menjadi hancur. Cormac hanya melukiskannya dengan hutan-hutan yang terbakar, udara yang penuh debu, mayat-mayat kering, rumah kosong, aspal meleleh karena panas, dan lain-lain. Pembaca diminta untuk menafsirkan sendiri, apakah ini bencana alam atau bencana karena perang. Tampaknya Cormac lebih menekankan kisah perjalanan ayah dan anak lelaki kecilnya yang mencoba bertahan hidup.

Baca juga:  Citra Dayak

Pelbagai peristiwa menyesakkan dialami oleh mereka. Dengan hanya bersenjatakan sepucuk pistol dengan dua butir peluru, mereka mencoba bertahan dari kehadiran orang-orang yang hendak merampok perbekalan dan mungkin akan memakan mereka. Udara yang buruk membuat mereka terserang demam dan diare. Mereka harus bertahan dalam dingin dan rasa lapar yang menghantui mereka. Rumah demi rumah mereka masuki untuk mencari makanan, namun seringkali rumah itu telah habis dijarah oleh orang-orang lain yang masih hidup.

Mayat-mayat kering bergelimpangan, mereka juga menemukan beberapa tengkorak kepala terjejer, membuktikan bahwa bagian-bagian tubuh mereka telah habis dimakan. Mereka juga menghadapi dilema apakah harus menolong seseorang yang kelaparan seperti mereka atau tak memedulikannya.

Semua peristiwa itu membuat novel ini menjadi sangat kelam. Untunglah Cormac menyelipkan pelbagai peristiwa melegakan, seperti ketika mereka menemukan sebuah ruang bawah tanah yang luput dari penjarahan. Selama beberapa hari mereka tinggal dengan nyaman di tempat itu. Peristiwa inilah yang akan membuat pembaca novel ini lega sejenak, sebelum kembali diperhadapkan dengan peristiwa-peristiwa kelam lainnya.

Cormac McCarthy, novelis masyhur asal Amerika Serikat yang sebelumnya dikenal dengan novelnya yang berjudul No Country Old Man (2005). Ia meramu novel The Road (2006) ini dengan sangat menarik. Cormac–yang karena The Road disebut-sebut sebagai salah satu dari 50 orang yang bisa menyelamatkan planet bumi–mempersembahkan novel ini kepada putranya, John Francis McCarthy.

Baca juga:  Memaafkan, Tak Melupakan...

Ide novel memang muncul ketika bersama putranya itu, pengarang gaek penerima National Book Award 1992 (untuk novel All the Pretty Horses) ini berkunjung ke El Paso, Texas, pada 2003. Sembari membayangkan El Paso masa depan, ia mengimajinasikan “kebakaran di bukit” dan memikirkan apa yang akan terjadi pada putranya. Lalu, setelah pertama kali diterbitkan 26 September 2006, novel ini secara gemilang meraih penghargaan James Tait Black Memorial Prize 2006 dan Pulitzer Prize for Fiction 2007.

Cormac menghadirkan cerita dalam novel kesepuluhnya ini tanpa membagi-baginya ke dalam bab. Dialog-dialognya minimalis, tanpa tanda kutip, dan kerap ditulis sealinea dalam narasi yang liris. Ia adalah pakar ekonomi kata-kata yang brilian bermain diksi dan metafora dengan cantik.

Cormac juga tak memberi kesempatan pembacanya untuk jeda sejenak. Seluruh kisahnya mengalir dari halaman pertama hingga akhir tanpa ada pembagian bab. Awalnya pembaca mungkin akan sedikit kesulitan memafhuminya, namun lambat laun akan terbiasa juga dengan gaya menulis Cormac ini. Dengan gaya seunik ini, tanpa plot berkilau dengan konflik berpilin, novel ini telah memiliki pesona sendiri yang tidak terbantah. Sebuah mahakarya dalam kelugasannya.

Pembaca tak diberi kesempatan sedikit pun untuk keluar dari inti cerita. Novel ini tak memberikan kisah-kisah lain di luar perjalanan si lelaki dan anaknya. Cormac hanya memberi secuil keterangan ihwal masa lalu mereka. Kedua tokoh itu pun tak diberinya nama. Dialog-dialog antara lelaki dan anaknya hanya sedikit dan pendek-pendek saja. Itu pun hanya berputar masalah ketakutan yang mereka hadapi, kelaparan, nasihat-nasihat untuk bertahan hidup, dan ungkapan cinta ayah kepada anaknya. Kehadiran tokoh-tokoh lain hanya selewat-selewat saja, sehingga dengan demikian pembaca digiring oleh Cormac untuk hanya terpusat pada kisah perjalanan dan tujuan akhir perjalanan lelaki dan anaknya itu.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Sosialisme yang krisis tanpa Kedaulatan Pangan
Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Menurutku, The Road memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Walau aku merasa tertekan (karena saat membaca novel ini, aku sedang berduka cita) dengan begitu murungnya kisah ini. Lembar demi lembar aku nikmati dengan antusias dan tak sabar ingin mengetahui ada peristiwa apa di lembar halaman berikutnya.

Gelap dan berat, itulah kesan dominan selama membaca The Road. Tampaknya beginilah impresi yang selalu muncul ketika membaca novel berseting post-apokaliptik ini. Namun khusus untuk novel ini, sama sekali bukan petualangan membaca yang mengecewakan. Tidak heran, Holywood pun tergugah memvisualisasikannya menjadi film layar lebar. Filmnya telah diproduksi pada 2009 dan hampir dua jam kita akan menyaksikan Viggo Mortensen dan pemain cilik Kodi Smit-McPhee, memainkan pasangan ayah dan anak yang terkatung-katung, membawa api yang tak gampang padam, di dunia Amerika yang rusak binasa.

Semangat bertahan hidup di tengah kondisi yang ekstrim dan ikatan cinta antara ayah dan anaknya yang dideskripsikan dalam novel ini, juga menjadi sebuah pembelajaran tentang pentingnya cinta dan harapan dalam mengarungi kehidupan yang penuh paradoks.[]

nestapa - Perjalanan Nestapa

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi