Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah pengantar karya Iman Budhi Santoso

Sejak berabad-abad lalu, sejarah kehidupan manusia sudah demikian sarat diwarnai dengan konflik. Baik konflik antarindividu dalam keluarga maupun lingkungan,  antarkelompok masyarakat, antarbangsa,  hingga antarnegara. Kendati ajakan dan upaya mencegah terjadinya konflik juga telah berlangsung di seluruh dunia, tetapi kenyataannya umat manusia belum berhasil mencegah sepenuhnya. Umumnya baru sampai tingkat meminimalisasi.

Risikonya,  akar konflik yang bermacam-ragam itu masih akan bertunas dan tumbuh berkembang manakala gagal dikendalikan, diredam atau dimatikan oleh yang bersangkutan. Sementara, konflik yang diakibatkan perbedaan pendapat dan kepentingan cukup ekstrem sering kali justru memicu munculnya kejadian yang tidak diinginkan. Seperti permusuhan berkepanjangan, sampai meletusnya perang yang menimbulkan pertumpahan darah dan kematian sia-sia tanpa dapat dicegah lagi.

Walaupun terjadinya konflik  juga dapat menstimulir perubahan yang mungkin dirasa lebih baik dari kondisi sebelumnya, tetapi konflik yang menjelma peperangan terbuka jelas merupakan malapetaka yang selalu menelan korban cukup besar. Sehingga, bukan mustahil mereka-mereka yang sebenarnya tidak terlibat langsung dengan konflik,  seperti rakyat jelata,  juga akan ikut menerima dampak negatifnya. Termasuk kehidupan hewan, tumbuhan, dan terjadinya kerusakan alam lingkungan yang mengerikan di mana-mana.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konflik adalah percekcokan, perselisihan, ketegangan, pertentangan antara dua kekuatan atau lebih, juga antartokoh atau sosok. Konflik dapat pula terjadi dalam batin seseorang yang disebabkan adanya dua atau lebih gagasan atau keinginan yang menguasai diri individu hingga berpengaruh pada tingkah laku. Sedangkan, konflik kebudayaan adalah persaingan antara dua masyarakat dengan kebudayaan yang berbeda. Kemudian, konflik sosial adalah pertentangan antaranggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan.

***

Dua kisah wayang, Ramayana dan Mahabharata seperti dipaparkan dalam Ensiklopedi Wayang Purwa (Balai Pustaka, 1991) serta beberapa kitab lainnya, ternyata juga menyajikan konflik cukup banyak dan beragam, bermula dari berbagai situasi kondisi yang dialami tokoh-tokohnya. Konflik tersebut dapat terjadi dalam batin, hingga berupa pertengkaran, permusuhan, sampai menjelma pertempuran fisik antarpribadi maupun perang yang melibatkan kelompok tertentu atau negara.

ibs - Pernik Konflik Jagat Wayang

Misalnya, puncak dari kisah Ramayana adalah upaya matian-matian Ramawijaya mengambil kembali istrinya, Dewi Sinta, yang dicuri Rahwana di hutan Dandaka. Berkat bantuan Prabu Sugriwa dengan bala tentara wanaranya, Rahwana dapat dikalahkan dan tewas. Walaupun setelah perang besar Alengkadiraja kehidupan Rama dan Sinta masih berlanjut, tetapi ceritanya terasa makin hambar dan kisah Ramayana pun selesai.

Baca juga:  Membaca Ben, Menguji Konteks Anarkisme

Demikian pula kisah Mahabharata. Konflik berkepanjangan antara Pandawa–Kurawa mengenai tanah warisan Astinapura ternyata harus diselesaikan lewat perang Bharatayuda di padang Kurusetra selama delapan belas hari. Kendati Pandawa memenangkan perang dan sebagian besar Kurawa tewas, kemudian Pandawa  menobatkan Parikesit menjadi raja Astinapura, tetapi rasa aroma ceritanya juga seperti kurang “menggigit” lagi.

Pertanyaannya, mengapa Ramayana dan Mahabharata menyajikan peristiwa kehidupan di jagat wayang yang penuh konflik dan berakhir dengan perang besar di akhir cerita? Mengapa kedua belah pihak yang bertikai tidak berhasil mengekang diri dan menghindari terjadinya perang yang mengakibatkan pertumpahan darah cukup besar? Mengapa dalam pergelaran wayang (baik wayang kulit maupun wayang orang), konflik seakan menjadi sajian utama yang ditunggu-tunggu? Seolah tanpa adanya konflik (dan perang) lakon cerita jadi terasa hambar sehingga kurang menarik ditonton. Maka, tidak mengherankan jika yang disebut perang kembang, perang gagal, perang brubuh, selalu membuat penonton terpesona. Sehingga, konflik atau perang bukan lagi “bumbu”, melainkan bagian yang ditunggu-tunggu dari sebuah pergelaran wayang.

Kecenderungan tersebut seakan mengindikasikan bahwa perang dalam kisah wayang  sudah menjadi bagian utama yang dibakukan seperti halnya dalam fiksi modern; misalnya pada cerita pendek. Di mana plot cerita pendek selalu menyanjikan pembukaan, pemaparan masalah, tanjakan, klimaks, antiklimaks ,dan penutup. Dalam konteks cerita wayang, terasa sekali yang dianggap klimaks adalah konflik yang realitasnya adalah perang, dan terselesaikannya masalah justru menjadi antiklimaks yang kurang ditunggu-tunggu lagi.

Padahal, di Jawa sudah terdapat ungkapan yang menyatakan pergelaran wayang merupakan: “tontonan sekaligus tuntunan”. Artinya, realitas pergelaran dibuat semenarik mungkin sebagai tontonan agar ditonton, dan penonton diharapkan menemukan nilai-nilai tuntunan dari sana. Misalnya, karena perang selalu membuat kematian dan merugikan banyak orang, maka kalau punya masalah harusnya dibicarakan sebaik mungkin. Jangan dibiarkan berkembang sedemikian rupa menjadi perang terbuka.

Dalam konteks pergelaran seni budaya, wayang memang disajikan sebagai tontonan massal. Maka, setelah menonton (mengapresiasi), seyogyanya masyarakat memahami dan mendedahnya secara objektif melalui penalaran yang kritis (tidak mudah percaya, selalu berusaha menemukan kesalahan/kekeliruan, dalam arti tajam menganalisis); logis (menemukan ketepatan berdasarkan fakta logika sesuai dengan tradisi pemikiran keilmuan);  analitis (melakukan penyelidikan, mengurai masalah dan mencari pemecahannya); dan dialektis (mencari dan menemukan hubungan segala sesuatu di alam semesta yang menstimulir munculnya fenomena lain atau realitas dan kualitas baru). Bukan berangkat dari mitos legenda belaka.

Baca juga:  Aku Harus Mati Tahun - tahun Ini

Apalagi sudah merupakan fakta sejarah yang membanggakan bahwa sejak  7 November 2003 UNESCO telah mengakui wayang Indonesia sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Dengan kata lain, wayang Indonesia telah diakui sebagai mahakarya dunia, dan telah menembus level tertinggi kebudayaan umat manusia. Ternyata, sejak kita mengadopsi kisah Ramayana dan Mahabharata dari India pada masa kejayaan Hindu,  hingga kini bangsa Indonesia telah mewarisi tidak kurang dari 15 jenis wayang. Seperti wayang beber, wayang kulit, wayang golek, wayang krucil/wayang klithik, wayang orang, wayang topeng, wayang cepak, wayang potehi, wayang gedhog, wayang sadat, wayang suluh, wayang wahyu, wayang suket, wayang kancil, dan wayang ukur. Sementara, yang paling berkembang dan paling populer adalah jenis wayang purwa di Jawa.

Sementara, pertunjukan dan kisah wayang di Jawa juga telah mengalami banyak perubahan, disesuaikan dengan situasi kondisi lokal masing-masing daerah. Bahkan, wayang yang semula berakar pada kepercayaan serta adat budaya Hindu (India), sempat pula digunakan sebagai media dakwah Islam para wali di Jawa. Selain itu, perlu dicatat  bahwa wayang merupakan kreasi seni budaya yang sangat terbuka. Pakem pedalangan pun dengan mudah disisipi bermacam pesan dan peristiwa yang beraneka warna. Varian demi varian muncul, ada kisah dan gancaran versi Solo, Yogyakarta, pesisiran, Banyumasan, Cirebon, Betawi, Trenggalek, dan lain-lain. Ada pula kisah carangan (sempalan) yang juga banyak dipergelarkan. Di samping itu, pedoman-pedoman yang melandasi wayang purwa pun berangkat dari berbagai sumber, yang kadang mempunyai perbedaan satu sama lain. Dengan demikian, menikmati kisah dan pertunjukan wayang tidak perlu risau manakala muncul perbedaan–baik disengaja atau tidak– dengan pakem atau informasi yang telah kita dapatkan selama ini

Maka, belajar pada kisah wayang, minimal kita akan menyadari bahwa akar konflik yang berpotensi menyebabkan perang terbuka ada di mana-mana. Mulai dari hal-hal yang bersifat spiritual, fisikal, material, maupun sosial. Dari problema-problema  kecil keseharian, hubungan antarkeluarga dan sanak kerabat, hingga cita-cita pribadi yang berlebihan. Apalagi, setelah dimensi kehidupan kini makin terbuka sedemikian rupa, segalanya bertambah luas, ruwet dan kompleks, dimungkinkan setiap aspek di dalamnya dapat menimbulkan beda pendapat dan kepentingan hingga memicu perbenturan yang cukup ekstrem.

Baca juga:  Cinta Dunia Maya

Jika dirunut lebih jauh lagi, ternyata banyak akar konflik dan wujud konflik dalam kisah wayang yang justru terkesan unik dan menarik. Bahkan, kadang seperti tidak masuk akal. Karena itulah,  tujuan dari penulisan buku yang mengangkat tema mengenai konflik dalam kisah wayang ini adalah mengajak masyarakat untuk bercermin. Bahwa dalam kisah wayang sudah demikian banyak dipaparkan bermacam konflik sehingga menjelma perang terbuka, yang  menurut pandangan moral peradaban sesungguhnya: “patut dicegah atau dihindarkan.” Perlu pula disampaikan, bahwa akar-akar konflik dalam kisah wayang umumnya bukan bermula dari masalah tunggal, tetapi lantaran terjadinya hubungan atau korelasi antarberbagai situasi kondisi yang melatarbelakanginya.

Karenanya perlu diwaspadai bahwa di balik suasana yang kelihatannya aman, nyaman, tenang, tenteram, damai, bahagia, justru senantiasa terdapat akar permasalahan yang manakala memperoleh siraman situasi kondisi yang tepat akan tumbuh berkembang menjadi embrio konflik yang tak boleh diabaikan. Lantaran sedikit saja lengah, embrio konflik tadi dapat  meledak menjadi masalah nyata yang tidak gampang-gampang dicegah maupun ditanggulangi.

Contohnya, bisa jadi konflik tersebut hanya bermula dari pertengkaran anak berebut mainan, seperti kasus Anjani, Sugriwa, dan Subali dalam Ramayana. Bisa juga karena rasa iri dengki seperti dialami Jambumangli gara-gara Resi Wisrawa berhasil menyunting Dewi Sukesi kemudian ia nekat menantang perang tanding hingga dirinya tewas berkeping-keping. Mungkin saja, dipicu oleh dendam dan sakit hati seperti dirasakan Dewi Gendari kepada Pandu dalam Mahabharata. Atau justru karena berkata jujur dirinya harus menerima penyiksaan hingga tewas, seperti dialami Kalabendana akibat ulah Gatotkaca setelah pernikahan Abimanyu dengan Dewi Utari di Pancala.

Maka, ada baiknya selalu mengingat dan mengamalkan nasihat para leluhur di Jawa yang berbunyi: “tansah eling lan waspada”. Dalam segala tindak perbuatan selalu diingatkan: “Sing ngati-ati. Jalaran kesandhung ing rata, kebentus ing tawang dalane orang mung siji.” (Berhati-hatilah karena kesandung di tempat rata dan kepala terbentur langit jalannya tidak hanya satu). Artinya, kesandung di tempat rata, adalah karena kesandung kaki sendiri (polah tingkah sendiri). Sedang kepala terbentur langit, karena terlampau besar dan tinggi keinginan atau kemauan yang didambakannya []

coverwayang - Pernik Konflik Jagat Wayang

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi