Pertanyaan Seputar Kebudayaan

Lukisan karya Heri DonoLukisan karya Heri DonoLukisan karya Heri DonoLukisan karya Heri DonoLukisan karya Heri DonoLukisan karya Heri DonoLukisan karya Heri Dono
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Kosa "Cultural Studies" Historead

Konsep “kebudayaan” adalah persoalan sentral dalam studi-studi kebudayaan, meskipun tidak ada makna yang ‘benar” dan definitif yang bisa dilekatkan padanya. Dalam menjelaskan kebudayaan sebagai “salah satu dari dua atau tiga kata yang paling rumit dalam bahasa Ingrris”, Williams (1983) menunjukkan karakter kebudayaan dan studi kebudayaan yang terus dikontestasikan/dipertentangkan. Kebudayaan bukanlah sesuatu yang berada “di luar sana”, yang menunggu untuk dijelaskan secara benar oleh para teoritisi tanpa kesalahan. Alih-alih, konsep kebudayaan adalah alat yang kurang lebih bermanfaat bagi kita sebagai bentuk kehidupan. Akibatnya, penggunaan dan maknanya pun terus-menerus berubah, sebagaimana para pemikir yang berharap “melakukan” sesuatu yang berbeda dengannya. Kita mestinya tidak mempertanyakan apa itu kebudayaan, melainkan bagaimana bahasa kebudayaan digunakan dan apa tujuan penggunaannya.

Studi tentang kebudayaan di dalam sosiologi, antropologi, sastra, dan sebagainya mendahului studi kebudayaan sebagai suatu aliran sungai pemikiran dengan tema-tema partikular dan kecenderungan teoritis. Karena studi tentang kebudayan tidak memiliki asal muasal, maka Cultural Studies  (selanjutnya disebut CS) sebagai formasi diskursif yang terlembagakan memiliki sejarah particular, meskipun hal ini lalu menjadi mitos. Ini berarti bahwa CS ala British, sebagaimana ditunjukkan oleh Hoggart, Williams dan Hall, bisa dianggap sebagai momen penting dalam perjalanan CS. Dan dalam melacak jejak pendefinisian dan penyebaran konsep ini, maka kita sebenarnya sedang mengeksplorasi perubahan titik perhatian dari CS.

Kebudayaan dengan K Kapital: yang Tinggi dan yang Baik dalam Tradisi Sastra

Menurut William (1981, 1983) kata “budaya” berawal sebagai kata benda dari proses yang berhubungan dengan pertumbuhan hasil panen, yakni, pengolahan. Sesudah itu, ide kultivasi diperluas melampaui pikiran manusia atau “spirit” yang melahirkan ide tentang orang yang terlatih dan terpelajar. Bagaimanapun juga, selama abad 19 makin banyak definisi antropologis yang muncul dengan menunjuk kebudayan sebagai “suatu pandangan hidup yang khas dan menyeluruh” yang menekankan “pengalaman hidup”. Hal ini berada di dalam tekanan definisional bahwa CS British memiliki permulaan mitologis dan diskursifnya sendiri.

          Penulis Inggris abad 19, Matthew Arnold, meraih status ikonik di dalam narasi CS. Dia terkenal dengan deskripsinya tentang kebudayaan sebagai “yang terbaik dari apa yang pernah dipikirkan dan dikataan di dunia” (Arnold, 1960:6), dengan “membaca, mengobservasi dan berpikir”, suatu sarana meraih kesempurnaan moral dan kebajikan sosial. Kebudayaan sebagai sebentuk “peradaban” manusia dipertentangkan dengan “anarki” yang dilakukan oleh “massa yang tak terpelajar, liar, dan biadab”. Dengan demikian, argumen politis dan estetis Arnold ini menjadi justifikasi bagi apa yang kita sebut sebagai “budaya tinggi”.

Leavisisme

Karya Arnold merupakan karya yang berpengaruh terhadap ikon-ikon lain dari kebudayaan dengan C besar, seperti F.R. dan Q.D. Leavis yang karyanya muncul pada 1930an dan merentang hingga empat dekade kemudian. Leavis bersama dengan Arnold memberikan gagasan bahwa kebudayan adalah titik puncak dari peradaban dan merupakan urusan minoritas terdidik. F.R. Leavis menegaskan bahwa, sebelum revolusi industri, Inggris memiliki suatu budaya bersama yang otentik milik masyarakat dan suatu kebudayaan minoritas milik elit terdidik. Bagi Leavis, ini adalah zaman keemasan dari “sebuah komunitas organic” dengan suatu “budaya hidup” seperti “lagu-lagu dan tarian rakyat” (leavis dan Thompson, 1933:1) yang sekarang ini telah hilang menjadi terbenam dalam standarisasi dan penyamaratan budaya massa yang terindustrialisasi. Tujuan dari budaya tinggi dan minoritas, yang sekarang ini direduksi menjadi suatu tradisi sastra, adalah untuk mempertahankan, memelihara, dan menyebarkan kemampuan untuk membedakan antara budaya yang terbaik dan terburuk. Bagi Leavis, tugas ini adalah mendefinisikan dan mempertahankan yang terbaik dari kebudayaan dan karya-karya kanon yang baik, sambil mengkritisi advertising, film dan fiksi popular dan yang teeburuk dari budaya massa dengan segala “kecanduan” dan “kebingungannya”.

Hal ini berlawanan dengan definisi-definisi kebudayan yang CS perjuangkan dan melalui mana ia mendefinisikan dirinya sendiri. Bahwa di Britain, Arnold dan F.R. Leavis merupakan figure kritikal, adalah bagian dari narasi CS. Tetapi argumen yang sama diejawantahkan oleh penulis-penulis di negara-negara lain dan terus menerus berulang hari ini. Dengan meninjau hal-hal masa lalu tersebut tidak begitu sulit untuk mengkritik kesewenangan dan karakter elitis karya Arnold dan Leavis, mereka juga dibilang telah membuka bagian dari studi budaya popular dengan membidikkan kepadanya alat-alat dan konsep-konsep “seni dan literature”.

Kebudayaan sebagai Ordinary, yang sehari-hari

Berbeda dengan konsepsi elitis dan estetis tentang kebudayan, Raymond Williams mengembangkan suatu pemahaman yang menekankan pada karakter hidup sehari-hari dari kebudayaan sebagai “suatu keseluruhan padangan hidup”. Williams khususnya mengamati pengalaman kelas pekerja dan konstruksi aktif mereka terhadap kebudayaan. Dengan demikian, pandangan Williams tentang kebudayaan ini tidak kalah politisnya dengan Arnold, tetapi yang krusial adalah bahwa bentuk politik yang diajukan Williams berbeda yakni lebih menekankan demokrasi, pendidikan dan “revolusi panjang” (William, 1965). Yaitu: gerakan kelas pekerja melalui institusi-institusi kehidupan kontemporer dan demokratisasi budaya dan politik. Bagi Williams:

 “Suatu kebudayaan memiliki 2 aspek: makna yang diketahui dan petunjuk-petunjuk (directions), yang mana anggota-anggota kebudayaan itu diatur dan diarahkan; observasi-observasi dan makna-makna baru ditawarkan dan dicoba. Ini semua adalah proses sehari-hari (ordinary process) masyarakat dan ingatan manusia, dan melalui  mereka kita melihat hakikat kebudayaan: yang selalu bersifat tradisional dan kreatif; yakni makna-makna bersama yang paling biasa (sehari-hari) dan makna-makana individual yang paling baik. Kita memakai kata “budaya” dalam dua pengertian: berarti keseluruhan pandangan hidup—makna-makna bersama; berarti seni dan pembelajaran –proses-proses khusus mengenai penemuan dan upaya kreatif. Beberapa penulis menggunakan kata tersebut untuk salah satu dari pengertian-pengertian tersebut. Dan saya sendiri menekankan keduanya, serta signifikansi hubungan keduanya. Masalah yang saya tanyakan tentang kebudayaan adalah masalah-masalah mengenai tujuan-tujuan bersama dan umum kita, selain juga mempertanyakan makna-makna personal dan mendalam. Kebudayaan adalah ordinary (kebiasaan, keseharian), dalam setiap masyarakat dan dalam setiap ingatan.” (William, 1989;4) 

Kebudayaan adalah seni dan nilai-nilai sekaligus, norma-norma dan barang-banrang simbolik kehidupan sehari-hari. Walaupun kebudayaan membahas tradisi dan reproduksi sosial, ia juga urusan kreatifitas dan peruabahan. 

Pendekatan Antropologis terhadap Kebudayaan

Konsep William tentang kebudayaan bersifat “antropologis” sejauh berpusat pada makna-makna sehari-hari: nilai-nilai (ideal-ideal abstrak), norma-norma (prinsip atau aturan-aturan tertentu), dan barang-barang simbolik/material. Makna-makna digerakkan bukan oleh individu-individu tetapi oleh kolektifitas. Karena itu idea tentang kebudayaan menunjuk kepada makna-makna bersama itu.

“Mengatakan bahwa dua orang memiliki budaya yang sama berarti menyatakan bahwa mereka menafsirkan dunia kira-kira dalam cara yang sama dan dapat mengekspresikan diri mereka sendiri, pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan mereka tentang dunia, dalam cara yang akan dipahami oleh masing-masing. Jadi, kebudayaan itu bergantung pada partisipannya yang menafsirkan dengan penuh makna apa yang terjadi disekitarnya, dan memahami dunia, dalam cara-cara yang pada umumnya sama. (Hall 1997a:2)

Sebagaimana yang dicatat  McGuigan, adopsi terhadap versi antropologis tentang kebudayaan bisa menjadi sesuatu kebanalan, karena ia tidak berlaku pada kehidupan dan organisasi sosial kebudayaan Barat modern yang telah teridustrialisasi, dibandingkan terhadap budaya masyarakat terjajah. Lebih jauh lagi, dalam konteks kritisisme sastra Inggris, definisi antropologis tentang kebudayaan menawarkan suatu tepian yang kritikal dan demokratik. pemahaman kebudayaan sebagai “suatu keseluruhan cara hidup” memiliki konsekuesni pragmatis pelepasan konsep tersebut dari seni, dengan melegitimasi budaya popular dan membuka televisi, koran, tarian, sepak bola dan aneka artefak dan praktik-praktik keseharian lainnya untuk dianalisis secara kritikal dan simpatik.

Kulturalisme: Hoggart, Thompson, dan Williams

Di dalam narasi restropektif tentang CS, Richard Hoggart, Edward Thompson dan Raymond Williams telah dipuji karena pemahaman kebudayaan yang dipaparkan secara historis dan antropologis dalam konteks modern. Pemahaman ini lalu disebut dengan “kulturalisme'” (hall, 1992a). Meskipun ada berbagai perbedaan penting antara Hoggart, Thompson dan Williams, mereka bersepakat bersama dalam hal penekanan pada sifat “kesehari-harian” (ordinariness) dari kebudayaaan serta kemampuan aktif dan kreatif masyarakat untuk mengkonstruksi praktik-praktik yang bermakna di antara mereka. Lebih jauh lagi, ketiganya sama-sama tertarik pada masalah-masalah budaya kelas, demokrasi dan sosialisme dalam konteks sejarah kelas pekerja di Inggris. Dalam hal Williams dan Thompson, keduanya memiliki keterlibatan dengan Marxisme dan gagasan bahwa “manusia menciptakan sejarah mereka sendiri, tapi mereka tidak menciptakannya dengan senang hati; mereka tidak menciptakan sejarahnya dalam situasi yang dipilihnya sendiri, melainkan dalam situasi yang dihadapi, diberikan, dan dibawa dari masa lalu” (Marx, 1961:53).

 Richard Hoggart: The Uses of Literacy

Buku The Uses of Literacy Hoggart (1957) mengekplorasi karakter budaya kelas pekerja Inggris sebagaimana yang telah berkembang dan berubah dari 1930an sa,pai 1950an. Pembagian buku ini ke dalam dua bagian –’An “Older” Order’ dan ‘Yielding Place to New’ menunjukkan pendekatan sejarah dan perbandingan yang dibidik oleh Hoggart. Pada bagian pertama, dengan didasarkan pada ingatan-ingatan pendidikan dirinya, Hoggart memberikan pemahamanan yang simpetik, humanis dan detail mengenai kultur sehari-hari kelas pekerja, termasuk suatu hari tepi laut, apropriasi kreatif dan pemakaian lagu rakyat. Terhadap pendengaran siapapun dari kita yang dibeli dengan budaya komersial dan musik pop, padangan Hoggart tentang budaya kelas pekerja terdengar berwarna nostalgia karena otentisitas budaya yang hilang yang diciptakan dari berikut, karena, pada bagian dua, dia memebrikan nilai yang agak tajam tentang perkembangan “budaya komersial” yang digambarkan oleh “jukebpx boy” (anak otomat), “kebongkokan Amerika” dan musik keras. Meskipun demikian, warisan penting Hoggart adalah legitimasi yang diberikan kepada studi detil tentang budaya kela pekerja, makna-makna dan praktek-praktek masyarakat sehari-hari sebagaimana mereka menghidupi hidup mereka dan menciptakan sejarah mereka sendiri.

Edward Thompson: The Making of The English Working Class

‘Sejarah dari bawah’ merupakan tema sentral  buku The Making of The English Working Class milik Thompson (1963), yang memperhatian kehidupan, pengalaman-pengalaman, kepercayaan-kepercayaan, sikap-sikap dan praktek-praktek masyarakat pekerja. Thompson, bersama-sama dengan William, memahami kebudayan sebagai yang dihidupi dan keseharian, meskipun dia juga memgamati apa yang dilihatnya bukan kebudayaan melainkan sosio-ekonomi. Bagi Thompson , kelas adalah fenomena histories yang ditempa dan diciptakan oleh masyarakat; ia bukanlah suatu “benda”, tapi seperangkat realsi-relasi sosial dan pengalaman-pengalaman. 

“Kelas terjadi ketika beberapa orang, sebagai hasil dari pengalaman bersama (diwariskan atau dialami bersama), merasa dan mengartikulasikan identitas kepentingan-kepentingan di antara mereka, dan sebagai berlawanan dengan masyarakat yang lain yang memiliki kepentingan-kepentingan berbeda (dan biasanya bertentangan dengan) kepentingan masyarakat itu.” (Thompson, 1963:12) 

Thompson menekankan peran aktif dan kreatif dari kelas pekerja Inggris dalam menghadirkan diri mereka sendiri (meskipun tidak dibawah kondisi yang mereka ciptakan sendiri) dan berupaya untuk melindungi  pengalaman kelas pekerja dalam pemahaman sejarah. Sebagaimana yang masyhur dia katakana, ‘ saya berusaha menyelamatkan si tukang kaos kaki miskin, kehancuran Luddite, penganyam/penenun baju “usang”, ahli pengrajin “utopian”, dan pengkit terperdaya dari Joanna Southcott, dari sikap merendahkan diri yang hebat dari anak cucu’. (Thompson, 1963: 12).

Raymond William dan Materialisme Budaya

Meskipun Hoggart dan Thompson adalah figure-figur berpengaruh dalam perkembangan CS, warisan Raymond William lebih abadi. Bagi William, kebudayaan sebagai makna-makna dan nilai-nilai sehari-hari adalah bagian dari totalitas ekspresif relasi-relasi sosial. Jadi “teori kebudayaan” didefinisikan sebagai studi hubungan-hubungan  antara elemen-elemen dalam suatu keseluruhan pandangan hidup. (Williams, 1965:63).

 “Kita ingin membedakan tiga level kebudayaan, meski di dalam definisinya yang paling umum. Ada kebudayaan hidup dari ruang dan waktu particular, yang hanya bisa diakses oleh mereka yang hidup dalam ruang dan waktu tersebut. Ada budaya yang dicatat, apapun budayanya, dari seni sampai fakta-fakta yang paling biasa dalam keseharian: budaya masa itu. Juga ada, sebagai factor yang berhubungan dengan budaya hidup dan budaya-budaya zaman itu, budaya tentang tradisi selektif. (Williams, 1965:66).

 Bagi Williams, tujuan analisis kebudayaan adalah mengeksplorasi dan menganalisis kultur yang tercatat dari ruang dan waktuu yang ada untuk membentuk “struktur perasaan”, atau nilai dan pandangan bersama, sambil selalu menyadari bahwa rekaman-rekaman demikian adalah bagian dari tradisi yang diinterpretasikand an dipelihara. Lebih jauh, Williams menegaskan bahawa budaya dipahami melalui representasi-representasidan praktek-praktek kehidupan seharu-hari dalam konteks kondisi-kodisi material dari produksi mereka. Inilah yang disebut dengan materialisme cultural, yang melibatkan “analisis terhadap semua bentuk signifikasi… didalam sarana-sarana actual dan kondisi-kondosi produksi mereka”. (Williams, 1981:64-5). Jadi Williams (1981) mendorong bahwa kita mengeksplorasi budaya dalam pengertian:

  1. Institusi-institusi dari produksi artistic dan kebudayaan, misalnya: kerajinan dan bentuk-bentuk pasar.
  2. Formasi-formasi dari sekolah, gerakan-gerakan, dan faksi-faksi produksi kebudayaan.
  3. Mode-mode produksi, termasuk hubungan-hubungan antara sarana-sarana material dari produksi budaya dan bentuk-bentuk cultural yang tampak.
  4. Identifikasi-identifikasi dan bentuk-bentuk budaya, termasuk kekhususan produk-produk budaya, tujuan estetiknya, dan bentuk-bentuk particular yang menggerakkan dan mengekspresikan makna.
  5. Reproduksi, dalam ruang dan waktu, dari tradisi selektif makna-makna dan praktik-praktik dengan melibatkan tatanan sosial dan perubahan sosial.
  6. Organisasi “tradisi selektif” dalam pengertian “system penandaan yang dicapai”.

 Strategi demikian mungkin diterapkan pada musik kontemporer serta citra-citra dan praktik-praktik yang diasosiasikannya, sehingga Rap, Hip-Hop, atau Rave dipahami sebagai formasi musik popular yang diproduksi di dalam institusi-institusi perusahan rekaman dan agen-agen periklanan. Mode produksi dari musik popular memuat sarana-sarana teknis perekaman studio dan relasi sosial kapitalis yang di dalamnya praktek-praktik itu tertanam. Jelasnya, Hip-Hop atau Rave itu adalah bentuk-bentuk musical yang memuat organisasi-organisasi spesifik dari suara-suara, kata-kata dan citra-citra yang dengannya kelompok sosial particular membentuk identifikasi-identifikasi. Karenanya seseorang seharusnya menganalisis organisasi suara-suara dan tanda-tanda sebagai suatu system penandaan dan metode yang di dalamnya Hip-Hop, misalnya, mereproduksi dan merubah aspek-aspek dari bentuk-bentuk musical Afrika-Amerika dan nilai-nilai budayanya yang dibangun secara histories, yakni, tentang apa makna Hip-Hop itu bagi pemuda Afrika-Amerika.

Budaya sebagai pengalaman yang hidup

Singkatnya, budaya bagi Williams dibentuk oleh makna-makna dan praktek-praktek perempuan dan laki-laki dewasa. Budaya adalah pengalaman hidup: teks-teks, praktik-praktik dan makna-makna seluruh masyarakat sebagaimana mereka menjalani hidup. Makna-makna dan praktek-praktek tersebut dimainkan di daerah yang bukan ciptaan kita sebagaimana perjuangan kita untuk membentuk kehidupan kita secara kreatif. Kebudayaan tidak terapung bebas dari kondisi-kondisi material kehidupan; sebaliknya, bagi Williams, “apapun tujuan dari praktek kebudayaan, sarana-sarana produksinya selalu bersifat material” (Williams, 1981:87). Jadi, makna-makna budaya yang dihidupi harus dieksplorasi dalam konteks syarat-syarat produksi mereka, yang lalu membentuk budaya sebagai “keseluruhan cara hidup”. 

Budaya tinggi/budaya rendah: estetika dan runtuhnya batas-batas

Demarkasi yang dibuat oleh Leavis dan Arnold antara yang baik dan yang buruk, yang tinggi dan yang rendah, itu terpusat pada pertanyaan mengenai kualitas estetis; yakni penilaian tentang kecantikan, kebaikan, dan nilai. Secara histories, penjagaan batas-batas dari suatu kanon “karya-karya yang baik” telah meminggirkan budaya popular, karena penilaian-penilaian kualitas itu berasal dari hierarki selera budaya yang berbasis kelas dan yang terlembagakan. Hirarki tersebut, yang terbentuk di dalam konteks sejarah dan sosial particular, digunakan oleh kelompok apologisnya sebagai seperangkat kriteria estetis yang bersifat universal dan representatif. Akan tetapi, penilaian-penilaian tentang kualitas estetis selalu terbuka pada kontestasi dan, dengan melewati waktu dan kepentingan yang bertambah dalam budaya popular, seperangkat teori-teori baru yang menegaskan bahwa tidak ada dasar absah untuk membatasi antara yang layak dan yang tidak layak. Evaluasi tidaklah tugas yang sustainable bagi suatu kritik; alih-alih, kewajiban kita harus menjelaskan dan menganalisis produksi makna. Hal ini memiliki manfaat besar bagi pembukaan seluruh aturan baru dari teks-teks untuk diskusi yang legitimit, misalnya opera sabun. (Brunsdon, 1990)

Sebuah pertanyaan tentang Kualitas

“Sampai sekarang ini”, tegas Allen, “wacana estetis tentang opera sabun dibentuk oleh penghinaan terhadap bentuk” (Allen, 1985:11). Bagi kritisisme mainstream, ide romantik mengenai “objek artistic”, yang diproduksi oleh “jiwa artistic” menyatu dengan perasaan kompleksitas dan otensitas karya seni dan ketrampilan dan karya penting yang dibutuhkan oleh pembaca untuk mengakses pengalaman estetika yang jenuin. Dari dalam paradigma ini opera sabun, sebagai ekspresi budaya massa, terlihat superficial dan tidak memuaskan. Bagaimanapun juga tidak ada bentuk seni, demikian juga tidak ada konteknya yang bisa menjamin makna universal. Begitulah konsep tentang kecantikan, harmoni, bentuk dan kualitas bisa dipergunakan pada kereta uap, seperti halnya pada novel dann lukisan.

Konsep tentang kecantikan, bentuk dan kualitas secara cultural bersifat relatif. Kecantikan dalam pemikiran Barat mungkin tidak sama dengan apa yang dipahami dalam budaya lain. Seni bisa dipahami sebagai kategori yang diciptakan secara sosial yang melekat pada tanda-tanda internal dan eksternal tertentu yang dengan hal tersebut seni menjadi dikenali. Karena itu ada “galeri seni” dan teater. Seni sebagai kualitas estetis adalah seni yang dilabeli oleh budaya Barat dan elit-elit kelas. Untuk melihat seni sebagai “semacam karya yang secara unik berbeda-beda, dengan keunikan dan sekaligus transendensinya, produk merupakan sebuah gagasan yang salah yang digeneralisasikan dan diambil untuk menjadi esensial terhadap nilai seni.” (Wolf, 1980:17).

Bentuk-bentuk budaya popular seperti opera sabun TV terlangkaui/dihindari bagi masyarakat sebanding dengan alasan “creative”. Lebih jauh, kita mungkin mencatat bukan hanya perbedaan-perbedaannya, tapi juga kesamaan-kesamaannya antara seni tinggi dan bentuk-bentuk popular. Bukan Mona Lisa atau Dallas yang menjadi hasil dari paraktek-praktek mistik dari kejeniusan; Alih-alih, masing-masng adalah hasil karya, suatu tranformasi kemanusiaan dari lingkungan material melalui kerja. Seni adalah industri berikut para pemiliknya, menejer dan para pekerja yang beroperasi sesuai dengan hokum keuntungan sebagaimana yang ada dalam budaya popular dan TV popular. Jadi, ada daerah yang bisa dibenarkan untuk mengeksklusi opera sabun dari domain artistic pada dasar-dasar bahwa seni, misalnya kualitas estetis, merupakan bentuk yang berbeda dari aktifitas.

Bentuk dan Isi

Banyak kritik ditegaskan bahwa kualitas kerja adalah apa yang secara formal lebih memadai, bersifat kompleks dan subtil di dalam ekspresi formal kandungannya. Akan tetapi, pemisahan bentuk-isi dalam argumen ini sulit untuk dilanjutkan karena mereka (bentuk dan isi) adalah aspek-aspek dari obyek yang sama yang tidak bisa dibedakan. Kemungkinan lainnya, seseorang mungkin menegaskan bahwa kualitas karya adalah apa yang paling memadai dan bersifat ekspresif dalam hubungannya dengan referensinya. Yakni, seni yang baik lebih superior dari pada seni yang buruk dalam menerangi dunia real. Akan tetapi banyak penulis menemukan kesulitan untuk menyangga epistemologi realisme yang melandasi argumen ini. Karena seni bukanlah suatu foto kopian dari dunia, melainkan representasi spesifik hasil konstruksi sosial.

 Kebudayaan dan Formasi Sosial

Konsepsi politis tentang budaya yang dipakai CS berakar pada debat soal tempat budaya dalam formasi sosial dan hubungan dengan praktek-praktek yang lain, khususnya ekonomi dan politik. Debat ini secara histories berkembang dalam konteks CS warisan Marxis.

 Marxisme dan metafor basis dan superstruktur

 Marxisme atau materialisme histories adalah suatu filsafat yang berupaya untuk meghubungkan produksi dan reproduksi budaya dengan organisasi kondisi-kondisi material dari kehidupan. Kebudayaan adalah kekuatan badaniah yang terikat pada produksi kondisi material yang diorganisasikan secara sosial dari eksistensi dan menunjuk pada bentu-bentuk yang diasumsikan oleh eksistensi sosial dibawah kondisi-kondisi histories tertentu. Idea bahwa kebudayaan ditentukan oleh produksi dan organisasi eksistensi material diartikulasikan melalui metafor basis dan superstruktur, yang digambarkan dalam bagian dibawah ini.

 “Di dalam produksi sosial yang diadakan amsyarakat, mereka masuk kedalam relasi-relasi yang nyata yang diperlukan sekaligus independen dari kehendak mereka; relais-relasi produksi ini bersesuaian dengan tingkat perkembangan tertentu dari kekuasaan material produksi. Totalitas relasi-relasi produksi ini membentuk struktur ekonomis masyarakat –fondasi real, dimana superstruktur politis dan hokum lahir dan kearah mana bentuk-bentuk kesadaran sosial tertentu dapat disamakan. Mode produksi kehidupan material menentukan karakter umum proses kehidupan spiritual, sosial dan politik. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tapi sebaliknya, keadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka” (Marx, 1961:67) 

Fondasi Kebudayaan

Moda produksi dibentuk oleh organisasi dari sarana-sarana produksi (pabrik, mesin, dll) dan relasi spesifik reproduksi (mis. Kelas) yang lahir dari organisasi kekuatan-kekuatan produksi itu. Patut diperhatikan bahwa mode produksi ini adalah “fondasi real” dari superstruktur politik dan hukum dan bahwa ia menentukan kehidupan spiritual, politik dan sosial. Jadi mode produksi ekonomis membentuk superstruktur kebudayaan.

 Kebudayaan, akibat dari mode produksi yang secara historis bersifat spesifik, bukanlah wilayah yang netral karena “relasi-relai produksi yang ada antara individu-individu harus mengekspresikan diri mereka sendiri, sekaligus sebagai relasi politis dan hokum” (Marx, 1961:92). Kebudayaan bersifat politis karena ia adalah ekspresi relasi-relasi kekuasaan sedemikian rupa bahwa “ide-ide mengenai kelas berkuasa merupakan, dalam setiap masa, ide-ide yang berkuasa. misalnya, kelas yang menjadi kekuatan material dominan pada saat yang sama juga merupakan kekuatan intelektual dominan” (Marx, 1961:93)

Lebih jauh, hakikat relasi sosial kapitalis dalam ruang pasar mengaburkan basis eksploitatif dalam dunia produksi. Pemakaian kerja “bebas” mengaburkan eksploitasi, sementara kedaulatan pasar yang muncul dan kesamaan (kita semua adalah konsumennya) mengaburkan fondasi “real” dari ketidaksamaan pada level produksi. Apa yang secara histories adalah seperangkat spesifik relasi-relasi sosial antar orang-orang tampak sebagai seperangkat relasi yang natural dan universal antara benda-benda, yakni, relasi sosial kontingen yang direifikasi (dinaturaliassikan sebagai benda-benda yang sudah fixed).

 Kebudayaan sebagai kekuatan kelas

Pendeknya, kebudayaan bersifat politis karena ia merupakan ekspresi relasi sosial kekuasaan kelas dengan cara menaturalisasikan tatanan sosial sebagai fakta yang tak dapat ditolak, sehingga mengaburkan relasi-relasi eksploitasi yang mendasar. Dengan demiian kebudayaan bersifat ideologis. Dengan ideology dimaksudkan peta-peta makna yang, sambil dimaksudkan sebagai kebenaran universal, merupakan pemehaman-pemahaman sejarah yang spesifik yang mengaburkan dan memelihara kekuasaan. Atau secara lebih tajam,  gagasan yang berkuasa adalah gagasan kelas berkuasa.

Melalui cara ini, hubungan antara basis ekonomi dan superstruktur budayaan adalah suatu hubungan mekanis dan secara ekonomis deterministic. Dengan determinisme ekomoni dimaksudkan ide bahwa dorongan motif relas kelas secara langsung menentukan bentuk dan makna produk-produk budaya. Determinisme ekonomi bermakna bahwa karena perusahaan TV oleh kebutuhan meraih keuntungan, semua program dibuat di dalam kerangka kehendak perusahaan yang prokapitalis. Pengaruh model mekanistik dan determisnistik ini telah menyusut lama dalam CS. Alih-alih, narasi CS bergeser dari reduksionisme ekonomis menuju suatu analisis logika otonomi dari bahasa, budaya, reprsentasi dan konsumsi. Hal ini menjadi tema banyak debat dalam CS.

 Kekhususan Kebudayaan

 Kebanyakan pemikir dalam CS menolak reduksionisme ekonomis sebagai bersifat simplistic karena kelemahannya untuk mengakui bahwa praktek kebudayaan memiliki kekhususan sendiri. Analisis determinan ekonomi mungkin penting untuk memahami kebudayaan, tapi hal itu tidak cukup, dan memang tidak akan cukup. Kita harus mengkaji fenomena kebudayaan dalam pengertian aturan-aturannya sendiri, logika, perkembangan dan aktifitasnya. Ini menunjuk pada menariknya pendekatan multidimensional dan multiperspektif terhadap pemahaman kebudayaan yang akan berupaya memahami hubungan antara dimensi-dimensi ekonomi, sosial, plitik dan budaya tanpa mereduksi fenomena sosial pada satu level apapun. Di sini, karya Raymond Williams (1965, 1979, 1081, 1989) ternyata berpengaruh dalam pengembangan suatu pemahaman non-reduksionis tentang hubungan antara material/ekonomi dan kebudayaan.

 Williams: Totalitas dan jarak beragam dari praktek-praktek

Bagi Williams (1981), kebudayaan bersifat konstitutif dan ekspresif yang ada dalam suatu totalitas sosial dari praktek dan relasi-relasi manusia. Dia mendiskusikan relasi antara ekonomi dan kebudayaan dalam pengertian “batas-batas keadaan”. Dengan ini dia bermaksud bahwa yang ekonomis menentukan batas-batas pada apa yang bisa dilakukan atau diekspresikan dalam kebudayaan tapi tidak menentukan makna praktek-praktek kebudayaan dalam suatu hubungan langsung satu-satu. Williams membicarakan “jarak yang beragam dari praktek-praktek”, yang dia maksudkan bahwa relasi-relasi sosial yang tertanam dalam proses kerja upahan dan kepemilikan sarana-sarana produksi merupakan seprangkat relasi sosial yang dominan dan kritikal. Relasi dan praktek-praktek yang lain adalah disusun pada “jarak-jarak yang beragam” dari seperangkat praktek sentral ini yang mendorong pada tingkat-tingkat determinasi , otonomi dan spesifisitas. Pendeknya, semakin dekat suatu praktek-praktek kepada relasi-relasi ekonomi pusat, maka ia akan semakin ditentukan secara langsung oleh relasi itu. Dengan pendasaran ini, seni yang diproduksi secara individual daripada TV yang diproduksi secara massal.

Argumen-argumen Williams bersifat sugestif dan merepresentasikan suatu pergeseran dari reduksionisme ekonomi yang tajam.Akan tetapi, sementara produksi TV mungkin lenih tertanam dalam produksi kapitalis daripada lukisan, ia tidak secara pasti bahwa melukis itu kurang bersifat ideologis atau politis. “penentuan batas-batas’ tidak menjelaskan banyak pada kita mengenai bentuk yang dipakai TV, dan mengapa ia berbeda dengan lukisan. Williams memahami ini dan mencurahkan waktunya untuk menganalisis spesifitas bentuk-bentuk kebudayaan. Akan tetapi, dia tidak memecahkan atau mengkonseptualisasikan hubungan antara budaya dan ekonomi.

 Di dalam skema Williams, model sederhana basis-supersruktur digantikan demi suatu konsepsi masyarakat sebagai “totalitas ekspresif” yang didalamnya semua praktek-praktek –politik, ekonomi, ideology— saling mempengaruhi, dan memediasi satu sama lain. Sebagaimana dikatakan Hall (1992a), fase perkembangan teoritis dalam CS yang diikuti kulturalisme Williams dapat diidentifikasi dengan pengaruh-pengaruh yang dipecahkan oleh penelitian ini untuk totalitas-totalitas mendasar. Ini adalah momen strukturalisme dalam CS dan, khususnya, strukturalisme Marxis Althusser. 

Otonomi Relatif dan Kekhususan  Praktek Kebudayaan

 Strukturalisme menjelaskan formasi sosial sebagai terbentuk oleh struktur-struktur kompleks dan regularitas. Ini semua dianalisis dari segi elemen-elemen yang beragam yang menyusun struktur-struktur dan calam cara dimana mereka diartikulasikan atau dihubungkan secara bersama-sama. Dari pada melarutkan kebudayaan kembali pada ekonomi (sebagaimana dalam model basis-superstruktur), tekanan disini terletak pada karakter kebudayaan yang tidak bisa direduksi sebagai kumpulan praktek-praktek yang khas berikut organisasi atau strukturasi internalnya. Strukturalisme memperhatikan tentang bagaimana makna kebudayaan diproduksi, dengan menganggap kebudayaan sebagai analog (atau terstruktur seperti) dengan bahasa. 

Althusser dan Formasi sosial

Althusser (1969, 1971) memahami formasi sosial bukan sebagai suatu totalitas dimana kebudayaan adalah suatu ekspresi, melainkan sebagai struktur kompleks dari hal-hal yang beragam (level-level atau praktek) yang “terstruktur dalam kekuasaan”. Yakni, instansi beragam dari politik, ekonomi dan ideology yang diartikulasikan secara bersama-sama untuk memberntuk suatu kesatuan yang bukan merupakan hasil dari determinasi tunggal basis-superstruktur, tetapi hasil dari determinasi-determinasi yang berasal dari level-level yang beragam, sehingga suatu formasi sosial adalah hasil dari “over-determinasi”. Dengan ini dimaksudkan gagasan bahwa apapun hal atau praktek yang ada adalah hasil dari determinasi-determinasi yang beragam. Determinasi-determinasi khas ini adalah level-level atau tipe-tipe praktek dengan logika dan kekhususannya  yang tidak bisa direduksi kepada, atau dijelaskan dengan, level-level atau praktek-praktek yang lain.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Satu Nama Terukir di Sebuah Kota
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Formulasi ini disebut oleh Hall (1972) sebagai “Kemajuan yang akan terus berkembang di masa datang” (seminal advance), karena hal itu memungkinkan kita untuk mengkaji fenomena kebudayaan seabgai system penandaan yang terpisah dengan efeknya sendiri dan determinasi-determinasi yang tidak bisa direduksi kepada ekonomi. Malahan, yang cultural dan yang ideologis itu bisa dilihat sebagai unsur konstitutif dari pemahaman kita tentang apa itu ekonomi. 

Otonomi Relatif

Di samping kekhususan yang diberikan pada praktek dan level-level yang berbeda, Althusser tidak mengakui otonomi total masing-masing instansi, tetapi memberikan pada deteminasi level ekonomi dalam “instansi terakhir”. Lalu kebudayaan secara relatif bersifat otonom dari ekonomi (suatu formulasi yang agak samar dan problematic dan menjadi subyek debat penting). Althusser mengemukakan contoh mengenai apa yang dimaksud ketika dia menjelaskan bahwa dalam konteks masyarakat feudal adalah politik dan bukannya ekonomi yang dominan dan menentukan. Tapi “pada instansi terakhir”nya, hal ini pada dirinya sendiri adalah hasil dari determinasi ekonomi. Yakni, mode organisasi ekonomi masyarakat feudal, mode produksinya yang menentukan bahwa politik menjadi praktek dominan.

Meskipun seluk beluk debat Althusserian tidak lagi menarik perhatian dalam CS, upayanya untuk meninggalkan reduksionisme ekonomi melalui pemahaman formasi sosial berkenaan dengan praktek otonomi relatatifnya yang diartikulasikan secara bersama-sama dalam cara yang kompleks dan menentukan adalah sangat signifikan. Sebagai contoh: Adalah basis formulasi Hall bahwa: Kita harus “memikirkan” suatu masyarakat atau formasi sosial sebagai yang selalu terbentuk oleh seperangkat praktek-praktek kompleks; masing-masing dengan kekhususannya sendiri, mode artikulasinya sendiri; yang berkedudukan dalam “suatu perkembangan tak merata” dengan praktek-praktek lain yang terkait” (Hall, 1977:237). Dengan artikulasi dimaksudkan suatu kesatuan temporer dua elemen yang berbeda yang tidak harus “cocok/sepadan”. Sebuah artikulasi merupakan bentuk hubungan yang bisa membuat kesatuan dua elemen yang berbeda, dibawah kondisi tertentu. Artikulasi mendorong pengekspresian/perepresentasian dan suatu gabungan bersama. Di sini, bahwa kesatuan yang dipikirkan sebagai “masyarakat” dianggap sebagai stabilisasi relasi-relasi dan makna-makna yang bersifat temporer, spesifik dan unik dari level formasi sosial yang berbeda-beda. Circuit of Culture - Pertanyaan Seputar Kebudayaan

Artikulasi dan Sirkuit Budaya

Dalam formulasi mutakhir isu-isu ini, Hall dan koleganya (Du Guy, dkk., 1997) mendiskusikan “sirkuit budaya” dan artikulasi produksi dan konsumsi. Dalam model ini, makna budaya diproduksi dan tertanam pada level masing-masing sirkuit yang kerja pemaknaannya begitu penting, tapi tidak cukup menentukan momen-momen berikutnya dalam sirkuit. Masing momen—produksi, reprsentasi, identitas, konsumsi,dan regulasi—memuat produksi makna yang diartikulasikan, dihubungkan dengan, momen berikutnya tanpa menentukan makna-makna apa yang akan diambil atau diproduksi pada level itu.

Sebagai contoh: Walkman Sony dianalisis berkaitan dengan makna-makna yang tertanam pada level desain dan produksi, yang dimodifikasi melalui penciptaan makna-makna baru sebagaimana Walkman yang representasikan dalam iklan. Pada gilirannya, makna-makna yang diproduksi melalui representasi berhubungan dengan, dan membentuk, identitas-identitas yang bermaknadari pengguna Walkman. Makna-makna yang tertanam pada momen produksi dan representasi mungkin atau tidak mungkin diambil pada level konsumsi, dimana makna-makna baru diproduksi lagi. Jadi, makna-makna yang diproduksi pada level produksi dapat dipengaruhi pada level konsumsi, tetapi tidak menentukan makna-maknanya. Lebih jauh, representasi dan konsumsi membentuk tingkat produksi melalui, misalnya, desain dan pemasaran. Diolah dan diterjemahkan dari buku seri babon Cultural Studies: “Representation” oleh Stuart Hall dll

jamujagokposter - Pertanyaan Seputar Kebudayaan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi