Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Kacamata Sosiologi atas Kebudayaan

Belakangan ini, kebudayaan menjadi salah satu kosa kata yang sangat sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kosa kata kebudayaan digunakan hampir di sembarang tempat dan barangkali tidak bisa dihindari untuk tidak digunakan. Meskipun demikian, tak seorang pun mampu mendefinisikannya secara jitu, apa arti sesungguhnya kebudayaan. Ada begitu banyak arti yang terkandung di dalam kosa kata kebudayaan. peta kebudayaan

Andai saja kita cermati dalam berbagai tulisan yang beredar dalam hidup sehari-hari kita, baik tulisan akademis, popular, atau komentar-komentar, maka kita tidak akan mampu menjumlah acuan kata budaya. Hari-hari ini, kita bisa menyebut satu kata lantas menambahkan budaya di depannya: budaya sekolah, budaya organisasi, budaya gay, budaya Batak, budaya Jawa, dan seterusnya. Dengan demikian, kata budaya bisa dipandang sebagai berisi beragam bentuk dan relasi kemanusiaan: dari hubungan antarpersonal pada tingkat makro, proses pembentukan norma dan nilai pada tingkat kelompok, sampai pada bentuk komunikasinya yang meluas pada bentuk lembaga sekaligus kendala-kendalanya.

Hal semacam ini akan memicu pertanyaan mendasar, yaitu bagaimana memahami kebudayaan? Apakah pemahaman kebudayaan itu harus terpusat? Kalau ya, lantas di pusatkan di mana ? Apakah pada seni, sastra, musik, agama, televisi, sepak bola, politik, atau bisnis? Salah satu contoh sederhana yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari yaitu bisnis. Pada saat ini, bisnis (usaha) bukan lagi industri manufaktur yang berkembang –yang tergantung buruh pabrik– melainkan pada sektor jasa yang melahirkan ‘pekerja budaya’, yakni orang-orang yang pekerjaannya mengkonstruksikan pengalaman bagi orang lain. Akhirnya, ‘produk’ kebudayaan baik ekonomi atau lapangan kerja menjadi ‘konsumsi’ kebudayaan. Apalagi setelah lahirnya paham Postmodern, terjadi pergeseran kajian budaya yang lebih kompleks. Dalam kajian sastra, misalnya, tidak bisa lagi dilepas dari situasi sosial yang melatarbelakangi munculnya sastra tersebut.

Bukanlah satu hal yang mengherankan bila kemudian hadir sosiologi kebudayaan. Dari sudut pandang ini, kebudayaan tidak lain tidak bukan adalah “fenomena sosial”. Oleh karena itu, kebudayaan bisa dikaji ulang dari sudut pandang ‘teoretis sosiologis’. Kebudayaan tidak lebih dari sekadar artefak, kode-kode atau tanda-tanda yang dikatalogisasikan oleh para arkeolog budaya. Kebudayaan diproduksikan, dengan satu atau lain cara, dan dalam batas tertentu merasuk ke dalam kehidupan sehingga merubah pengalaman dan cara hidup. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengantarkan kita pada satu perdebatan mengenai konsep kebudayaan dari kacamata sosiologis.

Dengan menyandarkan diri pada gambaran di atas, kiranya bukanlah hal yang mudah untuk memberikan batasan mengenai kebudayaan secara sosiologis. Dengan kata lain, tidak ada jaminan yang akan membuat mudah untuk memahami kebudayaan. Yang bisa dilakukan adalah sebaliknya, yakni mempersempit konsep kebudayaan itu sendiri. Akan tetapi pusat persoalannya kemudian adalah kebudayaan tidak mungkin dapat dirumuskan dalam bentuk ‘definitif’. Selain itu, bahasa dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya tidak mungkin dapat menangkap realitas secara keseluruhan. Oleh sebab itu, bila memiliki nafsu untuk mendefinisikan kebudayaan, akan berujung terjebak dan keliru. Akibatnya akan menghilangkan substansi kebudayaan, bahkan cenderung mereifikasikan (membendakan) kebudayaan. Karena itulah “studi kebudayaan” dipandang sebagai cara untuk menghubungkan pemahaman-pemahaman kita tentang sejarah, teks, dan kehidupan sosial. Salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah memahami sejumlah pendekatan yang mendefinisikan kebudayaan dengan cara dilihat dari pembedaan-pembedaan internal kebudayaan: pertama, kebudayaan “material” versus kebudayaan “simbolik”, kedua, kebudayaan “tinggi” versus kebudayaan “massa” atau “pop”, dan ketiga, perbedaan antara kebudayaan dan masyarakat.

Kebudayaan ‘material’ versus kebudayaan ‘simbolik’

Dalam studi budaya material vs simbolik, kita akan menemukan dua arus pendapat yang cukup berbeda. Pertama, sebagian antropolog-arkeolog berpendapat bahwa budaya material/kebendaan lebih penting daripada budaya simbolik, karena kebudayaan material tak lapuk dimakan zaman. Pandangan kedua berada di posisi sebaliknya, yakni antropolog-sosiolog yang lebih menekankan pentingnya budaya simbolik/gagasan dan ide, daripada alat-alat atau obyek material.

Tumbuhnya minat para antropolog-sosiolog pada ide antara lain dirangsang oleh menguatnya disiplin linguistik. Akibat mulai muncul perhatian yang lebih meluas untuk mengkaji ide atau “pikiran” itu sendiri. Tujuan inti dari studi tentang ide atau “pikiran” adalah untuk mengetahui alat konseptual yang digunakan oleh satu kelompok/kelas/bangsa dalam mengklasifikasikan, menyusun, serta menafsirkan dunia sosial maupun dunia alaminya. Dengan demikian, pada akhirnya akan didapatkan satu kajian tentang model serta pemahaman atas satu kelompok/kelas/bangsa yang betul-betul mencerminkan realitas dari sudut pandang kelompok/kelas/bangsa yang bersangkutan itu sendiri, bukannya dari sudut pandang antropolog-sosiolog.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Kajian mengenai ide atau “pikiran”, dengan demikian, titik perhatiannya adalah bagaimana satu kelompok/kelas/bangsa mengorganisasikan dan menggunakan budayanya. Yang ingin dicapai bukanlah satu unit analisis perilaku atau tindakan yang kemudian digeneralisasikan, melainkan satu pemahaman mengenai kaidah atau aturan-aturan mengenai pengorganisasian yang mendasari perilaku atau tindakan sosial. Anggapan dasar yang diyakini adalah setiap kelompok/kelas/bangsa memiliki satu sistem dalam menyerap dan mengatur gejala-gejala material seperti benda, peristiwa, atau perilaku. Maka dari itu, kajiannya bukanlah pada gejala material itu sendiri, tetapi cara pengorganisasian dalam pikiran manusia. Demikianlah, kajian simbol/gagasan dan ide memiliki titik tolak dari anggapan dasar bahwa setiap kelompok memiliki kode-kode kognitif atau seperangkat kode yang meliputi domain budaya sekaligus menghasilkan model konseptual yang digunakan oleh satu kelompok/kelas/bangsa.

Kontras dengan sudut pandang yang disuguhkan di atas, para penganut paham material mengatakan sebaliknya, yaitu salah satu ciri terpenting dari cara manusia berhubungan dengan manusia lain justru ditentukan melalui perantara benda-benda. Para penganut paham material ingin menunjukkan betapa pentingnya manfaat obyek-obyek fisik dalam praktik dan keyakinan hidup sehari-harinya. Kedua, memberikan perhatian khusus terhadap benda atau materi juga tidak berarti mengabaikan perhatian atas simbol atau makna. Oleh karena itu, obyek studinya adalah ingin menampilkan hubungan-hubungan yang spesifik antara benda-benda dan budayanya.

Baca juga:  Surat dari Kanada

Para penganut paham materi menunjukkan bahwa kegunaan benda selalu berada dalam konteks budaya. Bahkan lebih dari itu, barang-barang sederhana dalam kehidupan sehari-hari pun selalu melekat dengan makna-makna budaya. Dari kacamata semacam ini, barang sesungguhnya hanya melulu sebagai alat untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu hal, tetapi justru sebagai tanda atas makna dalam relasi-relasi sosial yang berlangsung. Artinya, melalui perolehan, penggunaan, serta pertukaran benda, individu-individu mendapatkan dirinya berada dalam sebuah jaringan sosial.

Asumsi yang dijadikan titik tolak para penganut paham budaya material adalah semua kepemilikan materi mengandung makna. Oleh karena itu, yang harus dianalisis adalah kegunaan benda sebagai komunikator. Praktik semacam ini bisa ditemukan, baik pada masyarakat tradisional maupun masyarakat modern. Terdapat persamaan yang mencolok antara masyarakat tradisional dan modern dalam hal membuat makna melalui penggunaan benda.

Salah satu contoh yang disuguhkan oleh penganut paham materi untuk menunjukkan betapa pentingnya benda-benda adalah melalui ritual. Etnografi yang dibuat para antropolog-sosiolog memberikan gambaran rinci bagaimana ritual memberi bentuk dan substansi dari hubungan sosial: untuk memulihkan hubungan sosial (dari konflik) atau untuk melanggengkan hubungan sosial. Ritual adalah unsur yang sangat mendasar bagi semua masyarakat. Pada saat ritual, hal-hal yang verbal selalu dikaitkan dengan benda (dari benda pusaka sampai pakaian, makanan atau bendera). Benda-benda tersebut merupakan bagian dari budaya tampak mata. Lewat kacamata semacam ini, benda adalah aspek kunci dari proses ritual.

Digunakannya benda dalam ritual adalah satu sarana membuat kategori sosial menjadi tampak mata sekaligus menjadi acuan klasifikasi seseorang dalam masyarakat. Benda-benda yang ada mengambil peran sebagai sumber identitas sosial sekaligus membawa makna sosial. Benda-benda memiliki kemampuan untuk menciptakan atau menggerakkan pengandaian dan keyakinan budaya. Bedanya dengan ide adalah menjadikan keyakinan tersebut mewujud dalam realitas, sebuah fakta, sesuatu yang disebut sebagai (ke)konkret(an).

Kedua pandangan di atas, kalau kita tarik pada pembedaan tegas antara kebudayaan ‘materialis/kebendaan’ dan ‘simbolik/ide’ sesungguhnya justru akan lebih mengaburkan daripada memperjelas tentang apa itu kebudayaan. Dalam hal ini, kita akan mengacu pada kompleks kebudayaan yang bisa diidentifikasikan, mulai dari yang sangat konkret (lukisan) hingga yang lebih kabur (cara hidup) sebagai “obyek kebudayaan”. Karena dalam objek kajian ‘material’ seperti lukisan, itu memiliki ide dan gagasan. Begitu juga sebaliknya, obyek ‘ide atau gagasan’ bisa diciptakannya merasuk ke dalam pikiran harus melalui peroses material, seperti ide melalui material buku, mesin cetak, dan televisi. Kesalingketergantungan antara kebudayaan simbolik/gagasan dan kebudayaan material/benda-benda dalam obyek kebudayaan ini harus dipertimbangkan.

Kebudayaan ‘tinggi’ versus kebudayaan ‘massa’ atau ‘populer’

Perbincangan tentang pembedaan budaya ‘tinggi’ atau ‘elite’ atau “budaya adiluhung” dengan budaya ‘massa’ atau ‘populer’, nasibnya tidak jauh berbeda dengan pemilahan budaya ‘materil’ dan ‘simbolik’. Di dalam pemilahan budaya adiluhung dan budaya massa akan ditemukan sejumlah masalah yang kompleks dalam studi kebudayaan kontemporer. Sebelum lebih jauh, kita berangkat dari pengertian yang paling mendasar, yakni kata kebudayaan itu sendiri.

Kata kebudayaan pada awalnya dikaitkan dengan pertumbuhan tanaman pangan, tepatnya budidaya tanaman. Sesudah itu, gagasan mengenai budidaya tanaman berkembang semakin luas dan disilangkan dengan pikiran manusia. Persilangan inilah yang menumbuhkan pengertian mengenai ide-ide yang ditanamkan pada pikiran atau manusia yang berbudaya.

Pada abad ke 19, kebudayaan kemudian dideskripsikan sebagai (hal-hal) yang terbaik yang pernah dipikirkan dan dikatakan oleh manusia di dunia ini. Ada asumsi di balik deskripsi itu, yaitu dengan membaca, mengamati serta berpikir dalam arti akan dicapai kesempurnaan moral dan kebaikan sosial.

Pemikiran tentang kebudayaan dengan K (huruf besar) atau kebudayaan elite atau adiluhung sesungguhnya baru menguat pada tahun 1930-an dan bertahan sampai empat puluh tahun kemudian. Kebudayaan dengan K (huruf besar) adalah gagasan mengenai puncak (tertinggi) dari peradaban; dengan titik perhatiannya adalah minoritas terpelajar. Tradisi kebudayaan dengan K (huruf besar) belakangan menciut menjadi tradisi literer. Hal ini dipraktikkan dengan melanggengkan, menjaga, sekaligus sebagai acuan untuk memilah antara budaya tinggi dan budaya rendah. Cara yang dipraktikkan adalah membuat batasan dan mempertahankan sastra kanon sekaligus menyingkirkan bacaan populer, iklan, dan film sebagai budaya massa yang buruk.

Tidaklah mengherankan bila sebagian analis kebudayaan berpendapat bahwa kebudayaan itu harus ‘bermutu tinggi’. Namun dari sini menimbulkan pertanyaan yang cukup signifikan, yaitu siapa yang berwenang menentukan mutu? Apa yang terjadi jika yang menentukan kalangan ‘elite’ baik seniman, politisi, kritikus sastra, dan sebagainya. Dalam hal ini, tidak mengherankan jika kasus Ratu Ngebor, Inul Daratista menjadi bahan perdebatan di kalangan elite musik dangdut pun tak ketinggalan para politisi dan agamawan.

Kontras dengan konsep Kebudayaan dengan K (huruf besar) yang adiluhung dan elitis, belakangan berkembang satu konsep kebudayaan dengan k (huruf kecil) yang memiliki titik tekan pada watak hidup sehari-hari: kebudayaan sebagai pandangan hidup. Oleh karena itu, titik tekannya adalah pengalaman hidup massa rakyat dan partisipasi aktifnya dalam mengkonstruksikan kebudayaan. Dari sudut pandang ini, titik perhatiannya adalah demokrasi dan gerakan massa rakyat melalui beragam lembaga dalam kehidupan kontemporer.

Konsep kebudayaan dengan k (huruf kecil) ini lebih bersifat antropologis karena berpusat pada makna hidup sehari-hari: nilai (ideal abstrak), norma (prinsip aturan-aturan) dan benda-benda fisik atau simbolik. Makna dengan demikian bukanlah ditularkan secara individual, tetapi kolektif. Oleh karena itu, pengertian mengenai kebudayaan adalah makna yang dibagikan. Pilihan konsep kebudayaan dengan k (huruf kecil) ini memungkinkan dihadirkannya legitimasi atas budaya massa sebagai praktik sosial kritis dan simpatik, bukannya budaya sampah.

Baca juga:  Merayakan Rumi di Bulan September

Konsep budaya dengan k (huruf kecil) merupakan tandingan atas budaya ‘tinggi’ . Namun demikian, istilah ‘massa’ seolah-olah sudah melekat pada stereotipe negatif. Istilah kebudayaan massa, jelas bersifat peyoratif –mempunyai konotasi negatif: massa mengandung pengertian sebagai kolektivitas yang tak terdiferensiasikan, bahkan dipandang sebagai suatu gerombolan individu, bukan individu-individu atau anggota-anggota suatu kelompok; dan kebudayaan massa sama saja dengan gerombolan yang kurang berkebudayaan. Oleh karena itu, belakangan sering diganti dengan menggunakan istilah “kebudayaan populer”.

Dalam kebudayaan kontemporer, tepatnya akhir abad 20-an, tidak bisa disangkal bahwa ‘karya budaya’ diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi secara massal. Apalagi pada konteks transmisi kebudayaan. Komunikasi tidak lagi efektif lewat tatap muka, akan tetapi lewat ‘media’ baik elektronik maupun cetak yang dikonsumsi oleh masyarakat massa. Dalam hal ini, konotasi peyoratif hilang dan justru istilah massa atau budaya massa benar-benar menyingkapkan aspek mendasar kebudayaan mutakhir.

Belakangan ini, istilah budaya ‘populer’ lebih disukai untuk menggantikan istilah ‘massa’ dengan beberapa alasan diantaranya: petama, anti-elitisme agar tidak terjebak dengan klasifikasi budaya tinggi dan budaya massa. Kedua, adanya krisis di kalangan budaya tinggi sendiri. Ketiga, adanya keabsahan estetika elite. Terakhir, budaya elite itu sendiri sekarang juga diproduksi secara massal, didistribusikan secara massal, dan dikonsumsi secara massal. Oleh karena itu, lenyap sudah batas antara budaya tinggi dan budaya massa atau yang lebih sering disebut budaya populer.

Kebudayaan dan masyarakat

Berkaitan dengan sosiologi kebudayaan maka studi tentang kebudayaan masyarakat adalah satu kajian yang penting. Oleh karena itu, perlu pemahaman pengertian antara budaya dan masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, menunjukkan cara kerja budaya dalam masyarakat. Adalah Talcott Parson yang membedakan antara kebudayaan dan masyarakat melalui pembedaan ‘sistem sosial’ dan ‘sistem budaya’.

Pokok pikirannya adalah menganggap masyarakat seperti organisma. Artinya, masyarakat dianggap mengacu pada hubungan antar-bagian atau anggota struktur tertentu dengan fungsi tertentu pula. Di dalam sistem sosial tersebut, ada tiga titik utama yang selalu harus diperhitungkan. (1) Budaya sebagai titik stabil bertumbuhnya makna dan nilai. Dalam hal ini, nilai diterjemahkan atau disalurkan ke dalam setiap anggota masyarakat melalui sosialisasi sehingga anggota masyarakat menerima dan meneruskan sistem nilai dengan cara menjalankan peran yang tersedia dalam masyarakat itu. Dengan kata lain, titik tekannya adalah satu pengaturan terus-menerus atas orang-orang yang ditentukan atau dikendalikan oleh institusi, yaitu norma atau perilaku yang dimapankan secara sosial. Titik lain adalah (2) status dan (3) peran. Dalam hal ini, keduanya adalah hasil yang diperoleh dari saluran perilaku yang didapatkan dari saluran yang dikendalikan oleh institusi. Kedua hal ini diperhatikan untuk memahami masyarakat atau untuk mengubah ke arah sistem yang lebih modern. Dengan demikian, akan bisa dilihat dikotomi antara masyarakat tradisional dan modern melalui ketiga hal, yakni budaya, status, dan peran.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Berbeda halnya dengan Parson, Herbert Gans memahami kebudayaan sebagai “selera” karena budaya itu terkadang menghibur, menginformasikan, memperindah kehidupan, dan mengekspresikan nilai-nilai, standar-standar atau estetika. Berangkat dari pendapat ini, melahirkan teori kompleks selera budaya; ada ‘publik selera’ dan ‘budaya selera’.

Berdasarkan perbedaan antara kebudayaan dan masyarakat, Gans memaknai masyarakat sebagai ‘publik’, yakni suatu lapisan sosial yang menyebar sehingga budaya selera lebih berkembang pada kultur masyarakat, sedangkan publik selera muncul pada struktur masyarakat. Namun, perbedaan dan batas antara budaya struktur dan kultur menjadi lentur, sebab dalam budaya struktur nampak adanya kultur, juga sebaliknya dalam budaya kultur ada struktur itu sendiri, baik sifatnya klasifikasi (kategori), tipefikasi (identifikasi) atau pun shading-off (simbol-simbol kultural interaksi sosial seperti kerdip mata).

Interaksi simbolik

Berger dan Luckmann berpendapat bahwa masyarakat sebagai konstruksi sosial. Sehingga individu dan interaksi sosial kemudian yang membentuk masyarakat. Bahasa menurut pandangan ini barang yang menciptakan identitas kita. Konstruksi bahasa sendiri merupakan fokus yang khusus yang berasal dari inspirasi sekolah pemikiran sosial di tahun 1930, oleh tokoh filsafat sosial pragmatis, George Herbert Mead (1934) di universitas Chikago, suatu tradisi teoris yang sering disebut dengan ” teori interaksi simbolik”

Mead menjadi yakin bahwa pikiran, diri, dan masyarakat merupakan hasil dari interaksi sosial, dan identitas kita beserta hubungan-hubungan yang kita lakukan selalu dimediasi oleh simbol-simbol tertentu. Bukti pernyataan di atas adalah istirahat, kegiatan istirahat merupakan aktifitas sosial yang penuh dengan simbol. Istirahat itu sendiri disusun penuh dengan simbol-simbol dan disimpulkan oleh kegiatan komunikatif dari bacaan kita dan respon kita kepada instruksi berikut ini.

Catatlah pertanyaan; siapa saya? Di sebelah atas, kertas kosong. Tulis hingga mencapai 20 halaman. Di halaman 20 tulislah pernyataan yang berbeda sebagai jawaban atas pertanyaan sederhana yang ditujukan kepada diri kita sendiri; siapa saya? Jawaban itu seolah-olah jawaban yang ditujukan kepada diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Tulislah jawaban kita itu agar selalu tanpak kepada kita sendiri. Jangan kawatir dengan logika atau pentingnya jawaban. Tulis dan jawablah secara cepat.

Ketika kita selesai dengan ujian ini, diamlah sejenak untuk memperhatikan perbuatan yang telah kita lakukan. Sebagai sebuah aksi spontanitas atau intuisi subyektif (yang disebut Mead dengan kata I), kita telah menempatkan diri kita sebagai obyek sosial (dan disebut Mead dengan kata “me”) dan menggambarkan secara linguistik dengan kata “it” dalam bentuk kata atau frase. Grammar tersembunyi dari ujian ini adalah subjek-objek. Yang diiringi dengan konjugasi verbal ” to be” : saya adalah (I am This), saya merupakan (I am that). Mead yakin bahwa kapasitas manusia yang selalu menempatkan dirinya dalam kerangka objek linguistik merupakan kesadaran manusia yang fundamental, dan kapasitas kita untuk selalu mengembangkan dan merefleksikan identitas kita dalam konteks sosial. Tanpa adanya bahasa yang didapat secara sosial, kita hampir tidak dapat berpikir tentang diri kita sendiri, terpisah dari identitas yang kompleks. Interaksi simbolik menganalisis jawaban atas ujian ini sebagai indikator yang muncul dari identitas sosial yang selalu berubah. (Zurcher)

Baca juga:  Belajar dari Gaber, Atasi Ancaman Krisis Pangan Pandemi Corona

Gagasan interaksi simbolik bahwa identitas kita didefisikan dan diredefinisikan secara kebahasaan merupakan premis dasar dari teori labelling. Setiap saat dari kelahiran kita, kita selalu menambahkan label-label tertentu. Pertama, kita menambahkan kata lelaki “male” dan kata perempuan “female”. Kemudian kita memberikan nama yang sesuai_ biasanya baik nama anak laki-laki maupun anak perempuan- tergantung kepada alat kemaluan. Label-label gender dikenal untuk memproduksi perbedaan tanda dalam pandangan orang tua dan orang tua bayi yang lain, sebuah fenomena yang diibaratkan dengan label Baby X.

Intinya adalah kita tidak dapat mengenali orang lain tanpa adanya label. Para ahli teori labelling tidak serta merta memandang fakta ini sebagai pandangan yang negatif. Tapi mereka memahami bahwa dalam tataran linguistik kita secara sederhana tidak dapat hidup tanpa menempelkan perkataan kepada seseorang atau sesuatu yang kita hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Label-label tertentu mungkin bisa destruktif, konstruktif atau netral, tapi pelabelan terhadap seseorang baik pendek maupun panjang merupakan sesuatu yang niscaya dalam interaksi dalam masyarakat. Kita butuh kata benda yang merujuk kepada katagori-katagori seseorang.

Teoris labelling mengatakan bahwa label dan reaksi sosial terhadap label-label tersebut menggunakan pengaruh kekuatan dalam kehidupan sosial. Misalnya orang yang kita takuti, kita menyebutnya sebagai “Vandalisme” (sifat suka merusak). (ahli teori labelling akan mengatakan bahwa kamu telah melakukan aksi inisial “primary deviance”). Kemudian kita menginternalisasi label itu dan menyesuaikan konsep kita dengan harapan-harapan normal yang menyertainya, dalam tahap ini disebut dengan devian sekunder “deviance secondary” devian yang dipengaruhi oleh pelabelan.

Devian itu sendiri, dalam arti tertentu, diciptakan oleh definisi. Setiap masyarakat mendefinisikan seseorang atau model tingkah laku yang lain sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima, meskipun model atau seperangkat tingkah laku itu berasal dari lingkungan sendiri ataupun berasal dari budaya lain. Dalam beberapa tahun, beberapa prilaku distigmatisasi sebagai deviant (menyimpang), seperti prilaku merokok di depan umum.

Bagi ahli teori labelling, kekuatan sosial seringkali mendifinisikan apa dan siapa yang termasuk kelompok deviant demi meneruskan dan menjalankan definisi sosial mereka. Di dalam kebudayaan Amerika Utara, kekuasaan untuk mendefinisikan normalitas dan menyimpang secara tradisional dilakasikan dalam institusi-institusi, seperti pengadilan dan badan pembuat undang-undang, badan hukum bisnis, lembaga keagamaan dan media masa, yang dalam sejarahnya dikontrol secara langsung oleh gedung putih, dan secara ekonomi dikontrol oleh laki-laki yang heteroseksual. (hal ini bisa diperhatikan dalam komposisi susunan senat amerika dan bagian eksekutif dalam majalah 500 perusahaan majalah Fortune). Tidak aneh, jika kemudian definisi menyimpang secara tradisional cendrung merefleksikan cara pandang dan kepentingan segmen masyarakat yang mempunyai kekuatan penuh. Dalam merespon kekuatan dominan, para kaun oposan seringkali muncul dari kaum minoritas etnik dan ras, kaum gays, perempuan, dan kelompok marjinal yang lain untuk menantang definisi masyarakat tradisional dan untuk meredefinisi makna kebudayaan dalam cara yang bisa merefleksikan kepentingan-kepentingan mereka. Ketika pergerakan-pergerakan secara ideologi dicap sebagai radikal dan liberal, kelompok kenservatif akan meredefinisikan makna kebudayaan, misalnya, pelekatan label “masyarakat yang sah” untuk memasukkan mereka yang belum dilahirkan, dan label “criminal” untuk memasukkan mereka yang menerima aborsi. Pendefinisian dan redefinisi devian bisa jadi proses politik.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Secara umum, pendapat di atas adalah pendapat yang dikemukakan oleh ahli teori labelling. Kita melihat diri kita sendiri sebagaimana orang lain melihat kita, dan kita memberi label kepada diri kita sebagai mana orang lain memberi label pada kita. Prinsip dasar teori interaksi simbolik telah dikembangkan oleh Charles Horton Cooley pada tahun 1902, yang tertuang dalam metafor-metafornya yang berjudul “looking-glass self”. Cooley melihat bahwa identitas kita diukur dengan respon verbal dan non-verbal yang kita terima dari orang lain, orang lain seperti sebuah kaca cermin yang datang untuk memberi pemahaman tentang siapa diri kita. Mengikuti Cooley, ahli teori labelling, menekankan kepada kecendrungan kita untuk selalu menghidupkan label kepada diri kita. Label itu dalam kasus tertentu dilekatkan oleh orang yang mempunyai otoritas. Namun kita juga harus berusaha keras untuk menghidupkan label-label itu_ baca untuk menolak label-label orang lain dalam label-label yang lebih mendukung tentang pilihan kita sendiri. Dalam banyak instansi, label-label yang orang lain tentukan bisa bekerja bukan sebagai ramalan yang memenuhi diri (sebagai mana label yang diterapkan oleh teoris secara umum, prediksi), tapi ramalan yang mengabaikan diri. Tapi dalam kasus yang lain kita bertanggung jawab terhadap label-label yang orang lain terapkan kepada kita, yang menegaskan kekuatan bahasa mengukur kegiatan kita.

Mungkin kita bisa memilih menerima atau menolak identitas yang orang lain cocokkan kepada kita dan menciptakan identitas alternatif kepada diri kita. Seorang ahli antropologis Mary Catherine Bateson menjelaskan proses ini dalam karyanya Composing a Life, yang mengembangkan metafor diri sebagai komedi musik atau komposisi sastra. Bateson mengikuti cerita-cerita kehidupan seorang wanita dimana mereka membuat dengan seada-adanya identitas mereka, “editing” dan “penulisan kembali” ketika diperlukan, dikolaborasikan dengan yang lain. []peta kebudayaan

Tidak ada artikel lagi