Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang kedewasaan berpolitik

Bicara politik berarti bicara kekuasaan untuk hajat hidup orang banyak. Namun di Indonesia, bicara politik praktis bisa bikin pikun dan kehilangan rasa humor. Celakanya, kepikunan dan rasa humor yang hilang sudah berjalan dua tahun lebih setelah pemilu presiden 2014. Di media sosial, wajah Indonesia terbagi tiga: kami, kalian, dan mereka yang tengah garuk-garuk kepala mau ikut ‘kami’ atau ‘kalian’.

Masing-masing kubu saling tuding siapa yang paling cocok jadi pemeran tokoh antagonis seperti dalam sinetron. Semua serba hitam putih. Tokoh idola kami pasti putih, sementara tokoh yang kalian dukung  jelas hitam.

Manusia ditakar dalam satu dimensi. Kita seakan lupa bahwa Tuhan menciptakan surga dan neraka karena umat manusia memiliki warna beragam yang memungkinkan mereka berpeluang berbuat bajik dan buruk.

Tokoh yang pernah dipuji mendadak dicaci karena memperjuangkan kemenangan calon presiden yang bukan dukungan ‘kami’. Itu menimpa Anis Baswedan dan Mahfud MD. Tak ada yang bisa membantah kapasitas dan kredibilitas keduanya. Namun saat Anis memilih mendukung Jokowi, mereka yang tak menyukai Jokowi langsung mendakwa Anis sedang mengejar posisi tertentu, minimal Menteri Pendidikan.

Sementara Mahfud menjadi bahan tertawaan dan dituduh sebagai orang yang sakit hati karena gagal menjadi calon presiden atau wakil presiden, saat memutuskan menerima tawaran menjadi ketua tim pemenangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Sedikit demi sedikit jejak fenomenal Mahfud saat menjadi ketua Mahkamah Konstitusi dihapus dari benak orang-orang yang tak menyukai Prabowo.

Baca juga:  Membaca Etnografi

Dari politik pemilihan presiden juga, kita tahu, bahwa bangsa ini sudah kehilangan rasa humor, jika sudah kadung terlibat dalam urusan dukung-mendukung. Ayu Sutarto, guru besar Universitas Jember, semasa hidup sempat mengkritik bagaimana dukung-mendukung membuat orang melupakan nalar. “Itu di Facebook orang-orang terpelajar malah tidak rasional dalam memberikan dukungan.”

Sutarto benar. Kadang kita merasa terganggu dengan adanya komentar-komentar dukungan untuk capres lain di laman Facebook kita. Lalu kita mengambil langkah radikal: menendang akun yang berbeda dukungan itu dari daftar pertemanan (friend list).

Kita mungkin perlu menengok sejarah, betapa politik pada masa lalu tak selalu keras, namun juga penuh humor. Pernah suatu kali, dalam rapat Sarekat Islam yang dihadiri Bapak Pergerakan Indonesia, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, seorang tokoh SI Merah bernama Muso mengawali pidato di podium dengan ejekan kepada Haji Agus Salim.

“Saudara saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?” tanya Muso kepada hadirin.

“Kambing!” koor terdengar

“Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa?”

“Kucing!”

Kebetulan Agus Salim berjenggot dan berkumis. Muso dan Agus Salim secara ideologis berseberangan. Belakangan Muso membawa SI ke kiri dan menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Baca juga:  Pram

Saya tidak tahu bagaimana reaksi Agus Salim dan pendukungnya mendengar sindiran Muso, jika itu terjadi pada masa sekarang. Boleh jadi polisi akan menurunkan pasukan pengendali massa (Dalmas) untuk mencegah tawuran antara pendukung Agus Salim dan Muso. Bisa juga Agus Salim melaporkan Muso dengan pasal pencemaran nama baik, atau malah ke Badan Pengawas Pemilu untuk mengadukan adanya indikasi kampanye hitam.

Untunglah Agus Salim bukan politisi zaman sekarang yang bersumbu pendek. Saat diberi kesempatan naik podium, dengan kalem, ia bertanya kepada para hadirin. “Saudara-saudara, orang yang tidak berkumis dan tidak berjanggut itu seperti apa?”

Hadirin pun menjawab serentak: “anjing!”

Selesai. Skor pun berubah 1-1.

Agus Salim juga pernah berkonfrontasi dengan Sutan Sjahrir, tokoh sosialis yang sering disebut sebagai triumvirat pemimpin Indonesia bersama Soekarno dan Moh. Hatta. Suatu ketika, Sjahrir bersama sekelompok pemuda menghadiri rapat di mana Agus Salim tampil sebagai pembicara.

Sebagaimana dikatakan Jef Last, penulis Belanda, dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim, pemuda-pemuda itu bermaksud mengacaukan pertemuan. “Pada waktu itu Pak Salim telah berjanggut kambing yang terkenal itu dan setiap kalimat yang diucapkan Pak Haji disahut oleh kami dengan mengembik yang dilakukan bersama-sama,” kata Sjahrir kepada Last.

“Setelah ketiga kalinya kami menyahut dengan “me, me, me” (mbek), maka Pak Salim mengangkat tangannya seraya berkata: ‘tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia, sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan.”

Baca juga:  Negara Islam

“Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam, bagi kambing pun ada amanatnya dan saya menguasai banyak bahasa.”

Skak mat!

Sjahrir mengatakan, muka para pemuda yang mengejek Agus Salim merah padam karena hadirin yang lain tertawa. Mereka tidak meninggalkan ruangan, namun sejak saat itu, Agus Salim menjadi lebih dihormati.

Saya selalu senang mendengar atau membaca cerita bagaimana perilaku politisi baheula, seperti Agus Salim, Soekarno, Sjahrir, Hatta, dan lain-lain. Cerita soal bagaimana tokoh-tokoh Islam dan Komunis kongkow sama-sama setelah berdebat habis-habisan hingga muka merah padam menjadi apa yang disebut kelompok musik Sheila on 7 ssebagai kisah klasik bagi masa depan.

Politik seharusnya tak mematikan nalar. Politik semestinya tak membunuh humor. Bukankah nalar dan kejenakaan adalah bagian dari manusia untuk tetap bisa dikatakan waras? []

coverhajiagussalim - Politik Sonder Humor yang Membunuh Nalar

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi