Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah catatan

Terlihat se-kelompok perempuan telah duduk melingkar di kolong rumah warga, dari anak-anak yang berusia delapan tahun hingga lanjut usia, sedang melakukan pembibitan rumput laut. Di bawah terik matahari terlihat pula se-orang perempuan berdiri di sekitar bibir pantai, dia sedang ammurusu (melepaskan rumput laut dari bentangannya).

Di pinggir jalan, lorong masuk ke-setiap menuju rumah warga, terlihat perempuan sedang berdiri, dia sedang angakkara bentang (memisahkan bentangan yang siap untuk di pasang bibit kembali). Di rumah tentunya, perempuan sedang menyapu halaman rumah, dan laki-laki jarang kita melihat di tempat dimana aktivitas yang biasa perempuan tempati.

Perahu sedang berjejer di laut, seratus bahkan ribuan meter dari bibir pantai, petanda laki-laki sedang berada di laut, memasang rumput laut yang sudah dibibit atau sedang mengambil rumput laut yang sudah siap dipanen. Tiba di darat terlihat pula se-orang perempuan mendorong gerobak menuju perahu, dia sedang mengambil rumput laut yang di bawah ke-tempat penjemuran dikala dia panen, di bawah ke-tempat pembibitan dikala dia sedang membibit.

Bagian selatan Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, masuk ke-dalam empat lingkungkan di Pabiringa, Tamarunang Timur, Tamarunang Barat, Tanrusampe Timur, dan Tanrusampe Barat, aktivitas warga semacam di atas, sering di jumpai bahkan setiap hari, bisa menemukannya.

Perihalnya, produksi rumput laut kini telah banyak ditekuni oleh warga di Pabiringa, bahkan telah menjadi pekerjaan utamannya. Bumin rumput laut di Pabiringa sejak tahun 2002 sampai saat ini, telah mengubah pola produksi, hubungan sosial, (Baca: Tiro, Introduksi Rumput Laut di Pabiringa, 2020), dan hubungan gender-nya.

Sejak tahun 1998, mereka telah mulai mengenal rumput laut dan memproduksinya, konon katanya rumput laut memiliki harga yang mahal, begitu mereka mengenal cerita rumput laut dari kampung tetangga, Birangloe Kecamatan Bangkala.

Dalam tulisan kecil ini, tanpa ada upaya mengurangi kehendak dan gerak perempuan itu sendiri (Mengantisipasi menjadi lebih perempuan dibanding perempuan itu sendiri), saya akan berusaha semampunya melihat hubungan gender yang terbangun di dalam internal petani rumput laut, sebelum dan sesudah kehadiran rumput laut sebagi suatu komoditas pasar yang menyeret petani masuk kedalam produksinya, dengan berdasarkan  beberapa catatan lapang saya, disaat  menjalani studi lapangan di sekolah riset akhir pekan Carabaca tahun 2017, tema “Gender dan Perubahan Agraria di Perdesaan” waktu itu.

Baca juga:  Keislaman, Kebangsaan, dan Kebudayaan

Perempuan Sebelum Bumin Rumput Laut

Mengerjakan segala yang berkaitan dengan pekerjaan rumah adalah sesuatu yang  dilekatkan secara turun-temurun kepada seluruh perempuan di Pabiringa. Bertani, keterlibatan perempuan seperti menanam, memupuk tanaman dan panen. Beternak, membersihkan kandang, kadang mecari makanannya ketika para suami mereka ke-Makassar narik becak,  dan produksi gula merah (pallu ballo), mereka harus mencari kayu bakar dan memasak, aktivitas tersebut merupakan keterlibatan perempuan di luar rumah sebelum mereka mengenal rumput laut, dan itu dianggap sebagai suatu pekerjaan tambahan, dalam rangka membantu suami atau ayah mereka masing-masing.

Namun secara spesifik perempuan di Pabiringa di luar pekerjaan dan keterlibatannya yang konon dianggap sebagai pekerjaan khusus bagi laki-laki, seperti bertani, Pallu Ballo , dan berternak, namun perempuan di Pabiringa memiliki pekerjaan secara khusus selain pekerjaan domestik seperti:

Appare otere (membuat tali) yang berbahan dasar sabuk kelapa yang di rendam di laut selama 15 sampai 30 hari. Sabuk kelapa yang di rendam akan mempermudah proses pembuatan talinya. Kemudian ditumbuk hingga halus lalu dicacing dan beberntuk tali. Dalam seminggu mereka biasa menyelesaikan 20 sampai 25 meter tali. Tali yang dibuat, mereka lalu menjualnya di nelayan untuk kebutuhan tali sangkar perahu atau kapal, kadang juga dijual untuk warga di luar kampung yang bukan nelayan.

A’lolisi (pabrik beras jagung/berasa’ batara’)  menghancurkan jagung putih menjadi berasa’ batara’ dengan menggunakan perkakas tradisional ala perempuan pesisir di Pabiringa disebut a’lolisi, sebelum warga Pabiringa mengenal beras, mereka menggunakan lolisi’ sebagai alat untuk produksi makanan pokoknya (Baca: Tiro, Jejak Erangpolea,2020).

Baca juga:  Aku Harus Mati Tahun - tahun Ini

Ajuku’-juku’ (mencari bibit ikan)  menggunakan daun pisang yang sudah kering, diikat dengan tali dengan panjang 2 sampai 3 meter, kemudian di bawah ke-pinggiran laut dengan berbentuk bulat sebagai tempat bermain ikan kecil di bawah daun pisang tersebut. Ikan kecil yang bermain di bawah daun pisang yang sudah disediakan kemudian disaring menggunakan sodo (potongan bambu kecil berukuran 1 meter, diikat beberntuk segitiga, dipasangkan kain berukuran satu meter pula). Hasil tangkapan ikan kecil tersebut, para perempuan Pabiringa menjualnya ke orang yang memiliki empang.

Ketiga pekerjaan perempuan yang dilakukan secara khusus sebelum bumin rumput laut di Pabiringa, kini sudah tidak ada lagi yang melakukannya, melainkan beban ganda yang dirasakan para perempuan semakin berat setelah mereka mengenal produksi rumput laut, pasalnya hampir secara keseluruhan pengolahan rumput laut di darat, seperti panen dan masa pembibitan dikerjakan oleh perempuan.

Proses produksi rumput laut di Pabiringa, normalnya membutuhkan waktu 5 hingga 6 hari dari total bentangan 100 besokan (bentangan yang sudah digabungkan menjadi dua) merupakan waktu rata-rata  yang dibutuhkan petani untuk merampungkan semua pekerjaan dari panen hingga pembibitan. Selama 30 atau 40 hari bibit rumput laut yang sudah dipasang di lokasi budidaya, kini siap untuk di panen kembali.

Perempuan dan Rumput Laut

Perahu tiba di bibir pantai, disitu ada gerobak yang akan mengangkut rumput laut ke-rumah masing-masing atau rumah keluarga terdekat, kadang menggunakan sepeda motor untuk menarik gerobaknya, bagi yang memiliki, kadang sanak keluarga atau istri para petani laki-laki. Rumput laut tersebut akan dijadikan bibit, petani yang akan melaksanakan pembibitan memanggil para perempuan lainya yang tidak memiliki kesibukan. Sebanyak mungkin perempuan yang dipanggil, agar pembibitan cepat kelar. Panjang bentengan rata-rata 20 sampai 25 meter,  para pembibit tersebut diupah sebesar 3 ribu rupiah/bentengan. Dalam se-hari pembibit kadang mendapat 5 hingga10 bentangan. Melepaskan rumput laut dari bentangan, rumput laut yang sudah terlepas di potong-potong kecil kemudian diikat kembali kebentangan, semua dikerjakan oleh perempuan.

Baca juga:  Identitas-identitas Budaya dan Feminisme

Pada masa pembibitan, perempuan di Pabiringa melakukan pekerjaan domestiknya di malam hari, seperti mencuci baju keluarga, cucing piring, dan mengambil air bagi yang belum memiliki mesin air. Pukul empat subuh perempuan telah bangun Memasak makanan dan membersihkan rumah dan halamannya, setelah shalat subuh, mereka memasak air panas dan membuat kue untuk keluarganya. Pagi pukul enam, membangunkan anaknya untuk ke-sekolah dan segala kebutuhan lainnya. Setelah sarapan pagi bersama keluarga, mereka ikut kelaut untuk menunggu suaminya  datang mebawah rumput laut yang akan dibibit kembali.

Pada masa panen, perempuan memisahkan rumput laut dari bentangan di tempat penjemuran, memisahkan pengapung bentangan (bekas botol mineral), kemudian di bersihkan. Pukul satu siang mereka kembali ketempat penjemuran untuk mebolak-balikan rumput laut yang sudah dijemur. Mempercepat pengeringan rumput laut. Dijemur hingga dua hari, setelah kering diangkut dari tempat penjemuran ke-rumah masing-masing. Rumput laut siap untuk dijual kepedagang.

Dalam pertanian rumput laut di Pabiringa, meskipun terdapat banyak tenaga perempuan yang tercurahkan di dalamnya, istilah petani, tetap dilekatkatkan kepada gender tertentu yakni laki-laki. Klaim atas seluruh proses produksi rumput laut di Pabiringa, meskipun perempuan terlibat secara aktif di dalamnya, namun penguasaannya tetap berada pada di laki-laki.

Ketimpangan gender dalam produksi rumput laut sebagai komoditas pasar, buruhnya buruh seorang buruh rumput laut di Pabiringa begitu mapan dalam berbagai proses produksinya dan hubungan sosial yang terbangun diatasnya.[]

coverperempuanrumputlaut - Potret Kerja Perempuan Pesisir

Catatan Kaki

Dede Mulyanto, Antropologi Marx: Karl Marx Tentang Masyarakat dan Kebudayaan. (Bandung: Ultimus, 2011)
Wawancara dengan Daeng  Ngintan (50 tahun), Perempuan Pabiringa, 2017
Wawancara dengan Daeng Cawang (66 tahun), Perempuan Pabiringa, 2017
Wawancara dengan Daeng Nurung (34 tahun), Perempuan Pabiringa, 2019
Wawancara denga Daeng Boko (70 tahun), masyarakat Pabiringa, 2017

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi