Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip MAJALAH INDONESIA Desember 1952 No. 12

Pilihrasa (keuze) tiap waktu bergeser. Mobil-mobil pa­ling baru mengagumkan orang-orang mampu. Mobil dibeli. Dalam beberapa waktu kemudian mobil jang dibelinja bukan lagi satu- satunja didaerahnja. Kian lama kian banjak. Dan djuga : kian lama kian besar kedjemuan jang tadinja menimbulkan pilihrasanja itu. Achirnja : Pilihrasa jang mendorongnja mengambil mobil itu lenjap. Lenjap dari tempat jang semula dan bergeser ketempat jang lain. Pilihrasa tidakkan mati, selamanja ia ada, bergeser dari tempat ketempat, selama dalam djiwa seseorang masih ada api.

Demikian djuga terdjadinja angkatan. Angkatan — satu ikatan djiwa, kesatuan samangat dalam rangkuman tempat, masa dan lingkungan jang sama. Angkatan bukanlah djumlah orang dalam tempat, masa dan lingkungan jang sama. Ini pengertian dalam kesenian dan bukan dalam kamus. Dan angkatan ini tetap ada, baik diakui maupun tidak. Tuduhan bahwa seorang Beethoven, Mozart, Dos Passos, Heine dan sebagainja bukanlah dibesarkan karena angkatan, adalah sesungguhnja. Kesamaan tempat, masa dan lingkunganlah jang mentjetak persamaan visi, bahkan djuga idee, sekalipun tidak sama betul tetapi toh ada hubungan jang mempersenjawakan. Pertentangan antara satu dan lain anggota- anggota angkatan itu pada hakekatnja adalah proses isi-mengisi seperti sudah selajaknja terdjadi dalam sedjarah manusia atau gerombolan atau bangsa jang sedang hidup. Angkatan memang ada, diakui atau tidak. Visi dan tjara berpikir orang-orang djaman Gilde di Barat tidaklah akan sama dengan orang-orang djaman kebangunan industri.

Memang enak mengedjek orang dengan perkataan orang-natur, atau orang-sedikit-gecultiveerd seperti sapi-perah Friesland. Tetapi bukanlah bisa disangkal bahwa tiap-tiap orang adalah segumpal alam itu sendiri. Orang bisa mengambil batu dan memahatnja djadi patung jang baik, tetapi batu ini tetap bersifat batu, sekalipun kepandaian memahat itu luarbiasa.

Masa, tempat dan lingkungan ini adalah pula alam, mentjetak orang-seorang jang ada dalam rekamannja. Visinja adalah kristali­sasi dari semua itu. Dan seniman adalah djurubahasa dari semua itu. Kesenian adalah bahasanja. Tjiptaan-tjiptaan jang keluar dari- padanja demikian djuga. Kemudian : terdjadi suatu angkatan.

Tiap masa membawa angkatannja. Dan angkatan ini bernama atau tidak, adalah tergantung pada banjak-sedikit, kuat lembeknja kontras-kontras jang ada dalam masarakat itu sendiri. Penamaan pada sesuatu angkatan adalah suatu ketegasan. Lebih dari itu : suatu tantangan. Pudjangga Baru adalah suatu angkatan — ang­katan jang lahir karena kedjemuannja pada angkatan jang sudah- sudah jang hidup merangkak-rangkak.

Tiap angkatan punja kekuatan dan kelemahannja masing-masing, jang mana kekuatannja merupakan daja-hidupnja. Kemudian kele­mahannja adalah mautnja sendiri. Kelemahan suatu angkatan pada masanja biasanja tidak diinsafi sendiri olehnja. Sorak-sorai terlalu riuh sehingga orang tak sempat mengoreksi diri, dan kematian segera datang sebelum sempat orang melakukannja. Kematian ini selamanja dimulai dengan datangnja angkatan baru. Dia jang mengoreksi.

Baca juga:  Seluler

Tentu sadja dapat dua angkatan menjumbangkan tjiptaan pada masarakatnja dalam kurun waktu jang sama. Tetapi ini tidak akan sama mengenai isi, nilai, ataupun teknik serta keadaan seluruhnja. Angkatan Pudjangga Baru dan Angkatan 45 masih tetap bekerdja dalam kurun waktu jang sama. Demikian djuga pernah terdjadi di Rusia dengan Angkatan Slavofiel dan Angkatan Barat. Slavofiel dan Barat ini sesungguhnja bukan lagi merupakan golongan seperti banjak disangkakan orang, djuga bukan sekolahan, tetapi adalah suatu angkatan.

Tentu sadja ada sisa-sisa angkatan lama jang tidak mau keting­galan dan mentjoba mempergunakan apa jang dimiliki oleh angkatan baru. Tetapi ini bukanlah kedjudjuran lagi, selama jang diperguna- kannja bukan miliknja sendiri. Dan hidupnja kebiasaan demikian adalah berkah vacum pengertian seni pada penjelenggara-penje- lenggara ataupun peminat-peminat kesenian.

Kematian suatu angkatan sebenarnja telah dimulai sedjak ang­katan itu lahir. Kematian ini bersarang dalam kelemahannja. Tiap angkatan mempunjai kelemahan. Dengan tiada kelemahan ini ia akan hidup abadi seperti setan dan dewa-dewa dalam tjerita. Ang­katan baru mentjoba mengisi kelemahan itu dengan kekuatannja. Adanja kelemahan dan adanja semangat mengisinja, disinilah se­sungguhnja letaknja romantik hidup. Krisis jang menentukan kematian angkatan lama dan kelahiran angkatan baru adalah pula tjerita tentang besar atau ketjilnja romantik hidup jang ada pada angkatan baru itu.

Amerika mengenal angkatan-angkatan tertentu jang mana tiap angkatan punja raksasanja tersendiri. Middle Generation dengan Lewis, Anderson, Cabell dan Mencken. Flapper Generation dengan Scott Fitzgerald. Lost Generation dengan Hemingway dan Dos Passos. Belanda pun mengenal angkatannja. Angkatan 80 dengan Perk dan Kloos. Rusia dengan Slavofiel dan Barat. Indonesia dengan Pudjangga Baru dan 45.

Di Indonesia orang lihat perbedaan besar antara Angkatan Pu­djangga Baru dan Angkatan 45. Nama dari angkatan-angkatan itu tidaklah soal jang patut diperbintjangkan. Tetapi kehadiran dari keduanja memang ada. Memang patut disesalkan bila ada jang mengatakan bahwa perbedaan itu tidak ada.

Angkatan Pudjangga Baru adalah djurubahasa dari masa kolonial dengan orang-orangnja jang besar dalam tjetakan ketjil pendja- diahan. Bahkan pemimpin-pemimpin sekarang jang berkuasa dine- gara kita adalah pula anak-anak buatan kolonial dahulu, jakni orang-orang jang sedjak lahirnja telah dibuat ketjil oleh pendja- djah almarhum. Mereka ini tak punja tjontoh baik jang lain daripadti jang dapat diterimanja dari pendjadjahnja. Keketjilan ini nampak benar waktu saat genting tiba : pemilihan antara dua. Berapa banjak diantara mereka jang djempalitan lari tunggang-langgang kearah jang tiada terdapat penjelesaian. Ah, mereka adalah orang-orang jang telah dibuat ketjil. Dan orang-orang perdjuangan didjaman pendjadjahan ini adalah pula lain daripada orang-orang perdju­angan untuk saat ini. Perdjuangan dimasa itu berarti : berani ngo- mong didepan umum, tidak sampai pada pembuatan perhitungan dengan pendjadjah itu sendiri, langsung dengan pendjadjah itu sendiri.

Baca juga:  Prof. Dr. Wertheim tentang Kesusasteraan Indonesia Modern

Orang-orang Pudjangga Baru sempat memiliki berbagai matjam ilmu. Dan tak djarang diantaranja jang sungguh mendalami. Tetapi ini ilmu adalah ilmu mati, ilmu jang mereka sendiri djarang dapat mempergunakannja untuk dirinja, untuk perdjuangannja. Dan bukankah sudah mendjadi tontonan umum sehari-hari intelektuil- intelektuil jang dibuat ketjil oleh pendjadjah dan jang memiliki ilmu-ilmu jang mati tak banjak bisa berbuat sedang begini banjak jang harus dikerdjakan ! Sungguh, suatu angkatan hidup karena djiwa, karena semangat — djiwa dan semangat perdjuangan untuk mentjapai sesuatu jang mulia menurut anggapannja. Dan bukankah Henriette Stowe ataupun Walt Whitman pengarang jang berdju- ang dengan tulisannja untuk menghapus perbudakan, memper- djuangkan kesedjahteraan bangsanja serta persatuan negaranja ! Dan ini dibuat oleh angkatan dialam merdeka. Pudjangga Baru adalah angkatan jang menjelidiki angkatan-angkatan lalu jang merangkak-rangkak. Tetapi iapun punja kelemahannja : ia mere­ngek-rengek minta hidup sedang hidup itu sudah lama dimilikinja. Mereka belum hidup dalam hidupnja. Semua jang dimilikinja adalah benda-benda mati.

Rengekan minta hidup ini lama-lama mendjemukan. Maka da­tanglah angkatan baru jang kemudian dinamai Angkatan 45. Ang­katan inilah angkatan jang mulai hidup dan menulis bersama peperangan. Angkatan ini mau mereguk hidup sepuas-puasnja, mempergunakan hidup jang telah disadarinja telah dimiliki, sudah djadi haknja. Renaissance jang sesungguhnja dimulai dengan sebu­tan Chairil pada Aku, tiada ubahnja dengan Italia dengan Dante- nja jang memulai dengan Aku adalah Satu dalam salah satu bait njanjiannja Divina Comedia. Aku mendjadi sumber dari segala inisiatif. Perkataan demi mendjadi tabu selain demi Aku. Tetapi peperangan membuat angkatan ini terampas dari bangku-sekolahnja. Mereka hanja mempunjai hidup jang dapat dan harus diperguna- kannja. Dan bukanlah suatu kesalahan jang patut disangsikan bahwa angkatan ini memang kurang memiliki ilmu. Tetapi sesuatu jang sudah djadi miliknja adalah hidup, dan hidup itu dapat diper- gunakannja.

Suatu angkatan bukanlah buatan satu-dua orang. Ia mendjelma sebagai semangat, sebagai djiwa masa, tempat dan lingkungannja. Ia mendjelma sebagai keharusan kemasarakatan. Dan bila orang menamai Angkatan 45 buatan. Chairil Anwar, ia terapung-apung dan tidak melihat dasar jang mendjadikan bentuk sungai. Angkatan Pudjangga Baru adalah angkatan pada masanja sendiri jang tidak bisa diulang untuk kedua kalinja. Ulangan hanjalah perbuatan jang sia-sia. Demikian pula dengan Angkatan 45. Menghukum atau me­ngadili kekurangan-kekurangan jang terdapat pada sesuatu angkatan adalah mengadili atau menghukum anasir-anasir kemasa­rakatan jang menjebabkannja.

Dilahirkan didjaman perang Angkatan 45 tahu apa artinja pen­deritaan dan keketjewaan. Sebagai manusia jang normal, anggota- anggota angkatan inipun menghendaki jang baik bagi bangsa serta masarakatnja. Hanja tjara, kemampuan serta hasilnja jang ber­lain-lainan, jang mana tak ada jang bisa menjalahkan. Divina Comedia pun gagal dalam isinja, tetapi sebagai hasil kesusasteraan ia adalah suatu mijlpaal dari masanja. Demikian djuga tulisan- tulisan Ronggowarsito. Dan tiap-tiap hasilseni dengan kelebihan dan kekurangannja adalah suatu kehadiran adanja masa, adanja masarakat dengan manusianja, dengan kegiatan rohaninja, dengan daerah dan djiwanja.

Baca juga:  Sang Pemula

Tentu, Angkatan 45 ini akan menjebabkan diri buat angkatan mendatang. Dan jang mendatang ini adalah jang kuasa mengisi kekurangan-kekurangan jang ada pada Pudjangga Baru serta 45. Tak adanja kerelaan untuk menjebabkan diri adalah perbuatan jang akan sia-sia belaka. Orang memang mempunjai sifat pelit. Ia tak mudah mau kehilangan kenang-kenangannja jang indah jang telah dirangkumnja dalam hidupnja. Bila tidak demikian takkan mungkin ada hari-hari besar dikalender. Orang suka bergajutan pada masa- masa gemilangnja. Inilah anasir-anasir reaksioner jang selamanja mendjidjikkan angkatan mendatang. Dan bertambah kuat orang bergajut padanja, bertambah reaksioner ia, bertambah sengit tan­tangan jang harus diterimanja. Suatu hal jang sudah selajaknja.             •<

Dan kemudian hasil jang akan ditjapai oleh angkatan mendatang sangat terikat pada kemampuan serta kekurangannja. Kekurangan ! Tentu sadja ada kekurangannja. Dan kekurangan dilain pihak ini jang melahirkan romantik hidup dan perdjuangan dipihak menda­tang. Tetapi, ah, tiap orang ini bermaksud baik, paling sedikit untuk dirinja sendiri. Dan itu tak perlu benar didjadikan alasan untuk menanamkan benih sakit dalam hati atau tubuh.

Sesungguhnja sesuatu angkatan tjuma bisa diukur dari hasil-hasil jang dapat ditjapainja. Dan sudah dapat dibajangkan bahwa ang­katan mendatang adalah angkatan jang kuat, jang dapat memper­gunakan segala-galanja jang dimilikinja, ilmu, hidup serta kekuatan jang berguna untuk perdjuangannja jang tegas, serta tiada memiliki kebebasan untuk dapat merampas hartabenda jang ditjita-tjitakan- nja. Bosanan ! Bosanan sesungguhnja pembunuh angkatan-angkatan jang sudah-sudah dan djuga sekarang ini sehingga selalu kita ter­halang mendjadi bangsa kuat. Sungguh tidak tepat bangsa Indo­nesia dilambangkan banteng, sekalipun banteng tekel, jakni banteng jang tiada bertanduk. Lambang jang medekati adalah buaja atau tjitjak jang dalam seluruh pergulatannja setengah bekerdja dan setengahnja lagi beristirahat.

Bosanan inipun akan diisi oleh angkatan mendatang dengan ketekunan.

Demikianlah maka terdjadi angkatan. Jang satu harus menjebab- kan diri untuk jang lain karena keharusan dan bukan karena ke­hendak satu-dua orang.

Telah sering terdengar njaring tuduhan bahwa Angkatan 45 telah mampus. Ini tidaklah patut disoali. Kalau ini belum terdjadi djuga, besok atau lusa toh akan terdjadi. Tetapi suatu angkatan tidak akan mati selama ia telah menjumbangkan hasilnja kepada sedjarah. Kadang-Kadang ia tidak mati sebagai angkatan sebelum ada ang­katan baru jang datang menggantikannja. Dan kemudian perdju- angan mati-matian dari tunas muda jang membawa kejakinan baru serta pokok tua jang mau bergajut pada kegemilangannja sendiri sedikit-banjak akan terdjadi. Tetapi selamanja angkatan baru jang menang.[]

coverpramoedya - Tentang Angkatan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi