Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

“Sejarah itu tempat berangkat… Sejarah itu awal dari semuanya. Kalau itu pun nggak disadari, semua kacau-balau seperti sekarang ini” (PAT).

SUATU siang, tubuh Pramoedya Ananta Toer (Pram) diobok-obok. Sebuah tangan berbalutkan kain kasa menggerus kulitnya, dari kepala hingga ujung kaki, di samping rumahnya di Jl. Multi Karya II, Utan Kayu, Jakarta. Air dari gayung atau selang begitu saja disiramkan untuk mengenyahkan buih sabun dan berbagai cemaran. Perutnya yang ditutup dengan kain batik coklat juga di-uyel-uyel di tengah hari yang sesekali ditingkahi bunyi geluduk tersebut. Kali ini, dia tak bereaksi sama sekali. Pram sudah tak bernyawa. Pagi itu dia mengembuskan nafas pamungkas. Siangnya, jenazahnya dimandikan sebelum dikubur di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta. Minggu, 30 April 2006, atau sehari sebelum hari buruh sedunia (May Day), kala itu. pram Pramoedya Ananta Toer

***

Tak ada kiranya penulis Indonesia yang mendapat perhatian dunia seluas dan sebesar Pram. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam semua bahasa utama di dunia dan belasan bahasa lainnya di Eropa dan Asia, membuatnya berulangkali mendapat penghargaan internasional. Tahun 1995 dia menerima Anugerah Magsaysay dan selama beberapa tahun terakhir namanya selalu disebut sebagai calon penerima Anugerah Nobel di bidang sastra. Saat ini sudah ada puluhan buku, disertasi, tesis, skripsi sarjana, artikel ilmiah dan ratusan tinjauan buku yang membahas karya-karyanya dari masa awal maupun pelbagai karya yang dikarang semasa ditahan di Pulau Buru, yang menegaskan posisinya sebagai penulis novel paling penting dan termahsyur di Indonesia.

Baca juga:  Teologi Asy’ariah di Era Kontemporer

Dapat dikatakan bahwa Indonesia merasa bangga karena dapat melahirkan seorang sastrawan sekaliber Pram. Sarjana sekaliber A. Teeuw pernah menyatakan bahwa Pram adalah penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi, atau malah dalam satu abad. Ini adalah sanjungan yang tak berlebih-lebihan, dan Pram sudah membuktikan keunggulannya melalui novel-novel yang dihasilkannya selama delapan puluh satu tahun hayatnya.

Pram adalah seorang sastrawan yang tidak hanya mewakili Indonesia, melainkan juga dia seorang sastrawan yang dapat merepresentasikan kawasan Asia. Pada zaman Orde Baru, novel-novel Pram pernah dilarang beredar dengan alasan karyanya bersifat subversif atau memiliki unsur pertentangan kelas.

Pria yang lahir pada 6 Februari 1925, di Blora, Jawa Tengah ini, merupakan prosais yang mencurahkan pemikirannya di bahwa naungan humanisme. Kemanusiaan merupakan satu dasar pemikiran Pram, karena sebagian besar karya sastra yang dihasilkannya mengandung ciri-ciri itu sebagai landasan penciptaannya. Mencermati kehidupan Pram yang selalu didampingi penderitaan manusia, baik secara langsung, maupun tidak.

Wajarlah jika Pram membaca ciri-ciri kemanusiaan yang dihadirkan dari gejolak penderitaan itu. Falsafah ini bersumber dari anggapan bahwa manusia menghayati kehidupannya sebagai manusia yang hakiki dengan melepaskan diri dari segala belenggu, misalnya, penolakannya atas warisan budaya yang kolot, perlawanan atas ketidakadilan kekuasaan kolonial, atau semangat membangun kebebasan dan kesejahteraan manusia dalam lingkup kesatuan bangsa.

Baca juga:  Tentang Angkatan

Sikap Pram ini tentu saja bukan tanpa risiko. Dia harus meringkuk masuk penjara selama tujuh belas setengah tahun, masing-masing pada zaman Belanda, zaman Orde Lama, dan zaman Orde Baru. Pada zaman Belanda, Pram ditangkap polisi militer pihak penjajah Belanda selama dua setengah tahun karena dia menyebarkan selembaran anti-Belanda.

Pada zaman Soekarno, walaupun dia mendukung “Demokrasi Terpimpin”; Pram menerbitkan buku Hoa Kiau di Indonesia, yang dianggap membela golongan peranakan China di Indonesia. Gara-gara buku itu, dia dipenjarakan selama sembilan bulan. Pram juga diasingkan selama empat belas tahun pada zaman Orde Baru dengan alasan mengasuh rubrik “Lentera”, Koran Bintang Timur tanpa proses pengadilan. Sejumlah kejadian ini, terutama yang membuatnya masuk penjara, khususnya pada era rezim Soeharto, membuktikan bahwa Pram mencurahkan hasrat dan pemikirannya dengan berdasrkan patokan humanisme.

Sebagian besar karya Pram berhubungan erat dengan kehidupannya sendiri. Karya-karyanya lebih merupakan rekaman atas pelbagai peristiwa yang terjadi pada zamannya dan dengan segala kondisi masyarakatnya; semuanya lalu menjadi bahan perenungan Pram dan secara teliti mengalamai proses penyaringan. Penciptaan “anak rohaninya” (pelbagai karyanya) didasarkan pada pandangan dan sikapnya sebagai sastrawan yang berkomitmen pada sastra sebagai pemberi pencerahan bagi masyarakat, atau “seni untuk masyarakat.”

Terlebih lagi pada karya-karya besarnya, yang kebanyakan dihasilkan pada waktu Pram berada dalam pengasingan di Pulau Buru. Pada waktu itulah, dia mendapat kebebasan penuh untuk menjalani kehidupannya sendirian, melakukan meditasi dan perenungan yang dapat melengkapi daya dengan kemampuan dalam usaha kreatifnya. Jika dilanda krisis rohani, ia menjalani patiraga (pembersihan jiwa); sebuah laku kebatinan yang bagi Pram sebagai warisan atau pesangon berharga dari ibunya.

Baca juga:  Hidup Hanya Menunda Ngopi di Surga

Dari situlah dia merangkaikan dasar penciptaan melalui perlambangan-perlambangan gunung (pesangon), kuil (ilmu, cendekia) yang dapat dibentuk dari gunung dan matahari (pribadi dan integritas). Ketika ketiga lambang atau unsur itu hadir dalam mysticum-nya, barulah proses penciptaan dapat dimulai.

Pram yang di masa mudanya ternyata pernah belajar mistik dan agama bisa berumur panjang, jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan. Tatkala penyakit orang uzur kian mendera dirinya, makin gemar dia berbicara tentang kematian. Pram acap mengatakan sudah siap dan tak takut mati karena merasa sudah menunaikan segala yang perlu ia kerjakan.

Untuk kematiannya dia pun berpesan, “…Kalau aku mati jangan bikin apa-apa, jangan didoain segala, langsung saja bawa ke krematorium. Bakar di sana, abunya bawa pulang. Mau dibuang juga terserah. Tapi, kalau bisa, wadahi, dan taruh di perpustakaanku.” Pesan ini ternyata tinggal pesan. Sebab, jenazahnya waktu itu tidak dikremasikan, melainkan dikuburkan di Karet, pasca disembahyangkan.

***

Salah satu nasihat dari Pram yang penting dan inspiratif bagi generasi muda Indonesia adalah, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, maju karena pengalamannya sendiri”. Tabik, Bung Pram. []

pram - Pram

Pramoedya Ananta Toer

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi