Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip Pokok dan Tokoh Tempo, No. 34 Tahun X, 18 Oktober 1980

SEBUAH edaran yang ditujukan pada semua pimpinan unit utama di lingkungan Departemen P & K, rektor universitas/institut negeri dan semua Kakanwil Departemen P & K di seluruh Indo nesia, bertanggal 27 September, menyatakan buku ‘Bumi Manu sia’ karangan Pramoedya Ananta Toer dilarang beredar/dibeli/ disimpan di lingkungan Departemen P & K. Yang sudah telanjur memilikinya diminta supaya menyerahkan buku tersebut kepada yang berwajib

Pengarangnya, tentu saja bagaikan kena sengat. Apalagi ka-rena alasan pelarangan yang ditandatangani Sekjen P 4 K Soe-tanto Wirjoprasonto itu menyatakan bahwa setelah diteliti oleh yang berwajib, ternyata buku itu mengandung isi “pertentangan kelas” dan oleh karena itu dianggap merawankan Disebutkan pula bahwa Jaksa Agung pun sudah melarangnya.

Baca juga:  Kisah Joey dan Perburuan Satu Juta Dolar

“Saya benar-benar tersinggung,” komentar Pramoedya pada TEMPO, la tampak sangat penasaran, la betul-betul tak mengerti dan tak menyangka buku yang ditulisnya di Pulau Buru yang cetakan pertamanya sebanyak 10 ribu eks habis terjual dalam tempo tiga minggu itu, akan diperlakukan seperti itu. “Malangnya,” katanya, “mengapa itu harus terjadi di lembaga keilmuan?’

“Buku yang dilarang adalah hukuman terhadap pengarangnya,” katanya lagi. “Dan hukuman terhadap seorang pengarang haruslah melalui pengadilan kalau kita merasa bahwa ini adalah negara hukum ” Tapi lepas dari itu Pram merasa berterima kasih. Sebab, “dengan demikian saya tahu tingkat kebudayaan larangan itu sendiri,” katanya. Kecuali itu, dengan adanya larangan Itu “saya akan dikenal secara internasional. Dan dunia internasional akan menertawakannya.”

Baca juga:  Pram

Pram geleng-geleng kepala. “Itu adalah lelucon yang hanya ingin mematikan penghidupan saya,” ujarnya. Katanya seorang produser film sudah ada yang ingin membeli novel itu dan Pram meminta Rp 20 juta. Sedang dari penerbit buku Itu Pram memperoleh 20% dari harga jualnya. “Kalau memang di sini saya dianggap sebagai duri,” keluhnya, “saya bisa tinggal di luar negeri ” [] Pram Historead - Bumi Manusia

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi