Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip tulisan Pramoedya Ananta Toer pada Majalah Gadjah Mada Thn 4 November 1953 No.8

Kegagalan Kesusasteraan Indonesia Modern Kegagalan Revolusi (Hak Penjerahan 1953 : Mimbar Penjiaran DUTA)

Kedudukannja sebagai mahaguru PSF (Faculteit der Politieke en Sociale Wetenschappen) di Amsterdam dalam mata peladjaran sosiologi dan sosiografi Indonesia, pula sebagai mahaguru – penghubung antara Senat dan mahasiswa jang mempunjai kewargaregaraan Indonesia, kemudian ditambah lagi dengan perhatiannja pada seni dan budaja seperti nampak pada kedudukannja sebagai redaktur madjalah kebudajaan De Mieuwe Stem, menjebabkan mengapa ia banjak membatja buku2 hasil kesusasteraan Indonesia.

Mula2 ia berbimbang hati untuk menjatakan pendapatnja tentang pokok tersebut diatas karena mengingat, bahwa pendapat jang akan dilahirkannja besar kemungkinan akan dianggap oleh kalangan Indoriesia sebagai usaha untuk memperlihatkan superioritet barat dan kembali mau menggurui.

Tetapi kesusasteraan Indonesia dewasa ini seakan terkurung dalam dinding, sehingga ada nampak tanda-tanda tertjekik, suatu jang menjebabkan mengapa dewasa ini pengarang2 Indonesia kian mementjak2 mentjari djalan keluar dan dalam prakteknja mereka bertjakar-tjakaran satu – sama – lain bahkan kadang2 dengan tiada alasan jang sewadjarnja atau djuga tidak karena kepertjajaan2 jang prinsipiil. Dalam keadaan seperti ini pendapat pengarang atau masjarakat Indonesia sendiri atas hasil kesusasteraannja kehilangan objektivitet ‘karena kedua-duanja ikut terseret dalam keadaan itu. Pendapat orang luar mungkin lebih baik karena bukan sadja dimungkinkan oleh distansi. tetani djuga seorang luar biasanja mempunjai lebih banjak kesempatan untuk merenung dan memahami.

Kesusasteraan Indonesia Modern adalah terdjemahan dari Revolusi nasional baru2 ini. Bitjara tentang Kesusasteraan ini adalah bitjara tentang Revolusi: dan bitjara ten-tang Revolusi adalah bitjara tentang masiarakat dengan segi2-nja- tjara berfikir jang typisch dari seorang sosiolog.

Bagi Prof. Dr. W.F. Wertheim Revolusi jang baru lalu merupakan pusat perhatian dan banjak kala revolusi ini mendjadi titik lontjatan pertama dari mana ia mengurai berbagai masalah Indonesia hari ini. Hasil Revolusi Indonesia barulah sampai pada penggantian kedudukan2 jang dahulu ditempati oleh orang2 Belanda. Dan untuk perubahan jang sangat sedikit ini sesungguhnja terlampau berlebih2an banjaknja darah jang telah ditumpahkan. Sekarang telah njata bahwa Revolusi jang hebat itu tidak lain dari pada Revolusi setengah djalan, tidak atau belum diikuti oleh Revolusi Sosial. Susunan feodal (dan bukan orang2 feodal) serta tjara2 penghidupan dari kehidupan masih sama dgn didjadjahan kolonial kalau tidak boleh dikatakan lebih buruk. Dan apakah sesungguhnja keuntungan jang diperoleh rakjat jang ternjata telah banjak berkorban hanja dari bangsanja dikedudukan2 jang baik itu ?. Hingga kini belum lag nampak. Tidaklah dapat disangkal lagi bahwa pada segi2 jang lain Revolusi jang achirnja hanja berarti Revolusi Politik ini, memberi keuntungan djuga seperti pesatnja pemberantasan butahuruf dan penaikan ketjerdasan jang diselenggarakan oleh Pendidikan Masjarakat didaerah-daerah. Jang lebih penting daripada itu ialah: kebebasan djiwa, kebebasan semangat terutama dalam pentjiptaan. Tetapi kebebasan itu tidak begitu berarti bagi rakjat, pertama karena jang bisa mempergunakannja sangat terbatas pada sedjumlah ketjil orang dan kedua karena hasil jang bisa ditjapai dengan kebebasan itu tidak sampai kepada rakjat ketiga kalau hasil itupun toh ada belum tentu menterdjemahkan apa jang sesungguhnja dikehendaki oleh rakjat.

Baca juga:  Seandainya Tak Ada Wahib

Keuntungan jang sedikit itu tertelan mentah2 oleh segi2 kemasjarakatan lain jang tidak mengalami perubahan sama sekali bahkan me lahan terlantar. Sistim langgar j g telah berabad-abad lamanja mendjadi pusat kegiatan masjarakat dalam bentuknja jang karakteristik ternjata setelah Revolusi ikut kehilangan vitalitetnja, padaha apabila sistim langgar ini ikut mengalami revolusi ia akan merupakan benteng pertahanan kenasionalan jang amat kuat.

Pada permulaan Revolusi kesatuan tjita memang kuat, tetapi waktu Revolusi ini sudah agak landjut dengan tiada disadari telah mula merajap kebimbangan apakah sesungguhnja hasil jang bisa diperoleh olehnja bahkan djuga setelah berdaulat nanti. Tak adanja djalan keluar dan tak adanja kekuatan untuk mematahkan lingkaran putar telah demikian kuat waktu itu, sehingga melahirkan pessimisme sekalipun ini djuga tidak disadari. Dan pessimisme inilah jang telah pula diterdjemahkan oleh Idrus, Achdiat, Utuy dalam karangan2-nja. Satu-satunja buku jang masih mengandung optimisme adalah Keluarga Gerilja, tetapi sungguh sajang bahwa buku tersebut hanja mengandung optimisme jang bersifat perseorangan, tidak bersifat umum. Setelah itu karangan2 jang terbit hanja memperkuat pessimisme belaka.

Indonesia tidaklah berhak untuk berpessimistis. Indonesia mempu njai hari depan jang besar dan megah. Kalau orang memperbandingkannja dengan keadaan negeri Belanda, maka orang dapat membenarkan pendapat ini. Limabelas tahun jang akan datang orang tak dapat mengira-irakan lagi kemana anak2 Belanda itu harus pergi dan bagaimana mereka harus hidup,

Belanda telah memainkan rolnja dalam sedjarah, mereka telah mendjawab tantangan nasibnja. Tetapi Indonesia baru memulai dan masih harus mendjawab. tantangan itu. Sungguh patut disesalkan bahwa pengarang2 Indonesia dengan lantjarnja dapat mempergunakan gaja barat, dengan pessimisme bar at. jang mana semuanja itu sama sekali tidaklah mengenai masjarakat Indonesia tidak menggambarkan masjarakatnja sendiri.

Adalah tidak masuk diakal bahwa bangsa Indonesia dalam perkembangannja bisa dihinggapi pessimisme barat. Benar bahwa pengarang2 angkatan Revolusi telah melakukan lompatan dalam perkembangan kesusasteraan sebelum perang, dan djuga telah njata memperoleh hasil batin jang banjak, tetapi mereka belum mampu memberi apa2 kepada rakjat. Kemadjuan ini baru bersifat perseorangan. Pessimisme jang menghinggapi mereka bukanlah pessimisme barat. Revolusi lahir bukan karena pessi-misme, tetapi djustru sebaliknja. Pengarang2 angkatan Revolusi belum sanggup menterdjemahkan kemauan dan perasaan rakj at. Tiap hasil kesusasteraan jang menterdjemahkan kemauan dan perasaan rakjat akan sampai djuga kepada rakjat sekalipun sebagian besar dari mereka butahuruf. Dari alasan2 tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kesusasteraan Indonesia Modern adalah gagal. Dan dalam hal ini ia menterdjemahkan dengan baik sedjarah semangat Revolusi, Revolusi jang gagal Revolusi jang berhenti ditengah djalan.

Pessimisme seperti jang berdjangkit pada pengarang2 Indonesia baru pernah djuga berdjangkit pada pengarang2 Belanda sehabis pembebasan dari penduduk an Djerman. Pessimisme demikian memang umum karena kenyataan jang berlaku djauh berlainan daripada apa jang mereka harapkan dimasa mereka masih mendekam dalam tekanan.

Kegagalan Revolusi?. Hal itu bisa tegas2. Sebagai misal diambil tjontoh meradjalelanja korupsi. Korupsi selamanja diakibatkan karena kurangnja kepertjajaan pada pemerintah, dan orang lebih pertjaja kepada lingkungannja sendiri dalam hubungan2 kemasjarakatan. Bitjara tentang korupsi dipandang dari sudut kemasjarakatan, adalah bitjara tentang gedjala umum di Asia dewasa ini, dimasa-masa jang lalu dan djuga dimasa-masa jang akan datang sebelum struktur2 kemasjarakatan di tempat2 tersebut mengalami perubahan. Perubahan ini sehausnja di Indonesia telah dikerdjakan oleh Revolusi jang baru lalu Struktur kemasjarakatan barat mengetjilkan kemungkinan untuk berkorupsi. Disini orang tidak mempunjai hubungan erat dengan keluarga, atau boleh dikatakan hubungan manusia barat jang satu2 nja adalah dengan pemerintah Sebaliknja dimana ikatan keluarga erat, terutama ditambah lagi dengan banjaknja perhubungan orang dengan golongan atau kepentingan? lain, boleh dikatakan korupsi sudah termasuk didalamnja. Djuga gedjala ini nampak dinegeri Belanda waktu orang mempunjai banjak hubungan dengan perkumpulan2 atau serikat2 buruh.

Baca juga:  Kesunyian Kus Jing-jing

Apakah akibatnja Revolusi jang baru lalu atas hubungan keluarga?. Tidak ada. Tiap Revolusi jang selesai pasti akan ditutup oleh terbitnja buku standard sedjarah Revolusi, seperti jang ditulis oleh Masarijk di Tjekoslowakia, Marx atas Revolusi 48. Lenin atas Revolusi Bolsjewik. Tetapi di Indonesia buku demikian belum nampak ada kemungkinan untuk terbit, dan sebaliknja memang tidak akan terbit— althans tentang sedjarah Revolusi jang baru lalu. Terbitnja buku demikian berarti adanja kemungkinan untuk memperoleh gambaran tegas dari soal jang ditulis. Dan bila gambaran jang menjeluruh tidak didapat orangpun tidak bisa menuliskannja.

Wertheim tadinja mengira bahwa Sjahrirlah jang akan menulisnja, tetapi rupa2nja hingga kini harapan dan kiraannja tidaklah terkabul. Ada djuga ditulis tetapi tidak merupakan suatu keseluruhan soal. Riwajat Proklamasi 17 Agutus 1945 karangan Adam Malik dan Sapta Darma Yamin hanjalah bersifat Fragmentaris dan jang belakangan lebih bersifat perseorangan.

Oplaag buku kesusasteraan Indonesia Baru jang rata2 5000 exemplar, tidak dibantu dengan baik penjiarannja oleh badan2 jang berkepentingan, dan pemerintah tidak mempergampang sampainja kepada masjarakat, merupakan tjontoh jang baik dari gedjala kegagalan Revolusi. Buku2 ini harus dibatja oleh lebih banjak orang Indonesia agar ada terdjadi perubahan kearah kemadjuan kebatinan Rakjat jang telah ternjata tidak mendapat apa2 dari Revolusi jang baru lalu. Bukankah Revolusi dan semangatnja seluruhnja termaktub didalam kesusasteraannja ?. Dan bukankah mereka harus bertemu kembali dengan kurun waktu jang lalu itu dan menimba kembali semangat perdjuangan itu dari buku2 kesusasteraannja ?. Bukanlah daripada tidak mendapat apa2 dari Revolusi itu sendiri, lebih baik toh mendapat dari kesusasteraannja ?.

wertheim - Prof. Dr. Wertheim tentang Kesusasteraan Indonesia Modern

Pessimisme harus dikuburkan dari bumi Indonesia. Dalam kesusasteraan orang bisa banjak mengambil perbandingan Mexico jang djuga mengalami Revolusi dengan factor2 jang hampir bersamaan dengan Indonesia. Namun Mexico dalam tjiptaan-tjiptaannja masih bernafaskan optimisme-dan optimisme sehat. Kewadjiban jang urgent bagi Pengarang2 Indonesia Baru dewasa ini bukanlah menjampaikan pessimisme jang sia-sia itu lagi, tetapi sebaliknja menghidupkan optimisme hari depan.

Tentang ini tidak perlu seorang pengarang harus terdjerumus dalam hasil kesusasteraan propaganda atau terlampau bertendensa. Namun bukanlah pada tem- patnja untuk berbagai mend jadi Angkatan jang hilang, tetapi pada tempatnja berketjil hati mendjadi angkatan jang kalah, angkatan jang tidak mendjawab tantangan hari depan. Sudah sepatutnja dilahirkan buku2 jang menterdjemahkan dunia perasaan dan dambaan rakjat, sehingga buku itu mendjadi Kur’an kedua seperti Perang dan Damai, Tolstoi bagi Rusia, Sabai nan Aluih buat daerah Minangkabau,, Sangkuriang untuk daerah Pasundan. Bharatajuda dan Ramajana (dan terutama sekali jang pertama) untuk daerah Djawa Tengah dan sebagainja.

Baca juga:  Tentang Angkatan

Optimisme jang akan hidup terus adalah optimisme rakjat dan bukan perseorangan. Dan ia harus pula bisa menghidupi kembali rakjat itu. Itu pula sebabnja Wertheim amat anthusias dengan tjeramah Asrul Sani tentang Desa dan Kota didalam Simposium di Amsterdam jang baru lalu. Setidak-tidaknja tjeramah Asrul Sani itu memberi djalan keluar dari lingkaran putar, sekalipun ia tidak menundjukkati djalan jang satu-satunja

Tentang bahasa jang dipergunakan oleh pengarang2 sekarang nampak jelas adanja kekakuan dan belum sanggup menggambarkan kehidupan perasaan. Bukan salah mereka djustru bahasa Indonesia adalah bahasa bikinan dan tidak lahir serta dipergunakan sedari pemulaan. Kekuatan penggambara nuances jang ada pada bahasa2 daerah hilang lenjap dalam bahasa Indonesia ini. Bahasa Indonesia lambat laun mendjadi bahasa resmi, tidak memiliki bahasa pertjakapan. Kesumbangan ini bisa diatasi kelak apabila bangsa Indonesia telah danat mempergunakan sebagai bahasa keluarga. Ini pula sebabnja mengapa selama ini hanja daerah2 jang berbahasa Melaju sadja dapat melahirkan pengarang jang mempergunakan bahasa Indonesia, karena mereka belum memasuki masjarakat, sedjak mereka dilahirkan dirumah tangganja. Pengarang2 bukan dari daerah jang berbahasa Melaju, mungkin djuga berhasil dalam tulisan jang berbahasa Indonesia hanja dengan kekuatan gaja.

 

Wertheim dilahirkan di Petersburg dari sedjak ketjil mempergunakan banasa Rusia. Bahasa ini merupakan bahasa Keluarga, jang djuga ia pergunakan dalam pergaulan dengan kawan2-nja, bahkan saudara2ra Hanja orang tuanja mempergunakan bahasa Belanda, jang achirnja mendjadi bahasa resmi. achirnja ialah bahwa hasil kesusasteraan jang tertulis dalam bahasa Rusia baginja lebih berarti daripada jang tertulis didalam bahasa Belanda.

Tidaklah dapat disangkal lagi bahwa sekalipun bahasa Indonesia berdasarkan bahasa Melaju namun ia mengalami kelahirannja di Djakarta. Dari Djakarta merupakan penumpukan berbagai matjam keluarga dari berbagai matjam daerah jang menjebabkan pesatnja bahasa ini dalam kemadjuannja. Tetapi kekurangan dari padanja ialah djustru karena Djakarta mendjadi penumpukan berbagai matjam       keluarga dari berbagai matjam daerah, maka kata2 jang menterdjemahkan kehidupan perasaan serta nuancesnja gampang kotjar- katjir. Djalan untuk membuat uniforma dalam kata2 ini ialah jalan jang pernah ditempuh ole komisi istilah, artinja dengan membuat komisi baru untuk menggesahkan bahasa pertjakapan jang harus disebarkan sebesar dan selebar mungkin diseluruh kalangan masjarakat ramai hingga dipelosok dan gunung2, terutama dengan menterdjemahkannja kedalam bahasa2 daerah.

Kegagalan jang mengantjam bahasa’ Indonesia pun sudah nampak apabila untuk selama2-nja ia merupakan bahasa resmi. Usaha dan inisiatip untuk memperkembangkannja mendjadi bahasa keluarga sangat dibutuhkan setjepat mungkin,’ dan terutama inisiatip ini diharapkan dari para pengarangnja.

Amsterdam, IX — 1953
(Mimbar Penjiaran Duta).

pramicon - Prof. Dr. Wertheim tentang Kesusasteraan Indonesia Modern

 

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi