Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Seperti apakah cinta itu dan dari mana datangnya? Kita pun tak pernah tahu. Cinta bagiku sesuatu yang mustahil dan tak masuk akal. Cinta itu seperti pisau yang tajam. Hati-hati dalam menggunakan. Jikalau tidak tangan kita bisa terluka.

Cinta. Kata yang absurd, sulit menjelaskan. Hanya bisa dirasakan. Begitulah cinta datang secara tiba-tiba dan tak disangka. Padahal pada pandangan pertama aku tak merasakan apa-apa. Setahuku, ia hanyalah gadis seperti umumnya. Menurutku tak ada yang istimewa darinya. Tetapi, semenjak perpisahan itu aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku seperti bayi yang baru lahir kembali. Bingung dengan keadaan sendiri.

Otakku terus berputar. Mata pun juga berkejap-kejap. Ada sesuatu yang menempel di layar benak ini. Yakni Selir. Adalah seorang gadis yang berpenampilan biasa-biasa saja. Ia berambut sebahu dengan ujungnya bergelombang. Ia bermata redup seperti senja. Bibirnya pun tak semerekah kelopak bunga, hanya tatapan matanya yang cukup tajam. Tubuhnya pun tak semampai.

Entahlah, mengapa hati dan pikiran ini selalu terombang-ambing saat mengingat paras mukanya. Seakan ada yang aneh. Padahal, selama ini, aku merasa biasa saja, saat bertemu dengan gadis seumurku. Apalagi dalam beraktivitas dengan para relawan kemanusiaan, seperti Selir. Heran. Grambyang.

Mungkin ini, yang dibilang cinta pertama. Sebelumnya, aku tak pernah merasakan hal-hal seperti itu. Bagiku, teman-teman yang berada di pos sukarelawan bencana alam adalah saudara. Bukan kekasih. Tapi tubuh ini ada yang selalu mendorongnya, saat aku bersamanya; untuk selalu dekat, selalu perhatian, bahkan selalu ingin bersama-sama terus saat kami melakukan aktivitas sosial kemanusiaan.

Kian lama aku tak bertemu dengannya, perasaanku tak karuan. Semrawut, bagai lukisan abstrak. Tak jelas. Hanya percikan-percikan warna yang tak karuan. Pergumulan motif tak jelas. Tak tahu aku harus bilang apa dengan diriku saat itu. Rasanya ingin sekali aku mengenalnya lebih jauh. Ingin lebih dekat.

Berhari-hari aku menahan rindu ini untuk berucap dengannya bahkan ingin bertemu. Tapi hati ini ciut, seperti bekicot yang takut dengan sentuhan. Aku ingin menyendiri terus di kamar indekos. Aku mengunci pintu kamar. Aku ingin sendiri. Tak ingin ada yang mengganggu kesendirianku. Seperti pertapa saja.

Kian lama perasaanku tak karuan. Tiba-tiba saja, pipi ini basah. Setetes air mata terjatuh dari kubangan. Kenapa aku menangis? Apa aku rindu Selir! Pertanyaan itu yang selalu berderet-deret dalam benak. Aku coba pejamkan mata, tapi nihil. Mata ini tetap saja terbelalak. Tanpa berpikir panjang, aku mencari siasat untuk bertemu Selir. Akhirnya, saat itu juga, aku menelepon dan mengajaknya untuk bertemu esok harinya.

Baca juga:  Sejarah Menulis

Bahagia tak terucapkan. Rasanya, saat itu, aku adalah orang yang sangat bahagia. Orang yang paling beruntung. Kami pun bertemu di warung kecil dekat lokasi banjir. Maklum, aku mengajak dia ketemuan di warung itu supaya ia tak curiga bahwa aku ingin menyatakan cinta padanya. Pikirnya, kita akan bahas planning untuk mitigasi selanjutnya. Padahal aku ingin menyatakan cinta padanya.

Akhirnya, menjelang siang kita bertemu. Kita saling melempar senyum satu sama lain, seperti benang sari dan putik di tengah elusan angin. Kita saling bertukar kata dan kalimat supaya percakapan tak garing. Lama-lama hatiku tak karuan. Aku mencari momen yang pas untuk menyatakan cintaku padanya.

Aku coba menggiring percakapan itu. Sesekali menyindir dan menyentil urusan pribadinya. Tapi aku tak berani bertanya: apakah kamu sudah pacar?  Ia pun menyentil pribadiku. Mulai bertanya hobi dan makanan kesukaanku. Tiba-tiba, telepon selulernya berdering. Ia mengangkat telpon. Aku kaget saat terucap darinya; “Ada apa sayang?”

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku kaget. Hatiku hancur. Aku hanya memocongkan mulutku saat melihat ekspresinya yang begitu tenang menyapa pacarnya dari seluler. Kening pun berkerut serasa ada plester di kepala ini. Sekali, ia mencuri pandang terhadapku. Aku pun begitu.

Tak lama kemudian, ia menaruh telpon selulernya kembali. Aku pun terdiam tanpa sepata kata. Bengong, bagai katak yang berlindung di kolong siang hari. Anehnya, mulutku ini berucap: “Selir, aku mencintaimu. Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku mencintaimu. Intinya aku suka padamu. Aku ingin menjadi kekasihmu.”

Selir pun heran mendengar kata-kataku. Suasana hening dan senyap. Kita saling memandang kosong satu sama lain. “Sudahlah Selir, kamu tak usah gubris perkataankku tadi. Anggap saja angin lalu. Biarlah perasaanku ini menjadi rahasia kita berdua. Tak usah hiraukan perasaanku ini; ucapku datar.”

Selir hanya terdiam. Ia tak berkata apapun. Ia terpaku, bagai patung. Aku pun langsung memasang badan, berdiri seraya membayar. Kita pun berpisah di warung. Kita pulang sendiri.

Di sepanjang jalan pulang ke rumah kos, tubuhku terasa berat seolah menggotong tumpukan batu dalam jerami di atas pundak. Lebihnya lagi, aku malu atas ucapanku tadi kepada Selir. Apalagi, hati ini hancur berkeping-keping sebab aku telat untuk mendapatkan cinta Selir.

Sesampainya di kamar kos, penyakitku kambuh: bengong. Pikiran kosong. Tak kuat rasanya aku ditinggalkan Selir. Tak kuat pula aku gagal mendapatkan cinta pertama dari gadis itu. Gadis yang selalu bertengger dalam hati ini, seperti ranting yang cekat dengan cabang. Sungguh naif diriku.

Baca juga:  Pram

Sudah seminggu aku lalui hari demi hari dengan membekap cintaku pada Selir. Sering kali air mata ini selalu membuncah dari kubangan kembar ini. Apalagi, saat paras Selir melamat-lamat dalam benak. Sesekali aku berdoa pada Tuhan: kenapa kau buat cintaku ini menderita Tuhan! Hingga sebulan lamanya, aku serasa mengidap penyakit akut. Bagaimana tidak, paras Selir menghantuiku. Tidur pun aku selalu bermimpi Selir. Oh selir.

Setelah dipikir-pikir, apa salahnya sih kalau aku menjadi kekasih gelapnya. Menurutku, tak masalah. Terpenting aku bisa mendapatkan kasihnya meskipun secuil. Entahlah, ini salah atau tidak. Bagiku, aku ingin sekali mendapatkan cintanya, meskipun aku dijadikan pacar simpanan. Lagi pula, hubungan Selir dan kekasihnya masih sebatas pacaran, bukan hubungan suami-istri. Aku tak mau terus menderita seperti ini. Tanpa berpikir ulang, akhirnya, aku memberanikan membuat proposal (kerjasama) cinta kepada Selir. Seperti pepatah: sebelum janur kuning melengkung, ia masih milik umum. Berikut isi propsal cintaku pada Selir, yang kukirim pada emailnya:

###

  1. Pendahuluan

Kepadamu aku kirim salam terindah, salam sejahtera penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kasturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat, sehangat sinar mentari pagi. Salam suci, sesuci air telaga kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan cinta-kasih-sayang yang tak pernah pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa.

            Entah darimana aku mulai proposal cinta ini. Kata-kata ini kususun dengan ramah supaya adinda membacanya amat akrab. Menyusun kata dan merandai kalimat  demi mengungkapkan segala sedu-sedan—perasaan yang ada dilubuk hati. Saat adinda baca tulisan ini anggaplah aku berada dihadapanmu seraya bersimpuh sambil mencium tanganmu karena rasa cinta tak terperi dalam sanubari. Mungkin kata-kata ini adalah Jibril (penyampai pesan/wahyu) namun sebatas kias tak bermakna. Tak seperti air mata yang memberi arti dengan sejuta makna.

            Kini, deretan kalimat menjadi penyambung lidah keluku yang tak mampu mengucapkan dengan sempurna tapi mampu sampaikan pesan cintaku dengan sederhana. Mungkin sesederhana lebah yang mengasihi ratu lebah, meski ratunya sering meminta pengorbanan demi keselamatannya.

            Apakah aku salah menulis ini semua?

Segalanya telah menderu di dalam dada dan jiwa. Serasa deruan ombak yang membentur karang-karang. Telah lama aku menaggung nestapa bagai musafir yang hilang arah. Hatiku kelam oleh penderitaan. Lidahku kaku tuk berucap, karatan rasa ini menyumbal. Apalagi saat aku bermuajah. Semuanya terus merongrong hati kecilku hingga aku tak kuasa tuk berucap. Mungkin pula, aku egois terhadap cintamu. Mungkin pula aku tak mau tahu dengan hubungan kekasihmu saat ini. Maafkan aku cinta…?

Aku merasa kau datang dengan seberkas cahaya kasih sayang. Yang menyinari hati gelap ini. Belum pernah aku rasakan cinta pada seseorang sekuat rasa cintaku padamu. Selama ini aku tak merasakan cinta sedahsyat ini. Kali ini, kau menjadi api yang membakar gairah cintaku kepadamu; kau menjadi angin yang menerpa pikiranku hingga wajahmu tertambat dalam benak; kau menjadi air yang selalu menyirami dukaku dengan sukacita; bahkan kau menjadi tanah bagi bongkahan tubuhku yang rapuh.

Belum lagi, kau selalu memantik hati bekuku dengan kerikil kasih. Rindu menggebu. Cinta mengangkasa. Kasih puri. Sayang pajang. 

  1. Uraian

Dalam perjalanan cinta tak selalu mulus, cinta butuh perjuangan. Banyak kerikil, lubang-lubang, bahkan aral maya sering menjatuhkan. Seperti diriku, telah lama aku tak pernah merasakan siraman cinta hangat seperti sekarang. Entahlah. Aku anggap engkaulah tulung rusuk yang dicipta-Nya. Tulang rusuk yang bertahun-tahun aku cari. Percaya atau tidak, ini hanyalah asumsi sejati yang kupaku dalam jantung.

Tak pelak, aku rapal namamu laksana amalan. Aku kidungkan nama indahmu laksana litani. Sungguh pun, perasaanku ini tepermanai. Aku hanya bisa berharap. Kau (serta Tuhan) yang akan mengabulkan rapalan doaku.

Mencintaimu bukan tentu haram dan larangan! Mencintaimu menggenapkan firman Tuhan terhadap ideologi. Hingga dalam setiap nafas, auramu selalu menyorong cinta terhadap lorong-lorong urat nadi. Mencintaimu merupakan jalan suci menuju rumah Tuhan yang penuh damai dan sejahtera. Di mana benci dan cemburu lenyap. Menjelma belas-kasih. Bahkan sakit (hati) pun tak pernah terasa meski sebenarnya itu terjadi.

Hemat kata, Aku tak ingin mengganggu dirimu dengan kenistaan kata-kataku yang tertoreh dalam proposal ini. Kiranya, adinda sudi/ikhlas menerima cinta suciku ini meski aku harus menjadi kekasih simpanan. Karena aku mencintaimu, mengasihimu, menyayangimu, dan ingin selalu berada di sampingmu walau aral hidup kompleks. Aku akan mengorbankan jiwa ragaku agar engkau tersenyum-bahagia.

  1. Penutup
Baca juga:  Mengalami Jakarta

LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL

Dengan ini aku ingin mengikat tali persetujuan untuk menjalin hubungan cinta, semoga alam merestui. Amien.

###

Sesudah itu, aku memberanikan diri untuk menyampaikan pesan melalui sms kepada Selir. “Silahkan cek emailnya. Ada sesuatu buat kamu.”

Semenjak itu, saban hari aku selalu cek email. Tapi tak ada balasan dari Selir. Dan tanpa diduga, bahkan aku tak sadar, sudah sebulan lamanya Selir tak pernah membalas emailku.[]

madiwinarto - Proposal Cinta

Ilustrasi Historead

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi