Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Refleksi seorang Arsitek

Apa artinya menjiwai ruang, saat bangunan yang bercokol tak lebih dari fasad? Apa artinya agama saat spiritualitas telah hancur? Apa artinya memahami seksualitas, saat benda-benda mati bahkan juga binatang tampak lebih “seksi” dari manusia itu sendiri? Tiga pertanyaan ini berbeda konteks, namun berdasar pada keresahan yang sama: apa artinya memaknai kedalaman, saat semuanya telah berubah total menjadi superfisial?

Penjiwaan ruang telah punah, digantikan oleh fasad-fasad yang didominasi kaca dan dinding raksasa. Padahal, sebagaimana yang diajarkan Taoisme –sebagai representasi sudut pandang arsitektural timur, memahami ruang adalah lebih penting ketimbang fasadnya itu sendiri. Dia berseloroh, “yang tiada itu adalah yang utama, untuk membuat sesuatu yang nyata.” Ini memang masih kontradiktif di zaman yang masih mengandalkan rasio saat ini, sebab dalam pandangan umum orang masih bisa berargumen, “bukankah yang terlihat itulah yang mempengaruhi persepsi kita dalam menjiwai yang tiada?” Meski demikian, Lao Tzu sebagai penggagas Taoisme muncul di zaman yang masih mempunyai kepercayaan tinggi terhadap “yang tiada”, dan argumen yang dikatakannya ini sulit untuk dipertahankan sejak menjamurnya dampak Revolusi Industri hingga ke negeri China tempat Lao Tzu bermeditasi. Namun, menyingkirkan sepenuhnya pendapat Lao Tzu akan mengakibatkan ketidakseimbangan antara ‘tubuh dan jiwa’, ‘rasio dan spritualitas’, dan dalam kaitannya dengan arsitektur adalah ‘ruang dan fasad’.

Mempersepsi arsitektur masih layaknya filsafat, mempunyai kutub timur dan barat. Barat mempunyai nama besar arsitek yang lebih banyak seperti Le Corbusier, Van der Rohe, Frank Lloyd Wright, dsb. Sedangkan Hasan Fathy masih terkurung dalam karya perumahan “kumuh”nya yang dari tanah liat, sama “kumuh”nya dengan Kali Code yang digagas Romo Mangun. (Kata “kumuh” mohon diamini dengan persepsi barat”. Betapa tidak? Di zaman yang sudah ada beton, masak proyek masterpiece-nya dari tanah liat, apalagi bambu? Heh)

Baca juga:  Kaca, Akuarium, dan Kesadaran Ikan yang Bunuh Diri

Pendapat Lao Tzu di atas bertentangan dengan Plato, sebagaimana keduanya dikutip di buku “Pelestarian Arsitektur & Kota yang terpadu”. Plato mengatakan, “hanya sesuatu yang dapat diraba yang dianggap nyata.” Ini menunjukkan bahwa dasar arsitektur timur dan barat sudah berbeda secara radikal. Timur yang mengutamakan ruang dan kekosongan, sedangkan barat yang mengutamakan material dan gaya fasad. Sebagaimana yang terjadi pada setiap bidang, baik pengetahuan, sistem pemerintahan, dan perekonomian, pendapat barat lebih tersebar luas di antara penganut ketimuran yang telah dicap “barbar”.

Le Corbusier sebagai bapak arsitektur modern dunia telah sukses memakmurkan bangunan gedung beton yang hanya berhias kaca sebagaimana banyak kita lihat saat ini. Meski demikian, beberapa kritikus arsitektur menyebutnya sebagai “arsitek kandang ayam”. Adalah Robert Byron yang menyebutnya demikian. Pemukiman untuk banyak orang dengan kultur yang berbeda dalam satu gedung seperti apartemen, perhotelan, disebutnya sebagai “kandang ayam”. Belum lagi dominasi geometri persegi dari kaca yang bersusun-susun menjulang. Inikah kandang ayam skala besar?

Bangunan yang terbangun di sekitar mata kita saat ini, lebih banyak mempertimbangkan fasad ketimbang penjiwaan ruang. Kita lebih mementingkan wajah rumah ketimbang sirkulasi udara. Kita lebih mementingkan bentuk pintu tanpa memperhatikan nuansa apa yang akan hadir dengan bentuk pintu yang demikian. Segala hal dalam arsitektur saat ini melulu tentang apa yang bisa dilihat, bukan penjiwaan.

Baca juga:  Benih, Pangan, dan Kehidupan

Masjid sebagai Tolak Ukur Penjiwaan Ruang

Hilangnya penjiwaan juga berarti hilangnya spiritualitas. Sudah bukan rahasia jika saat ini agama hanya menjadi merk jualan seperti ‘jilbab halal’, atau yang lebih halus dan malu-malu seperti cap ‘halal’ yang dikeluarkan MUI untuk Indomie, Aqua, minuman bersoda, dll (asal bukan rokok). Maka kita juga tidak heran saat melihat masjid yang baru dibangun juga semata-mata memperhatikan fasad “kekinian”, bukan nuansa ruang. Padahal, masjid sebagai rumah dimana konon para umat semakin dekat pada Tuhan harus menciptakan ruangan yang menhadirkan sensasi “ketuhanan”.

Tak jauh dari rumah saya, di Banyuwangi, Masjid Baiturrahman yang baru selesai direnovasi (dibangun ulang) menjadi contoh dimana spiritualitas telah menguap. Bangunan yang dahulunya beratap limas ber-genteng telah dibongkar menjadi kubah beton. Temboknya dilapisi keramik hijau senada dengan lantainya. Lantai masjid yang dahulu dibuat berundak sehingga mencegah panasnya pantulan aspal telah dikikis. Kini, elevasi lantainya semakin dekat dengan jalan raya sehingga bertambah panas pula keramik yang kita injak. Jika diteruskan, masih banyak lagi “cacat bangun” di masjid ini.

Dari sekian contoh kesalahan rancangan di atas, semuanya mengarah pada kenyamanan masjid berkurang, namun di sisi lain wajah masjid tampak “kekinian”.

Baca juga:  Cantik dalam Serat

Tapi rasa curiga akan hilangnya spiritualitas beragama yang terindikasi dari masjid ini ternyata benar. Desain masjid yang baru tidak memperbaiki keadaan yang timbul di masjid yang lama, yakni masalah lahan parkir. Sebelum dipugar, masjid ini selalu menutup jalan utama di depan taman sritanjung untuk dijadikan parkir sepeda motor. Di desain yang baru juga sama, dan malah lebih parah, jalan milik umum di depan masjid di”kandang” dan diakuisisi milik masjid. Acara salat hajat di masjid ini banyak berdoa agar masjid ini dihibahkan pemerintah. Sebuah ironi, dimana membangun Rumah Tuhan membutuhkan perampasan hak publik. Apakah urusan Tuhan dan urusan kemanusiaan harus bertentangan?

Eh, gini-gini masjid ini dapat penghargaan Masjid Percontohan Terbaik ke-2 se Indonesia, dan juara satu se-Jawa Timur loh. Tapi, juga sudah kelihatan jelas betapa masjid ini telah lepas dari fungsinya sebagai rumah ibadah dan hal-hal ketuhanan, sejak kapan masjid ikut dalam lomba-lomba? Memang kalau sebuah masjid juara nasional, maka doa yang dipanjatkan di masjid itu pasti diijabah?

Rumah ibadah sebagai tempat dimana penjiwaan ruang paling vital diperlukan, bisa menjadi tolak ukur menilai sejauh mana kita semakin gila akan hal-hal yang superfisial. Semakin mewah masjid kita, semakin terepresentasi pula semakin gilanya kita terhadap uang. Semakin cantik masjid kita, semakin tergambar betapa jemaatnya masih terpaku pada hal-hal yang inderawi. Ya, memang mata lah sumber hasrat kita.[]

Punahnya Persepsi Timur dalam Arsitektur

Tidak ada artikel lagi