Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Kritik atas rasisme di Amerika Serikat

Manusia sangat mudah mencurigai terhadap sesamanya. Cap buruk yang terlanjur melekat pada pribadi atau sekelompok masyarakat akan terus mereka bawa seumur hidupnya. Walaupun banyak hal positif yang telah mereka lakukan, namun purbasangka buruk dari orang lain akan tetap membuat mereka dianggap sebagai pribadi atau kelompok yang buruk dan laik disingkirkan. To Kill a Mockingbird karya Harper Lee dengan tajam mengkritik hal ihwal ini.

Ia mendedahkan bagaimana prasangka umum yang buruk terhadap pribadi ataupun kelompok masyarakat tertentu, tidaklah seutuhnya benar. Bahkan, dari yang dianggap buruklah, justru nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang sejati tumbuh.

Novel ini menceritakan penggalan kehidupan masa kanak-kanak dua kakak beradik tak beribu, Jem dan Scout. Lanskap kisahnya berkisar di Maycomb County, Alabama, pada 1930-an. Maycomb County adalah sebuah kota kecil tempat hampir semua penduduknya saling mengenal. Di kota inilah, Jem dan Scout tinggal besama ayah mereka, Atticus Finch, seorang pengacara di Maycomb County, dan seorang pembantu kulit hitam mereka, Calpurnia.

Scout, seorang anak perempuan tomboi berumur 8 tahun, adalah penutur dalam kisah ini; seluruh cerita dilihat dan diutarakan menurut sudut pandangnya. Bab-bab awal novel ini mengisahkan bagaimana Jem, Scout, dan sahabat mereka, Dill, mencoba mengusik Boo Radley, tetangga aneh mereka yang hampir tidak pernah keluar rumah.

Seluruh penduduk Maycomb menganggap Boo Radley adalah sosok misterius; pelbagai desas-desus buruk dan mengerikan beredar menyelimuti Boo sehingga rumah dan pekarangan Boo menjadi bagian yang paling mengerikan bagi anak-anak. Setiap kali mereka melewati pekarangan keluarga Radley, mereka harus berlari atau jalan memutar karena takut bertemu dengan Boo.

Namun bagi Dill, kemisteriusan Boo justru menjadi permainan yang mengasyikan. Dia, bersama-sama dengan Jem dan Scout, menciptakan semacam permainan untuk mengolok-olok keluarga Radley, mulai dari menciptakan drama yang mereka karang sendiri, hingga tantangan untuk mengusik Boo dengan menyentuh pintu rumah Radley, yang konon siapa pun yang berani menyentuhnya akan celaka.

Baca juga:  Ruang, Tempat, dan Sebuah Identitas

Keceriaan Jem dan Scout terusik ketika ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam, Tom Robbinson, yang dituduh memerkosa gadis kulit putih bernama Mayella Ewell. Bagi masyarakat Maycomb, warga kulit hitam adalah warga kelas dua yang dianggap sampah masyarakat dan selalu mendapat prasangka buruk sebagai kaum kulit berwarna yang selalu membuat masalah.

Kecaman datang kepada keluarga Finch dari seluruh penjuru kota. Scout dan Jem pun tak luput dari ejekan teman-temannya yang mengatakan ayah mereka adalah pecinta ‘nigger’. Tak hanya dari lingkungan sekitarnya, Atticus pun mendapat tantangan dari kakaknya sendiri, Alexandra, yang saat itu tinggal bersama mereka.

Walau mendapat banyak kecaman dan tantangan, Atticus tetap melaju. Sebagai pengacara Tom Robinson, dengan bijak Atticus menasihati Jem dan Scout bahwa mereka tak perlu merasa malu karena dirinya membela seorang pemuda kulit hitam, malahan dia menyarankan agar Jem dan Scout tetap berjalan dengan ‘menegakkan kepala” mereka dan tidak membalas dengan kekerasan jika mereka menerima cemoohan lagi.

Pengadilan kasus ini mendapat perhatian yang besar dari peduduk kota Maycomb, tidak ketinggalan Jem dan Scout ikut menghadirinya. Atticus dengan piawai menguak pelbagai fakta, yang sebenarnya tak dapat disangkal, bahwa kliennya tidak bersalah, namun seorang negro tetaplah sampah bagi masyarakat Maycomb; prasangka buruk terhadap kaum negro tak dapat dipatahkan oleh sejumlah fakta. Dari sinilah si kecil Scout yang menyaksikan secara langsung proses pengadilan itu melihat bahwa kehidupan tak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia sehingga keadilan tidak bisa ditegakkan dengan sempurna.

Baca juga:  Ingus Berlendir, Montaigne, dan Arogansi Intelektual

Karakter-karakter menawan diciptakan Harper Lee dalam novel ini. Tokoh Scout yang tomboi dan polos menjadi menarik karena dari sudut pandangnyalah seluruh kisah dalam novel ini dibangun. Kepolosan dan keberanian Scout bahkan mampu menyelamatkan nyawa ayahnya dari sekawanan penyerang yang ingin menggagalkan usaha Atticus menjadi pembela Tom Robinson.

Jem Finch dilukiskan sebagai figur seorang kakak yang beranjak dewasa dan berusaha menjadi seperti ayahnya. Sementara figur Atticus Finch digambarkan sebagai seorang ayah yang tegas, bijak, dan berpegang teguh pada kebenaran. Ketika Jem memiliki peluang untuk menjadi tersangka karena kasus terbunuhnya Bob Ewell, Atticus tanpa ragu menyatakan bahwa anaknya memiliki kemungkinan bersalah. Namun, dibalik keteguhan dan kekerasan pandangannya itu, Atticus adalah figur ayah yang sangat menyayangi dan melindungi anak-anaknya dan tak ragu untuk memberi belaian kasih sayang ketika mereka memerlukannya.

Tokoh-tokoh lain yang tak kurang signifikan dalam prosa ini adalah Tom Robinson, seorang pemuda negro yang harus menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan; Boo Radley, tokoh misterius yang akan memberikan pelajaran kepada pembacanya mengenai buruknya sebuah prasangka, dan masih banyak lagi tokoh lain dan kisah menarik yang dialami Scout dan Jem dalam buku ini.

Awalnya, anda mungkin akan dibingungkan dengan banyaknya tokoh dan kisah yang tersaji di dalamnya, namun pembaca yang cermat akan segera memahami bahwa kehadiran para tokoh dan ragamnya kisah yang dialami Scout dan Jem, bukanlah hal yang sia-sia dimunculkan.

Tampaknya Harper Lee sengaja menghidupkan banyak tokoh dalam novel ini untuk menggiring pembacanya menyelami pelbagai karakter manusia dan mengajak pembaca memahami bagaimana Scout dan Jem menyerap nilai-nilai kehidupan dari lingkungan sekitarnya dalam proses pendewasaan mereka.

To Kill a Mockingbird mencerataikan tentang prasangka dan kasih sayang antarmanusia. Meskipun tema yang diusung sesungguhnya berat, namun karena dituturkan dengan ringan dan diceritakan dari sudut pandang seorang anak kecil, membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi.

Baca juga:  Raja atas Diri Sendiri

Novel perdana karangan wanita kelahiran Monroeville, Alabama, Amerika Serikat ini, pertama kali ditulis pada 1960 dan langsung menjadi best seller. Pada 1961, buku ini memperoleh penghargaan Pulitzer Prize. Hingga kini, To Kill a Mockingbird terus memperoleh apresiasi yang baik dari masyarakat dunia, salah satunya lembaga Library Journal di Amerika, yang dalam poolingnya pada 1999 memilih novel ini sebagai “Novel terbaik Abad ini”.

Predikat ini rasanya tak berlebihan, novel ini sarat dengan pesan moral namun tersaji dengan menarik, sehingga pembaca tidak merasa seperti digurui. Selain itu, tema yang diangkat masih relevan hingga kini, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang kini kerap berprasangka buruk terhadap kelompok-kelompok tertentu yang tak sepaham dengannya dan tak jarang diekspresikan dalam tindakan main hakim sendiri yang semena-mena dan brutal.

Oh ya, pembaca budiman, kapan-kapan aku akan berbagi cerita perihal novel kedua karya Harper Lee, Go Set a Wacthman (terbit 2015). Prosa ini semula merupakan naskah pertama yang diajukan sang penulis kepada penerbitnya, sebelum To Kill a Mockingbird. Pasca enam puluh tahun dianggap hilang, naskah ini ditemukan pada akhir 2014.

Terbitnya Go Set a Watchman sontak disambut animo luar biasa. Buku ini terjual lebih dari 1,1 juta kopi di minggu pertama, memuncaki daftar bestseller di Amerika Serikat, selama 5 minggu berturut-turut dalam 1,5 bulan, dan mengalahkan penjualan Harry Potter serta 50 Shades of Grey. Tapi, benarkah kisah dalam buku ini sedahsyat narasi To Kill a Mockingbird? Nantikan saja ulasannya dalam esaiku mengenai novel itu. Tabik.[]

blmcover - Purbasangka

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi