Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Sastrawan Gustave Flaubert

“Penis Lelaki Memang Merupakan Masalah Dunia, …

Alkisah, pada 1849, sastrawan Gustave Flaubert, pengarang Madame Bovary dan karya-karya klasik lainnya, bepergian sepanjang wilayah Mesir, dari Alexandria ke selatan menuju Wadi Halfa di Sudan.

Dari semua tempat yang dilihat penulis berusia duapuluh sembilan tahun ini dalam pelayarannya ke Timur, Mesirlah yang membakar imajinasinya, sebagaimana kelak selama sisa hidupnya. Seperti yang didedahkan dalam surat-suratnya kepada ibunya dan kepada Bouillet, pikirannya sekarang tertuju pada masa depan dan pada buku-buku yang dia ingin tulis. (“Di antara buku-buku yang dibayangkannya adalah novel berjudul Harel Bey, di dalamnya seorang Barat yang beradab dan Timur yang biadab, pelan-pelan menyerupai satu sama lain, dan akhirnya bertukar tempat.”)

Dari apa yang dia tulis untuk ibunya, tergambarkan jelas bahwa semua unsur yang kelak akan membentuk mitos Flaubert–penolakannya untuk menganggap serius apa pun selain seni, kebenciannya pada kehidupan borjuis, perkawinan, mencari nafkah dengan berdagang–sudah ada.

Selain reruntuhan kuno kota Luxor, Flaubert tidak begitu terkesan dengan monumen-monumen di sana. (“Kuil-kuil Mesir sangat membosankan bagiku,” dia mencatat dalam buku hariannya pada Maret 1850.) Dia juga tak begitu tertarik dengan misi resminya: mengumpulkan informasi untuk Departemen Pertanian dan Perdagangan Prancis. Bagi seorang pria yang berkecenderungan romantis dan berselera luas seperti Flaubert, pencarian fakta perdagangan merupakan pekerjaan yang tidak memuaskan. Yang benar-benar memikat penulis itu adalah orang-orang yang berada dalam kehidupan mereka yang paling intim dan mantiki.

Beruntung bagi Flaubert, Mesir memberinya “aneka warna yang mencukupi” untuk urusan ini. Namun, bagian lain dari catatannya yang terperinci itulah yang paling penting dalam penjelajahan tersebut. Baru turun dari kapal, Flaubert menghabiskan satu malam di rumah bordil bersama para pelacur Turki nan “kemaluan mereka yang dicukur menimbulkan efek yang ganjil–dagingnya sekeras perunggu, dan gadisku berpantat montok,” demikian yang dia tuliskan ke negara asalnya.
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Pak M Berpuasa di Penjara
Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box] Meski harus bergulat dengan penyakit raja singa (sifilis) yang mengakibatkan rambutnya rontok begitu mendadak, bahkan kini dia mengeluh karena mengidap tujuh benjolan pada penisnya, Flaubert tetap melanjutkan petualangannya bercinta ke hulu Sungai Nil.

Dia menulis panjang lebar ihwal para pelacur di desa Esna di Selatan, dan terutama tentang waktu yang dia habiskan bersama Kuchuk Hanem, “makhluk jangkung dan cantik, warna kulitnya lebih terang dibanding kulit wanita Arab… kulitnya, terutama kulit tubuhnya, sedikit berwarna kopi. Ketika dia membungkuk, dagingnya beriak-riak laksana perbukitan perunggu. Matanya gelap dan besar… bahunya padat, payudaranya bulat penuh laiknya apel.”

Kunjungan Flaubert ke istana kenikmatan Hanem menampilkan musik dan tarian striptis (versi telanjang bulat dari tari tradisional Mesir yang disebut tari lebah) selain urusan bisnis yang ditanganinya: “Aku bercinta dengan Safia Zoughairah [salah satu rekan Hanem]. Ia begitu nakal, bergeliat-geliat, menggelinjang, penuh kenikmatan, seekor macan betina kecil. Aku menodai dipan. [Dan kemudian] ronde kedua bersama Kuchuk. Aku menggigit kalungnya di sela-sela gigiku, saat aku mencengkeram bahunya. Kemaluannya mencengkeramku seperti gulungan beludru. Aku merasa beringas.”

Ketika Flaubert tidak sedang melakukan seks, dia melihat hubungan seks hampir di semua tempat. Kehidupan jalanan Kairo yang mesum memikat imajinasinya: lakon-lakon pendek perihal pelacur dan keledai kawin; anak-anak bermain, para gadis “membuat suara kentut tiruan dengan tangan mereka”; seorang anak menjadi germo bagi ibunya (“Jika kau bersedia memberiku lima para, aku akan membawakanmu ibuku untuk diajak bercinta. Aku doakan kau dikaruniai segala macam kemakmuran, terutama kemaluan yang panjang”).

Baca juga:  Identitas-identitas Budaya dan Feminisme

Selain berkeliling masjid-masjid dan piramida yang sudah umum, Flaubert melakukan tamasya yang tidak biasa. Di Rumah Sakit Kasr al-Ainy, dia berkeliling di bangsal sifilis; sesuai aba-aba dari dokter, pasien laki-laki “berdiri di atas tempat tidur mereka, mencopot sabuk celana mereka (ini seperti latihan militer), dan membuka anus mereka dengan jemari untuk menunjukkan bisul mereka.”

Bukan berarti hal ihwal ini menghalangi Flaubert dari petualangan seks sesama jenis. Karena dia menyurati seorang teman: “Di sini hal demikian cukup lumrah. Orang mengakui sodomi yang dilakukannya, dan hal itu dibicarakan pada perjamuan di hotel. Kadang-kadang kau melakukan sedikit penyangkalan, dan kemudian semua orang menggodamu dan akhirnya kau pun mengaku. Karena kami melakukan perjalanan demi tujuan pendidikan, dan dibebani suatu misi oleh pemerintah, kami menganggap sudah kewajiban kami untuk melibatkan diri dalam bentuk ejakulasi semacam ini. Sejauh ini kesempatan itu belum menampakkan diri. Tetapi, kami terus mencarinya.”

Penelitian Flaubert termasuk terlibat dalam pertunjukkan pelacur-penari pria Kairo (“menawan dalam kebejatan mereka, dalam lirikan-lirikan binal mereka, dan kefeminiman gerakan-gerakan mereka, berpakaian seperti wanita, mata mereka dipulas dengan antimon”) dan waktu yang menyenangkan di hammam, di mana tukang pijat “mengangkat boules d’amour milikku untuk membersihkannya, kemudian sambil menggosok dadaku dengan tangan kirinya dia mulai menarik-narik kemaluanku dengan tangan kanannya, dan seraya menariknya ke atas dan ke bawah dengan cergas, dia bersandar di bahuku dan berkata ‘tip, tip’” sebuah kesempatan yang ditolak Flaubert karena pria tukang pijit itu sudah tidak cukup muda atau tak cukup tampan untuk seleranya. Flaubert dan orang-orang sezamannya menemukan banyak hal untuk mereka kagumi dalam kemudahan seksual yang nyata di Timur.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Pelarangan dengan atau Tanpa Seleksi
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Kini, Flaubert dan dan komentator abad ke-19 ihwal budaya seksual Arab lainnya berada di urutan teratas dalam daftar penjahat Orientalis. Orientalisme, yang dulu merupakan istilah netral yang digunakan untuk melukiskan studi tentang kawasan Arab dan berbagai bagian yang lebih jauh ke timur, menjadi sejenis hinaan pasca Edward Said menerbitkan bukunya dengan judul yang sama pada akhir 1970-an.

Di dalamnya, Said mengkritik bergenerasi-generasi sarjana Barat karena telah memroyeksikan kawasan Arab melalui prisma prasangka rasial, agama, dan kepentingan politik mereka sendiri, membuat Orientalisme menjadi “sebuah gaya Barat untuk mendominasi, merestrukturisasi, dan memperoleh otoritas atas Timur.”

Hasilnya, menurut Said, adalah transformasi Timur menjadi suatu “tablo keanehan yang hidup”, termasuk pelbagai kebiasaan seksualnya, dan dengan demikian menegaskan superioritas Barat dan membenarkan hegemoni Barat atas kawasan itu, beserta masyarakatnya. Said sangat kritis terhadap para komentator Barat dan laporan-laporan mereka yang dierotiskan mengenai kehidupan Arab, mengirimkan koloni demi mendapatkan sensasi yang tak bisa mereka dapatkan dalam iklim yang kaku di tanah air mereka.

Memang seks telah lama menjadi jurang pemisah antara dunia Arab dan Barat. Hari ini, yang pertama tampaknya sibuk menyangkal tubuh, sedangkan yang kedua tampaknya senang membiarkan semuanya nampak. Namun, yang sering kali terlewatkan dalam sikap saling tuduh ini adalah bahwa posisi demikian selalu berubah; pada masa lain dalam sejarah, Timur dan Barat bertukar tempat.

Catatan: Pembuka esai ini aku cuplik dari cerita pendek “Di Larang Kencing di Sini” karya Eka Kurniawan. Silahkan baca sendiri bukumcer-nya: Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (Yogyakarta: Bentang, April 2015).

gf - Raja Singa

Gustave Flaubert

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi