Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip tulisan Ramadhan K.H. dalam Seribu Tahun Nusantara

Asrul Sani, Misbach Yusa Biran dan kemudian D. Djajakusuma yang menyarankan supaya saya menemui tokoh panggung dari “Dardanella”-Devi Dja (baca: Dewi Dja)-jika saya berada di Los Angeles. Tiga nama di atas merupakan tokoh tokoh kita di bidang film dan teater. Kedua dunia ini-teater dan film-ibarat adik dan kakak, rapat sekali hubungannya di dalam sejarah kesenian panggung kita.

Salah seorang di antara ketiga kawan itu rnenyebut Devi Dja sebagai tokoh legendaris di dunia teater Indonesia modern. Tahun 1980 saya tiba di Los Angeles dan rnenetap di sebuah rurnah di kaki bukit Hollywood. Segera saya penuhi saran kawan-kawan dari dunia teater/film di atas. Selanjutnya, setiap hari Senin dan Karnis, Devi Dja datang dari daerah Van Nuys-kalau tak salah-ke rumah karni di Jalan Gainsborough 4648, daerah Los Feliz. Perjalanan yang cukup jauh diternpuhnya dengan rnengemudikan mobilnya sendiri, Chevrolet panjang warna keputih-putihan.

Saya terikat janji dengannya untuk menyusun riwayat hidupnya. Berat. Tetapi alhamdulillah, rampung juga pekerjaan itu dan terbit bukunya yang saya beri judul Gelombang Hidupku: Devi Dja dari Dardanella, p?tda tahun 1982. Beruntung naskah saya itu jatuh pada kawan say a Boejoeng Saleh alias Prof. S.I. Poeradisastra yang sudah keluar dari tahanan di Pulau Buru, yang rnembantu saya dengan pelbagai macarn dan cara, sehingga naskah saya itu mendapat sisipan di sana-sini daripadanya. Maklumlah, Boejoeng Saleh (alrn.) tahu banyak tentang sejarah Indonesia, khususnya sejarah perjuangan Indonesia. Di antara karni waktu itu ia terkenal sebagai ensiklopedia karni sesama ternan.

Saya tidak berani mengkatagorikan naskah “Devi Dja” itu sebagai otobiografinya yang bersih, karena banyak sisipan yang muncul dari khayal atau perkiraan saya, disebabkan Devi Dja tidak bisa menceritakan riwayat hidupnya secara akurat waktu itu. Oleh sebab itu, saya masukkan saja buku Devi Dja ini dalam kelompok roman biografik. Latar belakang pengetahuan umum Devi Dja kurang, disebabkan boleh dibilang ia tidak pemah mengalami pendidikan formal, juga tidak tamat dari sekolah rendah sekali pun. Namun, zaman waktu itu dan pengalaman hidup menempanya, sehingga perjuangan hidupnya dan sikapnya Mengenai Tanah Air yang waktu itu sedang berada di ambang kelahiran dan masuk ke permulaan zaman kemerdekaan, membawa dia kemudian duduk satu deretan dengan St. Sjahrir dan Haji Agus Salim, menghadapi masyarakat terpelajar Amerika di New York. !tu terjadi pada hari ulang tahun Republik Indonesia yang pertama (1946), sewaktu Perdana Menteri St. Sjahrir memperjuangkan RI kita di forum Dewan Keamanan PBB.

Devi Dja tidak ingat apa yang telah dikemukakan oleh Haji Agus Salim dan St. Sjahrir di forum di Hotel Commodore di New York itu. Namun, untuk menghidupkan adegan itu, kami (saya dan Boejoeng Saleh) mendapatkan kata-kata yang otentik dari bukubuku lain yang saya sisipkan. Haji Agus Salim waktu itu sempat berkata, “Belanda telah menyiapkan 70.000 kekuatan untuk menyerang Jawa dan Sumatra. Tapi kita (RI) akan menghadapi perang itu di darat, laut, dan udara …. Kita mempunyai 250.000 kekuatan bersenjata ringan. Dan kita (Indonesia) mempunyai rimba untuk perang gerilya. Inggris bertanggung jawab mengenai perkembangan situasi di Indonesia seperti sekarang (1946) ini yang telah membawa kepada pecahnya perang antara Indonesia dan Belanda.” … “Sekali lagi,” kata Haji Agus Salim, “ayo, jangan berputus asa, jangan berkecil hati! kemerdekaan kita akan abadi! Itu saja pesan saya.”

Baca juga:  Bangun dari Tidur Panjang

Dengan semangat, Bung Sjahrir waktu itu bicara antara lain, “Kita bicara di depan Dewan Keamanan PBB untuk mendapatkan pengakuan kepada Republik Indonesia yang sah sebagai warga yang merdeka dan berdaulat. Dan itu pasti berhasil.”

Bahwa Bung Sjahrir yang mempersilakan (dan mengajak) Devi Dja dan rekannya sesama penari dari rombongan yang sama “Dardanella” -Wani-untuk duduk berderet membelakangi dinding, menghadap kepada para undangan, bisa dimengerti, karena Bung Sjahrir amat mengerti perjuangan para seniman waktu itu, seperti halnya ia mengadakan’ pameran seni lukis di gedung Fakultas Kedokteran di Salemba Raya waktu permulaan kemerdekaan.

Devi Dja sangat senang bertemu dan berkenalan di Hotel Commodore •itu di samping dengan St. Sjahrir dan Haji Agus Salim, juga dengan (Prof.) Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Sudjatmoko, Charles Tambu, Nico Palar, : Soedarpo Sastrosatomo, Didi Djajadiningrat, dan lain-lain.

Devi Dja sendiri ingat dan berkata, “Aku pun senang sekali sewaktu mereka mengatakan, bahwa mereka pun mengenal namaku, Miss Dja, Devi Dja. Itu satu-satunya hartaku yang ada: nama.”

Haji Agus Salim pun mengenal nama Devi Dja dan Dardanella. Malahan belliau pernah menulis resensi mengenai pertunjukan rombongan stambul itu di surat kabar Pemandangan. Seingat Devi Dja, Andjar Asmara yang memperlihatkan tulisan Haji Agus Salim itu kepadanya. Maklum, Andjar Asmara itu terlibat pula dalam kegiatan Dardanella itu, sekian waktu sebelumnya.

Devi Dja (lahir 1914), yang semasih kecil bernama Misria dan kemudian, Sutidjah, suka menguntit kakeknya, Pak Satiran, dan memegang ujung kebaya neneknya Bu Sriatun, berkeliling, ngamen, memetik siter. Pendeknya, ia berada di dan menghirup kehidupan masyarakat miskin di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Muncul waktu itu, setelah Sutidjah jadi gadis dan bisa naik panggung, Willy (Vassily?) Klimanov alias Pedro, anak pemain sirkus Rusia yang keliling duni􀅈 waktu itu. Setelah Pedro ditinggalkan ayahnya, ia bersama ibunya muncul di Karesidenan Besuki. Pendek cerita, setelah Pedro melihat gadis Sutidjah, ia tertarik bukan saja untuk mengajaknya main di rombongannya yang kemudian bemarna Dardanella, melainkan menjadikannya istri.

Pertama
Pengalaman para pemain di Dardanella luar biasa menariknya, ramai. Bukan cuma padat dengan pengalaman hilir mudik tampil di atas panggung di pelbagai kota di Indonesia bagian Barat dan bagian Timur, melainkan sungguh tercengang kita dibuatnya oleh langkah hidup mereka di tengah dan di 􀂤alam dunia anak panggung itu sendiri, waktu itu. Bukan saja kocak dan penuh romantika, melainkan padat dengan pengalaman cemburu dan cucuran air mata.

Baca juga:  Esser dan Injil di Sumberpakem

Dardanella adalah rombongan teater Indonesia yang pertama yang menyeberang ke luar negeri. Waktu rombongan itu berlayar ke Singapura-sebelum Perang Kemerdekaan-Dardanella beranggotakan 150 orang. Rombongan yang terhitung besar sekali, juga untuk hitungan sekarang.

Beberapa kali rombongan itu berganti nama. Namun, yang terkenal dan jadi buah bibir masyarakat kita waktu itu adalah Dardanella.

Bagaimana bisanya Dardanella itu begitu sukses-menurut Devi Dja-cuma Pedro yang tahu, orang pendiam, tetapi fasih mengurus manajemen teater.

Dardanella pernah mendarat di Cina dan main di beberapa kota di sana. Kemudian berlayar ke sebelah barat, ke India. Di Rangoon rombongan penari itu disaksikan oleh Jawaharlal Nehru-waktu itu Mei 1937-dan tersimpan tulisan pendek tokoh India yang kemudian jadi pemimpin tetkenal negeri itu, di tangan Devi Dja.

Melanjutkan perlawatannya ke sebelah barat, dengan jumlah anggota yang mengecil, rontok di tengah jalan, Dardanella main di Turki, di Paris, lalu ke Maroko-kata Devi Dja-terakhir Eropa main di Jerman. Itu menjelang Perang Dunia II. Di tengah kegelisahan masyarakat Eropa khususnya, Pedro mengambil keputusan, menyeberang ke Amerika. Rombongan kecil Dardanella naik kapal “Rotterdam” yang meninggalkan Eropa. Mungkin itu adalah kapal laut terakhir dari Belanda yang menuju Benua Amerika.

Rombongan Dardanella yang tinggal beberapa orang saja mendarat di New York. Waktu itu dalam rombongan itu sudah tidak ada lagi pemain-pemain yang kesohor, seperti Tan Tjeng Bok, Henry L. Duarte, Riboet II, Astaman, Subadi (pemain musik). Yang masih disebut adalah Ferry Kocrk. Apakah Eddy Kock juga masih ada, tak disebutnya.

Di Amerika, dengan mulai sebutan rombongan itu “Devi Dja’ s Bali and Java Cultural Dancers”, Pedro masih bertahan, membuat kontrak dengan pelbagai pihak, dan rombongan kecil itu manggung di beberapa tempat, antara lain di restoran-restoran.

Nasib buruk menimpa Devi Dja. Bukan saja Pedro main serong dengan salah seorang anggota irombongan itu, dengan kepergok oleh Devi Dja sendiri, melainkan malahan perceraian pun terjadi antara Devi · Dja dan Pedro (Willy Klimanov). Devi Dja bertahan, walaupun waktu itu ia baru bisa· menulis, bebas dari bu ta huruf.

Nasib menentukan, Devi Dja ditaksir oleh seorang Indian, Acee Blue Eagle. Pernikahannya pun terjadi di tengah masyarakat Indian di mana setelah itu Devi Dja cukup mengenal masyarakat itu. Kemudian berpisah lagi pasangan yang jarang-kalau bukan satu-satunya yang dialami orang Indonesia-terdapat di masyarakat kita. Acee tidak suka Devi Dja bergaul dengan sesama
masyarakat Indonesia di Amerika, sedangkan itu dunia Devi Dja. Apalagi setelah terbetik kabar, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.

Devi Dja mendarat di Los Angeles, dan kesempatan ini membuka kemungkinan baginya untuk berkenalan dengan sejumlah bintang film terkenal di Amerika waktu itu. Devi Dja menari di depan Claudette C0lbert yang takjub oleh gerak tangan dan kerling mata Devi Dja. Hampir Devi Dja terpilih untuk mengambil peran dalam salah satu film produksi Hollywood. Kesempatan itu tidak teraihnya karena ia masih amat kurang fasih dalam bahasa Inggris. Ia amat menyesal. Oleh sebab itu, waktu anaknya-Ratna-tidak melanjutkan perannya di dunia film Hollywood, setelah sempat main dengan bintang ternama Steve MacQueen dalam film Papillon, ia menggerutu panjang dan sangat menyalahkan Ratna. ”Kesempatan luar biasa yang dibuang begitu saja,” komentar sang ibu.

Baca juga:  Menyegarkan Ulang Teologi Penciptaan bagi Praksis Kerukunan Antarumat Beragama

Pedro meninggal di Amerika. Acee Blue Eagle lepas dari hubungan dengan Devi Dja, diganti tempatnya oleh Ali Hasan.

Waktu Bung Karno, dengan membawa Guntur Soekarnoputera, pergi ke Amerika, Devi Dja sempat menjemputnya. Oleh sebab itu, kemudian Devi Dja mendapat kesempatan pergi ke Tanah Air, Indonesia. Ia diterima oleh Presiden Soekarno di Istana Negara. Bung Karno sempat menganjurkannya supaya meninggalkan kewarganegaraan Amerika. Akan tetapi, halangan besar adalah nafkah hidupnya. “Di hati saya, Tanah Air saya tetap Indonesia,” katanya. Dan itu dibuktikannya. Ia berjuang terns memperkenalkan budaya Indonesia. Kalau tidak dengan taritarian, ia memperkenalkan tanah airnya dengan makanan.

Adegan terakhir yang ada di dalam buku saya adalah, bahwa ia sempat memimpin float Indonesia (float “Indonesian Holiday”, dengan sponsor Union Oil) dalam “Rose Parade” di Pasadena, 1970. Devi Dja orang pertama Indonesia yang memimpin rombongan Indonesia dan turut serta dalam “Rose Parade” di Pasadena, dan bukan orang lain.

Waktu tanda penghargaan sampai padanya, ia panggil anaknya, Ratna, “Ini Ratna, bacalah! Penghargaan bagi kalian, bagi kita.” “Ya Mamah. Kali lain kita harus mempertunjukkan sesuatu yang lebih bagus lagi.” Air mataku menetes lagi, kata Devi Dja. Entah mengapa. Barangkali karena cintaku sedemikian besar kepada sesuatu yang jauh daripadaku. Aku tidak bisa melepaskannya. Tidak bisa! Seluruh hatiku tercurah baginya. Indonesiaku, engkau jauh di mata, tetapi senantiasa dekat di hatiku, bahkan menggelepar hidup di dalam jantungku.

Tentang keikutsertaan Indonesia dalam “Rose Parade” (1970) di Pasadena itu, bisa kita periksa kebenarannya, sebab saksi masihada, antara lain Union Oil, dan seseorang yang bernama Bandem (orang Bali) dan kemungkinan besar ia Prof. Bandem yang sekarang memberi kuliah di Denpasar.

Tidak berhenti sampai di sana bantuan perjuangan Devi Dja kepada Indonesia. Waktu terjadi kehebohan “Perbudakan di Los Angeles”, begitu sebutannya di koran di Los Angeles waktu itu, Devi Dja tampil lagi membela pemuda-pemudi Indonesia yang dirantai dihadapkan ke pengadilan di Los Angeles. Menyedihkan sekali kejad􀀩an itu. Namun, at􀀨s pertolongan Devi Dja, Pruistin Tines Ramadhan (alm.) dari Kqnsulat RI-LA dan Dirjen Protokol Konsuler di Deplu Pejambon i waktu itu, Joop Ave, persoalan “budak-budak” dari Indonesia itu terselesaikan, tidak masuk bui.

Devi Dja (alm.) adalah tipe pejuang yang lahir dari lapisan bawah dengan penuh kecintaannya pada tanah airnya, Indonesia, di abad ke-20.[]

COVER DD - Devi Dja dari Dardanella

Devi Dja “The Pavlova of the Orient” From “Devi Dja’s Bali & Javanese Cultural Dancers” Souvenir Book, Nicolas Editions Artistiques, Paris, 1940’s

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi