Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Raung berulang tahun pada tanggal 1 Februari, duapuluh tahun silam. Dulu, ketika Raung masih berusia 5 tahun, ayah ibunya sering melihatnya dengan tatapan nanar, seraya mengatakan, “kami bercinta pada tanggal 1 Mei dan jadilah kamu”. Saat itu, Raung belum mengerti, dia hanya bocah yang dilahirkan dari rahim seorang buruh.

“Ibu, makan siang apa kita hari ini?” tanya Raung setelah ia mencopot seragam SMP-nya, mengenakan kaus bergambar pohon beringin sambil membawa piring ke dapur. Yang dimaksud dapur hanyalah lantai tanah dan juga lubang kakus. Di pojokan terdapat kompor karatan, piring-piring hanya ditumpuk di bilahan-bilahan bambu. Tidak ada meja makan, untuk apa? Tidak pernah ada makanan sisa yang bisa ditaruh di meja makan manapun.

Tetapi tidak ada ibunya di sudut dapur, tidak ada siapa-siapa di rumahnya hari itu. Hari itu dan hari-hari selanjutnya, ibu dan ayahnya selalu tidak ada di pagi hari, siang hari maupun sore hari. Mereka selalu pulang malam, dengan muka lelah dan bau bahan kimia. Terkadang mereka akan langsung tidur, terkadang mereka akan makan bersama Raung dengan lauk-pauk yang dibeli dari warung. Tidak ada obrolan hangat, ayah Raung akan langsung menonton televisi sampai tertidur, ibu Raung akan langsung mencuci pakaian dan juga piring-piring kotor.

Keluarga Raung adalah keluarga sunyi. Suatu hari, Raung pergi ke warung internet, di sana Raung mencari kiat-kiat menjadi keluarga yang bahagia. Tapi tidak ada apa-apa di sana kecuali omong kosong. Katanya keluarga yang sehat harus sering berkomunikasi, tulisnya keluarga yang bahagia sesekali harus keluar untuk refreshing bersama. Maka Raung memutuskan untuk keluar dari warung internet itu, membayar, sedikit berlari menuju rumah sambil berpikir, ternyata keluargaku tidak bahagia.

Nano datang hari itu, mengajak Raung bermain bola di tanah lapang samping sekolah. Nano adalah anak Pak RT, ibunya sudah lama meninggal di guna-guna katanya, kakak perempuannya adalah pedagang kaki lima.

“Nano, apakah keluargamu bahagia?” tanya Raung sambil memainkan bola.

“Tidak tahu. Aku punya uang Ra, bajuku bagus dan ayahku baik. Kakak perempuanku miskin, karena dia menikahi pria miskin. Makanku tercukupi, empat sehat lima sempurna. Menurutmu bahagiakah aku Ra?”

“Tidak tahu No. Tapi keluargaku jelas tidak bahagia.”

Baca juga:  Prof. Dr. Wertheim tentang Kesusasteraan Indonesia Modern

“Ra, ini Jakarta, alas hutan dengan beton-beton yang terus tumbuh. Di Jakarta Ra, hewan telah berubah menjadi manusia, mereka memangsa satu dengan sesamanya. Di Jakarta Ra, uang adalah hukum rimba. Siapa yang memiliki paling banyak uang, dialah yang juara. Bagi mereka yang tidak memilikinya, akan digilas oleh semen dan juga izin pembangunan.”

Sore ini ayah ibunya ada di rumah, mereka pulang lebih awal. Bus kopata mengantarkan mereka sampai di mulut gang, ada banyak teman ayah dan ibu di sana. Wajahnya terlihat asing bagi Raung, mereka juga tidak saling bercakap-cakap, kebanyakan memejamkan matanya. Setelah menurukan ayah dan ibunya, bus kopata melaju kencang. Meninggalkan asap hitam berkelindan di udara.

Raung berlari menjemput mereka, menggandeng tangan dan berjalan sembari bernyanyi. Ia tampak gembira karena ayah dan ibunya pulang lebih awal, yang artinya Raung memiliki waktu bercakap-cakap, sebentar, sebelum terbit matahari lagi, sebelum hari menelan ayah dan ibunya ke dalam tembok besar dengan cerobong-cerobong asap yang tinggi.

“Ibu, ceritakan kembali tentang kelahiranku.” Raung merajuk sambil memijit kaki ibunya di ruang depan. Ayahnya tersenyum sedikit dibalik koran lampu merah yang dibacanya.

“Apa kau tidak bosan Ra?” Jawab ibunya sambil memejamkan mata.

“Tidak bu. Sungguh itu cerita yang mengharukan.”

“Bagaimana jika cerita yang lain saja?” tawar ayahnya.

“Tidak yah, aku mau cerita itu.”

“Baiklah kalau begitu.” Ayahnya menurunkan koran yang dibacanya, “Suatu waktu, diantara hari-hari panjang kami bekerja, dari pagi hingga menjelang malam kami berada di perusahaan. Ketika kami berdua bekerja, ketika serasa hampir mati karena hari seperti tiada habisnya, ketika kami harus menahan setiap bentakan, ada satu hari Ra, satu hari istimewa ketika seluruh penat boleh dimuntahkan keluar.”

“Hari itu Ra, adalah 1 Mei. Hari Buruh. Hari di mana kami bergerak melawan ketidakadilan secara besar-besaran.”

“Nak, 1 Mei adalah hari kami berjuang sebagai manusia. Bukan hewan yang dikebiri, bukan robot yang terus-terusan bekerja tanpa ada batas limit. Nak, sedari pagi hingga siang kami berteriak lantang, berdiri di garda depan. Sumpah serapah keluar.”

“Ra” sambung ibunya. “Kami kelelahan setelah emosi meledak keluar. Ayah dan ibumu ini pulang ke rumah dengan euforia yang tidak bisa dibayangkan. Dan di malam hari, kami rayakan kemenangan sesaat itu dengan bercinta semalam suntuk. Mengapa? Karena hanya itu yang bisa kami jangkau, sebuah hiburan singkat murah yang hanya kami ketahui, sebelum esok kembali mati.”

Baca juga:  Hutang dan Asal-Usul Kebencian terhadap “Orang Luar”

“Nak, benih hidupmu tumbuh di hari buruh.” Kata ibunya lembut sambil membelai rambut Raung.

***

“bagaimana persiapan untuk hari Minggu besok?” Tanya Raung kepada Abe dan Nuri.

“diskusi masih tersisa dua kali, hari Rabu dan Kamis. Jumat kita konsolidasi, Sabtu sebar propaganda dan persiapan rontek untuk dibawa.” Jawab Abe sambil menyesap rokok ditangan kanannya.

“anak-anak bagaimana Ra?” tanya Nuri.

“Sedang kuusahakan. Semakin bebal mereka, semakin tidak peduli. Kalau hanya sedikit, kita saja yang jalan.” Raung menyeruput kopi hitamnya.

Raung, Abe, Nuri berkumpul di sebuah kopian murah dipinggir kota. Tempatnya sepi, di situ biasanya mereka-mereka berdiskusi, tentang kampus, hidup, aksi dan juga kekasih.

Tahun ini Raung memasuki semester empat di bangku perkuliahan. Perguruan tingginya adalah perguruan tinggi negeri yang dijubeli manusia-manusai mati. Semester ini, sudah kali kelima dia mendapat peringatan dari dosen pembimbingnya untuk masuk ruang kelas.

“Raung, ini sudah kali keempat kamu membolos semester ini. Satu kali lagi tidak masuk kamu tidak akan lulus matakuliah saya.” Kata Bu Dosen. Pakaiannya parlente, parfumnya nyegrak, ruangan kantor dosen tersebut terasa sesak. Raung duduk di kursi dihadapan Bu Dosen hanya dengan mengenakan kaos oblong, celana lusuh dan sepatu butut.

“Bu, saya akan masuk kuliah untuk perkuliahan yang menambah isi otak saya. Jika perkuliahan hanya menjadikan saya manusia mati, maka saya memilih keluar.”

Bu Dosen bermuka merah, harga dirinya diinjak-injak. Kuliahnya hingga S3 dihina oleh mahasiswa kumuh seperti ini. Akhirnya dengan muka merah Bu Dosen berkata, “maka dengan terpaksa saya tidak luluskan kamu!”

Raung bangkit dari kursi, membungkuk sedalam-dalamnya, membuka pintu dan keluar dari ruangan yang begitu sesak dengan piala-piala kenang-kenangan dan piagam. Dalam hati Raung bertanya, di mana Bu Dosen tadi meletakkan buku-bukunya?

Hari ini tanggal 30 April, dua hari sebelum hari buruh datang. Raung dan kawan-kawan telah melakukan konsolidasi dengan teman-temannya, hanya bersepuluh tetapi mereka kukuh berjuang. Sudah bisa ditebak bahwa aksi kali ini tidak banyak yang akan berpartisipasi, seperti aksi-aksi sebelumnya, dan mungkin selanjutnya.

Baca juga:  Gandum ‘Si Pendatang’ yang Menguasai Meja Makan Kita

Selesai konsolidasi Raung memilih untuk menyingkir, ke sebuah pinggiran kota yang tidak banyak orang akan melihatnya. Ada dua buku ditangannya, Kafka Metamorfosis dan Albert Camus, Mati Bahagia. Dia sudah menamatkan Kafka, dan menolak mati-matian bahwa dirinya adalah kecoak, simbol kepengecutan dan ketakutan. Dia menolak mentah-mentah hidup yang hanya berputar dalam lingkaran, seperti Samsa yang selalui dihantui bayang-bayang kehidupan dan hutang.

Buku kedua milik Albert Camus, Mati Bahagia baru saja dibaca seperempat halaman. Seperti Mersault, Raung setuju bahwa hidupnya telah dirampas oleh rutinitas. Tapi seperti juga Zagreus, di dunia yang semakin menggila ini, uang memiliki dayanya untuk membeli kebahagiaan.

Suatu ketika, Raung pernah berjanji untuk menjadi pegawai negeri dan bergaji. Suatu hari, dia akan dapatkan wanita cantik, membeli rumah besar dan mobil mewah. Apalah daya ternyata dia menolak ditindas, oleh dosennya, oleh kampusnya, oleh kakak tingkatnya, oleh kekasihnya. Menolak segala pembodohan di dalam kelas, di ruang seminar.

Di titik kulminasi ini, Raung ternyata hanyalah calon buruh yang disiapkan untuk dipekerjakan. Maka dia menolak mentah-mentah, melepahkan semua doktrin-doktrin yang ditebar, tentang lulus cepat, tentang kerja, tentang kemapanan. Ia meletakkan diri sebagai bayang-bayang ancaman dari sebuah tatanan hierarki birokrat. Ah, ternyata, pikir Raung, mahasiswa juga buruh.

Hari ini adalah tanggal 30 April, satu hari sebelum hari buruh. Bacaannya adalah Pramoedya, Bumi Manusia. Dia menjelma menjadi Minke, sambil berharap bisa memiliki kekasih seperti Ontosoroh. Setidaknya, esok hari, dia akan melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Hari ini tanggal 1 Mei, dia pasang badan dan berjalan tegak melewati petugas-petugas keamanan. Di tengah titik menjulang, ia kepalkan tangan menghajar kekuasaan, dan negara hanya melihat dengan angkuhnya dari atas.

Katanya, yang miskin menjadi tanggung jawab negara. Katanya Hak Asasi adalah milik semua manusia. Ini adalah negara yang dibangun dari katanya dan katanya. Maka janji selalu memiliki waktu sendiri untuk ditagih.

Dan diantara puluhan buruh dijalanan, dengan kesadaran yang melewati ubun-ubun, Raung tau, dia adalah benih yang tumbuh di hari buruh, hari perlawanan.  Yogyakarta, 1 Mei 2016

coverraungruang - Raung dalam Ruang

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi