Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang liputan konflik Dayak - Madura dan Timor Timur

Usai menonton film Balibo yang bercerita tentang pembunuhan terhadap enam wartawan Australia oleh aparat militer Indonesia, saya mendadak teringat Richard Lloyd Parry. Ia wartawan The Times, London, dan tinggal di Jepang. Tahun 2005, bukunya berjudul In The Times of Madness terbit, dan baru diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Serambi dengan judul Zaman Edan pada tahun 2008.

Saya membaca pertama kali buku itu dalam edisi bahasa Inggris, dipinjami Andreas Harsono, seorang jurnalis dan mengampu jurnalisme naratif di Yayasan Pantau. Buku ini bercerita mengenai petualangannya sepanjang 1997-1999 berkeliling ke daerah-daerah konflik seperti Borneo dan Timor Timur. Parry hadir di Timor Timur saat detik-detik menjelang kemerdekaan negeri itu. Usianya saat itu baru 30 tahun.

Kelar membaca In The Time of Madness, saya mengirimkan surat elektronik kepada Parry dan melakukan wawancara untuk resensi buku itu pada 2009 lalu. Saya ingin tahu perspektif dan pengalamannya sebagai seorang jurnalis asing, meliput sebuah negeri yang berdarah-darah seperti Indonesia.

Parry mengatakan kepada saya, sebagaimana kebanyakan orang Inggris, ia tak banyak tahu soal Indonesia sebelum datang ke negeri ini. “I knew as much as most British people, which is to say not much at all. That’s shameful in a way, but perhaps, in my case, it added to the impact that Indonesia had on me. I had few preconceptions; everything was vivid and remarkable.”

“Sebagai republik yang merdeka, Indonesia berusia lima puluh tahun, tapi kedengaran lebih mirip sebuah kekaisaran tak terkendali daripada sebuah negara modern,” tulis Parry dalam bukunya.

Tak pelak, dalam perjalanan jurnalistiknya, Parry dibayangi berbagai kengerian. Sebuah kengerian tentang sebuah negara dan bangsa yang selama puluhan tahun bertekuk lutut oleh sebuah rezim militer. Dalam bab pengantar buku itu, Parry menceritakan dirinya dihantui mimpi tentang sosok bernama Kolonel Mehmet (dalam bahasa Indonesia adalah Kolonel Mahmud).

“Colonel Mehmet is a figment of my imagination, a nightmarish character whom I encountered in dreams soon after witnessing the raid on the PDI headquarters in Jakarta in 1996. I suppose he’s a symbol of the personal fear and tension which I had been suppressing until then. But looking back, he almost seems a prophetic figure – a representative of the murderous members of the TNI who caused so much misery in Indonesia and East Timor in the years to come,” katanya dalam surat kepada saya.

12345 - Richard Parry dan Catatan tentang Zaman Edan

In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos diterjemahkan ke bahasa Melayu Indonesia pada 2008 oleh Serambi dengan judul Zaman Edan: Indonesia di Ambang Kekacauan. © 2010 Sapariah Saturi

Saya tidak tahu apakah Kolonel Mahmud adalah sosok imajinatif Soeharto, seorang jenderal TNI yang menjadi presiden Indonesia pasca peristiwa 1965. Yang terang, Parry tidak memiliki gambaran simpatik terhadap pria yang berkuasa selama 32 tahun itu. “I arrived with rather a crude image of him as a stereotypically brutal dictator. He was a dictator, of course, and he was a killer – what I learned over time was how subtle and indirect he was,” kata Parry kepada saya.

Saya menyukai deskripsi Parry tentang TNI dalam bab What Young Men Do (Perbuatan Anak-Anak Muda). Dia menyamakan simbol-simbol negara dan militer Indonesia dengan Kekaisaran Romawi: ‘Gerbang-gerbang barak militer itu bertuliskan angka-angka 17.8.45 — Hari Kemerdekaan — dan burung garuda emas lambang negara Republik Indonesia, merunduk serta bergaya seperti elang Roma. Mudah untuk membayangkan tentara-tentara ini sebagai legiun Romawi, yang dikumpulkan dari Jawa, dari Sulawesi, atau dari Bali, dan dipaksakan untuk melewatkan waktu mereka di pos-pos militer imperium ini, terpencil di antara orang-orang ras Pict dan Hun, orang-orang aneh yang tak mengharapkan kebaikan bagi mereka’.

“As a child at school, I studied the Romans who once ruled all of Europe from Rome as Indonesia, in a way, is dominated by Jakarta. I remember visiting some of the cold, lonely parts of Scotland where the Romans had bases and feeling sorry for the soldiers from warm, sophisticated Italy who had to live far from home among these strange, wild, frightening people (the early British – my ancestors). I imagined that TNI soldiers from Bali or Jawa Timur might feel the same way,” kata Parry dalam suratnya kepada saya.

Baca juga:  Tato Dayak Iban

Parry mengawali petualangannya dari sebuah foto pada 1997. Seorang reporter jaringan internasional baru saja kembali dari Kalimantan, dan ia membawa sebuah foto kepala terpenggal. Hari itu, tak ada satu pun media massa Indonesia yang memuat foto seperti itu.

Parry menggambarkan perasaannya dalam buku In The Time of Madness, saat melihat foto itu: “Kepala itu tergeletak di tanah…Lebih terasa absurd daripada kejam.”

Parry memilih terbang ke Kalimantan, meninggalkan keriuhan kampanye pemilu. Di sana, perburuan manusia dalam arti sebenarnya tengah terjadi: orang-orang Dayak memburu kepala orang-orang Madura, tak peduli laki-laki, perempuan, dewasa, atau anak-anak. Parry menuju Pontianak, Kalimantan Barat, tempat pemukiman warga Madura dibumihanguskan.

Di Pontianak, Parry bertemu dengan dua pendeta: Anselmus dan Andreas. “Mereka penonton yang tak berdaya,” kata Parry kepada saya, dalam sebuah wawancara melalui surat elektronik. Mereka memang selalu mengajarkan kedamaian dan larangan Tuhan untuk membunuh. Namun dalam sebuah konflik yang berskala luas, ajaran damai itu tak lagi didengar.

Meledaknya perseteruan Dayak melawan Madura lebih banyak disebabkan oleh kabar-kabar tak jelas. Tanggal 29 Januari 1997, beredar kabar dua pria Madura mendobrak masuk tempat dua gadis Dayak, yang tengah berbaring di tempat tidur di tepi kota Pontianak. Kedua gadis itu dianiaya dan pakaian tidur mereka dikoyak dengan arit. Sejak saat itu, peperangan pun dimulai.

Kendati orang-orang Dayak menyerang warga Madura dan rumah-rumah mereka, mereka tidak membakar masjid dan kantor milik pemerintah. Mengutip keterangan salah satu narasumbernya, Parry menulis, warga Dayak tak ingin pergolakan antaretnis itu berubah menjadi perang antar pemeluk agama Islam dan Kristen. Mayoritas warga Dayak beragama Nasrani. Mereka juga tak mau berhadapan dengan pemerintah, gara-gara merusak fasilitas negara.

Mereka juga tidak menjarah barang. “Mereka bukan orang kaya. Tapi kalau mereka menemukan mobil atau perabotan bagus, mereka membakarnya,” tulis Parry.

Parry juga mengungkapkan adanya ilmu hitam dalam konflik itu. Mengutip Romo Kristoff, seorang pendeta, orang Dayak yang kesurupan roh perang Kamang Tariu akan kebal tubuhnya. Orang Dayak itu juga tak mengenal capek. Namun, “ia harus makan darah.”

Kepada saya, Parry mengatakan, tidak suka menggunakan kata ‘evil’ (jahat) untuk menjelaskan fenomena di Kalimantan itu. “Kekerasan terjadi karena ketidakadilan yang terjadi selama berdasawarsa-dasawarsa oleh pemerintah Indonesia terhadap orang Dayak,” katanya. Ini menyebabkan orang Dayak merasa pilihan mereka satu-satunya adalah kekerasan. Tuduhan adanya provokator di balik terjadinya kekerasan itu hanya digunakan oleh orang yang tidak berani menghadapi alasan kekerasan sebenarnya.

Dari hasil reportasenya di Kalimantan, Parry menulis artikel berjudul What Young Men Do, dimuat di koran Times dan di Majalah Granta. Ia dihujani surat kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia, yang tak percaya telah terjadi pembantaian warga Madura oleh warga Dayak di Kalimantan.

Tahun 1999, Parry kembali mendatangi Kalimantan. Kali ini ia meliput konflik yang melibatkan etnis Madura, Dayak, dan Melayu. “Saya kembali ke Kalimantan Barat, dan nyaris menjadi seorang kanibal pula,” tulis Parry dalam bukunya.

Parry datang tepat pada waktunya, saat konflik memanas. Parry menulis: ‘Situasinya sudah sangat buruk. Semua bersiap melakukan pembantaian. Sepanjang jalan pantai… orang Melayu sedang bergerak…menyisir perkampungan orang Madura. Di pedalaman, pasukan perang Dayak juga berkumpul. Dan terjebak di tengahnya adalah puluhan ribu orang Madura’.

Di sebuah desa Madura, Suka Ramai, Parry merasakan tubuhnya bergidik. Sepetak jalan lengket oleh darah. Seorang bocah memamerkan sepotong lengan yang terluka di bagian siku. Lengan manusia. Seluruh jari di potongan lengan itu telah terlepas. Tulang dan otot mencuat.

Bau rumah terbakar membubung di udara. Di desa itu ada sebuah warung sate, dengan arang yang membara di tempat pembakaran daging sate. Di tengah-tengah tempat pembakaran sate itu, sebatang tulang paha manusia terpanggang.

Baca juga:  Kisah Tiga Kampung di Lembah Code

Seorang pria berikat kepala kuning mendekati Parry. Jari-jemarinya yang berminyak memegang setusuk sate daging berserat setengah matang. “Silakan,” ia menawarkan sate itu kepada Parry.

Budi, warga lokal pemandu Parry, dengan panik mengajak Parry segera pergi. “Enak seperti ayam,” kata pria yang memaksa Parry untuk memakan sate itu.

Si tukang sate Melayu menarik baju Parry. Parry berjuang keras untuk menampik tawaran itu. “Seberapa dekatkah saya dengan seorang Kanibal,” pikiran itu sempat terbetik di benak Parry.

Sopir berhasil menyalakan mesin jip yang ditumpangi Parry. Orang-orang itu masih saja berteriak menawarkan sate daging manusia kepada Parry. Namun jip segera melaju, meninggalkan mereka.

Dalam surat, saya menanyakan perasaannya sebagai jurnalis saat itu, menyaksikan kepala-kepala yang terpenggal. “Saya merasa takjub, grogi (kendati secara pribadi tidak pernah merasa terancam), terpesona — dan merasa malu dengan keterpesonaan itu. Jujur saja, saya merasa istimewa berada di sana,” kata Parry.

Bersimpati kepada korban? “Tentu saja saya merasa bersedih, kendati saya tak pernah bertemu mereka saat hidup atau melihat mereka menderita, sulit untuk menjelaskannya sebagai rasa simpati personal,” kata Parry kepada saya.

Parry mencoba meliput peristiwa itu dan menuliskannya secara adil. Namun ia tidak percaya seorang manusia bisa bersikap objektif, kendati sudah berupaya keras untuk itu. “Tujuan saya adalah mendeskripsikan apa yang terjadi, dan juga mendeskripsikan bagaimana rasanya berada di sana,” katanya.

Namun tidak ada tempat yang lebih sulit bagi Parry selain Timor Leste. “East Timor was the hardest place because it was the most dangerous.” Timor Timur adalah tempat reportase tersusah, karena itu tempat yang paling berbahaya.

Parry menjelaskan dalam suratnya kepada saya dengan gamblang, betapa menegangkan petualangannya di Timor Timur. Dibandingkan dengan saat meliput perang etnis di Borneo dan reformasi 1998 di Jawa, ia merasa jiwanya lebih terancam saat meliput proses referendum Timor Timur tahun 1999.

“Timor Timur dalam keadaan rusuh tak pasti saat saya pertama ke sana… Soeharto telah tumbang lima bulan silam,… atmosfer di Dili telah berubah secara dramatis,” tulis Parry dalam bukunya.

Parry terobsesi bertemu dan mewawancarai para pejuang Falintil, Tentara Nasional Pembebasan Timor Timur. Masuk ke Dili, ia menyebutkan identitas pekerjaan sebagai guru yang tengah berlibur kepada petugas di bandara. Ia menginap di Hotel Turismo, hotel yang juga ditempati wartawan Australia yang terbunuh tahun 1975, Roger East. East adalah wartawan senior Australia yang melacak keberadaan lima jurnalis muda televisi. Dalam Balibo yang disutradarai Robert Connolly, East digambarkan tewas ditembak tentara Indonesia di dermaga.

Bersama Jose, seorang pejuang Falintil, Parry masuk hutan untuk menemui para serdadu Falintil yang diisukan telah terkalahkan oleh pemerintah Indonesia. Mulanya, ia takut. Namun setelah bertemu dengan seorang komandan Falintil di hutan, ia menjadi lebih berani. “Jika kami semua terbunuh, maka Anda pun akan terbunuh,” kata seorang gerilyawan. “Tapi, selama Commandante masih hidup, senhor akan hidup. Silakan bertanya.”

Setelah Presiden Baharuddin Jusuf Habibie menyetujui adanya referendum, suasana di Timor Timur memanas. Anggota milisi pro Indonesia menyerang warga sipil. Para dokter dan guru-guru Indonesia mulai angkat kaki.

Parry tidak ragu-ragu menunjukkan simpatinya kepada kelompok pro kemerdekaan dan antipatinya kepada kelompok pro Indonesia. “Pendukung otonomi (pro Indonesia) tampil memuakkan… Rambut panjang berminyak, lengan atas terbuka, dan dikelilingi tato-tato misterius… Mereka kumal, norak, dan bau, serta mendapatkan banyak uang dari suatu tempat,” tulisnya.

Mereka membenci orang asing berkulit putih. “Pulanglah, Inggris,” teriak salah satu anggota milisi kepada Parry, saat bertemu di jalan.

Di Timor Timur, wartawan asing bisa menjadi sasaran sewaktu-waktu. Dalam sebuah perjalanan menuju markas Unamet, sebuah otoritas di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengawasi referendum, sejumlah wartawan, termasuk Parry, terjebak dalam serangan pasukan milisi. Seorang koresponden The Washington Post kena sabet golok. Mereka dikepung tembakan-tembakan.

Baca juga:  Mengalami Jakarta

Pendukung kemerdekaan menang akhirnya. Hasil referendum menyatakan, 78,5 persen rakyat Timor Timur menentang opsi otonomi khusus dan lebih memilih merdeka. Situasi tegang. Sepanjang sore suara tembakan terdengar di Dili. Evakuasi mulai dilakukan. Sebagian wartawan dan orang sipil asing mulai diungsikan ke Australia.

Redaktur Times di London menyarankan Parry segera meninggalkan Dili. Parry mulai merasa tak pasti. Berkali-kali ia menuliskan dan menghapus namanya dari daftar orang-orang yang ingin dievakuasi. Berlindung di markas Unamet bukan jaminan keselamatan. Milisi bisa menyerang sewaktu-waktu.

Parry akhirnya memilih mengungsi ke Darwin, Australia. “Saya telah menjadi pengecut dan melarikan diri. Saya sudah lari karena takut terbunuh, atau lebih tepatnya, mati ketakutan,” tulisnya dalam buku In The Time.

Ketakutan ini sangat manusiawi. Sebelum meninggal tahun 1975, Roger East sempat memaksa Jose Ramos Horta untuk ke Balibo, mencari lima wartawan muda yang diduga tewas di sana. Namun, East akhirnya memilih ‘balik kucing’ karena ketakutan setelah diguyur pelor oleh helikopter Indonesia. Ia memilih kembali mencari, setelah ada pergolakan batin dalam dirinya.

Parry menghabiskan waktu dua pekan di Darwin. Kisah-kisah kekejaman pasca referendum mulai menyebar: pembunuhan pendeta, ratusan ribu orang mengungsi ke gunung, pembumihangusan rumah-rumah warga. Dan, Parry mengakui, ia tidak cukup berani berada di tengah-tengah itu semua.

Parry kembali ke Timor Timur setelah pasukan asing ditambah untuk menjaga keamanan. Namun Timor Timur tetap berbahaya bagi seorang jurnalis. Sander Thoenes dari koran Christian Science Monitor, Amerika Serikat, menjadi wartawan asing ketujuh yang tewas di negara itu. Pengadilan Timtim menjatuhkan vonis bersalah kepada seorang mayor Indonesia yang didakwa membunuh Thoenes. Namun, vonis itu adalah vonis kosong, dan sang mayor tetap bebas.

Parry terjatuh dalam kesedihan setelah meliput kekerasan di Timor Timur. Ia menyebut dirinya menderita post-traumatic stress disorder ringan. “Ini sembuh bersama dengan waktu, salah satunya karena saya menulis buku ini (In The Time of Madness),” katanya kepada saya.

Menyaksikan kanibalisme di Borneo. Pembunuhan aktivis mahasiswa di Jakarta. Kepala-kepala terpenggal berseliweran. Nyaris memamah sate daging manusia. Terancam jiwa di Timor Timur. Itu semua telah dialami Parry selama meliput Indonesia. Namun, semua kengerian itu tak mengubah perasaan Parry terhadap negeri ini.

“To me this is very obvious, but sadly it hasn’t been obvious to all readers of the book: despite the violence which is the subject of much of my reporting, I love Indonesia. It is my favourite country, and I visit as often as I can for holidays as well as work,” kata Parry kepada saya.

Sebagai seorang reporter Times, Parry sudah meliput di dua puluh enam negara, termasuk Afghanistan, Kosovo, dan Macedonia. “Tidak ada keraguan, Indonesia telah mengalami perubahan terbesar yang bisa dijalani sebuah negara: dari kediktatoran ke demokrasi. Itu sesuatu yang membuat orang Indonesia memiliki hak untuk berbangga hati,” katanya.

Artikel resensi ini ditulis tahun 2009, dan ditulis ulang untuk Historead.co.id dengan sedikit perubahan di sana-sini 

Selama di Indonesia, Parry berutang budi pada banyak orang, pada narasumbernya yang sebagian besar tidak diidentifikasi dengan jelas. Menurut Parry, sebagian narasumber menolak disebutkan identitasnya secara jelas. “Dalam beberapa kasus, saya memilih tidak mengidentifikasi mereka secara penuh karena saya merasa ini yang terbaik,” katanya.

Parry melahap sejumlah buku, termasuk buku tentang Soeharto. Ia menyanjung tulisan Goenawan Mohammad, jurnalis veteran Majalah Tempo, yang menurutnya diterjemahkan dengan indah ke dalam Bahasa Inggris.

Tanggal 14 Januari 2010, Parry merayakan ulang tahun ke-41. Ia berharap bisa menulis kembali tentang Indonesia dan Timor. Sebagai orang asing, ia melihat Indonesia akan tetap bersatu.

“It will remain united. That’s not to say that Papua (perhaps even Aceh) won’t continue to press for independence, and may get it. But Indonesia’s unity is assured. That was the genius of Sukarno, and the founders – to bring together these people from such diverse races and islands and to place in all their hearts a spark of shared identity: Indonesian-ness.”

“An thrilling and beautiful achievement.” []

coverrlp - Richard Parry dan Catatan tentang Zaman Edan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi