Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Jean Nicolas Arthur Rimbaud

Jean Nicolas Arthur Rimbaud (1854-1891) pada 1876, merupakan tipe klasik manusia yang terbuang dari masyarakatnya. Dia tak memiliki pilihan selain bergabung dalam “Legiun Asing”; sebagai prajurit bayaran yang tak mempersoalkan masa lalu dan latar belakang seseorang. ronggeng arak kretek

Biarpun begitu, Rimbaud lebih memilih untuk berpumpun dengan Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL, Serdadu Kerajaan Hindia-Belanda), yang sedang gencarnya mencari prajurit bayaran dari seantero Eropa, untuk memenuhi kebutuhan prajurit di Hindia-Belanda. Alih-alih setibanya di Pulau Jawa, seluruh kebenaran yang didapati Rimbaud–bak panggang jauh dari api–membuat pupus hasrat yang telah dipupuknya sebelum bergabung dengan KNIL.

Plaisirs ineprouves

Dalam buku KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis (Kompas, 2016) karya Jean Rocher dan Iwan Santosa, dikisahkan bahwa “Rimb” si anak berbakat–saat bersekolah dasar, bocah Arthur Rimbaud adalah murid cerdas yang kerap mendapat banyak takrim atas prestasi akademiknya. Pada 1865, saat berusia sepuluh tahun, dia memenangi pusparagam penghargaan atas mata pelajaran: gramatika Bahasa Latin, gramatika Prancis, mengeja, Sejarah, Geografi, membaca, Matematika, Latin, hingga Agama. Dia dijuluki “Rimb” oleh teman-teman sekolahnya. Gurunya waktu itu meramalkan, Rimbaud suatu hari nanti akan menjadi seorang jenius dalam arti positif, (ataupun jenius dalam arti negatif).

Vitalie, ibunda Rimbaud menikahi seorang perwira infanteri yang dipromosikan dari pangkat bintara menjadi letnan pada 1841, lantas dikirim bertugas ke Aljazair. Tahun 1852, ayah Rimbaud dipromosikan menjadi kapten. Vitalie bercerai dengan suaminya pada 1860 dan menjadi orangtua tunggal bagi Rimbaud. Ia sangat bangga atas kemampuan puteranya menggubah puisi. Pada suatu kesempatan, Rimb mengirimkan tiga puisinya ke sastrawan Theodore de Banville.

Hatta, suatu hari pada September 1871, Rimbaud menerima sepucuk surat dari penyair terkenal Prancis, Verlaine. Verlaine yang masyhur itu mengundangnya datang ke Paris, “Segeralah datang, sang jiwa besar…, kami menunggumu, kami menunggumu!” Rimbaud sangat tersanjung dan terpukau, inilah awal petualangan hidup yang kemudian membawanya pergi ke Jawa.

Rimbaud dan Verlaine saling jatuh hati dan mengagumi satu sama lain. Verlaine terpesona pada remaja 17 tahun bermata biru yang misterius dan Rimbaud terkagum pada pria yang lebih tua sepuluh tahun darinya, yang memiliki wajah oriental. “Matanya yang menyipit hampir tertutup,” kenang Rimbaud akan wajah Verlaine.

Rimbaud menikmati kehidupan di Paris, terutama gemerlap Latin Quarter, tempat favoritnya. Bentangan jalan lebar dan labirin gang serta lorong sempit Paris menjadi surga bagi seniman seperti dirinya, sambil menenggak minuman keras ‘Peri Hijau’ alias Absinthe (kelak dilarang peredarannya pada 1915).

Baca juga:  Raja Singa

Sepasang penyair pria itu tenggelam dalam surga fana ciptaan mereka. Verlaine dan Rimbaud kecanduan mengecap plaisirs ineprouves (kenikmatan yang belum dijajal). Keluarga dari isteri Verlaine berusaha untuk memisahkan mereka berdua dan para sahabat lama pun menjauhi Rimbaud-Verlaine. Arthur Rimbaud kemudian memilih pulang ke kampung halaman di Charleville sebentar, lalu kembali ke Paris. Di sana dia menjadi pemabuk. Saat musim panas 1872, mereka menjelajahi Belgia; ke Brussel, Antwerpen, Ghent, dan Laut Utara. Untuk pertama kalinya Rimbaud melihat lautan. Mereka pun menyeberangi lautan untuk bermukim di London, Inggris, jauh dari orang-orang yang mereka kenal di Prancis maupun Eropa daratan. Meski situasi berubah untuk sesaat, secara keseluruhan mereka kesulitan menyesuaikan selera pada masakan Inggris. Minuman keras, ganja dan opium pun sudah tidak lagi menyenangkan pasangan seniman itu.

Hubungan Verlaine dan Rimbaud pun menjadi buruk. Pada satu hari mereka bertengkar hebat, tetapi hari berikutnya mereka berbaikan kembali. Rimbaud yang berusia 18 tahun ingin pulang ke Charleville. Verlaine berjanji akan menceraikan isterinya dan meminta Rimbaud kembali ke London menemaninya. Akhirnya mereka berdua mendapat pekerjaan serabutan di Inggris. Sepertinya hubungan mereka baik-baik saja, hingga suatu ketika Rimbaud ketangkap basah selingkuh oleh Verlaine yang kemudian marah dan pergi ke Brussel, Belgia. Rimbaud menyusul dengan penuh rasa sesal.

Di saat mereka berdua mabuk dan cekcok mulut, tak dinyana Verlaine yang memegang senapan, menembak Rimbaud sehingga melukai pergelangan tangannya. Sesudah keributan itu, Rimbaud meninggalkan Verlaine, menggelandang di Eropa dan menyadari hidupnya sudah kehilangan makna. “Hidupmu berantakan. Jadilah kau orang yang terhilang,” ujar seorang Legiun, Blaise Cendrars.

Bergabung dengan KNIL

Mengapa Arthur Rimbaud masuk KNIL dan bukannya Legiun Asing Prancis yang dibentuk pada 1831, setahun pasca kelahiran KNIL? Ayahnya adalah perwira Angkatan Darat Prancis dan demikian pula saudaranya, “Dia (Rimbaud) akan menerima kerasnya kehidupan Legiun Asing sebagai kehidupan baru untuk membersihkan hidupnya.” Itu adalah sebuah keniscayaan (Rocher & Santosa, 2016: 112).

Namun kenyataannya, Rimbaud tidak sengaja bertemu seorang Belanda perekrut serdadu KNIL yang kala itu ada di seantero Eropa. Markas Besar Militer Kerajaan Belanda kekurangan tenaga prajurit untuk menuntaskan perang di Atjeh yang memeras kekuatan militer kolonial Belanda. Uang kontrak yang dibayarkan di muka memang menggiurkan: 300 gulden untuk masa dinas selama enam tahun. Jumlah itu sebetulnya setara dengan penghasilan setahun seorang tukang kayu. Ketika ditanya, apa tugas serdadu KNIL, pihak yang menawarkan kontrak enggan mendedahkan dan justru mempromosikan Pulau Jawa sebagai surga tropis dengan penari ronggeng cantik, arak, dan rokok kretek yang beraroma rempah.

Baca juga:  Setio dan Petuah Ki Banar

Kesenangan duniawi itu bisa dinikmati orang Eropa berkantong cekak dengan menjadi prajurit bayaran Kolonial. Akan tetapi, sesungguhnya, kesenangan duniawi itu tidak bisa dinikmati di medan operasi di ujung utara Sumatera. Terlebih lagi jikalau berdinas di Legiun Asing Prancis yang dikenal keras dalam latihan dan medan operasi nan buas seperti Afrika. Tak terbayangkan seandainya seorang penyair seperti Rimbaud memilih menjadi Legiun Asing, bertopi Kepi Putih, bercucuran keringat di gurun pasir Sahara dan memimpikan hujan turun di cuaca terik.

Rimbaud kemudian mencari tahu soal KNIL dengan mendatangi Konsulat Belanda di Brussel. Hal mudah bagi sang penyair yang menguasai banyak bahasa itu. Dia pun melanjutkan perjalanan ke Harderwijk, dekat Rotterdam, yang menjadi pusat persiapan pemberangkatan KNIL. Bangunan yang dijadikan barak serdadu adalah bekas biara yang pernah diduduki pasukan Prancis semasa Perang Napoleon berkecamuk.

Ringkas cerita, Rimbaud diterima menjadi tentara bayaran KNIL. Dia tiba di Pelabuhan Batavia, Hindia Belanda pada 22 Juli 1876, setelah delapan pekan perjalanan laut dengan menumpang kapal Prins van Oranje. Pada Minggu, 30 Juli, bersama para prajurit lain, Rimbaud berkemas untuk berangkat ke Semarang. Jalur kereta Batavia-Semarang belum lagi menghubungkan kedua kota. Rombongan itu menumpang kapal Fransen van de Putte yang tiba di Semarang pada 2 Agustus. Semarang merupakan pusat bisnis yang berkembang pesat lebih maju tinimbang dari kota Batavia. Jalan raya terlihat ramai dan banyak pemukim Tionghoa di penjuru kota. Gedung-gedung di pelabuhan dipenuhi tumpukan karung gula pasir–salah satu komoditas utama yang akan dibawa ke Batavia untuk diekspor. Perjalanan tak berakhir di Semarang. Rombongan prajurit itu diperintahkan bergabung dengan barak di Tuntang. Mereka berangkat menggunakan kereta api yang dikelola oleh Nederland-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Rimbaud bukanlah satu-satunya orang Prancis di dalam pasukan KNIL itu; ada lima orang Prancis secara keseluruhan. Salah satunya adalah Auguste Michaudeau asal Tours yang meninggal akibat penyakit misterius saat tiba di tangsi Tuntang. Hal ihwal itu membuat nyalinya ciut. Rimbaud pun tambah masygul ketika menyadari kesatuan tempat dia bertugas di batalyon tempur yang berisi banyak veteran Perang Atjeh dan tidak sedikit yang gugur dalam pertempuran di Atjeh. Prajurit di batalyon itu memiliki tentara dari beragam daerah seperti Jawa, Maluku dan Madura. Mereka membawa keluarga tinggal bersama-sama di tangsi. Prajurit yang pulang dari penugasan di Atjeh kerap berbicara perihal keganasan pertempuran, perut yang terburai, sabetan kelewang pemecah tengkorak kepala, perjalanan menembus rimba belantara, kehausan, kelaparan, dan beragam penyakit tropis yang tidak bisa disembuhkan; ini menjadi pembicaraan sehari-hari di Tuntang.

Baca juga:  Kapitalisme yang Dibangun di Bawah Bidikan Senjata

Desersi

Keputusan untuk desersi dipilih oleh Rimbaud sesudah bertemu beberapa prajurit tua–kemungkinan besar sesama orang Prancis yang diperkirakan adalah mantan anggota Communards–bahwa hanya sedikit saja prajurit yang pulang selamat dari penugasan di Perang Atjeh. Jelas sudah bagi Sang Penyair, Belanda mencari serdadu untuk menggantikan ribuan prajurit yang gugur di medan pertempuran, yang terlepas dari sorotan dunia Barat itu. Para pejuang Atjeh pantang menyerah, dan di sisi lain, masalah kesehatan menjadi persoalan besar bagi pasukan Belanda yang kerap diserang wabah penyakit mematikan. Rimbaud sadar betul kondisi fisiknya yang makin melemah, akibat selama tiga minggu menghabiskan minuman keras di luar kewajaran. Dia pun memilih desersi menjauhi maut di Perang Atjeh, dengan bayaran upah hanya 33 sen gulden per hari (sekitar 1 euro per hari).

Pada 15 Agustus, duabelas hari pasca tiba di Jawa, satu perayaan hari besar Santa Maria naik ke surga, Rimbaud mendatangi komandan untuk meminta izin mengikuti misa di Kapel Santo Dionisius di luar tangsi. Dia menanggalkan seragam biru KNIL dan perlengkapan militer di sebuah peti di kolong ranjangnya. Rimbaud memakai baju biasa, mengenakan topi petani, dan memanggil dokar yang dimintanya mengantarkan ke Semarang. Perjalanan ditempuh selama tiga jam hingga tiba di Pelabuhan Semarang. Rimbaud tidaklah kabur melalui hutan rimba, seperti kadangkala diceritakan dalam beberapa tulisan.

Pada hari besar Santa Maria itu, tidak banyak pengawasan terhadap personel militer. Rimbaud bertemu dengan seorang pelaut Inggris dan–kemungkinan besar–menumpang kapal Skotlandia bernama Chief Wandering. Dia pun membayar ongkos kapal dan membantu bongkar muat barang. Kapal angkat sauh dari Semarang pada 29 Agustus dan tiba di Queenstown Inggris, tanggal 6 Desember, setelah dihantam badai di Tanjung Harapan. Rimbaud pun tiba di Charleville, Prancis pada 9 Desember 1876.

Rimbaud kemudian melanjutkan hidup di Etiopia, berjualan senjata dan memimpin sebuah pabrik. Dia lari dari masa lalunya di Jawa dan di Prancis. Rimbaud tak lagi berhubungan dengan Verlaine ataupun penyair lainnya. Penyair terkenal Prancis ini meninggal dunia pada usia tigapuluh tujuh tahun di Marseille, Prancis, karena sakit. []

jnarimbaud - Ronggeng, Arak, Kretek

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi