Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Lelaku Hidup Markatam

Bangsa-bangsa di Nusantara, menempatkan tanah sebagai identitas mereka. Tanah itu ibarat anggota badannya sendiri. Jika tanah itu terampas, maka sakitnya serasa amputasi pada tubuh sendiri. Tanah adalah kebanggaan. Tanah adalah harga diri. Tanah adalah masadepan dan sumber kehidupan. Demikian orang Jawa, Papua, Flores dsb memaknai tanah. Sadhumuk Bathuk, Sanyari Bumi

Dalam pepatah Jawa dikenal, sadhumuk bathuk, sanyari bumi. Ditohi kanti pati. Artinya,walaupun sempit tanahnya, sesempit ruas jari di jidat, tanah adalah nyawa seseorang. Sebegitu sakralnya tanah bagi seseorang, hingga dirinya rela mengorbankan nyawa untuk tetap memiliki tanah tersebut.

Seseorang rela dipenjara, menjadi romusha (kerja paksa), laku prihatin hingga tirakatan untuk mempertahankan tanah tersebut. Ajaibnya, kegigihannya untuk mempertahankan tanah tersebut dengan laku prihatin dan tirakatan hingga sekarang, menjadikan dirinya sehat dan panjang umur.  Ia adalah Markatam alias Lamijo alias Pak Sumi.

***

Suatu hari di tahun 1942 di sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, Lamongan Jawa Timur. Hari-hari pemuda bernama Markatam dipenuhi dengan pekerjaan sawah: mencangkul, menyiangi, membersihkan rumput dsb. Ia bangga dan senang melakukan pekerjaan sawah itu. Sawah warisan orangtuanya tidak begitu luas, dibandingkan orang lain, hanya sekitar setengah satu bau  (3520 m2). Tapi tanah itulah harapan Markatam.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Di sawah yang irigasinya mendapatkan aliran air sepanjang tahun dari Bengawan Solo itu, Markatam menanam padi. Pernah pula sebagian menjadi kolam atau tambak air tawar. Seperti kebiasaan warga disitu, ketika air berlimpah dan harga ikan bagus, banyak orang merubah sawahnya menjadi kolam. Diantara pematang sawah itu, Markatam menanam jagung, cabai dan mangga. Hasilnya tidak banyak, tapi mencukupi dirinya. Terkadang dirinya, juga menjadi kuli bangunan, merantau sampai Lamongan dan Surabaya.

Hari itu, Markatam didatangi oleh Pak Taker, seorang pejabat Desa. Kata Taker, tentara Jepang membutuhkan para pekerja, dia harus ikut. Kalau tidak, tanah yang dia punya, sapi dan sebagainya akan diambil sebagai ganti. Markatam melawan, dan ditangkap lalu dipindahkan ke Surabaya. Di Surabaya, yang jaraknya 60 Km dari rumahnya, dia dipenjara di Kalisosok. Selama sembilan bulan Markatam menjalani hukuman.

Baca juga:  Jalan Budaya Hasnan Singodimayan

Tak dinyana, dirinya tetap wajib menjalani kerja sebagai romusha Jepang. Ia ingat, selama satu setengah tahun dirinya bekerja penuh, dari pagi pukul 6 hingga magrib. Banyak diantara kawannya yang akhirnya mati. Mati kelelahan. Mati disiksa. Mati kekurangan pangan. Dan yang lebih tragis, mati karena kutu busuk. Ya kutu busuk, Jepang memberi pakaian mereka berbahan goni, yang menjadi sarang empuk kutu busuk.

Markatam selamat dari kematian selama menjadi romusha. Dirinya tidak pernah terkena siksaan. Dia bekerja sebaiknya untuk tidak terkena siksa. Untuk bertahan hidup, makanan seadanya pemberian Jepang dimanfaatkan sebaiknya. Makanannya sejenis bulgur dan sedikit sambal asin. Bulgur ini di Amerika Serikat adalah pakan kuda. Ia mengenang, itu lebih baik daripada tidak. Untuk menahan haus, dia memanfaatkan bumbung bambu sebagai wadah .

Markatam masih ingat, ketika malam tiba, serangan kutu busuk mulai menjadi-jadi. Dirinya pun memilih telanjang. Dia merendam pakaian berbahan goni ke air laut. Begitu juga kala siang, dia tidak segan mencucinya dengan air laut. Tidak bosan-bosan dia melakukan itu. Hasilnya, kutu busuk tidak menyerangnya lagi. Dia selamat dari kematian, diserang kutu busuk.

Sebagai romusha, Markatam bekerja secara paksa tanpa perlindungan nyawa memadai. Setiap hari, dirinya dengan perahu kecil, dipaksa memasang balok-balok di tengah laut. Satu dua orang berguguran mati, karena tenggelam dan kecelakaan kerja. Beruntung, Markatam anak Bengawan Solo, dia bisa berenang dengan baik.

***

Markatam adalah pemeluk teguh Islam. Tidak pernah dia bolong melewatkan sholat lima waktu, pun dengan puasa wajib di bulan ramadhan. Itu kebiasaanya sejak muda. Dia percaya hanya Allah sebaik-baiknya pelindung. Kehausan akan ilmu agama di tebusnya dengan belajar di Pondok Pesantren Sidoresmo dan Lambangkuning, Surabaya. Di depan rumahnya yang sederharna pun, dirinya dan sang menantu membangun mushola kecil. Untuk sembahyang keluarga itu dan tetangga yang berkenan, katanya.

Baca juga:  Jurus Bahagia Sang Marhaenis

Namun dia tetap seorang Jawa. Di dalam ke-Islam-annya, dirinya menjalankan ritual kejawen. Dia percaya, dirinya harus terjaga. Menghindari tidur nyenyak dan enak dirumah. Setiap tidur, tidak pernah lebih dari satu jam. Tidurnya terjaga, tidur-tidur ayam. Tidak pernah dirinya berbaring di kasur. Biasanya di tikar, dipan atau kursi kayu panjang yang terletak di emper rumah. Kadang dia tidur di sela-sela tanah kuburan, dengan tikar.  Ini laku prihatinnya.

Setiap malam hari dirinya mlipir, nglawa berjalan sesuai dengan hatinya. Temannya hanyalah sebungkus plastik tembakau, cengkih dan papir. Dia seorang perokot berat sejak muda. Laku nglawa, katanya, itu mengurangi tidur malam layaknya Kelelawar. Biasanya dia berjalan ke kuburan, tanggul Bengawan Solo, jalan-jalan desa. Jika capek, dirinya akan tidur sebisanya dengan alas seadanya. Begitu dirinya menjalani hari, dengan selalu terjaga. Setelah dirasa cukup, Markatam akan pergi lagi sekehendak hatinya. Ketika tiba saat sholat malam, dia akan sholat. Lalu akan berjalan lagi sampai subuh. Pada saat subuh itu dia akan pulang, solat dan rebahan di dipan kayu rumahnya.

Ketika hari mulai terang, Markatam akan beranjak dari rumah menuju sawah atau kuburan. Di sawah, dia sudah tidak melakukan apa-apa, kadang hanya mencabut rumput, melihat-lihat buah mangga, pepaya dan cabai yang ada. Biasanya dia melewatkan siang hari antara di rumah dan kuburan. Di kuburan umum, yang tak jauh dari rumahnya, biasanya Markatam istirahat siang. Ketika bangun, dia akan membersihkan rumput-rumput yang menempel di makam, sebisanya dan sesukanya. Begitu hari-hari Markatam dilalui.

Pada bulan-bulan khusus, seperti bulan Sela, bulan kesebelas dalam penanggalan Jawa atau Zulkaidah pada penanggalan Islam, Markatam akan berpuasa penuh. Selama sebulan itu dirinya akan berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain di desanya.  Pada laku bulan sela ini, dirinya tidak akan makan apapun kecuali pisang. Itupun kalau dia punya pisang atau diberi pisang.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Manusia Jawa dari Kleco
Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Sedang pada bulan Besar, bulan kedua belas dalam penanggalan Jawa, atau bulan Zulkijah,  Markatam akan menolak memakan nasi. Baginya bulan itu dia pantang makan nasi, garam, dan pedas. Dirinya pada bulan ini puasa per 24 jam. Setiap duapuluh empat jam itu dia akan berbuka secukupnya dan kemudian berpuasa lagi. Begitu kebiasaan yang dilakukan Markatam sejak muda. Dia yakin, sebagai manusia harus laku prihatin. Ini adalah jalan bahagia Markatam, menyusahkan diri dengan puasa pantangan dan laku lain, menuju kebahagiaan sejati: Tuhan.

***

Usia Markatam kini lebih dari 80 tahun. Dia mengaku kelahiran tahun 1911. Tidak ada yang tahu tepat berapa umurnya. Catatan kependudukan yang tertera pada KTP-nya pada setiap periode memberi petunjuk umur yang berbeda beda. Satu KTP memberi angka 1911 sebagai kelahirannya. KTP yang lain memberi angka 1932 dsb.

Tidak ada yang sama. Semua menduga-duga, Seorang tetangga Markatam, Kasalal Atmodiharjo, bersaksi pada jaman Jepang Markatam sudah dewasa. Bahkan dirinya, yang kelahiran 1928, ketika pada jaman Jepang telah sekolah. Dan yang menganjurkan dirinya sekolah adalah Markatam dewasa. Konon dirinya sering diberi uang jajan oleh Markatam, waktu itu, biar giat berangkat sekolah.

Gurat-gurat kulit yang kasar dan kering mungkin adalah umur biologis yang bisa memastikan umur Markatam. Tanganya kapalan. Giginya sudah tanggal, meski satu dua saja yang bertahan. Bibirnya hitam, khas seorang perokok berat. Banyak yang menduga umurnya antara 90 hingga 100 tahun. Apa resep panjang umurnya? “Bersyukur pada Gusti Allah dan tidak mengikuti hawa nafsu,” kata bu Sami, anak Markatam yang pertama. Masuk akal memang! []

lelaku petani jawa - Sadumuk Bathuk. Sanyari Bumi. Ditohi Pati

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi