Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan tentang Mufti Batavia

LAHIR di Pekojan, sebuah perkampungan Arab yang dibangun Belanda di Batavia, Said Oesman (Sayyid Ustman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi) tumbuh dalam keluarga yang terdidik secara agama.

Al-Mishri, kakeknya, adalah seorang ulama yang hormati di Batavia dan mengasuh Oesman muda ketika ayahnya kembali ke Makkah. Ketika al-Mishri meninggal pada 1847, Said Oesman, waktu itu berusia 18 tahun, pergi ke Arab untuk melanjutkan studinya.

Abdul Ghani Bima dan Ahmad Zaini Dahlan adalah di antara gurunya di Makkah. Dia juga melakukan perjalanan ke negara-negara lain di Timur-Tengah, Afrika Utara dan Istanbul, sebagiannya untuk belajar pada ulama terkenal. Dia kemudian kembali ke Batavia pada 1862, dan mulai mendirikan usaha percetakan.

Reputasi Said Oesman bermula ketika dia masuk ke dalam lingkaran kekuasaan kolonial pada 1885. Tulisannya ihwal tarekat sufi Naqsyabandiyah, al-Nasihat al-Aniqa li al-Mutallabisin bi al-Thariqah (Nasihat Elok untuk Pengikut Tarekat, Batavia 1883), dipakai oleh Pemerintah Belanda, khususnya Holle, dalam menangani peristiwa Cianjur pada 1885. Karya Said Oesman yang anti-Naqsyabandiyah ini dijadikan Holle, sebagai dasar argumen tentang bahaya potensial tarekat di Cianjur pada periode itu, yang mana seorang aristokrat pribumi di wilayah itu menjadi anggotanya yang aktif.

Baca juga:  Presiden dan Buku

Tanpa perlu menjelaskan secara mendetail peristiwanya, hal penting ditekankan di sini ialah, peristiwa Cianjur menjadi sebuah momen untuk terciptanya kolaborasi antara Said Oesman dan Pemerintah Kolonial Belanda.

Adalah Snouck Hurgronje yang kemudian menjadi pelindung Said Oesman. Snouck Hurgronje mungkin telah mengenal Said Oesman melalui Van der Chijs di Hijaz, yang dengannya Said Oesman menjalin kontak secara intensif. Ketika Pemerintah Kolonial tengah memberi perhatian besar pada pertumbuhan komunitas Hadramaut di Hindia Belanda, ulama Hadrami terkemuka seperti Said Oesman sangat potensial untuk menjadi pemimpin yang sedang dicari-cari Snouck Hurgronje.

Pada 1886, Snouck Hurgronje memuji Said Oesman sebagai sekutu Arab Pemerintah Hindia Belanda. Dengan cara yang sama Said Oesman menyadari bahwa Snouck Hurgronje adalah pelindung potensial untuk dirinya. Karena itu, dalam sebuah surat yang dia kirim kepada Snouck Hurgronje, dia menyatakan kesediaannya mengabdi kepada Belanda.

Alhasil, pada 1889 Said Oesman direkomendasikan untuk menduduki sebuah posisi di pemerintahan, tidak lama setelah kedatangan Snouck Hurgronje di Batavia. Pasca dua tahun bekerja, pada 20 Juni 1891, Said Oesman kemudian diangkat sebagai Penasihat Kehormatan untuk urusan-urusan Arab.

Baca juga:  Nasionalisme Islam Nusantara

Oleh karena itu, Said Oesman mendedikasikan hidup dan kemampuan intelektualnya kepada Pemerintah Hindia Belanda, menambah pengetahuan tentang Islam yang dihimpun Belanda dari penghulu. Sebagai seorang Hadrami, sikap politik Said Oesman bukan tanpa dasar yang kuat. Dia merepresentasikan pengetahuan umum perihal komunitas Hadramaut di Hindia Belanda yang acuh tak acuh terhadap persoalan politik, tidak memedulikan tekanan politik Belanda terhadap Muslim pribumi selama kepentingan mereka sendiri tidak terganggu.

Said Oesman, seperti halnya penghulu, tampil sebagai seorang elite agama yang menyuarakan rust en orde (kedamaian dan keteraturan) di Hindia Belanda. Peran ini dalam beberapa hal sejalan dengan semangat keagamaan Said Oesman yang sebagian berasal dari tanah leluhur, di mana pembaruan yang dia suarakan, terutama mengenai perlawanannya kepada keyakinan dan praktik lokal, juga tarekat, bertemu degan kepentingan dan agenda kolonial Belanda.

Said Oesman adalah seorang ulama yang loyal, yang mengabdikan dirinya untuk–seperti diharapkan oleh Snouck Hurgronje–memberi legitimasi agama kepada kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Hal ihwal ini membuat patronnya kemudian menciptakan sebuah jabatan setengah resmi pada 1887, di mana Said Oesman ditugaskan sebagai Mufti Batavia.

Satu tahun kemudian, Said Oesman diminta menyusun sebuah doa khusus untuk Ratu Wihelmina dalam upacara naiknya sang ratu ke singgasana, 31 Agustus 1889. Said Oesman pun ikut serta dalam doa untuk sang ratu, memuji perlakuan kolonial yang “adil” kepada Muslim Hindia Belanda, karena membolehkan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama mereka dan menjaga keamanan dan keadilan dalam kehidupan negara.

Baca juga:  Islam dan Feminisme

Said Oesman membacakan doa untuk Ratu Wihelmina di Masjid Pekojan, kota kelahirannya, setelah shalat Jum’at, pada 2 September 1898. Dia juga membagikan salinan doa itu untuk dibaca dalam shalat Jum’at di seluruh Jawa dan Madura. Doa ini mengundang reaksi keras dari beberapa faksi komunitas Muslim dan Arab, baik di Hindia Belanda maupun Singapura.

Pendirian politik Said Oesman ini menjelaskan bahwa, ia merupakan suatu bentuk penyesuaian diri yang dituntut dari seorang imigran. Seperti rekan-rekannya sesama Hadrami dan Arab lainnya, “status Arab”-nya telah membuat mereka sangat dihormati oleh Muslim Hindia Belanda. Namun, secara bersamaan hal itu membuat dia, dan orang Hadrami serta Arab pada umumnya, berada dalam ketidakpastian ke negara mana mereka harus menyatakan dan menunjukkan kesetiaannya. Ini menjadi isu hangat pada permulaan abad ke-20.[]

saidusman - Said Oesman

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi