Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Aku bertemu Saniyeh ketika tenaga kasarku dibutuhkan lembaga penggadaian untuk menghantam kepalanya. Kata Faik, Saniyeh fobia pada gelas, dan itu bisa kumanfaatkan untuk mempermudah urusanku dengannya. Tapi ternyata Saniyeh yang akan menjadi istriku akhir tahun ini.

Setelah ayahnya meninggal Saniyeh bermimpi berada di kamar ayahnya. Kamar itu terang oleh cahaya dari beratus gelas yang melayang di langit-langit kamar. Ayahnya terbaring di ranjang mengucapkan kata-kata yang tidak terdengar. Dia mengunjungi beberapa ahli mimpi tapi dia membuat kesimpulan berbeda dari penafsir mimpi yang ia datangi; Kata-kata itu kutukan buat Saniyeh karena membiarkan gelas-gelas itu jatuh membunuh ayahnya.

Aku bertemu Saniyeh ketika dia sedang menyiapkan sarapan adik perempuannya, Fatimah, sekaligus mengantarnya ke sekolah dan memintaku menunggu sebentar. Di rumahnya, aku lihat, tidak ada gelas, dan itu membuatku kesulitan memikirkan cara hidup Saniyeh tanpa satu pun bantuan gelas. Bahwa gelas bagi Saniyeh merupakan persoalan personal—dia fobia gelas jatuh—akan segera menjadi rumit jika dihadap-hadapkan dengan kehadiran tamu, termasuk kehadiranku. Ini rentan jadi gunjingan dalam masalah etika. Pepatah tamu adalah raja, tidak efektif dalam rumah Saniyeh jika dia menerapkan filosofi hidupnya, bahwa manusia masih bisa bertahan hidup tanpa gelas. Waktu itu aku punya waktu sekitar lima belas menit untuk melihat-lihat ruangan rumah Saniyeh; mencatat barang-barang yang nanti bisa kusita; tentu juga memastikan apakah rumah itu benar-benar anti-gelas. Sisa beberapa menit yang kupakai berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain kupergunakan untuk menimbang gaya hidup seperti apa yang dipegang teguh Saniyeh. Jika dia menawarkan kopi bagaimana dia menghidangkannya (sebab cangkir juga tidak ada di rumah itu). Mungkin saja dia menyuguhi tamunya dengan minuman kaleng atau sejenis itu (di kulkasnya penuh minuman kaleng dan beberapa minuman botol). Aku menemukan kopi bubuk dan gula, dan bagaimana ia meracik kopi tanpa gelas atau cangkir. Mungkin juga Saniyeh tidak menawariku minuman.

Aku pulang dari rumahnya tidak membawa janji tahun ini angsurannya akan lunas. Sia-sia waktu aku melatih diri. Benar kata Faik, setiap orang akan bersimpati kepada Saniyeh bukan karena kondisi keluarganya tapi lantaran Saniyeh pandai bersandiwara.

Baca juga:  Halimah dan Bunga Ombak di Pantai Nipah

Namun aku bingung siapa yang ditaklukkan Saniyeh atau yang menaklukkan Saniyeh ketika dia menceritakan seluruh masa lalunya kepadaku tanpa melebih-lebihkan. Misalnya dia menangis atau tampak murung dengan beberapa anggota tubuh dikoordinasikan gemetar demi kesedihannya. Dia duduk di depanku, setelah basa-basi dan tanpa menawarkan apa pun kepadaku, setelah aku berkata aku ingin minta segelas kopi kalau ada, bagaikan ban mobil tertusuk paku, setelah dia bilang bisa saja memberiku kopi tapi takut mengecewakanku, dia bercerita tanpa bisa dihentikan hingga ia kempes, hingga masa lalunya seakan habis.

Ada dua peristiwa penting dalam hidupnya yang tidak terhapuskan: Kematian ibunya ketika Fatimah masih dua setengah tahun, dan kematian ayahnya lima tahun kemudian. Dua peristiwa itu, sekilas tidak berhubungan, kecuali dihubungkan oleh kata kematian dan gelas. Dia benci kepada ibunya setelah kematian kakaknya, Raden. Raden ingin ikut kursus bahasa Inggris tapi dilarang ibunya, kemudian Raden frustasi (sangat disayangkan lelaki ini begitu labil, karena ia cerdas) dan menabrakkan diri di rel kereta api. Setelah itu kedua orang tuanya bertengkar sampai memecahkan semua gelas (dan tentu barang-barang lain. Di sini Saniyeh merasa ada yang aneh kenapa seolah dua peristiwa itu dihubungkan oleh gelas), dan sang ayah menggampar kepala ibunya menjadi tiada. Dalam waktu singkat tersisa tiga orang dalam keluarga Saniyeh: Dia, Fatimah, dan ayahnya. Mereka hidup damai bertahun-tahun setelah dua kematian itu. Pada bulan Ramadan ayahnya sakit, dan Saniyeh selalu di sampingnya.

Menurut Saniyeh kematian ayahnya bisa dicegah seandainya Saniyeh tidak menjatuhkan gelas dari meja. “Aku terkejut ketika menjatuhkan gelas, karena itu firasat, dan ayahku akhirnya meninggal.” Saniyeh berpikir andai gelas itu tidak jatuh ayahnya mungkin tidak meninggal, dan kalau ia tahu ayahnya akan meninggal bertepatan dengan jatuhnya gelas, ia akan mengamankan semua gelas di rumahnya. “Aku sungguh frustasi memikirkan kematian ayah. Hari itu, mungkin bukan hanya aku yang menjatuhkan gelas, jika memang ayahku akan meninggal ketika pas gelas jatuh. Untuk tidak menyalahkan diriku sendiri, meski hari itu aku tidak menjatuhkan gelas, mungkin tetanggaku menjatuhkan gelas, ayah pasti meninggal. Tapi itu tidak berguna karena aku tetap menyalahkan diriku sendiri mengapa aku ceroboh. Kamu bisa mengatakan sebaliknya, ayahku meninggal dan gelas jatuh. Artinya kalau ayahku tidak meninggal, tidak mungkin gelas itu jatuh. Tapi lebih berarti ayahku daripada gelas sehingga aku harus meletakkan gelas sebagai barang yang harus kupersalahkan jatuhnya saat kematian Ayah.”

Baca juga:  Setio dan Petuah Ki Banar

Dia pun kerap bermimpi aneh, berteriak-teriak sendirian di kamar ayahnya, memarahi Fatimah tidak dengan alasan tertentu. Untuk mengurangi penderitaan itu, gelas-gelas, juga cangkir, dijual obral dan sebagian dibagi kepada tetangga dengan cuma-cuma. Namun itu tidak berhasil menghilangkan gelas-gelas dalam ilusi maupun mimpinya. Pertengahan Oktober dia pergi berlibur ke Lombok, dan ia tidak bisa melepaskan diri dari ilusi-ilusi itu, ilusi bahwa dialah yang membunuh ayahnya sebab membiarkan gelas-gelas itu jatuh dari langit-langit kamar. Ada yang berkelakar, katanya, saat dia menceritakan kasusnya kepada seseorang di bus menuju Lombok, bahwa Saniyeh, sekali dalam tidurnya, harus bermimpi menjual gelas-gelas itu untuk menghilangkan ilusi akan gelas. Itu sebenarnya masuk akal. Dia pun kalau bisa ingin menjual gelas dalam mimpinya. “Atasilah mimpi dengan mimpi, cuma itu jalan keluarnya. Sesuatu yang tidak nyata selesaikanlah pula dengan cara yang tidak nyata.” Saniyeh ingat terus kata-kata itu.

Aku kira Saniyeh tidak berbohong. Ia tidak menambahkan kesan tertentu yang sedikit berlebihan, seperti menunjukkan foto koleksi gelasnya atau foto saat dia berlibur ke Lombok, untuk membuatku amat mempercayai ceritanya. Dia justru menangis ketika kunjunganku yang kedua. Ia benar-benar tidak punya uang buat membayar angsuran, dan membolehkanku menyita beberapa barang di rumahnya. Aku menunjuk kulkas, tv 21 in, dvd player, dan mesin cuci. Ketika barang-barang itu kunaikkan ke bak pick-up, ia berkata: “Aku membeli tv itu agar aku tidak kesepian. Tapi apa boleh buat. Oh, sering-seringlah datang ke sini, mungkin itu akan membantuku.” Malam itu juga aku bermimpi Saniyeh bunuh diri.

Kucoba untuk melupakan Saniyeh dan mimpi buruk itu. Aku mendapat pekerjaan tetap, mengajar matematika di sekolah menengah, dan berhenti dari lembaga penggandaian. Itu cukup buat menghindari orang-orang seperti Saniyeh, yang sangat memungkinkan mengarang cerita agar kita simpati, kemudian bermimpi buruk, kemudian terus memikirkannya, lagi dan lagi.
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Darah
Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Dan (ini sungguh mengesalkan) aku bermimpi mengunjungi Saniyeh, minta dibuatkan kopi. Dia menghidangkan kopi dalam teko kecil, dan aku terpaksa minum langsung dari teko kecil itu. Aku terbangun, kuingat-ingat lagi semua barang di rumahnya dan kureka bagaimana ia minum. Kalau tidak keliru, ada piring, mangkuk, pinggan, botol air mineral, teko, asbak, panci, rice cooker, penggorengan, dan barang-barang rumah tangga pada umumnya kecuali gelas dan cangkir. Aku bertanya apakah salah minum langsung dari teko, dan aku menjawab tidak ada yang salah dengan itu. Sejak kapan minum mesti dari gelas atau cangkir? Tidak ada aturan baku. Dulu minum bisa menggunakan tangan sebagai wadah, daun, batok kelapa, tengkorak, dan benda yang bisa menampung air. Itu sama halnya jika aku berlibur ke Pangandaran naik kereta, berarti aku bisa berlibur ke pangadaran tanpa naik kereta, asalkan aku sampai di Pangandaran. Kecuali ada peraturan bahwa berlibur ke Pangandaran harus naik kereta, tidak boleh tidak. Kecuali bahwa minum tidak boleh tidak menggunakan gelas. Dengan begitu Saniyeh, menurutku, membebaskan minum dengan cara apa pun, kembali pada muasal purbanya, minum adalah minum. Dan benda-benda dilepaskan dari formalitasnya. Saniyeh beli tv dan tv itu digunakan untuk mengusir kesepiannya. Mesin cuci bisa kuganakan sebagai barang pajangan saja di ruang tamu. Seseorang membeli gitar (atau meminjam) tidak hanya berfungsi sebagai alat musik tapi ia bisa memecahkan kepala pencuri atau jadi senjata beronda.

Bagaimana pun aku penasaran, dan ingin bertanya kepada Saniyeh, bagaimana ia menghidangkan kopi kepada suaminya. Aku membayangkan di meja, ia menghidangkan kopi dalam panci besar, dan suaminya boleh minum dengan menciduknya menggunakan tangan, atau langsung saja menyeruput dari panci.

“Aku tidak punya suami. Bayangkan saja kamu suamiku, Mas. Dan minumlah dengan cara sesukamu,” kata Saniyeh.

Pada suatu senja Faik mengunjungiku. Katanya keputusanku untuk mempersunting Saniyeh harus kupertimbangkan lagi. [] Sanggar, 08 Februari 2016

indomielama - Saniyeh dan Bagaimana Kemiskinan Mengakrabinya

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi