Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ulasan buku "Pergolakan Pemikiran Islam; Catatan Harian Ahmad Wahib"

Jika saya boleh mewakili generasi yang lahir pada 70-an, maka ada dua buku harian yang sangat populer dan berpengaruh pada masa-masa mahasiswa kami. Pertama adalah buku yang sangat provokatif, penuh daya dan pemikiran kritis tentang politik, kekuasaan, dan kediktatoran. Buku berjudul Catatan Seorang Demonstran ini ditulis oleh Soe Hok Gie, sang demonstran dan pemanjat gunung dari Universitas Indonesia yang meninggal muda di gunung Semeru pada 16 Desember 1969.

Buku kedua adalah buku yang bukan hanya provokatif, namun juga dianggap liar karena mempertanyakan banyak hal yang telah dianggap mapan dalam pemikiran keagamaan. Buku berjudul Pergolakan Pemikiran Islam; Catatan Harian Ahmad Wahib ini diterbitkan dari suntingan catatan harian Ahmad Wahib, seorang pemikir HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang juga meninggal muda karena ditabrak sepeda motor yang dikendarai anak muda juga, pada 31 Maret 1973.

Gie meninggal di umur 26 tahun, sementara Wahib di umur 30 tahun. Keduanya lahir di tahun yang sama, 1942.

Provokator Kebebasan Berpikir

Wahib yang kelahiran Sampang ini adalah pendobrak kebekuan pemikiran keislaman pada masanya. Kiprahnya bersama kawan-kawan seangkatannya pada masa-masa HMI menjadi fragmen penting kontribusi HMI di jalur pemikiran keislaman.

Judul buku: Pergolakan Pemikiran Islam; Catatan Harian Ahmad Wahib
Penerbit, Edisi digital: Democracy Project
Tahun: 2012
Tebal buku: 456 halaman
Padahal, pemikiran-pemikiran yang dilontarkannya dalam forum-forum diskusi maupun tulisan-tulisannya saat itu tentu sudah disaring sedemikian rupa. Belakangan, setelah catatan hariannya ditemukan dan disunting oleh Djohan Effendi dan Ismed Natsir, pergolakan pemikiran Wahib nampak lebih nyata. Mungkin karena bentuknya adalah catatan harian, pikiran-pikiran Wahib nampak lugas dan apa adanya. Beberapa lontaran pergulatannya juga menjadi inspirasi besar terhadap laku toleransi.

Dan Wahib nampak lebih hidup justru ketika ia sudah meninggal.

Tentu, pada dasarnya kegelisahan, kegalauan, kenakalan pikiran, pertanyaan liar Wahib adalah pertanyaan anak muda biasa. Saya membayangkan, pada saat tertentu, kita juga dihadapkan pada pikiran-pikiran liar ketika akal bebas kita berkembang sedemikian rupa, sementara jawaban-jawaban yang tersedia di depan kita hanyalah spekulasi turun temurun, atau pemahaman wahyu yang dianggap taken for granted dan tak terbantahkan.

Baca juga:  Hikayat Sepak Bola Indonesia yang Terabai

Jadi, pada titik tertentu, banyak di antara kita yang mewahib.

Dan Wahib adalah provokator yang ulung dan berhasil membius banyak anak muda seperti saya untuk berpikir lebih kritis tentang kemapanan pemikiran yang sudah terlanjur ada. Atau tentang berbagai hal selama ini kita terima begitu saja sebagai sebuah kebenaran absolut.

Belakangan ini, banyak rekomendasi dari pengamat terorisme bahwa salah satu cara untuk memperkuat resiliensi kognitif masyarakat menghadapi rayuan ekstremisme-terorisme adalah dengan mengembangkan tradisi berpikir kritis. Dalam konteks ini, buku ini semakin relevan dibaca anak-anak muda kita.

Di bawah ini saya kutipkan agak panjang salah satu provokasi Wahib:

“Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”.

Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan. Tapi menolak untuk berpikir bebas berarti menolak rasionalitas eksistenasinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekadar kepura-puraan yang tersembunyi.

Kalau betul-betul Islam itu membatasi kebebasan berpikir, sebaiknyalah saya berpikir lagi tentang anutan saya terhadap Islam ini. Maka hanya ada dua alternatif, yaitu menjadi muslim sebagian atau setengah-setengah atau malah menjadi kafir. Namun sampai sekarang saya masih berpendapat bahwa Tuhan tidak membatasi, dan Tuhan akan bangga dengan otak saya yang selalu bertanya, tentang Dia. Saya percaya bahwa Tuhan itu segar, hidup, tidak beku. Dia tak akan mau dibekukan.

Baca juga:  Sawit adalah Tentara

Pada hemat saya orang-orang yang berpikir itu, walaupun hasilnya salah, masih jauh lebih baik dari pada orang-orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir. Dan saya sungguh tidak dapat mengerti mengapa orang begitu phobi dengan pemikiran bebas. Bukankah material itu hanya sekedar suatu translasi (pemudahan)? Walaupun itu ada kemungkinan efek jeleknya, tapi kegunaannya akan jauh lebih besar daripada mudharatnya. Malahan orang yang takut untuk berpikir bebas itu ditimpa oleh ketakutan dan keraguan akan kepura-puraannya yang sudah tak terlihat. Dia ragu untuk berkata bahwa ada satu pikiran yang dia benamkan di bawah sadarnya.

Pikiran yang dibenamkan ini dia larang untuk muncul dalam kesadarannya. Pada hal dengan berpikir bebas manusia akan lebih tahu tentang dirinya sendiri. Manusia akan lebih banyak tahu tentang kemanusiaannya. Mungkin akan ada orang yang mengemukakan bahaya dari berpikir bebas yaitu orang yang berpikir bebas itu cenderung atau bahkan bisa jadi atheis. Betulkah? Orang yang sama sekali tidak berpikir juga bisa atheis!

Lebih baik atheis karena berpikir bebas daripada atheis karena tidak berpikir sama sekali. Ya, Meskipun sama-sama jelek. Dengan berpikir bebas bisa salah hasilnya. Dengan tidak berpikir bebas juga bisa salah hasilnya. Lalu mana yang lebih potensial untuk tidak salah? Dan mana yang lebih potensial untuk menemukan kebenaraan-kebenaran baru? Saya kira orang yang tidak mau berpikir bebas itu telah menyia-nyiakan hadiah Allah yang begitu berharga yaitu otak. Saya berdoa agar Tuhan memberi petunjuk pada orang-orang yang tidak menggunakan otaknya sepenuhnya. Dan sebaiknya saya pun sadar bahwa para pemikir bebas itu adalah orang-orang yang senantiasa gelisah. Kegelisahan itu memang dicarinya. Dia gelisah untuk memikirkan macam-macam hal terutama hal-hal yang dasariah dengan semata-mata berpijak pada obyektivitas akal.

Baca juga:  Zakariya Al-Qazwini dan Novel Alien

Saya sungguh tidak mendewa-dewakan kekuatan berpikir manusia sehinga seolah-olah absolut. Kekuatan berpikir manusia itu memang ada batasnya, sekali lagi ada batasnya! Tapi siapa yang tau batasnya itu? Otak atau pikiran sendiri tidak bisa menentukan sebelumnya. Batas kekuatan itu akan diketahui manakala otak kita sudah sampai di sana dan percobaan-percobaan untuk menembusnya selalu gagal. Karena itu manakala “keterbatasan kekuatan berpikir, maka jelas statemen ini tidak berarti dan mungkin salah besar. Otak itu akan melampaui batas kekuatannya. Kalau sudah terang begitu, apa gunanya kita mempersoalkan batas, kalau di luar batas itu sudah di luar kemampuannya? Hal ini sudah dengan sendirinya, tak perlu dipersoalkan. Berikanlah otak itu kebebasan untuk bekerja dalam keterbatasannya, yaitu keterbatasan yang hanya otak itu sendiri yang tahu. Selama otak itu masih bisa bekerja atau berpikir, itulah tanda bahwa ia masih dalam batas kemampuannya.

Dalam batas-batas kemampuannya dia bebas. Jadi dalam tiap-tiap bekerja dan bepikir otak itu bebas.”

wahib 684x1024 - Seandainya Tak Ada Wahib

Tentang Ebook ini

Buku Pergolakan Pemikiran Islam ini diterbitkan pertama kali di tahun 1981 oleh LP3ES. Penerbitan buku itu memicu polemik panjang yang menarik diikuti. Banyak intelektual dan pemikir Islam terlibat dalam polemik panjang tersebut. Belakangan, sejak 2003 beberapa kali Freedom Institute mengadakan sayembara untuk anak muda bertajuk Ahmad Wahib Award. Di tahun 2014, PUSAD Paramadina juga meneruskan penyelenggaraan Ahmad Wahib Award.

Pada 2012, saya terlibat mengkurasi buku ini untuk diterbitkan ulang dalam bentuk digital. Sayangnya, LP3ES tidak memiliki soft file-nya mengingat buku ini diterbitkan dengan mesin cetak lama, alias menggunakan plat. Jadilah, atas nama Democracy Project, kami mengetik ulang seluruh isi catatan harian ini untuk diterbitkan Ebooknya.

Nah, saya sendiri takkan bosan mengampanyekan buku penting yang mengubah cara berpikir anak muda Indonesia ini, terutama para calon intelektual muda Islam.[]

cover aw - Seandainya Tak Ada Wahib

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi