Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Apa arti sebuah tulisan? Apa arti perbuatan menulis dan menyampaikan kabar?

Menulis. Apakah menulis itu sebenarnya? Apakah ia perbuatan membubuhkan tinta ke lembaran kertas? Atau justru merangkai kata-kata dan kalimat? Apa menulis itu sedjatinya? Untuk apa kita menulis? Mengapa pula harus menulis?

Di sebuah jaman, menulis bisa jadi cinta yang indah, gula yang manis, garam yang wangi, bunga yang menenangkan, dan hujan yang sejuk. Namun di jaman lain menulis bisa jadi cinta yang pedih, air mata yang tak ada ujung, sunyi tak berhingga dan luka yang tak tersembuhkan bahkan oleh waktu.

Mesir. Ribuan tahun yang lalu, jauh di jaman ketika manusia hidup dalam kepercayaan pada para dewa, menulis adalah kisah dewa Thoth  dengan Pharmakonnya . Itulah sebabnya di Mesir lama menulis kemudian dianggap sebagai perbuatan yang suci.

Kemudian ribuan tahun dalam kisah berbeda, menulis agaknya masih juga dianggap sama sebagai perbuatan yang sakral. Menulis itu suci. Sebab pertama-tama menulis bukanlah pekerjaan siapapun, melainkan pekerjaan para malaikat, ketika Tuhan berbicara.

Dikatakan; ketika Tuhan berbicara, para malaikat mendengarkannya, mengingat, kemudian menuliskan dan menyimpan semua itu di Lauh al-Mahfudz. Maka siapapun yang melakukan pekerjaan menulis, ia sesungguhnya memasuki alam malakut; melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan para malaikat di zaman suci. Sebaliknya siapapun yang melakukan perbuatan berbicara ia sesungguhnya tengah memasuki alam Tuhan, melakukan perbuatan yang sama dengan perbuatan Tuhan sebagai Dzat yang Mahakalam (baca: Maha Berbicara).

Itulah sebabnya dalam tradisi Jawa lama pernah muncul sebuah pertanyaan; “lebih tua mana sedjatinya, antara menulis dan berbicara itu? Seorang guru kemudian menjawab: “sesungguhnya menulis itu jauh lebih muda drajat kaki matanya ketimbang berbicara. Sebab berbicara itu perbuatan Tuhan, sedang menulis adalah perbuatan malaikat.” Begitu kata sang guru.

“Huruf juga kata-kata”  demikian kata guru, “tidak pernah hadir sebagai creation ex nihillo atau sesuatu yang lahir dari sebagai sesuatu yang sekedarnya, begitu main-main dan asal-asalan. Sebaliknya ia hadir dalam penciptaan yang yang agung dan suci.

Huruf dan kata-kata adalah kreasi agung yang sakral, indah dan ilahiah. Dalam pengertian ini, dibalik semua huruf dan kata-kata, sekali kali, jika seseorang telah ada dalam kehalusan yang nyata, niscaya ia tidak akan pernah menemukan apapun, selain hanya keberadaan Tuhan yang Mahasuci, Mahaagung dan Mahaindah. Maka begitulah jauh di waktu yang lampau, menulis dan bicara, menjadi tanda bukti bahwa seseorang telah bertemu dan telah mendengar firman Tuhannya.

“Hanya saja di hari ini” begitu kata guru, “berbicara dan menulis sangatlah berbeda dengan kesadaran manusia lama. Di hari ini, sungguh pun dalam penglihatan mata lahiriah, kita menemukan tulisan ada di mana-mana. Tetapi sedjatinya, perbuatan menulis itu sudah tidak ada. Yang ada hanyalah berbicara dengan tulisan.

Periode manusia menulis sepertinya telah hilang. Hari ini adalah periode ketika manusia berbicara lewat tulisan. Manusia telah bernafas dari dan dengan tulisan. Itu sebabnya, menulis di hari ini jauh lebih berat harga tanggungnya, ketimbang menulis di masa lalu, yang masih menjadi perbuatan malaikat.

Di hari ini, menulis telah sama dengan berbicara. Kesamaan menulis dengan berbicara telah menaikan kegentingan menulis ke dalam perbuatan yang kemudian begitu suprabeyond. Sebab ketika menulis hadir dan lahir sebagai sikap perbuatan berbicara. Maka menulis kemudian bukan lagi perbuatan malaikat. sebaliknya telah menjadi perbuatan “Tuhan” itu sendiri.

Ini sangat tidak terlupakan dan sangat begitu tidak terinsyafi. sehingga perbuatan menulis yang kini telah menjadi perbuatan berbicara itu sendiri. hadir menjelma sebagai sesuatu yang remeh. dan jauh dari rasa sembah pada Tuhan. Dunia sepertinya tidak lagi sanggup untuk merenung bahwa berbicara itu hal yang berat, sungguh pun itu lewat tulisan.

Baca juga:  Citra Dayak

***

Pertanyaannya. Lantas lebih sulit mana, berbicara dan menulis? Menjawab soal ini seorang guru berkata bahwa  menulis dan berbicara adalah dua hal yang sama sulitnya, juga sama beratnya. Sebab menulis dan berbicara memiliki syarat yang sama. ia harus lahir dari perjumpaan atau pertemuan dengan Tuhan. Dan perjumpaan itu sendiri tidak lain adalah sesuatu hal yang jika perbuatan melihat dan mendengar hadir secara bersamaan.Itulah sebabnya. Pada prinsipnya berbicara dan menulis adalah melihat dan mendengar dalam tanda petik.

Manusia tidak bisa berbicara jika ia tidak pernah mendengar sesuatu atau melihat sesuatu. Manusia tidak bisa menulis jika tidak pernah mendengar kabar sesuatu dan melihat sesuatu.

Apa yang bisa dikabarkan jika telinganya tuli dan tidak pernah mendengar apapun. Apa yang bisa disuratkan, jika sepanjang waktu, penglihatannya tertutupi matanya sendiri.

Di sini. Seseorang bisa berbicara adalah ketika ia mendengar kabar dan mampu melihat. Begitu juga dengan menulis. Mustahil seseorang bisa menulis jika ia tidak memiliki pendengaran dan penglihatan yang baik.

Di era lama. Berbicara adalah tugasnya para nabi. Sebab yang sanggup bertemu dan melakukan perjumpaan dengan Tuhan hanyalah para nabi. Maka begitulah. dalam kisah yang sulit dicarikan sumber literaturnya. Perbuatan berbicara konon mula mula adalah perbuatan para nabi. Hal itu disebabkan karena para nabi sanggup melakukan perjumpaan dengan Tuhan. Dan itu dimungkinkan karena konon mereka memiliki penglihatan dan pendengaran yang teramat sangat halus dan seksama. Sehingga para nabi kemudian memiliki kesanggupan untuk dan melihat mendengar firman Tuhan ketika Tuhan berkata-kata.

Lalu setelah mendengar dan melihat firman, para nabi kemudian berlari pada kaumnya, untuk berbicara dan mengabarkan firmanNya. Ada pun orang-orang terdekat yang sanggup mempercayai dan memahaminya, begitu mendengar kabar berita yang disampaikan segera mengingat dalam hati dan pikiran.

Hal itu konon berlangsung secara alami dan perlahan. Hingga diam-diam di waktu-waktu yang hening. Mereka kemudian menuliskan ingatan-ingatan suci tersebut ke dalam rangkaian huruf-huruf, kata-kata dan kalimat, sebagai pengingat, dzikir, pelajaran bagi diri sendiri, serta generasi berikutnya, agar hidup terus berjalan sesuai dengan ingatan-ingatan lama. Yakni selaras dengan kabar berita yang telah mereka dari salah seorang diantara mereka yang telah berjumpa dengan Tuhan yang Maha suci.

Di sini. Menulis atau menjadi penulis (katib) sepertinya jauh lebih mudah ketimbang berbicara atau menjadi para pemberi kabar(baca: menjadi nabi). Sebab menulis hadir sebagai perilaku profan yang mahlukiyah. Hadir ketika seseorang sanggup mempercayai dan mendengar kabar yang dibawa para nabi. Meski dalam kemudahannya, tetap saja kita mesti mengisnsyafi bahwa ia tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Itulah sebabnya dalam kemudahan apapun, konon menulis tetap dilarang bagi khalayak. Sebaliknya mendengar dan membaca jauh lebih disarankan dan diutamakan.

Dalam ingatan suci lama dikatakan: “sesungguhnya diam, mendengar dan membaca itu jauh lebih baik dan dinilai “emas” ketimbang berbicara dan menulis itu sendiri.”

Manusia lama menyadari bahwa siapapun yang berbicara dan memberi kabar haruslah telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang Maha kalam. Jika tidak dan belum, maka prasangka baik, percaya, mendengar itulah, yang jauh lebih diutamakan ketimbang berbicara itu sendiri.

Ini bisa merujuk banyak kisah. Dalam Yahudi misalnya. Setelah bertemu dan mendengar firman Tuhan di semak-semak yang terbakar. Musa lalu “berbicara” pada saudaranya Harun, bahwa ia telah diperintahkan Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dari cengkraman Fir’aun.

Harun yang memahami kebenaran Musa menjadi gemetar dan ketakutan. Sehingga Musa menenangkannya. “saudaraku, sesungguhnya aku juga takut sepertimu. Akan tetapi ketahuilah olehmu, bahwa Tuhan sesungguhnya selalu bersama kita.” kata-kata Musa membuat hati Harun pun menjadi tenang.

Baca juga:  Negara dan Filantropi Budaya

pertemuan Musa dengan Tuhannya kemudian dikisahkan Harun pada orang-orang Israel yang sanggup mempercayai. Orang-orang terdekat mereka mengingatnya lalu menuangkannya ke dalam tulisan sebagai kisah suci sekaligus pelajaran suci bagi generasi setelahnya. Sama seperti kisah Isa al-Masih, Budha Gautama, Sri Rama dalam Ramayana, Pandawa dalam Mahabarata atau pun al-Quran al-Karim dan Hadits.

Dulu al-Quran tidak seperti yang terlihat di hari ini. Jauh di hari hari ketika firman itu turun, al-Quran sesungguhnya tidak dan belum berwujud tulisan dan kitab, melainkan hanya kata-kata: suara, kalam, ayat, tanda. Firman adalah kata-kata Tuhan. Dan Muhammad ibn Abdullah adalah salah satu manusia yang sanggup mendengar firman Tuhan yang Maha suci dan Maha halus.

Tiapkali usai mendengar firman-firman Allah, Muhammad berlari mendatangi para sahabat yang sanggup mendengar dan mempercayainya. Lalu di hadapan mereka, ia berbicara, menceritakan firman Tuhan yang telah didengarnya.

Sahabat-sahabatnya duduk khusyuk. Mendengarkan kabar yang dibawa Muhammad. Mengingatnya, dan diam-diam menuliskannya ke dalam tulisan sebagai pengingat. Medio abad kedua hijriyah orang-orang yang bisa memahami dan masih memiliki ingatan-ingatan suci akan firman-firman tersebut, kemudian menyusunnya menjadi satu kesatuan yang kelak di kemudian hari, menjadi sesuatu yang disebut sebagai Mushaf.

Sampai di sini. Apa dilakukan dan dialami para sahabat Muhammad itu, sebenarnya memiliki pemerian atau padanan yang sama dengan apa yang dilakukan dan dialami para rishi, saat mereka menuliskan Weda atau pun para pengikut Budha atas dengan Tripitaka dan Kitab Sutranya. Di mana apa yang mereka tulis bukan lain adalah ingatan-ingatan suci, yang meraka dapatkan dengan, dan dari hati yang suci, dari dan dengan pendengaran yang suci, yang keluar dari bibir salah seorang dari mereka, yang sanggup melihat dan mendengar firman Tuhan yang Maha suci.

“Lantas bagaimana dengan menulis dalam tradisi Jawa?”

Di sini, dalam soal tulisan dan perbuatan menulis, Islam, Yahudi, Hindu, Budha atau pun Kristen juga Jawa lama, sejatinya memiliki runut kronik yang sama.  Bahwa ia adalah tradisi suci yang konon mesti lahir, bermula dari batin yang suci, juga telinga yang suci. Yakni telinga yang telah mendengar kabar dari mereka yang telah mendengarkan kalam dia yang Maha suci.

Itulah sebabnya dalam Islam, berbicara dan menulis adalah tradisi syuhudiyah. Tanda kebersaksian. Sesuatu yang menurut orang Jawa, ia disebut sasahidan. Bahwa nulis itu adalah tanda kebersaksian. Tanda utama bagi siapapun yang telah memiliki pengetahuan yang sejati.

Menulis adalah tanda kebersaksian. Ia adalah pralambang sekaligus lambangbukti mata yang menunjukkan seseorang yang telah melihat dan mendengar kata-kata dia yang Maha Tinggi. Mengerti apa sesungguhnya yang mesti disaksikan dalam hidup itu. Sungguh pun semua itu ia alami tidak secara langsung dari Tuhan melainkan lewat para winasis.

Di sini. Dalam keinsyafan yang begini, maka “haram” hukumnya jika seseorang berani berbicara dan menuliskan sesuatu, sedang ia belum sungguh-sungguh melihat dan belum sungguh-sungguh mendengar firman Tuhannya.

Hanya saja keharaman itu kemudian menjadi teramat sangat berat bagi manusia. Sebab tidak semua manusia sanggup melihat dan berjumpa dengan Tuhannya secara langsung. Sementara di sisi yang lain manusia juga tetap ingin berbicara dan menulis sebagai wujud dari kebersaksiannya akan hidup yang ada dan hidup yang dijalaninya.

Dari itu keharaman menulis dan berbicara konon diturunkan drajatnya. Bahwa semua manusia boleh berbicara dan menulis dengan satu syarat, ia melakukannya tidak boleh asal-asalan, melainkan harus dengan niat dan tujuan yang suci. Sebab berbicara dan menulis adalah sesuatu yang suci dan sakral.

Di Barat, gejala penurunan “keharaman” berbicara dan menulis ini. tertangkap dan terlahirkan dalam tradisi referensial literanik. Yang itu sampai hari ini tradisi tersebut bahkan terus dilakukan dan menjadi tradisi jurnal akademik di berbagai belahan negeri. Sehingga di ruang akademik, siapapun yang berbicara dan menulis, ia tidak akan ditanya apapun kecuali apa sumber kitab dan buku acuannya yang digunakan saat ia berbicara dan menulis.

Baca juga:  Al-Biruni, Sang Eksperimentalis Besar

Sementara tradisi Islam pengradasian drajat keharaman hukum tersebut terlihat dengan hadirnya konsep amanah wara’, juga metode tahqiq, tashih dan tarjih dalam soal sanad dan matan. Itu semua dilakukan tidak lain dimaksudkan untuk membendung dan mencegah terjadinya “tsunami kepedihan” yang lahir ketika manusia kemudian berbicara sesukanya dan menulis dengan sesukanya pula.

***

Di Jawa- Ronggowarsito, pada akhir abad 17, agaknya sangat menginsyafi hal tersebut, sehingga di serat wirid Hidayat Djati, ia mengungkapkan, bahwa berbicara dan menulis, sesungguhnya sama tak berbeda dengan meniti wot sirothol mustaqim. Berbicara dan menulis adalah pekerjaan begitu halus kadya mowot rikma, kang kabagi pitung pitara. Seperti rambut yang dipecah menjadi tujuh bagian.

Maka begitulah, di telinga saya, Ronggowarsito seakan berkata, “ngger, jika kau tidak sepenuhnya bisa melihat, serta sanggup mendengar hal yang halus dan yang terhalus. Maka diam, membaca dan mendengar. itu seribu kali jauh lebih baik. ketimbang ketika kau berbicara dan menulis. Sebab menulis dan berbicara sesungguhnya bukanlah apapun. selain justru hanya kehancuran belaka. jika itu dilakukan oleh dia yang sama sekali belum melihat dan mendengar perkataan Tuhan.”

Membaca ingatan hati Ronggowarsito. Saya menjadi sedih terutama ketika merenungi perbuatan menulis di hari ini. Di mana huruf dan kata-kata, berbicara atau pun menulis  menjadi hal yang begitu diremehkan dan disepelekan. Sehingga terlihat betapa banyak hal-hal agung yang penting itu pun kemudian membusuk dan menghilang.

saya tidak mengerti bagaimana bisa sesuatu yang suci dan ilahiah kemudian bisa menjadi sesuatu yang bahkan begitu nyaris tidak memiliki arti apapun. Saya justru sempat bertanya-tanya. Mungkinkah semua itu bermula ketika tiap orang di hari ini telah merasa sanggup melihat dan mendengar firman Tuhan, sehingga tiap orang di berbagai tempat kemudian berbicara dan menulis sesuka suka hatinya?

Lama saya bertanya-tanya. Namun hingga tahun terus berubah, kegelisahan itu tidak juga saya temukan jawabannya.

Belakangan, di hari-hari hari yang letih dan lelah. Saya kemudian mengerti satu hal. Bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang begitu mudah merasa sanggup berbicara dan sanggup menulis. Bahkan dalam situasi ketika mereka sama sekali tidak mengerti apapun yang mereka katakan, dan tidak mengerti apa yang mereka tuliskan.

Ini hal yang mengerikan. Sebab berbicara dan menulis makin bukan keber-ingat-an apapun. Berbicara dan menulis terasa makin bukan keber-saksi-an akan apapun, selain aduh sengau dari sekelompok manusia yang hidup dengan begitu tanpa mata dan tanpa telinga.

Apa dan Bagaimana itu hidup. Agaknya telah terlupakan bersamaan ketika manusia mulai meremehkan huruf dan kata-kata. Bersamaan ketika manusia mulai berbicara dan menulis sesuka sukanya. Dan itu tak berbeda dengan hiruk pikuk suara hewan di rimba raya.

Dalam sebuah refleksi, seorang murid berujar dengan begitu tanpa suara. “O apa arti sebuah tulisan? Apa arti perbuatan menulis dan menyampaikan kabar? Jika di hari ini, dunia dan hidup berjalan tanpa mau mengerti arah asal dan mengerti arah kembali.

Itulah sebabnya mungkin. Kata Jancuk dalam benak seseorang kemudian bisa tiba tiba hadir. menjadi indah. Dalam situasinya yang paling tidak termengerti bahwa Jancuk itu hanya sekedar celeng dan celeng. Dan celeng nda bisa ngomong apapun selain satu kata. Nguik, nguik, dan nguik. Akhirnya. Jancuk dan wallohu a’lam.[]

sejarah menulis

Tidak ada artikel lagi