Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang perubahan sosial

Dunia memang hampir tak punya batas. Kecuali sedikit sisa sekat primordial di wilayah pribadi, seolah semua hal di dunia ini bisa ditembus oleh segudang kemajuan teknologi, mulai dari telepon seluler hingga internet.

Dunia juga terus berubah. Seperti itulah kodratnya. Globalisasi kian kencang menerobos masuk, mengulik sisi-sisi pribadi manusia, dan mampu menjebol sekuat apa pun upaya isolasi masyarakat. Lewat penetrasi layanan telekomunikasi, terutama seluler, kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dibuat jadi berubah.

Dan, manusia yang bijak melulu menjadikan perubahan hidupnya ke arah positif. Artinya, penetrasi layanan telekomunikasi dimanfaatkan untuk memperbaiki kehidupan sosial-ekonominya. Berbisnis bisa jadi pilihan. Dari sisi sosial, penetrasi layanan seluler mampu merajut hubungan sosial antarmanusia di republik ini yang kini masih centang-perenang. Komunikasi antarmanusia lintas batas dan identitas bisa dijembatani lewat peranan alat-alat telekomunikasi.

Dunia, meminjam istilah Thomas L. Friedman dalam aspek yang lebih sempit, bakal semakin datar. Jarak fisik bukan lagi masalah. Tombol-tombol mungil di telepon seluler (ponsel) sudah bisa membereskannya.

Kehidupan sosial-ekonomi masyarakat pasti akan terkena imbas dari penetrasi sektor telekomunikasi, khususnya di segmen seluler. Penetrasi seluler kian tak tertahankan, semakin meraksasa. Lalu bagaimana kita mesti bersikap? Tentu saja, jika kita mampu mengelolanya dengan baik, semua itu akan menjadi modal penting bagi kita untuk melewati turbulensi finansial global.

 

* * *


Mungkin hampir tak pernah terlintas di benak Widji Utami bisa makin leluasa mengakses layanan telekomunikasi. Dia bisa dibilang mewakili generasi tua yang tidak terlalu faham teknologi. Maklum, nenek berusia 65 tahun itu tinggal di wilayah pedesaan, di Kawedanan, Gorang-gareng, Magetan, Jatim, sekira satu jam 30 menit dari pusat kabupaten.

Di wilayah itu, beberapa warsa silam, urusan telekomunikasi, apalagi seluler, adalah urusan sulit dan prioritas nomor buncit. Gaya hidup masyarakat di sana tergolong konvensional. Jika di Bandung, misalnya, sekarang sedang tren celana model ketat, mungkin tren itu baru menjalar ke kawasan itu setahun atau bahkan dua tahun kemudian.
Widji adalah istri pensiunan TNI. Tak mau berpangku tangan di masa tua, dia aktif mencari penghasilan tambahan dengan menjual pakaian. Konsumennya adalah tetangga sekitar. Sistem penjualan dilaksanakan dengan cara kredit.

Lantas, apa hubungan Widji, bisnis sampingannya, dan akses telekomunikasi? Bagi warga perkotaan yang menjadikan layanan telekomunikasi sebagai santapan sehari-hari, mungkin yang dirasakan Widji bisa dianggap berlebihan. Tapi, tidak demikian yang benar-benar dialaminya. “Saya pakai telepon ini untuk sekadar bisnis kecil-kecilan. Jualan pakaian saat kumpul-kumpul, arisan. Di arisan itu, saya menjual baju. Kan di sana ketemu banyak orang. Kadang janjian dulu lewat telepon, ” ujarnya dalam bahasa Jawa kepada saya, 3 Desember lalu.

Baca juga:  Pertanyaan Seputar Kebudayaan

Ya, Widji sudah mulai memanfaatkan dan menikmati telepon seluler. Dari telepon seluler itu, dia seolah menyambung kembali hal-hal yang selama ini berada di luar jangkauannya. Bisnis sampingan menjual pakaian menjadi buktinya. “Telepon ini lumayan banyak membantu. Pikiran saya sederhana saja, bagaimana usaha sampingan ini hasilnya bisa cukup untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar pulsa telepon. Pensiunan suami ditabung saja, untuk kebutuhan lain yang mendadak dan memberi hadiah ke cucu-cucu,” jelas Widji.

”Apa tidak berat membayar tarif telepon seluler?” tanya saya.

”Sudah murah-murah, Mas, sekarang,” ujarnya lantas tertawa memperlihatkan gigi-giginya yang masih terawat rapi di usia tua.

Secara formal, Widji memang tak pernah mengenal pengetahuan financial planning. Tapi, dari penjelasannya, meski diutarakan dengan bahasa awam, dia sangat memahami seluk-beluk cara pengelolaan keuangan.

Dibantu ponsel mungil miliknya yang mungkin bagi masyarakat perkotaan sudah termasuk ponsel ketinggalan zaman, Widji mengontak pedagang pakaian di pasar induk di kota. Tawar-menawar dan sekadar penjajakan. Sejumlah pilihan produk, mulai dari daster, kemeja anak-anak, kebaya, hingga kain jarik, dibicarakan. Meski demikian, transaksi final tetap dilakukan dalam pertemuan fisik. Maklum, tak ada istilah transfer via bank maupun pencairan cek bagi masyarakat desa seperti dia.

Widji mengemukakan, ponsel sangat membantu dirinya, meski tidak sepenuhnya. Minimal dia bisa menghemat ongkos pergi-pulang ke pasar induk di pusat kota untuk pembicaraan awal. Dia baru ke pasar induk saat transaksi final yang mengharuskan pembayaran dan pengambilan barang. “Usaha sampingan ini memang mboten gedhe (tidak besar). Tapi, ya lumayanlah,” tuturnya.

Selain untuk kepentingan bisnis kecil-kecilan alias kepentingan ekonomi, akses telekomunikasi memungkinkan Widji merajut hubungan sosial. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang tua sangat takut kesepian. Widji yang dua anaknya sudah hidup di luar kota, dan kini dia hanya tinggal bersama suaminya, sungguh menjadikan komunikasi dengan orang lain sebagai kebutuhan primer. Sunyi-sepi sendiri memang menjadi hantu paling menakutkan bagi warga di usia senja.

Nah, lewat akses telekomunikasi itulah, Widji menjalin hubungan dengan anak-cucu serta kerabat, khususnya yang tinggal di luar kota. “Kalau hubungan dengan tetangga dan sesama pensiunan di sekitar sini ya harus tetap bertemu muka. Memang tidak afdhol rasanya kalau hanya bicara lewat telepon,” ujarnya.

Ya, meski teknologi telekomunikasi seolah mampu “membereskan” jarak manusia satu dengan manusia lainnya, ada satu ikatan yang agaknya tak bisa diselesaikan lewat telepon. Itulah mengapa akhirnya puluhan juta orang merelakan diri berpeluh keringat di jalan raya, tertahan di kemacetan jalan saat harus mudik lebaran. Ada rasa yang tak bisa dibereskan lewat telepon. Hal itu menjadi bukti bahwa teknologi tidak sepenuhnya mampu menembus batas humanisme dalam pribadi manusia.

Baca juga:  Ruang, Tempat, dan Sebuah Identitas

Ini sekaligus membuktikan kebenaran tesis futuris paling masyhur, John Naisbitt, tentang adanya global paradox, selalu saja ada ruang bagi kita untuk menghadirkan nilai dan cara pandang lama di tengah peradaban manusia yang lajunya seolah tak terkejar. Artinya, telekomunikasi masih belum sepenuhnya mampu meniadakan pertemuan fisik antarmanusia.

Widji adalah satu potret dari sekian banyak warga masyarakat yang terkerek kehidupan sosial-ekonominya setelah menikmati layanan telekomunikasi, khususnya di segmen seluler. Di republik ini, penetrasi sektor telekomunikasi, terutama seluler memang sangat kuat. Presiden Direktur PT Excelcomindo Pratama Tbk Hasnul Suhaimi pernah menyebut, untuk pasar wireless, penetrasi pasar di Indonesia tergolong paling cepat di dunia. Data World Cellular Information Service menyebutkan, tingkat penetrasi seluler di Indonesia pada 2006 baru mencapai 25 persen. Namun, setahun kemudian sudah mencapai 43 persen. Warsa 2008, penetrasi segmen seluler diprediksi terus bertambah pada tahun-tahun mendatang. Artinya, bakal semakin banyak warga yang sudah bisa dan mampu menikmati layanan seluler. Apalagi, tarif telekomunikasi kian terkoreksi, sehingga sangat murah dan terjangkau khalayak.

Investasi dari para operator telekomunikasi juga terus mengucur. Sektor telekomunikasi bahkan menjadi salah satu favorit pengucuran kredit bank, menjadi sektor yang masih sangat feasible di tengah krisis finansial global seperti saat ini. Dari tahun ke tahun, belanja modal para operator telekomunikasi terus mendaki. Hal itu tentu saja berpengaruh signifikan terhadap perekonomian masyarakat.

Tahun 2008 saja, misalnya, belanja modal PT Excelcomindo Pratama Tbk mencapai kisaran USD 1,2 miliar, dan pada tahun 2009 dialokasikan sebesar USD 700 juta. Alokasi belanja modal yang cukup besar juga dilakukan oleh operator-operator telekomunikasi lainnya.

Itu semua membawa perubahan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat ke arah yang lebih baik. Gerbang kehidupan yang baru, lengkap dengan optimisme yang membuncah, mengiringi gerak masyarakat setelah layanan telekomunikasi makin murah dan luas.

Dan, tentu saja tak hanya masyarakat pedesaan seperti Widji Utami yang diuntungkan. Kaum urban juga menangguk untung serupa.


* * *

 

Farida Agustin adalah sosok yang mewakili masyarakat urban kekinian. Dia lulusan STIE Malangkucecwara, Malang, dan kini menjadi praktisi perbankan di Bojonegoro, Jatim. Dia sosok wanita yang secara pendidikan sangat maju, baru berkeluarga dengan satu putra. Kini, dia punya karier yang lumayan mapan di sebuah bank.

Mungkin, bagi dia, fungsi dari layanan telekomunikasi sudah jauh berbeda daripada yang dirasakan Widji Utami. Jika Widji, nenek dari kawasan pedesaan di Magetan, Jatim, bisa disebut sebagai pemakai ponsel ”tradisional”—hanya untuk telepon alias hanya digunakan layanan standarnya—Farida sudah lebih jauh dari itu.

Dengan ponsel yang terbilang canggih, Farida mewakili bentuk hubungan komunikasi lewat alat telekomunikasi dari masyarakat urban. Tidak hanya sekadar untuk saling berkirim pesan pendek dengan kolega-koleganya, Farida menggunakan semua fasilitas dari akses telekomunikasi canggih yang dia miliki. Internet banking, layanan internet (email hingga browsing), dan berbagai fasilitas lainnya dia gunakan.

Baca juga:  Memorat

Dia juga menikmati dan menggunakan teknologi 3 G. ”Kalau kangen anak waktu sedang kerja langsung telepon saja dan kita bisa melihat dia sedang ngapain,” ujarnya bercerita kepada saya, 15 Desember lalu.

Farida paham betul bahwa akses telekomunikasi yang kini kian mudah didapat, karena tarifnya sangat murah dengan jaringan yang kian merata, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Tentu saja untuk hal-hal yang positif.

Dari berbagai fasilitas yang dia miliki, Farida hidup dengan lebih praktis. Sementara dari sisi sosial, rajutan komunikasi dengan teman-temannya yang lintas batas profesi dan latar belakang membuat interaksi dia dan komunitasnya makin intens dan berkualitas.

Meski sudah berkeluarga, sebagai ibu muda Farida sama dengan cermin kaum urban lainnya. Berkomunikasi dengan kolega-koleganya untuk membahas permasalahan-permasalahan terkini menjadi semacam ritual wajib yang setiap hari dilaksanakan. Bahkan, sampai saling berkonsultasi untuk masalah-masalah pribadi—lazim dikenal dengan sebutan curhat—juga kerap dilakukan lewat ponsel.

Dia mengaku pemahaman antara dirinya dan para koleganya bisa dibangun dengan sering berkomunikasi. Perbedaan latar belakang—suku, agama, ras, dan golongan—akhirnya bisa dijembatani. Saling pemahaman pun muncul, sehingga perbedaan-perbedaan sepele yang mungkin dapat memicu konflik bisa saling dimengerti.

Manfaat berupa rajutan pemahaman antarmanusia itu baru dalam skala kecil, yaitu Farida dan teman-temannya. Namun, secara sosiologis, jika kita mampu membingkainya secara besar dalam manusia Indonesia, tentu manfaatnya sangat berantai. Semakin intens berkomunikasi—dan salah satunya bisa dijembatani dengan pembicaraan lewat ponsel—akan makin memudahkan tumbuhnya pemahaman bersama terhadap pentingnya harmonisasi sosial dalam hidup ini.

 

* * *

Itulah renik lengkap bagaimana penetrasi seluler; dengan penurunan tarif dan perluasan jaringan; mampu mengubah kehidupan sosial. Ke depan, tentu selain tarifnya yang kian murah, para operator telekomunikasi pasti juga akan bekerja keras meningkatkan kualitas layanan. Sesama operator telekomunikasi tidak menutup kemungkinan akan saling bersinergi dalam pemanfaatan alat-alat penunjang, seperti menara BTS.

Semua fasilitas telekomunikasi itu akan didapatkan masyarakat dengan murah dan mudah. Beberapa hal yang kini mungkin masih menjadi kendala di industri telekomunikasi, khususnya seluler, bisa dipastikan akan bisa diantisipasi oleh para operator telekomunikasi. Imajinasi tentang dunia yang semakin datar—sekali lagi meminjam istilah Thomas L. Friedman—kian nyata.

Gerbang kehidupan sosial-ekonomi yang lebih baik dan penuh optimisme memang mestinya bisa dicapai dengan memaksimalkan peranan sektor telekomunikasi. Semoga…[]

Apik 1 - Seluler

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi