Sendang Kapit Tambang

Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan etnografis tentang introduksi tambang merusak solidaritas masyarakat dan materialitas kebudayaan

Air dan Solidaritas

agi masyarakat Dukuh Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, air adalah urusan yang tidak mudah, terutama bila musim kemarau. Untuk mendapatkan air mereka harus menempuh perjalajanan jauh, naik turun bukit. Oleh karena itu mengambil air adalah aktifitas tersendiri. Alat yang digunakan untuk mengambil air juga bermacam-macam sesuai zaman. Wadah air yang paling awal adalah bambu yang memiliki rongga yang cukup besar dan diberi penutup dengan jantung pisang.  Era selanjutnya orang menggunakan bleg, yakni kaleng bekas minyak goreng yang berbentuk persegi panjang, dan yang paling terkini adalah jirigen pelastik dengan berbagai ukuran. Setiap laki-laki yang mengambil air akan membawa dua wadah dengan pikulan sebilah bambu. Ibu-ibu dan Anak-anak biasanya hanya membawa satu wadah, yakni klenting atau kendi, jadi tidak menggunakan pikulan.

Mbah Karto (70 tahun) mengisahkan pengalamannya mengambil air pada sekitar tahun 1955. Waktu itu kemarau panjang sehingga dia mengambil air hingga Kali Jeromah yang jaraknya dari desa sekitar 3 km. Banyak yang mengambil air di kali tersebut, karena berasal dari beberapa desa. Mereka harus antri.  Mbah Karto mendapat antrian ke 150. Karena antrian panjang, biasanya orang-orang meletakkan bleg di tempat mengantri, kemudain mereka melakukan aktifitas lain, seperti mencari rumput di sekitar situ untuk pakan ternak.

Mbah Karto bercerita, bila dia datang ke kali, biasanya sudah banyak blag atau wadah air yang berjejer di sana, sementara tidak ada orang (karena sedang mencari rumput). Maka pak Karto akan mengisikan wadah air yang ada dibarisan depan terlebih dahulu sampai semua terisi, barulah dia mengisi bleg miliknya. Hal ini terjadi karena biasanya air yang mengalir di sendang itu sangat kecil sehingga bila sudah diambil oleh beberapa orang akan  butuh waktu berjam-jam untuk menunggu hingga cukup untuk diciduk kembali dan dimasukan ke wadah berikutnya. Hal semacam itu sudah menjadi kebiasaan sehingga tidak ada perasaan berat bagi siapapun yang melakukannya.

Menurut Mbah Karto tidak pernah ada orang yang berebut atau bertikai untuk mengambil air. Sekiranya akan mendapat air terlebih dahulu maka mereka akan berangkat seawal mungkin sehingga sebih leluasa. Mbah Marto mengaku sering berangkat ke sendang pagi-pagi sekali, bahkan bisa jam 3 pagi. Itupun baru dapat air setelah pukul 10. Pernah juga ada ibu-ibu yang berangkat ke sendang jam 12 malam. Si ibu itu melakukannya seorang diri, diam-diam di saat keluarganya dan warga desa sedang tertidur lelap. Si ibu bahkan berjalan tanpa alas kaki supaya tidak menimbukan bunyi ketika berjalan. Dia melakukan itu supaya tidak diketahui sehingga dia leluasa mengambil air.

Biasanya di kali orang hanya mengambil air, tidak mandi atau mencuci di sana. Air digunakan terutama untuk minum dan memasak, juga untuk minum ternak. Jaman dahulu orang sangat jarang mandi, bisanya cukup seminggu sekali atau bahkan kurang dari itu. Mencuci pakaian pun sangat jarang, apalagi orang dahulu hanya memiliki sedikit pakaian. Sarung saja hanya satu, sangat jarang ada orang yang punya dua atau lebih. Itu dilakukan demi menghemat air.

Apabila ada orang atau keluarga yang sedang punya gawe atau hajatan atau sedang ada seripah (orang meninggal), maka keluarga yang bersangkutan mendapat dispensasi untuk mengambi air terlebih dahulu, meskipun dia datang diurutan terbelakang. Urusan hajatan atau kematian bagi masyarakat adalah urusan bersama, bukan kepentingan pribadi semata. Dengan demikian setiap individu akan rela hati mengalah demi kepentingan bersama tersebut.

Mbah Marto punya kisah lain terkait solidaritas dan kebersamaan. Suatu hari ketika Mbah Marto (waktu itu masih muda) sedang mengambil rumput, dia menemukan sebatang pohon jeruk yang berbuah sangat lebat. Mbah Marto berniat memetik buah jeruk itu, tetapi dia tidak membawa perlengkapan untuk membawa buah-buah itu pulang ke rumah.  Lalu Mbah Marto berfikir, dia akan pulang dulu ke rumah dan mengambil kerangjang agar bisa memetik jeruk sebanyak-banyaknya. Sebelum pulang, Mbah Marto menandai pohon itu dengan tali yang dibuatnya dari rumput. Sesampai di desa, mbah Marto segera mengambil wadah dan langsung kembali ke hutan untuk menemui pohon jeruk yang telah ditandainya itu. Mbah marto sengaja tidak menceritakan tentang keberadaan pohon itu kepada teman-temannya dengan maksud agar dia sendirilah yang menikmati pohon temuannya itu. Akan tetapi betapa kecewanya Mbah Marto, sesampainya di tempat itu dia tidak lagi melihat pohon jeruk. Mbah Marto hanya menemukan seuras tali dari rumput yang tadi dia ikatkan di batang pohon. Pohon jeruk yang berbuah banyak itu sudah menghilang, Mbah marto pun pulang dengan keranjang kosong. “Itu karena sifat serakah saya, jadi ya tidak dapat apa-apa”, kenang Mbah Marto sambil tertawa. “Mestinya orang itu harus ingat orang lain, rejeki itu dinikmati bereng-bareng”.

Pak Kiman (46) membenarkan bahwa orang di desa biasa saling membantu, termasuk dan terutama dalam urusan air. Jika kita sedang sakit atau punya halangan lain maka tetangga secara otomatis, tanpa diminta, akan mengambilkan air buat kita. Oleh karena itu, menurut Pak Kiman, orang-orang di sini jika sedang sakit justru sering merasa segan atau malu, atau “tidak enak” dengan tetangga. Walau sakit, mereka ingin tetap terlihat sehat supaya tidak merepotkan tetangga. “Bukan hanya soal air, bahkan sapi kita pun diopeni oleh tetangga, termasuk dicarikan rumput, jadi kalau sedang sakit jadi berusaha harus segera sembuh, kan tidak enak dengan tetangga. Hal seperti itu masih terjadi hingga sekarang”, kata pak Kiman.

Pak Kiman sudah mengambil air sejak usia 10 tahun, sekitar tahun 80-an. Biasanya dia melakukannya sepulang sekolah sambil menungembala kambing dengan teman-temannya. Di sana pun mereka saling membantu. Ketika satu anak mengambil air, dia akan meminta tolong temannya untuk menjaga kambing-kambingnya, begitu juga sebaliknya, mereka akan melakukan secara bergantian. Mengembala kambilng adalah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi Pak Kiman kecil. Dari sanalah dia bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-temannya, juga dengan alam sekitar.

Pak Kiman mengisahkan bahwa dalam mengambil air ada juga yang kreatif, misalnya dengan membuat pikulan yang menimbulkan bunyi-bunyian. Caranya adalah, pikulan yang terbuat dari dua bilah bambu itu diberi sekat dengan potongan batok kelapa pada tengahnya. Ketika air diangkat dan bergoyang-goyang maka bilah-bilah bambu itu akan menimbulkan bunyi gesekan yang khas. “Itu sekedar untuk menambah semangat waktu memikul, juga sebagai bahan bercandaan dengan teman-teman”, kenang pak Kiman.

Dari kisah mbah Karto dan pak Kiman di atas, tampak bahwa budaya antri dan solidaritas bukan barang asing bagi warga desa. Hal tersebut terbentuk dan merupakan respon mereka  terhadap lingkungan, dalam hal ini persoalan sulit air. Karakter komunitas yang mengutamakan kebersamaan dan kedekatan pada alam membuat mereka mampu bertahan dalam keadaan sesulit apapun.

Ritual Dandan Kali

Pagi itu, sekitar pukul enam, hari Jumat Pon 30 septembr 2016, bertepatan dengan tanggal 27 Zulhijjah 1437 H, belasan laki-laki dari desa Sidomulyo berjalan bersama menuju kali Reno yang letaknya sekitar 300 meter dari desa. Mereka membawa cangkul dan parang yang akan digunakan untuk membersihkan lingkungan sekitar kali Reno. Wajah para lelaki itu tampak sumringah, langkah mereka mantap dan bersemangat. Di sepanjang jalan mereka bercakap-cakap dan bercanda ria. Sesampai di kali, mereka langsung bekerja. Ada yang mencangkul rumput dan menebas semak-semak yang menghalangi  jalan menuju kali, ada yang merapikan tebing pingiran kali yang sedikti longsor, ada pula yang memunguti sampah dari dalam kali supaya tidak menghalangi mata air. Sekitar tiga jam kemudian pekerjaan itu pun selesai. Lalu datang berapa perempuan membawa barbagai macam ugo rampe, seperti nasi dan lauk-pauk, buah-buahan seperti pisang dan jeruk, serta aneka jajan pasar,  yang akan digunakan untuk kenduri Dandan Kali. Mereka menggelar tikar di salah saru lokasi yang agak datar di tepi kali, tepat dibawah pohon bulu yang besar dan rindang. Udara di sekitar tempat itu terasa sejuk dan amat segar.

Orang-orang duduk bersila di atas tikar, melingkari berbagai sajian yang tadi dibawa dari rumah. Lalu Modin membaca doa-doa dalam bahasa Arab bercampur bahasa Jawa. Inti dari doa itu adalah mengucap terimaksih dan memohon keselamatan terkait keberadaan kali yang selama ini sudah menjadi sumber kehidupan warga desa. Pada jaman dulu doa dilakukan dengan cara murni Kejawen, yakni memohon kepada Danyang Semoro Bumi, tetapi sekarang dipanjatkan kehadirat Allah swt.

Usai berdoa, mereka pun makan bersama sambil berbincang-bincang. Umumnya mereka hanya makan ala kadarnya saja, bahkan ada yang cuma mencicipi, sehingga banyak makanan yang masih tersisa. Setelah itu mereka berkemas-kemas untuk kembali ke desa dengan membawa makanan yang tersisa. Mereka juga meninggalkan sedikit sesaji berupa daging ayam dan bunga-bungan di pinggir kali itu, yang diletakan di atas selembar daun pisang. Acara dandan kali dilanjutkan di salah satu rumah warga. Ritual yang dilakukan hampir sama, mereka berdoa dipimpin oleh pak modin yang sama, lalu makan bersama.

Dandan Kali adalah ritual tahunan yang dilakukan warga pada setiap Jumat Pon terakhir bulan Zulhijjah. Di masa lalu kegiatan ini selalu bertepatan dengan akhir musim kemarau (mongso kepapat). Pak Kiman mengisahkan bahwa dahulu setiap kali diadakan Dandan Kali maka setelah itu pasti turun hujan, setelah sekian lama musim kemarau yang kering. “Jadi kami biasanya akan bersiap-siap memperbaiki atap dan talang rumah bila menjelang dandan kali, karena hampir bisa dipastikan akan segera turun hujan yang lebat, itu berdasarkan pengalaman saja”, kata Pak Kiman. Akan tetapi beberapa tahun terakhir ini musim sudah berubah, tidak ada lagi kejelasan kapan musim hujan akan berakhir dan musim kemarau akan datang. “Baru tahun ini kita mengadakan Dandan Kali pada musim hujan, biasanya jumat pon terakhir Zulhijjah itu pasti masih dalam musim kemarau” kata pak Kiman.

Upacara Dandan Kali adalah bagian penting dari relasi komunitas dengan sumber air. Di sini mereka melakukan penghormatan pada alam sekaligus konsolidasi komunitas. Ritual ini setara dengan beberapa ritual lain yang mereka lakukan setiap tahun, seperti ritual tanam Gumbeltan yakni semacam ritual untuk mengucap terimakasih kepada hewan dan tumbuhan yang telah banyak membantu kehidupan mereka sebagai petani. Demikian pula dengan Upacara Krasulan yang merupakan upacara menitip benih pada Dewi Sri, sekaligus  untuk mengucap maaf kepada hewan yang telah disakit dan digunakan tenaganya untuk pertanian, juga pada tanaman yang telah disakiti pada saat pengolalahan lahan. Simbol yang digunakan adalah ketupat dan lepat, maknanya maaf atas semua kesalahan (kelepatan). Selain itu ada juga kenduri yang dilaksanakan khusus untuk menghormati hewan-hewan penghuni lereng Merapi. Kenduri ini dilakukan setiap bulan Suro.

Kalau masyarakat setempat menyebut isitilah “kali” maka jangan dibayangkan itu sebuah sungai yang besar dengan arus yang deras. Kali yang mereka maksud itu terkadang hanyalah mata air kecil yang membentuk sebuah genangan berdiameter satu hingga tiga meter. Kadang mereka juga menyebutnya dengan istilah “sendang”. Tapi sekecil apapun mata air itu sangat lah berharga bagi mereka yang tinggal di desa yang berjarak 4 km dari puncak Merapi. Beberapa sendang itu memiliki semacam “juru kunci” yakni orang yang bertugas secara turun temurun menjaga marwah suingai itu dengan doa dan sesaji. Mbah Marno, nama juru kunci itu, setiap tahun dia menyemblih ayam untuk dipersembahkan kepada Kyai Sapu Jagad sang pemilik air.

Biasanya masyarakat akan menggunakan kali yang terdekat dengan pemukiman mereka, namun apabila kali terdekat itu airnya mulai menyusut (asat) akibat kemarau, maka mereka akan beralih ke kali berikutnya yang paling mudah untuk dijangkau. Adakalanya jarak ke kali A itu dekat, tetapi akses jalan sangat sulit karena jurang yang dalam atau tebing yang terjal, maka mereka akan memilih kali B yang sedikit lebih jauh tetapi akses jalan lebih mudah. Mbah Marto dan Pak Kiman mengatakan bahwa kali yang terdekat dengan tempat mereka adalah Kali Reno dan Kali Lumbang, maka mereka biasa mengambil air di kedua kali itu. Bila Kali Reno dan Kali Lumbang airnya sedikit, maka mereka beralih ke kali Anyar. Pada tahun 1960 Mabh Karto bahkan pernah mengambil air hingga Kali Bebeng yang sangat jauh dari desa karena saat itu kemarau sangat panjang dan hampir semua sendang airnya sedikit atau asat.  Kali Bebeng adalah kali terbesar di kawasan tersebut, meski lokasinya sudah masuk wilayah Sleman, DIY.

Paling tidak ada tujuh mata air atau kali atau sendang yang biasa digunakan warga Tegalmulyo untuk keperluan hidup sehari-hari, yakni: Kali Lumbang, Tuk Biru, Kali Kandang, Kali Reno, Kali Anyar, Kali Putih, dan Kali Lumut.

Kali Lumbang, atau Kali Blumbangan, berada sekitar 300 meter dari pusat desa, posisinya berada di lereng atau perengan. Mata air merembes dari tebing yang dipenuhi akar-akar pohon. Meski rembesannya sedikit, tetapi selama ini belum pernah kering atau habis meski di musim kemarau panjang. Orang jaman dahulu memahat tebing berair itu sehingga rembesan itu mengucurkan air yang lebih banyak. Kali Lumbang sempat mati karena longsor waktu terjadi erupsi 2010. Akan  tapi bisa mata air bisa dihidupkan kembali dengan cara menggali bagian-bagian yang tertutup material Merapi. Meski demikian, tidak semua mata air bisa diselamatkan, dari tujuh mata air, hanya tiga yang bisa dihidupkan kembali.

Air kali Lumbang selain untuk keperluan sehari-hari, juga sangat diajurkan digunakan untuk hajatan. Warga percaya hajatan yang menggunakan air kali Lumbang akan lebih berkah. Itulah sebabnya mereka juga sering memberi sesaji di kali tersebut. Warga juga mengatakan bahwa air kali Lumbang sangat enak bila untuk membikin wedang teh. Dahulu orang orang memilah-milah air yang mereka ambil dari beberapa sumber, masing-masing ditempatkan di wadah tersediri, tidak dicampur, misalnya genthong A untuk air dari kali Lumbang, genthong B untuk air kali Reno.

Saat ini jalan menuju kali Lumbang medannya sangat susah karena longsor dan terhalang batang pohon roboh. Umumnya warga percaya bahwa sungai itu harus dirawat, sebab jika tidak akan menimbul bencana, seperti kecelakaan. Pernah ada beberapa kasus orang terjatuh atau terpeleset ketika mengambil air di sana.

Kali yang posisinya paling utara adalah Tuk biru. Mata air ini disebut Tuk Biru karena airnya yang bening dan bersemu biru. Mata air ini juga tergolong  unik karena saat kemarau panjang  tidak kering, meski debit air sedikit. Dulu disebelah tuk biru ada batu yang berlubang yang dinamai lumbang luhung tempat mandi sebelum mengambil air. Air Tuk Biru oleh masyarakat dianggap bisa diminum langsung seperti air kemasan. Tuk Biru pernah dikeduk dengan maksud sudpaya bebit air bertambah,  tapi uapaya itu gagal karena ada batu besar di dasar kali.

Air Tuk Biru memang keluar sedikit-sedikit, tapi tidak berkuang dan mengalir terus. Kalau tidak diambil maka debit air juga akan tetap/ tidak bertambah. Itulah sebabnya ketika Tuk Biru bisa mengalir terus ketika dipasang pipa untuk dialirkan ke desa. Pipa yang dipasang dialirkan ke bak penampung utama, setelah bak tersebut penuh makan akan mengalir ke bak berikutnya yang letaknya agak di bawah. Warga yang rumahnya berdekatan dengan bak-bak tersebut dapat memanfaatkan air Tuk Biru.

Di sekitar Tuk Biru banyak ditumbuhi pohon Puspa. Sementara Pohon Beringin baru ditanam oleh warga. Pertimabangan dalam memilih tanaman adalah: tanaman tersebut mampu menyimpan air, dan tidak menganggu rumput pakan ternak. “Rumput itu kebutuhan pokok nomor dua setelah nasi”, kata pak Kiman. Adapun ciri-ciri Pohon yang tidak rakus air menurut warga adalah pohon yang kalau daunnya meranggas saat kemarau. Pohon Puspa, Beringin, Bulu dan Jati termasuk jenis pohon yang baik untuk menjaga mata air.

Selanjutnya adalah Kali Reno. Hal yang unik dari kali Reno adalah kali ini terdiri dari 7 kolam atau sumur yang warnanya berbeda-beda. Yang pertama ialah sumur paling utara, disebut Banyu Bening atau Banyu Suci.  Airnya jernih sekali. Di bawahnya ada Banyu biru, lalu Banyu Ireng , Banyu Kuning, dan Banyu Abang. Di bagian paling bawah ada banyu Buthek. Banyu Buthek meski airnya tidak jernih tetapi dianggap baik untuk dikonsumsi. Sumur atau kolam Banyu Buthek ini yang paling dalam, jika kita measukan bambu yang paling panjang pun tidak akan mencapai dasar kali.

Kali Reno selama ini juga dikenal sebagai tempat semedi.  Menurut cerita,  pernah ada peziarah yang menemukan benda-benda ajaib di sana, seperti pisang yang terbuat dari mas dan  kenceng (periuk besar) juga dari emas. Orang-orang dari luar desa biasa datang ke kali Reno untuk mengambil air dari  tujuh mata air itu sebagai obat/penyembuh.

Pada tahun 1975 Kali Reno pernah akan dipasang pipa oleh pemerintah. Akan tetapi proyek itu gagal, bahkan pipa patah lalu diambil warga untuk dijadikan tiang kandang. Tidak jelas mengapa proyek itu gagal, akan tetapi selama ini memang ada mitos yang diyakini warga bahwa jika upaya untuk membuat sungai menjadi “permanen” maka itu justru akan mematikan mata air atau debit air menjadi berkurang.

Tidak jauh dari Kali Reno terdapat Kali kandang. Menurut cerita warga, Kali kandang adalah bikinan Belanda. Mata air Kali Kandang sangat tergantung dengan luapan Kali Reno.  Air di kali ini hanya akan ada bila Kali Reno melimpah. Sekarang ini air Kali Kandang cukup banyak dibanding dengan masa lalu.  Akses jalan juga bagus, tapi tidak bisa dilalui kendaraan.

Kali yang letaknya di bagian Selatan desa adalah Kali Putih dan Kali Anyar, keduanya letaknya berdekatan. Kali Anyar di bagian atas, sedangkan kali putih di bawahnya. Air Kali Putih selalu berwarna putih seperti bercampur kapur. Air akan semakin putih ketika kemarau panjang. Akan tetapi jika air ini dipakai untuk  membikin teh maka warnanya akan menjadi hitam. Mata air kedua kali ini tidak pernah kering, meski di musim kemarau. Yang menjadi masalah adalah  medan untuk menuju kali ini sangat sulit. Itulah sebabnya kali ini hanya akan dikunjungi jika tidak ada alternatif lain, misalnya karena mata air lain sudah sangat menipis. Di atas kali anyar sebenarnya masih ada satu mata air, namanya Kali Lumut. Kali lumut sangat jarang digunakan karena akses jalan yang sempit dan riskan.

Selain kali-kali di atas, ada beberapa mata air yang saat ini sudah tidak ada atau sudah mati. Kali tersebut antara lain: Kali Babadan, Kali  Deles, Kali Denggung, Kali Konang, dan Kali Uru. Umumnya warga percaya bahwa matinya mata air itu akibat ulah manusia.  Kali Babadan mati dipercaya karena pemerintah menanam pohon  pinus yang rakus air. Selain itu  di sebelah kali Babadan pernah dibangun sumur sedalam 40 m, sehigga mata air kali Babadan hilang. Masyarakat percaya bahwa hilangnya kali Babadan juga karena di sana tidak lagi dilakukan ritual Dandan Kali. Sementara itu matinya kali  Deles, kali Denggung, kali Konang, dan kali Uru diakibatkan alat-alat berat yang beroperasi terkait penambangan pasir di wilayah tersebut.

Sendang Kapit Tambang

Beberapa tahun terakhir ini banyak pihak yang melaporkan terjadinya kerusakan lingkungan, prasarana jalan dan talud di Kecamatan Kemalang terkait aktivitas penambangan pasir. Kalau dulu penambangan pasir hanya dari Kaliworo yang merupakan sungai yang berhulu di kawah Merapi, kini kegiatan penambangan makin meluas tak terkendali dan  tidak lagi dengan manual melainkan dengan alat-alat berat.

Pemerintah kabupaten Klaten sebenarnya sudah memiliki Peraturan Daerah  No.11/2011, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Klaten tahun 2011 – 2031. Substansi Perda RTRW tersebut tentunya mengacu pada RTRW Provinsi Jawa Tengah, serta Rencana Tata ruang Nasional. Dengan demikian halnya hal-hal terkait dengan penambangan mestinya telah diatur didalamnya, khususnya penambangan galian golongan C di wilayah kecamatan Kemalang.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Klaten mengatkan bahwa luas wilayah pertambangan di Klaten adalah 69 hektar, yang berada pada 12 titik, dan tersebar di tujuh desa di wilayah kecamatan Kemalang. Terkait dengan maraknya penambangan dengan alat berat akhir-akhir ini dijelaskan bahwa sebenarnya perusahaan penambang yang telah memiliki izin hanya 3 perusahaan (CV), selebihnya sebanyak  13 perusahaan adalah liar. Ironisnya, tiga perushaan resmi itu pun telah melanggar aturan karena lokasi aktifitasnya tidak sesuai dengan izin yang telah dikantonginya. Selain itu Mereka juga tidak melakukan reklamasi.

Pihak Pemerintah Daerah mengaku kesulitan menertibkan para penambang ilegal, meski aturan sudah ada. Lebih jauh dijelaskan bahwa saat ini dinilai masih masa transisi atas pelimpahan pemberian izin penambangan dari pemerintah Provinsi Jateng kepada pemkab Klaten,yang efektif terhitung mulai bulan Januari 2011 yang lalu. Seiring dengan hal itu juga ada kebijakan moratorium aktifitas penambangan hingga ada penetapan wilayah baru secara difinitif.

Sejumlah warga menilai pemkab Klaten lambat merespon fenomena maraknya penambangan galian golongan C secara liar dengan menggunakan alat berat di wilayah kecamatan Kemalang. Keadaan ini sangat merugikan masyarakat, di mana telah terjadi kerusakan yang cukup parah pada ekosistem lereng Merapi sebagai fungsi peresapan air, juga pencemaran lingkungan serta rusaknya infrastruktur jalan serta jembatan karena hampir semua truk pasir batu muatannya melampaui kapasitas.

Beberapa Desa ada yang mencoba membuat dan menerapkan Perdes tentang tambang untuk mengamankan lingkunganya misalnya Desa Tegalmulyo dan Desa Tlogowatu. Kedua desa ini mempunyai pengalaman buruk tentang dampak tambang dengan alat berat, salah satunya terkait rusaknya sumber air. Akan tetapi peraturan itu seolah tiada artinya karena desa-desa yang lain di sekitarnya malah berlomba-lomba mendatangkan alat berat dengan alasan Ekonomi.

Terkait dengan alasan ekonomi, sikap warga juga terbelah. Ada yang jelas-jelas menolak tambang khususnya penggunaan alat-alat berat, dengan alasan kelestarian laingkungan , tetapi ada pula yang setuju dengan alasan menambah penghasilan. Mereka yang setuju dengan penambangan menganggap persoalan lingkungan, seperti krisis air masih bisa diantisipasi, misalnya dengan memaksimalkan pemanenan air hujan.

Di Kemalang saat ini memang sedang digalakkan pembanguanan bak-bak penampung air hujan. Ada satu komunitas yang menamakan diri “Sedulur Banyu” yang memotori kegiatan itu. Mereka juga mempromosikan sebuah alat sedarhana yang bisa digunakan untuk elektrolasi (ionisasi) air hujan menjadi layak konsumsi. Fungsi alat ini adalah memisahkan unsur asam dan basa air hujan dengan menggunakan semacam kumparan yang dipasangkan di wadah pelastik. Mereka meyakini bahwa air hujan yang sudah melalui proses “penyetruman” ini akan sangat sehat untuk dikonsumsi.

Selama ini warga memang sudah biasa mengkonsumsi air hujan, khususnya pada musim hujan. Akan tetapi debit air yang bisa ditampung belum mencukupi. Umumnya warga menggunakan genthong untuk menampung air, ada juiga yang menggunakan drum bekas aspal, belum banyak rumah yang memiliki bak berukuran besar. Pada tahun 1977 di setiap  RT  ada 4 kk yang mempunyai bak atas swadaya dan sedikit bantuan dana dari pemerintah.  Penampung air hujan itu berkapasitas 40 ribu liter (8 tengki). Air ditalang dialirkan ke bak. Waktu itu ada kesepakatan warga tidak boleh memelihara burung dara, supaya kotorannya tidak mencemari air.

Berdasarkan pengalaman warga, kebutuhan air rata-rata  per kk untuk sebulan  adalah sekitar 15.000 -20.000 Liter (3-4 tengki). Tampungan air hujan  hanya mampu memenuhi sepertiga saja dari kebutuhan tersebut. Selebihnya tetap mengandalkan air sendang, atau membeli air tengki bagi mereka yang mampu.

Upaya memaksimalkan pemanfaatkan air hujan di satu sisi bisa menjadi solusi bagi masalah air. Namun di sisi lain hal ini bisa pula membuat kepekaan dan kepedulan warga pada kelestarian air tanah menjadi menurun. Hal itu terlihat dari tidak begitu kerasnya respon masyarakat terhadap hilangnya beberapa mata air akibat penggunaan alat-alat berat untuk penambangan pasir. “Tidak perlu terlalu kuatir, kan ada air hujan yang lebih sehat dan layak konsumsi”, mungkin begitulah yang dipikirkan sebagain warga saat ini.

Ada satu kisah menarik dari masa lalu tentang matinya pohonn Beringin besar yang sekian lama menaungi salah satu sumber air. Waktu itu warga desa heboh dan bertanya-tanya, siapa yang telah membuhuh pohon Beringin itu? Kemudian mereka berembug dan membentuk semacam “tim pencari fakta” untuk menyelidiki kematian pohon Beringin. Hasil pengumpulan fakta itu kemudian menyimpulkan bahwa si Beringin mati bukan oleh ulah manusia, melainkan ada semacam jamur atau parasit yang menggerogoti pohon itu dari dalam. Saat ini pohon-pohon dan sendang rusak bukan oleh jamur atau parasit, melainkan oleh alat-alat berat, tapi respon warga cenderung biasa-biasa saja. Hal ini sungguh ironis, mengingat ritual Dandan Kali yang bertujuan memelihara sumber air hingga kini masih dijalankan.

Ritual tradisi seperti Dandan Kali dan lainnya itu selama ini terbukti efektif untuk mengatasi masalah yang sifatnya tradisional, artinya masalah-masalah yang memang bersumber dari komunitas itu sendiri. Akan tetapi ketika menghadapi permasalahan yang berasal dari struktur modern (negara dan pemodal), maka komunitas dengan segala macam ritualnya itu tampaknya belum memiliki mekanisme untuk menghadapinya. Sumber masalahnya sekarang ini bukan lagi ada di komunitas, melainkan ada di level pengambil kebijakan negeri dan para pengusaha besar. Komunitas dan struktur kekuasan tampaknya adalah dunia yang terpisah, tetapi yang berkuasa mampu mendominasi dan mengkooptasi yang tidak berkuasa. Mereka tidak memiliki kosakata yang masa untuk dapat berkomunikasi, kecuali dengan cara kekerasan, entah itu secara langsung maupun secara simbolik.

Oleh karena itu adat dan tradisi masih perlu direvitalisasi. Pengetahuan warga tentang diri dan lingkungan yang selama ini mereka dapat dari proses hidup berkomunitas, masih harus diperluas ke arah memahami struktur kekuasaan yang saat ini sudah mengkooptasi mereka. Untuk itu komunitas warga Sidorejo khusunya, dan Kecamatan  Kemalang pada umumnya sebenarnya sudah memiliki modal. Mereka meiliki Radio Komunitas Lintas Merapi (RKLM) yang dimotori Pak Sukiman sejak tahun 2011.  Radio Komunitas ini memiliki jaringan yang cukup luas, dan selama ini aktif menyuarakan peroalan lingkungan dan kebencanaan di kawasan Merapi. Mereka juga memiliki kelompok anak-anak muda yang peduli pada lingkungan, yang dinamakan KANCING (Kelompok Anak Cinta Lingkungan) yang juga aktif mengangkat isu-isu lingkungan di wilayah mereka.

RKLM dan KANCING dapat menjadi semacam “institusi baru” komunitas  yang melengkapi keberadaan “institusi tradisional” semacam Dandan Kali. Dari sana warga dapat menambah pengetahuan dalam mengenali permasalah yang sifatnya struktural, bukan ‘sekedar’ kultural seperti selama ini. Dari sana solidaritas yang dibangun dapat diarahkan pada pembelaan kepentingan bersama, dan perlawanan pada pihak-pihak yang merugikan lingkungan dan masyarakat.[]

Tidak ada artikel lagi