Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seni adalah kreativitas untuk mengekspresikan kehendak inovatif. Lalu, bagaimana disebut sebagai pemberontakan?

Hubungan ideologi dan realitas dalam ekonomi-politik, bak jauh panggang dari api. Baik dalam payung komunisme maupun kapitalisme, posisi seni sangat rentan menjadi alat propaganda. Dalam pandangan Leon Trotsky (1879-1940), salahsatu tokoh Revolusi Rusia, pada awal abad 20 di Rusia seni tidak pernah lepas dari kepentingan dan muatan politik. Banyak seniman yang menjalankan kreativitas seninya dalam rangka mencari kedudukan dan prestasi politis, atau sekadar menyelamatkan diri dari kemampuan malapetaka politis, dengan membuat karya yang mengagungkan para penguasa.

Di sisi lain banyak juga penguasa yang meneguhkan status quo dengan mendayagunakan para seniman. Mereka, dengan janji maupun ancaman, memaksa para seniman membuat mitos-mitos herois ihwal keagungan para pahlawan dan para petinggi negara. Dan terbukti seni sangatlah efektif.   Kita tahu saat itu ideologi komunisme sedang mengalami masa keemasannya.

Karya seni adalah ekspresi dari persepsi dan impresi estetis. Seorang seniman, menciptakan karya seni, ketika ia berhasil membekukan momen-momen estetis yang terjadi di dalam dirinya. Keindahan bukan sekadar dialami, namun dicoba untuk diaktualkan.

Dalam menciptakan karya seni, seorang seniman hendak menghadirkan dunia–atau sebagiannya–bukan sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana yang dirasakan dan dipahaminya, dunia yang diinginkannya.

Menjadi seniman, menciptakan karya seni, dengan demikian adalah memberontak. “Pemberontakan adalah kreatif,” tegas sastrawan Albert Camus (1913-1960).[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Pemberontakan dan kreativitas adalah dua hal yang teramat sulit untuk dicerai-beraikan. Semua tindakan kreatif selalu merupakan suatu bentuk pemberontakan. Demikian juga sebaliknya, dalam setiap pemberontakan selalu terkandung usaha-usaha kreatif.

Baca juga:  Mas Pirngadie, Ahli Gambar Bangsa Indonesia

Keduanya merupakan perjuangan untuk membebaskan diri dari batasan tatanan yang ada, status quo, yang dianggap telah usang, dengan mencari alternatif-alternatif baru yang diperhitungkan lebih sesuai dengan kebutuhan.

Dalam diri manusia, kreativitas memainkan peran vital dan menentukan dalam gerak hidupnya secara individu maupun kolektif. Kreativitas inilah yang mendorong manusia untuk mengembangkan diri.

Kreativitas dalam diri manusia memiliki keistimewaan dibandingkan yang lain, karena dialami secara sadar. Ia tidak hanya aktif, tetapi juga reflektif. Manusia tidak sekadar memproduksi kreativitas, melainkan juga mampu melakukan kritik, memperbaiki, memperbaharui, atau menghapusnya dan menciptakan yang baru sama sekali.

Hatta, manusia bahkan mengkaji dan dapat memafhumi hakikat kreativitas itu sendiri. Dengan kesadaran akan makna penting kreativitas sebagai daya hidup, dicarilah kondisi-kondisi yang menjadi prasyarat munculnya kreativitas.

Secara umum ada tiga prasyarat munculnya kreativitas. Syarat pertama adalah kebebasan. Ini adalah syarat mutlak bagi adanya kreativitas. Tanpa adanya kebebasan mustahil muncul kreativitas, karena kreativitas adalah perombakan tatanan lama menuju tatanan baru yang lebih baik.

Dengan demikian diperlukan kesempatan berkreasi. Kebebasan untuk merenungkan dan mencipta bentuk-bentuk baru, sekaligus peluang menerapkan hasil kreasinya itu untuk menggantikan tatanan lama agar kreasi tersebut menjadi aktual.

Syarat kedua adalah adanya hubungan atau komunikasi. Yaitu kemungkinan untuk melakukan tukar informasi dan pengalaman dengan fihak lain. Komunikasi ini berjalan dalam dua mode atau dua arah: secara vertikal atau internal dan horizontal atau eksternal.

Hubungan internal adalah hubungan dengan pusat kreatif di dalam diri seseorang (secara personal), maupun pusat tradisi di mana ia dibesarkan (secara kultural). Komunikasi atau hubungan internal berfungsi membangkitkan dan memperkuat daya dorong kreatif yang berasal dari sumber-sumber internal yang bersifat inspiratif dan intuitif.

Baca juga:  Gadis-gadis Keluarga March

Sedangkan hubungan eksternal menjadi sarana untuk saling belajar dengan memperhatikan pengalaman orang lain, dan juga untuk melakukan dialog ihwal persoalan yang lebih luas.

Syarat ketiga adalah keberanian. Dan ini yang terpenting, sebagaimana kata Nietzsche, “Siapa kehilangan keberanian, dia telah kehilangan segalanya”. Keberanian adalah penentu akhir aktualisasi kreativitas. Meskipun terhadap kebebasan (peluang) serta hubungan-hubungan (kemampuan) tanpa keberanian, semuanya menjadi mentah.

Keberanian sendiri memiliki beberapa lapisan. Pertama, keberanian fisikal, untuk mengatasi hambatan-hambatan yang bersifat fisik. Kedua, keberanian moral, untuk tidak berbuat kekerasan sembari tetap teguh memegangi suatu prinsip tertentu. Keberanian ini melibatkan keberanian persepsi untuk melihat dan merasakan penderitaan atau beban orang lain sebagai bagian dari beban kita–keberanian empati.

Ketiga, keberanian sosial untuk mengatasi apa yang dinamakan “ketakutan hidup” sekaligus “ketakutan mati”–dua kutub yang saling berlawanan namun tak terpisahkan. Yang pertama ketakutan kehilangan jatidiri dan kemandirian karena harus berbaur dan menyesuaikan diri dengan orang banyak, sedangkan yang kedua ketakutan diasingkan dan dimakzulkan karena harus memegangi kemandirian. Dalam bahasa Albert Camus, kepribadian yang “Solitair” (sibuk dengan diri sendiri) dan “Solidair” (sibuk dengan orang lain). Keberanian ini ditandai oleh suatu komitmen penuh terhadap sebuah prinsip, sambil menyadari adanya kemungkinan kekeliruan dalam menetapkan komitmen tersebut. Sikap ini sangat berbeda dengan komitmen yang didasari pada keyakinan kebenaran mutlak, atau fanatisme.

Dan, keempat, kebenaran kreatif untuk mencari tatanan-tatanan, simbol-simbol dan aturan-aturan baru bagi masyarakat di mana kita hidup di tengahnya.

Dalam semua aspek kehidupan, kreativitas dan pelbagai daya dukungnya sama-sama diperlukan. Namun demikian yang menonjol adalah di dalam kreativitas seni. Karena dalam dunia seni, kreativitas dijalankan secara total.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Susunan Bata Kehidupan
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Kreativitas dalam seni, meminjam bahasa Rollo May, berada dalam tataran irrasional di bawah sadar, yang disebutnya “creativity of the spirit”. Kreativitas ini sama sekali tidak memerdulikan kaidah-kaidah serta hukum-hukum yang berlaku, dan sangat antikonformitas. Karena daerah bawah sadar adalah daerah yang masih penuh dengan peluang-peluang sehingga nyaris merupakan kondisi kekacauan (chaos). Namun dari kondisi tersebut dapat dihasilkan keteraturan (kosmos) dan pengetahuan (logos), melalui proses “creative encounter”. Kreasi seni menuntut dan membebani dengan tugas kreatif: merombak tatanan lama dan mencari tatanan baru, yang dipersepsi dan diekspresikan secara beragam dari zaman ke zaman.

Nah, oleh karena itu, seturut dengan pendapat Albert Camus, bahwa peran yang dimainkan kreativitas estetis para seniman itu dalam kehidupan yang lebih luas, di luar ruang kaca seni. Seniman adalah orang yang menolak sekaligus menerima dunia. Ia ingin mengubah dunia yang ada ini menjadi lebih indah, lebih teratur dan lebih bermakna. Lukisan, patung, novel, semua adalah usaha manusia untuk menghadirkan dunia khayal yang dia impikan. Dalam berkhayal seniman dibatasi oleh kenyataan dunia yang sudah ada. Dengan demikian kreativitas seni, dalam banyak hal, adalah pemberontakan.

Arkian, seni adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Seni adalah kreativitas, untuk mengekspresikan kehendak inovatif, untuk mengubah dunia lama menuju dunia baru, melalui pengalaman estetis. Seni adalah pemberontakan!

historeadseniadalahpemberontakan - Seni adalah Pemberontakan

Seni adalah Pemberontakan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi