Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tawaran agenda seni terpadu

Paling tidak ada dua pertanyaan penting untuk melihat hal-hal menarik di dalam medan seni instalasi (Installation Artworks). Pertama adalah bagaimana proses kreatif seni instalasi dibuat? jenis partisipasi semacam apa yang terjadi di dalam pembuatan karya?. Kedua adalah bagaimana seni instalasi otonom terhadap konteks volume, dimensi, dan konteks lingkungannya?. Maksudnya sejauh mana seni instalasi bergantung pada dimensi yang menyelubungi ruang keberadaannya?, atau dengan kata lain apakah seni instalasi yang kita perhatikan mampu menciptakan eksistensi yang objektif tanpa harus dipengaruhi oleh beragam faktor eksternal semacam sudut, angle, materi, atau bahkan keberadaan manusia yang menginterpretasikannya?. Dua pertanyaan ini akan mengawali penelusuran soal bagaimana mengembalikan unsur realitas objektif di dalam seni rupa instalasi.

Seni instalasi merupakan sebuah istilah yang digunakan begitu fleksibel, sekalipun sebenarnya merujuk pada susunan benda (materi) yang diberi ruang. Beberapa ahli pada mulanya berusaha membedakan antara seni instalasi dan instalasi seni, di mana sejak tahun 1960-an kata seni instalasi merujuk pada aktivitas pengaturan pameran. Akan tetapi kecenderungan yang begitu kuat bahwa instalasi merupakan “karya-karya yang menggunakan ruang”, maka perbedaan antara seni instalasi dan instalasi seni menjadi demikian kabur (Bishop, 2005). Tak jelas lagi apakah seni instalasi merupakan komposisi materi yang menghasilkan karya, atau sejak awal merupakan karya yang membutuhkan ruang. Pembatasan semacam ini juga sebenarnya problematis sejak awal jika proses kreasi materi dianggap sebagai tindakan mencipta. Meskipun tampak rumit, sebenarnya Bishop memberi batasan seni instalasi dengan sifatnya yang menghadirkan totalitas tunggal (singular entity). Menurut Julie Reiss (1999), seni instalasi memberikan kesan pada berbagai indera manusia. Seni instalasi adalah seni yang hanya bisa dimasuki, dihayati, dan dimaknai dengan keterlibatan pengalaman dan indera, sebab manusia merupakan bagian dari “penyelesaian karya” (Julie Reiss, 1999).

Asal muasal seni instalasi dalam pemahaman demikian lahir pada awal abad 20 melalui beberapa pekerja seni (artist) yang dianggap mempelopori, semacam El Lissitzky, Marcel Duchamp, dan Kurt Schwitters. Meskipun seni instalasi sendiri dianggap muncul pada tahun 1970 akhir. Perkembangan seni instalasi dengan demikian sejak awal tak berdiri terpisah dari arsitektur, seni pertunjukan, tipografi, seni patung, ataupun seni lukis. Sebab itu seni instalasi membentuk komposisi dari jenis materi yang berbeda seperti bambu, karya lukis, hingga painting. Dengan memperhatikan beberapa pelopor awal, kita memiliki informasi penting tentang bagaimana seni instalasi juga berkaitan dengan gerakan seni yang dikembangkan oleh Kazimir Malevich bersama muridnya El Lissitzky yakni suprematisme yang fokus pada bentuk geometrik, seperti; lingkaran, kotak, garis, dan persegi panjang. Eksibisi yang dilakukan oleh Malevich pada tahun 1915 di 0.01 Exhibition, Petrogard yang diselenggarakan oleh Dobychina Art Bureau memperlihatkan jenis seni instalasi sekaligus instalasi seni.

md - Seni Instalasi

Fountain 1917, replica 1964 Marcel Duchamp

Menuju Seni Instalasi yang Padu

Penekanan terhadap singularitas dan sublimasi menjadi salah-satu pola paling umum yang dapat ditemui pada berbagai karya seni rupa instalasi. Dengan pola yang diwariskan sejak zaman romantik ini, seni memperoleh kegunaannya justru pada saat seni itu sendiri telah mereduksi fungsi-fungsinya. Kita akan melihat seni instalasi yang terdiri dari materi-materi “sekali pakai”. Pada umumnya materi-materi seni instalasi dapat dibagi menjadi dua kategori relasional. Pertama adalah seni instalasi yang dibuat dari materi-materi yang sangat korelatif dengan konteks, terutama manusia sebagai objek ataupun subjek. Dalam hal ini kita akan melihat mengapa bagi Reiss, manusia terhubung dengan penyelesaian karya instalasi. Jenis materi ini biasanya dibuat dari materi-materi yang sangat dependen terhadap konteks, entah itu dimensi, volume, atau angle. Seni instalasi dari materi ini seperti yang lazim sekali ditemukan, tak memiliki otonomi khusus secara objektif, melainkan subjektif. Artinya, keberadaan atau eksistensinya ditentukan ataupun diukur dari seberapa jauh seni instalasi yang dibuat mampu menghadirkan noumena.

Seni instalasi menurut materi kategori pertama ini menunjukkan tak adanya realitas objektif yang disuguhkan oleh komposisi-komposisi instalasi selain bahwa materinya sendiri misalnya adalah sebuah “materi”. Maka ruang makna dan rupa serta realitas objektif tak menemukan ikatan. Komposisi instalasinya telah mengikis habis bentuk figural dan materialnya, sehingga yang tersisa dari penyajian semacam ini adalah interpretasi-interpretasi yang bergantung pada konteks-konteks yang juga tak bersih dari anasir subjektivitas. Materi-materi yang disajikan dalam kategori pertama ini seolah tak percaya bahwa ciri internalnya memuat realitas yang sebenarnya. Persoalan yang terjadi pada materi instalasi semacam ini adalah proses mencerabutkan ciri materialnya dari realitas yang lebih besar yakni alam.

Baca juga:  Hak Sipil

Dalam hal ini, materi yang tercerabut dari realitas alam tak mencerminkan relasi yang cukup antara manusia sebagai artworker dan alam sebagai realitas. Tidak heran jika materi-materi instalasi ini sangat dependen pada konteks-konteks sempit semacam sudut ruang pameran instalasi, atau sangat bergantung pada komposisi warna yang disebabkan oleh pencahayaan lampu, warna dinding, dan jarak. Padahal jika kita memahami bahwa ruang instalasi (installation space) yang sebenarnya adalah alam, maka reduksi bentuk figural dan makna tak terjadi. Oleh karena itu kemudian materi-materi instalasi yang masuk ke dalam kategori ini pada konteks dan dimensi yang berbeda akan kehilangan “seni-nya”. Materi-materi ini akan terikat pada satu syarat; konteks gelar yang stabil atau tetap. Implikasinya masih juga akan terjadi pada situasi lainnya, yakni subjek semacam apa sajakah yang mampu “mendekati” seni instalasi semacam ini? apalagi mengingat bahwa seni instalasi semacam ini secara tak langsung mengeliminir keberadaan subjek, dan alam.

Baca juga:  Hikayat Kerbau

Jenis instalasi kedua adalah proses kreasi instalasi yang melibatkan materi-materi sekaligus fungsinya, sehingga inheren dengan realitas objektif. Jenis materi instalasi pada kategori kedua ini eksistensinya sangat otonom karena sejak awal ditempatkan sebagai bagian dari alam. Persoalannya bukan pada karakter alamiah materi melainkan pada melekatnya fungsi dan makna pada materi yang digunakan. Jenis instalasi kedua ini juga melibatkan artis sebagai agen yang melalui pekerjaan instalasi menginspirasi perubahan sosial, atau yang disebut El Lissitzky dengan das zielbewußte Schaffen (Goal-Oriented Creation). Penggunaan materi dalam pemahaman Lissitzkean ini menghadirkan jenis instalasi yang membawa tujuan pada setiap komposisinya. Seni instalasi dalam hal ini tak dapat mengelakkan diri dari pertautannya dengan realitas objektif, di mana keterkaitan ini punya implikasi langsung pada bentuk penyajian, pemilihan bahan, jenis partisipasi seni, dan muatan objektif seni instalasi.

Baca juga:  Penisik Sepi

Salah-satu persoalan mendasar dari materi kategori pertama terletak pada sifatnya yang begitu dependen pada konteks. Hal ini berbeda seni instalasi dengan jenis materi kedua, yang memang sejak awal bagi sang artis harus mengambil dunia-semesta sebagai space utama. Misalnya, pada sebuah seni instalasi pameran baju, yang beberapa tahun lalu diadakan di tempat pembuangan sampah akhir di Yogyakarta. Seni instalasi pada materi jenis kedua ini, materi tampak independen pada konteks yang sempit. Materi instalasi menjadi bagian dari setiap sudut alam, dan begitu terikat dengan realitas sosial.

Gagasan soal materi instalasi yang menyatu dengan realitas objektif sesungguhnya merupakan bagian penting dari agenda sintaksis seni terpadu. Artinya, baik seni instalasi ataupun seni rupa lainnya berada dalam jalur yang sama, mereka terhubung dan tertanam (embedded) dengan realitas objektif. Tak ada seni instalasi yang dibiarkan usang karena konteks yang berubah. Tak ada seni instalasi yang pada akhirnya, dengan segala daya-kreasinya hanya berfungsi sebagai bagian dari konfigurasi pameran. Seni instalasi pada titik ini menyajikan kembali kehadiran relasional yang seringkali telah dianggap mati antara realitas objektif, makna, dan interpretasi. Mungkin saja, beberapa kritik terhadap seni instalasi dapat berawal dari penyajian kembali relasi yang kadung dianggap mitos ini. Mistifikasi relasi yang merepresentasikan ketakutan bias antara otoritarianisme dan kapitalisme.

Kritik semacam ini sebenarnya sangat jamak dalam medan seni lainnya.  Gagasan bahwa karakter seni tak dapat lepas dari kualitas ekstrinsik semacam realisme, atau narasi, merupakan tantangan yang secara umum dialami. Perubahan penggayaan juga memegang peran penting dalam hal inovasi teknis dan kemajuan seni yang hanya dilihat berdasarkan pada pencerapan visual dan estetis (Hujatnikajennong, 2015). Maka materi-materi dalam seni instalasi harus menemukan lagi dirinya dalam konteks sosial sehingga mampu menjadi sarana yang membawa makna bagi manusia.  []

covermd - Seni Instalasi

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi