Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Orang-orang dan Hidup di Paris

PARIS TAK HANYA ROMANTIS. Kota ini selalu menjadi nirwana bagi peminum minuman keras (miras). Ia telah mahsyur di seantero jagat Romawi karena kebun-kebun anggur dan kedai-kedai minumnya, sementara kota abad pertengahan ini ‘terkenal’ di seluruh dunia Kristen utara karena kualitas kedai-kedai ale, serta begitu banyaknya anggur dan bir yang mereka tawarkan. seni kesenangan

Dalam karyanya Drinking History: Stories from Wines and Vintage (1870-1970), Nuikki menjelaskan bahwa pada paruh kedua abad ke-17, hampir semua jalan di kota memiliki paling sedikit dua atau tiga kedai minum dengan berbagai harga dan kualitas. Walaupun di mata istana, Gereja dan polisi, tempat-tempat ini ilegal dan wadah potensial bagi kekacauan, namun bagi sebagian besar Parisian, tempat-tempat ini adalah kebutuhan pokok bagi kepentingan bersosialisasi sehari-hari. Itulah tempat di mana orang-orang biasa datang untuk makan, minum, mencari seks atau perkelahian, pertengkaran, membuat rencana dan berbaur dengan para tetangganya, yang masing-masing lebih merasa sebagai bagian dari quartier, daripada sebagai bagian dari Paris. Kedai-kedai minum juga sulit dikontrol dan diawasi secara efektif; kebejatan dan kemalasan yang dipromosikannya adalah ancaman yang selalu ada bagi tatanan moral yang oleh para pendeta biasanya disebut sebagai ‘kota ini, paling Katolik’.

Jagat peminum yang hiruk-pikuk ini adalah ancaman nyata bagi tatanan sosial dalam konteks paling praktis: Itulah tempat di mana para pembangkang politik dan agama mendapat dukungan dan, dari saat lahirnya kota ini, pihak berwenang berulang kali melakukan intervensi untuk mengontrolnya. Pada 1350, Raja Jean le Bon menetapkan harga anggur merah sebesar 10 denier, dan memerintahkan per pint (sekitar setengah liter), anggur putih seharga 8 denier, dan memerintahkan bahwa anggur hanya bisa dijual oleh marchands da vin terdaftar. Upaya ini, dan kebijakan-kebijakan lainnya untuk mengontrol aliran alkohol ke dalam kota, nyaris tidak berpengaruh untuk menghentikan pertumbuhan budaya minum anarkis, yang secara berkala menentang atau melemahkan otoritas resmi kota.

Kehidupan sehari-hari di kedai-kedai minum dan jalan-jalan belakang kota memberikan perbedaan kontras bagi keagungan steril istana Versailles selama pemerintahan Louis XIV. Sebagian dari tokoh terkemuka grand siecle dapat ditemukan sedang minum di tempat-tempat seperti Pomme de Pin (‘Cemara’) di sudut rue de la Cite. Tempat ini dahulu sering dikunjungi oleh Rabelais dan Villon, serta kemudian menjadi tempat pertemuan rutin bagi Racine, Moliere, Chapelle, dan Boileau. Dalam satu kesempatan, Boileau pernah begitu mabuk, sehingga mengklaim bahwa dia harus mengubah namanya agar tidak dikenali.

Baca juga:  Geografer, Sultan, Kitab Rujar

Tempat minum terkenal lainnya dari periode ini termasuk La Corne (‘Trompet Pemburu’) di ujung Place Maubert, Le Berceau (‘Buaian’) di Pont-Saint-Michel, La Fosse aux Lions (‘Parit Singa’) di rue Pas-de-la-Mule, Le Cormier Fleuri (‘Pohon Sorb sedang Mekar’) di dekat Saint-Euxtache atau La Croix Lorraine (‘Salib Lorraine’) di dekat istana Bastille. Nama-nama ini pada awalnya dimaksudkan untuk memberikan panduan ihwal atmosfer dan pengunjungnya yang sering kali membangkitkan kisah keindahan pedesaan atau signifikansi patriotik atau religius semu, atau permainan kata-kata (Au Lion d’Or, ‘[Di] Singa Emas’, juga berarti ‘au lit ou on dort’, ‘tempat untuk tidur’, dan biasanya ialah rumah penginapan).

Namun, makna dan realitasnya sering kali terpisah dengan cepat. Croix de Lorraine yang namanya bernuansa patriotis menjadi terkenal karena perkelahian antara para tawanan yang dibebaskan dari Bastille dengan para Musketeer atau pengawal raja yang sedang mabuk, yang terkenal karena gemar minum miras, selain karena keberaniannya. Minum juga menjadi emblem patriotisme lokal: Anggur paling terkenal tak hanya datang dari Burgundy atau Bordeaux, tetapi juga daerah Paris, dari Montmartre, Suresnes, atau Argenteuil.

Lahirnya budaya kafe

Kafe-kafe pertama–tempat yang dikhususkan untuk menjual kopi dan bukan ale atau anggur–dibuka di kota pada 1660-an dan awalnya tidak selalu sukses. Konsep ini dibawa ke Paris oleh dua orang Armenia bersaudara, Pascal dan Gregoire Alep, yang memiliki ide untuk mengkhususkan tempat minum mereka menjadi tempat menjual dan meminum yang baru saja menjadi mode. Kafe sendiri adalah impor dari Peradaban Timur, laiknya roti croissant, tiba di Paris pasca-pengepungan Wina, ketika tentara Turki Ustmaniah akhirnya dikalahkan dan diusir keluar dari Eropa. Parisian pada awalnya sangat mencurigai impor Oriental ini, dan bahkan sangat berhati-hati (sebaliknya, teh dari Cina, yang tiba pada 1636, segera sangat populer sejak pertama datang).

Namun, mayoritas Parisian sangat antusias terhadap makanan dan minuman dari Italia. Minuman sari lemon, minuman sari jeruk dan jus buah dingin sudah lama menjadi minuman yang akrab dalam kehidupan jalanan, sejak periode Catherine de Medicis dan seterusnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kafe perdana yang benar-benar berhasil di Paris dikelola oleh seorang Sisilia bernama Francesco Procopi. Cafe Procope menjual anggur, namun membanggakan kopi yang dijualnya dan menjadi tempat untuk berwicara secara wajar, jauh dari dari para pemabuk, pelacur dan penjudi di kedai-kedai minum tradisional. Kafe ini segera saja tersohor sebagai tempat minum kopi ‘Pencerahan’, menarik perhatian para intelektual seperti Voltaire, Rousseau dan Jean-Francois Marmontel. Setelah beberapa kali berubah alamat, kafe ini sekarang berdiri di de l’Ancienne Comedie. Kafe ini menjual steak-frites yang harganya terlalu mahal bagi para pelancong (dengan mengandalkan warisannya). Pada 1689, ketika pertama dibuka, kafe tidak lebih dari mode menarik yang, menurut perkiraan seorang pelawak, akan segera berlalu–kopi ketinggalan zaman, croissant dan semuanya–ke dalam ingatan seperti “bintang jatuh di malam tergelap.”

Baca juga:  Interpelasi dan Aparatus Ideologi Negara

Paris masih sangat miskin selama periode ekspansi ini dan Colbert kadang kala terpaksa harus mengirim makanan murah dari tempat-tempat seperti Polandia dan dataran rendah Rhineland. Makanan pokok Parisian termiskin adalah kacang, roti dan herba. Bagi mereka yang tidak mampu membayar kesenangan baru dan eksotis dari cafe dan limonaidier, jalan-jalan masih dipenuhi oleh para bajingan, penyair, pelacur, dan pencuri, yang menyediakan parade harian dan (sejak dipasangnya lampu jalanan) parade malam. Mereka, termasuk Vaulesard yang mengaku sebagai ‘ahli matematika’ dengan postur yang kurus dan ringkih (“tulang belulang berbalut kain compang-camping,” menurut penulis Marc de Maillet, yang juga merupakan orang biasa yang berbicara omong kosong dan angkuh) yang terbiasa secara tiba-tiba mengucapkan puisi panjang lebar yang musykil dimafhumi.

Yang paling mengganggu, setidaknya bagi kelas tajir, adalah fakta bahwa Vaulesard juga mahsyur sebagai seorang fanatik politik terkenal (atau orang gila potensial). Dia menghabiskan waktu berjam-jam melihat ke dalam rotisserie dan restoran baru di sekitar rue Visconti dan rue de Buci untuk memelototi semua orang borjuis dan aristokrat yang bisa makan dengan kenyang tepat di hadapan ribuan warga kota yang kelaparan.

Manifesto porno

Baca juga:  Catatan Kaki dari Amuntai

Menurut sejarawan Andrew Hussey, dalam bukunya Paris: The Secret History (2006), selalu terdapat tradisi menulis yang cabul atau sepenuhnya erotis yang kuat di Paris. Genre ini terutama berkembang sejak abad ke-12 dan seterusnya. Sejak saat itu, Parisian dari semua kelas sosial menjadi akrab dengan puisi-puisi humor, seperti La Damoisele quie ne pooit oir parler de foutre (‘Gadis yang Tidak Mau Mendengar Persetubuhan’) atau La Veuve (‘Sang Janda’). Para penulis puisi-puisi ini sudah dilupakan atau anonim, tetapi kisahnya sendiri telah meresap ke dalam cerita rakyat Paris. Banyak dari puisi ini, seperti Le Chevalier qui fist parler les cons (‘Kesatria yang Membuat Vagina Berbicara’), begitu dikagumi bukan hanya kandungannya yang cabul, namun juga akan kecerdasannya yang canggih dan kurang ajar.

Bahkan puisi di masa selanjutnya (yang ditulis oleh seorang Parisian bernama Garin pada abad ke-13) adalah inspirasi bagi kisah Les Bijoux indiscrets (‘Permata yang Tak Bijaksana’, 1748) oleh Dennis Diderot. Ini adalah cerita seorang raja yang memiliki sebuah cincin ajaib yang bisa membuat alat kelamin para perempuan di istana dapat berbicara. Sebagai manusia bernalar dan mencintai ilmu pengetahuan, seorang filsuf sekaligus atheis, Diderot memutuskan bahwa dia memiliki kewajiban moral untuk menyerang segala bentuk takhayul, termasuk perihal kekuasaan raja. Les Bijoux indiscrets ialah alegori (kisah kiasan) tajam yang menyindir kehidupan di dalam istana Louis XV di Versailles yang penuh kebohongan, kepalsuan, dan sogok-menyogok. Akan tetapi, dongeng ini juga menjadi contoh baik tentang bagaimana popularitas tulisan erotis pada abad ke-18 terdapat pada fakta, bahwa kisah itu sering kali terang-terangan bersifat politis.

Toko-toko buku di Paris yang baru dibuka pada awal abad ke-18 adalah tempat yang berisik dan ramah. Banyak dari toko-toko buku ini yang buka hingga larut malam, ketika Palais-Royal dibanjiri oleh pelacur, orang berpakaian parlente dan berbagai macam petualang seksual. Bagi banyak lelaki dan perempuan muda era abad ke-18 ini, membaca buku erotis diterangi cahaya lilin yang berpendar di salah satu toko buku, sama dengan hidangan pembuka seksual, stimulan yang mempertajam fisik, sebelum memasuki jalan-jalan gelap di Paris untuk mengejar pemuasan.[]

senikesenangan - Seni Kesenangan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi