Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Kisah Tirto Adhi Soerjo

Suatu hari di tahun 1900-an awal, Soerodimedjo memenangkan sebuah pemilihan lurah di Desa Bapangan, Distrik Cangkrep, Bogor. Ia meraih dukungan terbanyak dari rakyat desa. Namun, rupanya ia tak sepenuhnya direstui oleh pemerintah kolonial Belanda.

Aspirant Controleur, semacam petugas yang mengawasi pemilihan ini, dengan didukung seorang wedana, lebih cenderung berpihak pada kandidat lurah yang lain. Soerodimedjo dihantam, dilucuti hak-haknya, dan malah harus menjalani hukuman krakal, kerja paksa selama 14 hari untuk memperbaiki jalan umum. Ia dianggap telah mengacaukan pemilihan.

Soerodimedjo meminta pertolongan kepada Tirto Adhi Soerjo, redaktur Medan Prijaji. Sang korban ketidakadilan naik banding kepada wali Hindia Belanda, Van Heutsz, yang berjanji akan memeriksa perkara itu.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Bantuan Tirto Adhi Soerjo ini menggusarkan Aspirant Contoleur yang menjatuhkan hukuman bagi Soerodimedjo. Medan Prijaji dituduh mengambil keuntungan material dengan jalan membantu sang korban ketidakadilan.

Baca juga:  Halal dan Haram

Template tas - Seperempat Manusia dan Monyet Ingusan

Tirto yang marah atas tuduhan tersebut menuliskan kasus Soerodimedjo dalam sebuah esai di Medan Prijaji. Ia menyebut Aspirant Controleur bernama A. Simon itu sebagai snoot-aap: monyet ingusan, monyet yang masih suka menetek. Sebuah kata bernada umpatan yang bikin merah telinga, dan dituliskan dengan terang-benderang.

Simon menggugat Tirto karena penistaan (smaad), pencelaan (hoon), dan laster (umpatan) menggunakan barang cetak yang diumumkan. Dan Tirto harus berhadapan dengan seorang hulp officer van justitie, seorang pembantu jaksa.

“Kita tulis itu karena kita murka, murka tiada hingga, ya marah besar, karena bangsa kita, si seperempat manusia, sudah dibikin sesuka-sukanya oleh pegawai, yang semestinya menjaga keselamatan si seperempat manusia yang lemah dan tidak berdaya itu’.

“Di antara snoot-aap snoot-aap boleh jadi kalimat itu suatu pernistaan atau penghinaan, tetapi diantara orang yang sempurna budi pekertinya kalimat itu bukan kalimat penistaan.”

Baca juga:  Urban Farming sebagai Pengaman Sosial Lokal di Masa Pandemi

Mungkin ini cara yang tak terlalu tepat. Namun, saat kemerdekaan disumbat, ‘mengumpat’ seperti menjebol kanal perlawanan yang mampat. Dalam sebuah kekuasaan yang represif, di mana yang lemah dianggap ‘seperempat manusia’, laku dan suara yang berbeda dipangkas habis, komunikasi menjadi cara yang tak bisa ditindas sepenuhnya. Ia ekspresi bagi murka dan luka, sebagaimana ditunjukkan Tirto Adhi Soerjo.

Saya membaca kisah ini dari buku Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer. Bahasa dan kata adalah benteng terakhir bagi mereka yang tak mampu sepenuh-penuhnya melawan dengan tangan. Di jalanan, kita mengumpat aparat kepolisian yang mengutip kita selembar dua lembar ribuan rupiah setelah kita kena tilang. Di pengadilan, dengan nada merengut, kita melemparkan sumpah-serapah kepada jaksa dan hakim yang kita anggap tak adil. Dalam aksi unjuk rasa, penguasa, presiden dan parlemen, menjadi sasaran vulgar kata-kata.

Baca juga:  Gagasan Pokok Pesantren dan Kebudayaan
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Hanya kata-kata. Hanya umpatan, dan itu memang bukan puisi. Namun justru karena itu benteng terakhir yang tak puitis, penguasa yang takut dikritik dan tak betah kecaman selalu menganggapnya seram. ‘Kata’ harus ditaklukkan, setidaknya kevulgaran dianggap sebagai bagian dari ketidaksopanan, dan pasemon justru dinilai sebagai hal yang mulia dan terhormat.

Mulia? Terhormat? Mungkin, karena pasemon dianggap sebagai tanda kemampuan seseorang mengekspresikan ketidaksukaan sembari menahan diri untuk meluapkan amarah. Mereka yang dianggap terhormat adalah mereka yang bisa bersabar.

Namun tidakkan pasemon bisa diartikan juga sebagai tanda ketakutan? Keragu-raguan untuk menyatakan sikap secara jelas? Tidakkah pasemon menunjukkan ada setumpuk barikade sosial yang menghadang kita berterus terang?

Dan sebuah kemerdekaan tidak akan pernah diawali dari sebuah sindiran. []

tas tirto adhi surjo - Seperempat Manusia dan Monyet Ingusan

Seperempat Manusia dan Monyet Ingusan dalam Kisah Tirto Adhi Soerjo

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi