Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan variasi Serat Anbiya dari Pangeran Diponegoro ke Syekh Imam Tabbri

Bangsa Indonesia yang memiliki berbagai identitas budaya (Najih, 2019) boleh berbangga karena kaya akan dokumentasi sastra lama yang setaraf bobotnya dengan hasil sastra peradaban lama di belahan dunia lainnya dapat pula dikatakan bahwa Indonesia merupakan gudang khasanah raksasa bagi naskah kuna yang kebanyakan tertulis dalam bahasa dan huruf daerah (Supartinah, Kusumawati & Santoso, 2015). Salah satu bukti kekayaan akan naskah kuno bagi bangsa kita adalah banyaknya naskah-naskah yang berkaitan dengan pemahaman-pemahaman keislaman.

Hal ini menjadi keniscayaan, karena Islam dalam bahasa Nasr Hamid Abu Zaid dikatan bahwa merupakan agama yang dibangun berdasarkan peradaban teks. Apa pun yang terkait dengan Islam pasti akan merujuk teks. Teks pertama dalam Islam adalah al-Quran dan hadis. Sedangkan teks kedua adalah pemahaman umat muslim terhadap teks pertama. Teks kedua pun akan melahirkan teks ketiga, yaitu teks yang dipahami dari teks kedua dan seterusnya. Sebagai umat Islam yang hidup di 1437 tahun setelah kenabian tentu akan mempelajari teks-teks di atas secara bertahap agar sampai pada pemahaman pada teks yang pertama (Luthfi, 2016).

Teks sendiri adalah pemahaman yang bersifat abstrak yang terdapat dalam suatu naskah yang berbentuk konkrit seperti buku atau lembaran kertas. Pada masa ini kemungkinan tidak akan ada permasalahan berkaitan dengan naskah karena sudah berbasis mesin cetak. Namun naskah peninggalan masa lalu yang ditulis oleh para Ulama Nusantara tentu akan memiliki berbagai keterbatasan terutama karena jarak bahasa dan kondisi naskah pada saat ini yang sudah rusak dan tidak mudah lagi dibaca oleh umat muslim Indonesia sekarang. Padahal di dalam naskah tersebut memuat ilmu-ilmu dan budaya keislaman Nusantara yang berkembang pada saat itu (Luthfi, 2016).

Berdasarkan atas hal di atas dapat dipahami bahwa suatu teks atau manuskrip peninggalan masa lampau adalah salah satu tanda untuk melihat realitas intelektual masa lalu. Tidak hanya dalam konteks ilmu pengetahuan tapi berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan yang tertulis dalam teks atau manuskrip tersebut seperti agama dan kepercayaan, politik, kesusastraan, sistem sosial dan sebagainya.

Teks dalam hal ini secara tertulis memiliki bentuk fisik berupa naskah. Menurut Barried (1985) naskah dipahami sebagai tulisan tangan yang di dalamnya tersimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya di masa lalu. Selain tu, sedikit berbeda dengan Baried, naskah dalam hal ini dipahami Nurizzati (2014) sebagai sebuah benda yang konkret berisi berbagai ide, sistem, gagasan dan pola kehidupan masyarakat masa lampau.

Sedangkan teks juga dipahami merupakan aspek batin dari sebuah naskah. Teks bersifat abstrak karena teks memiliki cakupan berupa ide-ide, gagasan-gagasan, sistem-sistem, pokok pikiran dan tata cara peribadatan. Secara umum teks dalam hal ini lebih tua dari naskah, karena teks merupakan tradisi lisan yang kemudian disalin dalam bentuk tulisan ringkas dan tulisan utuh. Bentuk tulisan itulah yang kemudian dikatakan sebagai naskah (Nurizzati, 2014).

Kemudian, sebagai sebuah produk budaya tentu sebuah naskah mengalami proses pewarisan kepada generasi selanjutnya secara terus menerus. Terbukti dengan bentuk fisik dari naskah tersebut yang masih dapat diakses sampai saat ini. Meskipun demikian, naskah yang ditulis di masa lampau tentu juga akan ditulis dengan bahasa dan aksara yang kontekstual di masa tersebut (Nurizzati, 2014).

Konsekuensi dari konteks bahasa dan aksara yang dipakai dari naskah di atas sangat realistis ketika tidak semua orang dapat membaca naskah tersebut. Jika demikian maka dengan hanya ada wujud naskah secara materi saja hal itu tidak cukup ketika ingin melihat isi dari gagasan-gagasan atau ide-ide yang ada di dalam naskah tersebut. Padahal menurut Wulandari dan Handayani (2008) terdapat anggapan bahwa di dalam naskah peninggalam masa lalu tersebut terkandung nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini. Pada akhirnya, kasus yang demikian menuntut adanya kajian yang lebih mendalam terkait dengan teks tersebut melalui berbagai perspektif keilmuan, khususnya berkaitan dengan filologi.

Berkaitan dengan filologi, Baried dalam hal ini secara sederhana memaknainya sebagai sebuah ilmu yang digunakan untuk mengkaji naskah-naskah kuno. Meskipun demikian sebenarnya filologi memiliki arti yang lebih luas karena sebagai sebuah produk kebudayaan tentu naskah yang ditulis pada dasarnya merepresentasikan kebudayaan pada masa ketika naskah tersebut dibuat. Sehingga bisa dikatakan bahwa filologi juga merupakan suatu pengetahuan tentang kesusastraan dalam arti yang luas, yang mencakup bahasa, sastra dan budaya itu sendiri (Barried, 1985).

Selain itu, dalam konteks modern, filologi menitikberatkan studinya terhadap perbedaan yang ada dalam berbagai naskah sebagai suatu ciptaan, bahkan perbedaan-perbedaan tersebut menjadi fokus dari kerja filologi modern. Perbedaan-perbedaan tersebut justru itu dipandang sebagai sebuah alternatif yang positif. Suatu naskah dipandang sebagai suatu penciptaan baru yang mencerminkan perhatian yang aktif dari pembacanya. Filologi dalam konteks ini juga melihat naskah sebagai sebuah dokumen budaya serta refleksi dari zamannya (Barried, 1985).

Hal ini kontekstual dengan Serat Anbiya yang penulis angkat dalam tulisan ini. Secara umum masyarakat percaya bahwasanya Serat Anbiya adalah karangan dari Pangeran Diponegoro. Namun dalam kenyataannya Serat Anbiya itu sendiri memiliki banyak versi. Beberapa versi tersebut bahkan cenderung berbeda, baik dari segi kepenulisan maupun dalam segi isi yang di dalamnya. Sehingga perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai suatu hal yang kontekstual dengan apa yang dikatakan Baried di atas. Meskipun pada dasarnya Serat Anbiya tersebut memiliki kesamaan judul dan juga dipercayai dari pengarang yang sama, yaitu Pangeran Diponegoro.

Berkaitan dengan Serat Anbiya tersebut, misalnya dapat dilihat dari penulisan Suyami (2016) dengan judul “Kajian Serat Ambiya Peninggalan Mbah Demang Cakradikrama”. Pada penulisan tersebut, Serat Ambiya dideskripsikan dengan serat yang ditulis menggunakan tangan dengan aksara Arab berbahasa Jawa dengan model penulisan berupa puisi Jawa tembang macapat. Kitab ini juga dikatakan memiliki ketebalan naskah 459 lembar atau 918 balaman. Secara ringkas kitab tersebut berisi tentang ajaran keimanan kepada Tuhan, percaya kepada takdir, anugerah bagi yang taat dan hukuman bagi yang ingkar, hukum pembalasan, pemahaman atas adanya kecelakaan, nafsu, dan syahwat manusia, pemaharnan pada perbedaan karakter dan warna kulit pada setiap individu manusia, dan ikhlas pada keputusan dan mensyukuri pemberian orang tua.

Hal ini juga berbeda dengan informasi singkat terkait naskah Serat Anbiya tersebut yang penulis dapatkan di website resmi Perpustakaan Universitas Indonesia (2019). Informasi tersebut menyebutkan bahwa Serat Anbiya memiliki nama lain, yaitu Tapel Adam. Kitab ini menceritakan tentang asal-usul keturunan Adam, dimulai dengan perintah Allah kepada Iblis agar menyembah Adam namun Iblis menolak. Kemudian, cerita berakhir dengan umat Nabi Saleh yang kembali ingkar pada ajaran agama karena hasutan Iblis. Dalam teks tersebut tidak ditemuka asal-usul teks dan saat penyalinan naskah ini. Mekipun demikian ketika melihat jenis tulisan dan gaya penulisan serta jenis kertas yang dipergunakan, diduga naskah ini disalin pada sekitar pertengahan hingga akhir abad ke-19. Naskah ini juga telah dibuat ringkasannya oleh staf Pigeaud pada bulan September 1930, di Surakarta.

Baca juga:  Katalan, Papua, dan Jalan Sepak Bola

Kemudian masih dari sumber yang sama, yaitu dari website resmi Perpustakaan Universitas Indonesia (2019), juga ditemukan Serat Anbiya dengan versi yang berbeda. Serat ini juga berbentuk tembang macapat. Namun, keterangan isinya tidak dijelaskan lebih lanjut. Keterangan tentang penyalinan nakah juga tidak ditemukan pada teks ini, namun pada halaman depan naskah terdapat gambar foto pemilik naskah berikut namanya yaitu Atmataruna dengan hiasan berbingkai bunga. Pada bagian bawah foto itu terdapat angka tahun 1833 diduga ini adalah tahun 1833 Jawa (1903 Masehi). Melihat gaya tulisan diduga bahwa teks ini berasal dari wilayah Surakarta. Nama pemilik lain dari naskah ini juga diketahui karena adanya huruf-huruf timbul pada sampul naskah yang berbunyi K.R.M.H. Soerianingrat.

Berdasarkan dari ketiga bentuk naskah Serat Anbiya di atas dapat dipahami bahwa terdapat kesamaan yaitu dalam konteks penulisan serat tersebut yang ketiganya menggunakan tembang macapat dan dibagi berdasarkan pupuh-pupuh tertentu. Kemudian, ketika melihat kisaran tahun dari naskah kedua dan naskah ketiga dapat diduga bahwa naskah tersebut memiliki irisan tahun, dan bisa diduga bahwa pengarangnya juga sama. Namun jika dilihat dari deskripsi singkat terkait dengan isi naskah tersebut dapat dilihat adanya perbedaan antara naskah pertama dan kedua. Jika naskah pertama membahas tentang keimanan kepada Tuhan, percaya kepada takdir, anugerah bagi yang taat dan hukuman bagi yang ingkar dan seterusnya, tetapi naskah kedua lebih bercerita tentang peristiwa Nabi Adam.

Meskipun demikian, sebenarnya dari ketiga informasi terkait Serat Anbiya di atas, tidak dituliskan secara jelas siapa sebenarnya penulis naskah tersebut. Namun, dalam penulisan lain berkaitan dengan Serat Anbiya tersebut dijelaskan bahwa terdapat Serat Anbiya yang merupakan hasil skriptorium dari Hamengku Buwono V (Syarif, 2015). Kemudian Carey (2011) juga mencatat bahwa sebenarnya Pangeran Diponegoro pada dasarnya sudah lekat dengan Serat Anbiya itu sendiri. Serat Anbiya tersebut adalah milik Ratu Ageng Tegalrejo yang merupakan nenek buyut dari Pangeran Diponegoro. Sehingga, hal itu berada pada kisaran abad ke- 18 M.

Ketika dalam hal ini kita hanya mengacu pada pendapatnya Carey (2011) tersebut Serat Anbiya dalam berbagai versi tidak tepat jika dikatakan hanya ditulis oleh orang yang tunggal, yaitu Pangeran Diponegoro. Perbedaan-perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa dalam konteks ini Serat Anbiya bukanlah sebuah serat yang memiliki isi dan penulis yang tunggal. Meskipun pada dasarnya memiliki kesamaan judul namun serat tersebut juga memiliki isi serta ditulis oleh orang yang berbeda-beda. Terlepas bahwa terdapat pengarang yang berbeda-beda dari Serat Anbiya tersebut, tentu juga tidak dapat menutup kemungkinan bahwa Pangeran Diponegoro juga merupakan salah satu dari pengarang kitab-kitab tersebut. Terlebih lagi dengan kehidupan Pangeran Diponegoro yang sedari kecil telah lekat dengan dunia pesantren dan berbagai keilmuan yang dibangun serta diajarkan di dalamnya (Carey, 2011).

Pangeran Diponegoro yang memiliki nama kecil Bendoro Raden Mas Mustahar secara pemikiran dan sikap hidupnya lebih banyak dipengaruhi oleh nenek buyutnya, yaitu Ratu Ageng Tegalrejo. Nenek buyutnya merupakan muslimah yang taat dan beliaulah perempuan perkasa yang melahirkan Sultan Hamengku Buwono II dalam masa Perang Giyanti. Selain itu Ratu Ageng juga merupakan komandan pengawal perempuan elite yang dikenal dengan korps prajurit estri (Carey, 2011).

Ratu Ageng mendidik Pangeran Diponegoro dalam didikan yang sangat religius dan kental dengan berbagai pelajaran berkaitan dengan agama. Pangeran Diponegoro dididik di pesantren Tegalrejo yang menekankan pendidikan Al-Qur’an dan Hadist. Kehidupan dan pelajaran yang didaptkan di Pesantren inilah yang membuat Pangeran Diponegoro berbeda dengan bangsawan keraton umumnya di masa itu (Carey, 2011).

Selain itu, kehidupan di Pesantren memperkenalkan Pangeran Diponegoro dengan kitab-kitab klasik karya Para Ulama’ masa lalu, bahkan beliau memiliki ketertarikan yang sangat dengan kitab-kitab tersebut. Kitab-kitab yang dipelajari oleh Pangeran Diponegoro antara lain dalam keilmuan fiqh adalah kitab Taqrib, Lubab al-Fiqih, Muharrar dan Taqarrub. Kitab-kitab tersebut kemungkinan merupakan kitab yang dikarang oleh Ulama’ bermadzhab syafi’i seperti Al-Ghayah wa at-Taqrib  yang biasa dikenal dengan Matan Abu Syuja karena merupakan karangan Abu Syuja. Kemudian kitab Lubab fi al-Fiqhi As-Syafi’i karya Abu Hasan Ahmad bin Muhammad Al-Mahamili. Kemudian kitab Muharrar yang dimaksud adalah kitab Al-Muharrar Fi al-Fiqhi al-Syafi’i karya Syaikh Abu al-Qasim Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul Karim al-Rafi’iy al Qazwini (Carey, 2011).

Selain itu Pangeran Diponegoro juga mempelajari ilmu tasawuf melalui kitab Al-Tuhfah al Mursalah Ila Ruh an-Nabi. Kitab tersebut merupakan kitab yang di karang oleh Ulama sufi asal India, Syaikh Fadhlullah al-Burhanpuri. Kitab lain yang dibaca oleh Pangeran Diponegoro adalah Serat Anbiya (Sejarah pada nabi), dan Tafsir Qur’an. Ia juga membaca karya politik Islam seperti Sirat as-Salatin dan Taj as-Salatin. Pangeran Diponegoro juga mengaji kitab Nasihat al-Muluk, yang dikenal juga dengan At-Tibru al-Masbuki Nasiha al Mulk karya Imam Ghazali (Carey, 2011).

Selain dalam konteks penulisan naskah Serat Anbiya’ di atas, pendidikan ketat yang didapatkan di pesantren serta relasi yang kuat dengan para ulama’ kemudian menjadi salah satu obor bagi perlawanan Pangeran Diponegoro tehadap kolonialisme (1825-1830 M) yang mulai melakukan berbagai penindasan terhadap rakyat seperti ketidakadilan hukum, kerja paksa, penetapan pajak yang sangat tinggi, dan kolonialisme Belanda itu sendiri telah menyentuh pada kebijakan-kebijakan politis dan ekonomi di kerajaan Surakarta (Ricklefs, 2005).

Perang Diponegoro yang juga di sebut sebagai Perang Jawa tersebut memiliki kontribusi yang sangat penting sebagai sarana bagi para ulama dan aristokrat untuk melakukan kritik terhadap  para penguasa Jawa yang tidak mampu merepresi kolonialisme Belanda. Kritik tersebut pada konteks ini dilakukan dengan cara melakukan pelawanan secara fisik melalui mobilisasi basis-basis santri yang ada di Tegalsari (Ponorogo)  dan Jamsaren (Surakarta) (Florida, 2003).

Wilayah Tegalsari merupakan pusat berkumpulnya ulama dan santri. Hal ini dikarenakan di Tegalsari terdapat pesantren gerbang tinitar yang diasuh oleh Syekh Muhammad Besari (Ernawati, 2017). Pesantren itu menjadi penempa ksatria dan ulama. Tokoh-tokoh besar seperti Paku Buwono II, Pangeran Diponegoro, dan Ranggawarsita pernah mengenyam pendidikan di pesantren tersebut. Melihat tersebut, tidak heran jika para dzuriyyah Tegalsari juga menjadi pendakwah di berbagai wilayah, khususnya di Nusantara (Sudrajad, 2014).

Baca juga:  Syekh Imam Tabbri

Kemudian, meskipun dengan peralatan perang yang tidak memadai dan kendala dalam mennggunakan persenjataan, Perang Jawa dalam hal ini mampu membuat kolonialisme Belanda mengalami kebangkrutan, karena dengan adanya perang tersebut kolonialisme Belanda harus mengeluarkan banyak dana untuk meredam perlawanan masyarakat Jawa. Kebangkrutan tersebut kemudian mendorong Belanda mengatur ulang strateginya dengan cara membuat benteng Stelsel. Strategi itulah yang mampu memukul mundur prajurit Diponegoro dan berujung pada tertangkapnya Kyai Mojo (salah satu penasehat kinasih Diponegoro). Selain itu Belanda pada akhirnya juga dapat menangkap Pangeran Diponegoro setelah menggunakan cara licik yaitu dengan menjebak Diponegoro dirumahnya (Leirissa, 1990).

Setelah Diponegoro tertangkap perlawanan masih terus dilakukan baik dari golongan ulama maupun aristokrat. Salah satu tokoh dari golongan ulama yang juga ikut berjuang bersama Diponegoro adalah Syekh Imam Tabbri. Syekh Imam Tabbri merupakan bagian dari pasukan elit Diponegoro yang bernama borjumungah, sehingga sebagai bagian dari pasukan elit Syekh Imam Tabbri sudah tentu sangat kritis dan vokal dalam mengkritik pemerintah. Sikap kritis inilah yang kemudian membuat dirinya menjadi buronan kolonialisme Belanda dan kerajaan Surakarta paska Diponegoro ditangkap (Multazam, 2016).

Syekh Imam Tabbri lari dari wilayah Tegalsari Ponorogo menuju wilayah Blagungan (dahulu masuk wilayah Kaliyoso, Sragen). Wilayah Blangunan adalah wilayah pardikan dari Kyai Abdul Jalal 1. adik kyai abdul jalal 1 yang bernama kyai abdullah juga merupakan salah satu barisan pejuang Diponegoro. Melalui jejaring ulama, Syekh Imam Tabbri ini kemungkinan disembunyikan oleh adik Kyai Abdul Jalil di wilayah tanah pardikan Kaliyoso Tanah pardikan Kaliyoso tersebut diberikan oleh Paku Buwono IV kepada Syekh Abdul Jalal 1 karena beliau mampu menolong Paku Buwono IV ketika hilang di Alas Jogopaten (sebelum diberi nama Kaliyoso oleh PB IV) (Aryawan, 2018).

Berawal dari peristiwa di atas kemungkinan melalui jejaring Ulama dari Kyai Hamdani, Syekh Imam Tabbri diminta untuk menetap di wilayah tersebut. Selain itu, pada waktu itu Panglima Mojo yang bernama Kyai Abdullah putra Bupati Tuban juga berada di wilayah tersebut. Hal tersebut mempertegas adanya sebuah perencanaan untuk mengumpulkan panglima perang Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo yaitu Kyai Hamdani (adik Syekh Abdul Jalal 1 dan panglima perang Diponegoro), Kyai Abdullah (putra Bupati Tuban dan panglima perang kyai Mojo), dan Syekh Imam Tabbri (mewakili dzuryah tegalsari) (Aryawan, 2018).

Hal diatas juga dipertegas dengan hasil diskusi peneliti dengan Anjar (2019) yang merupakan Kepala Seksi Cagar Budaya Sragen dan juga Endar (2019) bahwasanya di daerah yang masuk wilayah Kaliyoso yang bernama Desa Saren dahulu merupakan desa tempat bertempurnya pasukan Hizbullah dan juga pasukan kolonial. Pertempuran tersebut menimbulkan banyak korban dari pasukan hizbullah, dan kemudian dimakamkan di daerah tersebut. Sehingga tempat tersebut dinamakan saren yang dalam bahasa indonesa berarti istirahat.

Pada masa pelarian tersebut, perlawanan Syekh Imam Tabbri kemudian dilanjutkan dengan perlawanan melalui teks, yaitu dengan menuliskan berbagai naskah yang kontekstual dengan situasi Surakarta di masa itu (Sudrajad, 2014). Saling hubung dengan berbagai pembahasan di atas, salah satu naskah yang ditulis Syekh Imam Tabbri dalam hal ini juga berjudul Serat Anbiya’.

Berbeda dengan beberapa Serat Anbiya’ yang telah penulis paparkan di atas, Serat Anbiya’ karangan Syekh Imam Tabbri tidak menggunakan tembang macapat dalam kepenulisannya, tetapi lebih kepada cerita-cerita berkaitan dengan berbagai hal. Pada pendahuluan kita tersebut bahkan diceritakan terkait dengan para tuan yang tersesat dari jalan Allah, di mana tuan-tuan tersebut secara jelas dikatakan dari golongan Nasrani dan Yahudi. Sehingga, berkaitan dengan perlawanan Syekh Imam Tabbri di atas, apa yang ditulis beliau secara gamblang dapat dikatakan sebagai representasi perlawanan terhadap kolonial, yang secara simbolis di katakan sebagai tuan-tuan yang tersesat dari kalangan Nasrani dan Yahudi. Hal ini disampaikan pada halaman 2 dari naskah ini

// Merekalah Nabi, Wali dan setiap orang yang beriman, berdo’a agar Allah membuka lebar dada tuan (majikan) dan menunjukkan jalan kebenaran// dada-dada tuan yang tersesat dari Allah// tuan-tuan yang terdiri dari orang Yahudi dan Nasrani//

Selain berkaitan dengan hal di atas, Serat Anbiya’ karangan Syekh Imam Tabbri ini secara ringkas sebenarnya terbagi menjadi beberapa pembahasan. Pertama adalah sholawat dan salam pembuka, kemudian dilanjutkan dengan pujian-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya membahas tentang siksa kubur, cerita para nabi ketika melewati jembatan Sirathal Mustaqim, balasan bagi orang-orang yang taat, kemudian membahas tentang konsep tentang istri yang cantik, dan yang terakhir ditutup dengan puji-pujian kepada Allah dan Rasulnya. Serat anbiya’ ini tampaknya sengaja dituliskan syekh imam tabbri berbeda dengan serat anbiya’ yang berkembang, karena syekh imam tabbri ingin memberikan pembahasan lanjutan mengenai umat para nabi yang disiksa di neraka kemudian mereka akan lari kepada nabi adam, Ibrahim, musa, isa, dan bermuara kepada nabi Muhammad sebagai sang penolong (syafa’at). Maka penulisan yang dilakukan syekh imam tabbri ini beserta piwulang kepada masyarakat sekitar supaya mereka bertambah imannya ketika mereka mendapat cerita mengenai siksa neraka dari para umat nabi, dan lebih tidak lupa akan pentingnya sholawat kepada nabi Muhammad sebagai pemberi syafa’at.

Secara keseluruhan serat ini terdiri dari 42 halaman dalam naskah Syekh Imam Tabbri dari halaman 317-358, dan terdapat 1 halaman yang tulisannya telah hilang yaitu pada halaman 353. Selain itu, jika dilihat dari halaman akhir dari serat ini, sepertinya terdapat beberapa lembar halaman yang hilang. Hal ini dikarenakan di halaman terakhir ada satu kalimat yang menuliskan tentang niat saat akan melakukan khotbah idul fitri, dan juga tampak di akhir halaman dari serat ini juga tidak ditutup dengan do’a dan salam penutup. Seperti halnya kitab-kitab lain yang ditulis oleh Syekh Imam Tabbri, seperti Maulid Qashar dan Syarh Ummul Barahain. Walaupun dalam teks tersebut tidak menyebutkan judul naskah, akan tetapi peneliti menamakan teks tersebut sebagai Serat Anbiya’. Hal ini mengacu pada awalan dalam Serat Anbiya karangan Syekh Imam Tabbri ini sama dengan naskah Serat Anbiya’ dari Sidoresmo yang pernah peneliti baca dari keturunan Sidoresmo Surabaya:

//317//

Bismillāhi ar-rahmāni ar-raḥīm// dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha penyayang// isun amimiti anabut namaning widhi// Aku memulai dengan menyebut nama Hyang Widi//ingkang mulya ingkang kathah Allah rikay tur kang asih ing akhirat// yaitu Allah yang mulya dan yang memberi kasih di akhirat//sakathahing puji sembah kathur ing pangeran// segala puji dan sembah sampai kepada Pangeran// pangeran ing alam kabeh Allah// Pangeran seluruh alam semesta yaitu Allah//rikay tur kang angapura ing wong dosa// yang mengampuni orang berbuat dosa//isung pujine pangeran ingsun kang asih// Aku memuji Pangeran Sang Pengasih// angiling muja lan jiwa raga Allah rikay yen//  mengingat untuk memuja-Nya dengan jiwa dan raga sampai ketika

Baca juga:  Sumpah “Galau” Pemuda

Hal kedua mengacu pada isi teks yang menceritakan umat para nabi yang disiksa di neraka. Kemudian menceritakan perjalanan Nabi Adam, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad melewati jembatan sirathal mustaqim dan melihat semua umatnya yang ada di neraka meminta pertolongan kepada para nabi tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan pembahasan terkait dengan ciri-ciri yang harus diketahui ketika ingin memilih istri yang cantik agar terhindar dari siksa neraka. Selanjutnya naskah tersebut diakhiri dengan do’a ma’rifat. Konsep tersebut juga sama dengan naskah Serat Anbiya Sidoresmo Surabaya yang isinya juga menceritakan mengenai umat para nabi yang mendapatkan siksa di neraka.

Tentunya dengan melihat perbedaan Serat Anbiya’ yang dikarang oleh Syekh Imam Tabbri ini dengan beberapa Serat Anbiya’ lainnya membuat penulis tertarik untuk mengangkat Serat Anbiya’ ini sebagai objek untuk melakukan Alih Bahasa. Selain sebagai sebuah upaya untuk melihat unsur keberbedaan naskah sebagai suatu alternatif yang positif seperti halnya yang disampaikan oleh Baried di atas, tetapi kandungan yang dicatat oleh Syekh Imam Tabbri tersebut di dalam Serat Anbiya’ dalam hal ini sangat kontekstual dengan realitas yang terjadi pada saat ini, terutama berkaitan dengan banyaknya majikan atau tuan-tuan yang tersesat, dan konsep cantik bagi para perempuan yang sudah sangat jauh dari nilai-nilai agama seperti halnya yang di catat oleh Syekh Imam Tabbri.

Inilah yang menegaskan relevansi Serat Anbiya karangan Syekh Imam Tabbri dengan realitas hari ini. Majikan dan tuan-tuan yang tersesat dalam konteks naskah Syekh Imam Tabbri di masanya tentu akan merujuk pada kolonialisme terlebih hal itu dikaitkan dengan agama Yahudi dan Nasrani, dan juga para pegawai pemerintahan di kerajaan Surakarta yang sebenarnya merupakan pribumi. Kolonialisme yang berkelindan dengan para pemimpin yang serakah dan korup ini sama halnya dengan kontek hari ini. Pemimpin Negara dari Bupati, anggota dewan, mentri dan pegawai pemerintahan lain banyak yang terjerat korupsi, bahkan 42 % dari kasus korupsi yang terjadi di Indonesia belakangan adalah melibatkan pejabat dan pegawai pemerintahan (Hariyanto, 2017).

Tercatat pada tahun 2015 setidaknya terdapat 550 kasus korupsi yang merugikan negara sebesar Rp. 31,077 Triliun (Tashandra, 2016), dan pada tahun 2016, meskipun jumlah kasus mengalami penurunan tetapi setidaknya masih terdapat 482 kasus, dengan 1.101 tersangka dan kerugian negara sebesar Rp. 1,45 Triliun (Siena, 2017). Sedangkan, dalam kurun waktu 6 bulan mulai 1 Januari hingga 30 Juni 2017, terdapat 226 kasus korupsi dengan jumlah tersangka 587 orang dan merugikan negara sebesar Rp. 1,83 Triliun (Hariyanto, 2017).

Kemudian berkaitan dengan konsep cantik. Perempuan cantik saat ini sudah tidak lagi seperti yang diterangkan dalam serat ini. Di antaranya perempuan cantik yaitu orang yang berpuasa senin kamis, berbakti pada suami, lebih mementingkan mengaji daripada bekerja, orang yang berwudlu di dalam sholatnya, orang yang bertakbir di dalam sholatnya, orang yang rukuk di dalam sholatnya dan seterusnya. Cantik saat ini secara umum lebih dipandang dari hal-hal yang fisik misalnya kulit putih, langsing, tinggi dan sebagainya. Sehingga dapat dilihat jika Syekh Imam Tabbri melihat cantik dalam konsepsi Agama, tetapi realitas hari ini lebih memandang cantik tidak dalam konteks itu. Bahkan jauh dari konsepsi Agama.

Konsepsi cantik menurut Syekh Imam Tabbri bahkan akan memiliki implikasi bagi kehidupan seorang perempuan di akhirat jika memang perempuan tersebut mengusahakannya. Misalnya jika perempuan tersebut cantik di dunia (dalam pengertian Syekh Imam Tabbri) katanya di surga perempuan tersebut wajahnya akan bersinar seperti rembulan, berpendar-pendar seperti bintang, berkilau seperti cahaya yang memantul dari kaca dan seterusnya.

Hal yang tidak bisa ditinggalkan berkaitan dengan kontekstualisasi yang terjadi hari ini adalah berkaitan dengan mudahnya seorang individu atau kelompok menghardik individu atau kelompok lain dengan kata sesat dan kafir (Kresna, 2016). Padahal Syekh Imam Tabbri dalam hal ini sangat hati-hati dalam menggunakan istilah tersebut, meskipun serat ini merupakan kontekstualisasi dari kolonialisme saat itu. Syek Imam Tabbri menjelaskan bahkan umat-umat lain dari agama-agama terdahulu yang mengikuti nabi-nabi terdahulu dapat diselamatkan dan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad jika masih ada sedikit keimanan di dalam hatinya.

Kontekstualisasi antara kebutuhan atas realitas hari ini dengan gagasan yang ada di dalam Serat Anbiya karangan Syekh Imam Tabbri di atas dalam hal ini konsisten dengan pendapat Wulandari dan Handayani (2018) bahwa di dalam naskah peninggalan masa lalu tersebut terkandung nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini.

Melihat gagasan-gagasan di atas, naskah yang ditulis dengan bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon ini tentunya sangat berguna jika diangkat kembali di masa ini. Namun, kenyataannya tidak semua orang di masa ini yang mengetahui kaidah-kaidah bahasa Jawa khususnya aksara Arab Pegon. Sehingga dalam hal ini keilmuan filologi seperti yang telah sedikit disinggung diawal dibutuhkan untuk menghadirkan teks ini kembali di zaman sekarang. Pada pekerjaan ini tentu yang pertama kali perlu dilakukan adalah melakukan alih aksara, dari aksara Arab Pegon ke dalam Aksara Latin, karena aksara inilah yang familira saat ini.

Upaya selanjutnya adalah dengan melakukan alih bahasa. Hal ini sangat berguna terutama bagi individu yang ingin membaca karya Syekh Imam Tabbri ini tetapi tidak memahami bahasa Jawa dan bahasa Arab. Tentunya untuk tidak menghilangkan makna yang ingin disampaikan oleh Syekh Imam Tabbri, penulis mengusahakan alih bahasa ini tidak meninggalkan satu katapun di dalam teks aslinya. Namun, tentunya usaha tersebut akan menemui sedikit kendala karena tidak semua kata di dalam bahasa Jawa yang dapat dialihbahasakan dengan mudah secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga, alternatif penulis adalah melakukan penerjemahan kata yang demikian dengan dijabarkan secara istilah sesuai makna yang diinginkan kata tersebut.[]

pangerandiponegoro - Serat Anbiya

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi