Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Ramadan

Ini kisah nyata di sebuah kampung saat Ramadan, tentang seorang nenek yang berharap memperoleh kain rukuh bekas pakai, perangkat salat untuk kaum perempuan. Ia bertemu dengan Ny. H, dan berkata: rukuh miliknya sudah usang, dan terlalu kecil untuk dipakai salat tarawih. Adakah engkau memiliki rukuh yang masih layak kugunakan untuk berdiri di hadapan Tuhan.

Ny. H menimbang sejenak. Ia punya beberapa potong rukuh yang masih bagus. Ada rukuh mas kawin yang diberikan suaminya. Ada juga rukuh yang dibelinya dengan harga mahal tahun lalu. Namun, ia tak berani memutuskan, karena masih harus meminta izin kepada sang suami. Ny. H meminta perempuan tua itu kembali ke rumahnya besok.

Baca juga:  Merayakan Rumi di Bulan September

Keesokan harinya, perempuan tua itu kembali dengan membawa satu sisir pisang kecil dan beberapa buah singkong. Ia bermaksud menukar rukuh dari Ny. H.

“Tidak usah, Mbah,” kata Ny. H. Ia ingin memberikan rukuh itu cuma-cuma.

Namun, perempuan tua itu memaksa. Ny. H mengalah. “Baiklah, berapa harganya. Biar saya beli.”

Tidak. Perempuan itu tetap menolak uang Ny. H. Ia hanya menginginkan pertukaran. “Jangan. Kelak aku juga ingin bertemu di surga denganmu.” Perempuan tua itu ingin bisa berkata di hadapan Tuhan, bahwa ia tak hanya menerima, tapi juga memberi.

Tak hanya menerima. Pada akhirnya kemiskinan tak selalu berarti komunikasi satu arah: bahwa si miskin selalu menengadahkan tangan. Ny. H tercekat. Ia tak menyangka memperoleh jawaban itu.

Baca juga:  Tindakan Kolektif di Tengah Dilema Kolektif Akibat Covid-19

Azan magrib terdengar. Saatnya berbuka. Ny. H membuka sajadah, menyediakan tempat bagi perempuan tua itu untuk bersembahyang. “Aku doakan engkau bisa segera naik haji bersama suamimu,” kata sang perempuan tua, sebelum pamit pulang.

Seorang yang sinis mungkin akan berkata: mendoakan dirimu sendiri saja tak mampu, mengapa kau doakan orang lain. Namun di situlah mungkin indahnya doa: kita menitipkan harapan, karena pada titik tertentu, hanya itu yang kita punya dalam hidup. Dengan harapan, kita berbagi dengan yang lain dan sadar bahwa hidup tak selamanya datar. Hidup tidaklah selalu berarti pertarungan sampai mati.

Ketika sang perempuan tua menawarkan pisang sebagai pertukaran kepada Ny. H, sejatinya ia tengah membangun harapan itu. Tak hanya untuk Ny. H tapi juga untuk dirinya sendiri. Setidaknya di hadapan Tuhan yang mencintai orang-orang yang saling peduli. []

Baca juga:  Sinoatrial Node

Kisah selengkapnya bisa Anda beli di sini

Blue and Yellow Bananas Wallpaper 1 - Sesisir Pisang di Surga

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi