Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Entah siapa sebenarnya orang bernama Ki Banar. Orang-orang desa menganggapnya sebagai leluhur, sing mbabat alas, memberi petuah dan pertolongan. Sederhana saja petuahnya “Iki sing bener, iki bener, ini yang benar, ini benar”. Mungkin iki bener berkembang menjadikan namanya Ki Banar. Entahlah benarnya. setio banar

Cerita dimulai ketika seorang lelaki baru lulus kuliah dan bingung mau apa. Kerja kasar nggak bisa, menjadi guru nggak mau. Lelaki muda itu mulai mencari orang pintar, ketika banyak saudara dan kenalanya sama menyindir, “sarjana kok pengangguran”.

Maka ketemulah lelaki muda itu dengan orang yang bernama Ki Banar, yang kata orang masih keturunan Ki Banar. Entah keturunan keberapa. Namun semua keturunan Ki Banar yang sudah dewasa atau berumah tangga menyandang nama sama, Ki Banar, sementara yang perempuan, Nyi Banar. Penentuan yang berhak menyandang Ki Banar menjadi urusan keluarga besar Ki Banar. Dan warga selama ini masih menyetujui hal itu.

Rumah Ki Banar berada di pojok desa, yang kanan kirinya terdapat pepohonan sengon, cemara dan sawah. Lelaki muda bernama Setio pada suatu malam bersilaturahmi pada Ki Banar.

“Ki Banar, apa yang harus dilakukanya setelah lulus kuliah?”

Ki Banar menjawab, “Kalau mau selamat dan hidupmu damai, bertanilah”.

Semula Setio malas mengikuti saran Ki Banar. Namun karena sudah menikah, tuntutan hidup, mau bagaimana lagi.

Dari situ Setio bertani. Tanganya mulai merasakan lecet-lecet. Punggung dan lambungnya mulai merasakan perih dan pegal. Kulitnya semakin coklat kehitaman. Setio mulai merasakan rokok tingwe. Namun bertani dengan lahan sempit itu susah.

Setio kemudian mengadukan kesusahanya bertani di lahan sempit pada Ki Banar di tahun keduanya bertani. Jawaban Ki Banar, “Bertanilah dengan giat dan berdzikirlah dengan istiqomah”.

Rentang setahun Setio berusaha mempraktekkan apa yang menjadi petuah Ki Banar. Setio jadi rajin mandi, tiga kali sehari; pagi sebelum sholat subuh, beduk luhur dan sore hari sehabis bertani. Sholat lima waktunya mulai disiplin. Dzikirnya mulai lebih khusuk.

Namun Setio dan keluarga tetap miskin. Padahal Setio bertani dari pagi dan sore. Padahal Setio berdzikir dan beribadah dengan tertibnya.

Hal demikian Setio tanyakan pada Ki Banar di tahun ketiganya bertani. Jawaban Ki Banar, “Bertanilah dengan giat, berdzikirlah dengan istiqomah, kuatkan silaturami”.

Setahun Setio berusaha mempraktekkan apa yang dipetuahkan Ki Banar tersebut. Setio bertani dan beribadah seperti sebelumnya. Sholat lima waktunya diusahakan selalu berja’mah di masjid. Lalu Setio mulai ikut tahlilan dan yasinan di tingkat RW. Sementara untuk silaturahmi anak mudanya ikut shalawatan dan tiba’an.

Baca juga:  Desersi Sang Penyair, Kisah Arthur Rimbaud

Namun Setio melihat banyak petani yang sukses, kaya adalah petani yang bekerja keras dan tidak memedulikan sholat lima waktu. Sementara petani yang kerjanya giat dan disiplin sholat lima waktu berikut dzikirnya, ekonominya pas-pasan dan kekurangan.

Setio kembali datang pada Ki Banar di tahun keempatnya bertani, mengadukan apa yang meresahkan dari pilihan hidup bertaninya. “Ini bagaimana Ki?”

Ki Banar memberikan jawab, “Tetaplah bertani dengan giat, tetaplah berdzikir dengan keras, tetap jalin silaturahmi dengan sesama manusia lalu bersabarlah. Ada petani yang kaya karena bertaninya giat sampai meninggalkan sholat lima waktu, itu jangan membuat nak Setio iri. Ingatlah Allah itu maha rahman rohim, memberi rejeki pada setiap orang, tidak peduli orang itu ingat padanya atau tidak. Dan ingatlah kita adalah manusia merupakan ciptaan Allah, kita diberi tugas untuk beribadah, menjalankan perintahnya menjauhi larangannya, menyebarkan rahmat Allah kepada sesama, salah satunya bertani.

Ingat nak Setio, soal rejeki itu haknya Allah dan bentuknya banyak. Pilih mana nak Setio, menjadi kaya, tapi nak Setio punya penyakit stroke, dijauhi tetangga dan kawan-kawan, dibanding nak Setio miskin, tapi sehat, anak berbakhti, istri solehah, tetangga dan kawan membantu dalam kesusahan dan ikut senang ketika nak Setio bahagia?”

Setahun kemudian Setio berusaha mempraktekkan apa yang dipetuahkan Ki Banar. Setio tetap bertani, beribadah, rajin menjalin silaturahmi dan belajar sabar dengan kemiskinan yang terus menderanya dan belajar tidak iri dengan kekayaan orang lain.

Namun karena Setio itu seperti lumrahnya manusia yang selalu merasa kurang, ingin maju dan tidak betah miskin, maka ia mengikuti pertanian modern. Memakai pestisida, memilih benih terbaik, memakai pupuk dengan bersemangat tinggi. Hasilnya untuk beberapa saat lumayan.

Lalu Setio menceritakan perubahan bertaninya dan kisah suksesnya pada Ki Banar di tahun ke tujuhnya bertani.

Di luar dugaan, Ki Banar tidak memberikan komentar menyenangkanya, “Sudah bertahun-tahun dirimu bertani, dirimu masih kurang menyadari keberadaanmu sebagai petani. Seorang petani tugasnya ya bertani. Mencangkul, menyiapkan lahan agar benih yang ditanam bisa tumbuh dengan baik. Membersihkan rumput, agar tanaman yang ditanam dapat berkembang. Namun sayangnya nak Setio memiliki nafsu membunuh rumput dengan obat semprot ketimbang menyiangi, matun, dengan pacul. Padahal rumput adalah makhluk Allah, punya hak untuk hidup, bertumbuh. Nak Setio jadi bernafsu membunuh hama pada tanaman cabemu dengan pestisida secara berlebihan. Hasilnya memang banyak, namun apakah itu baik dan sehat untuk dikonsumsi. Jangan berlebihan nak Setio, secukupnya saja, jangan ngamuk.

Baca juga:  Widodo Diminta Marah

Tujuan nak Setio untuk meningkatkan hasil panenan, jangan didasari ketakutan kalau tidak dibegitukan hasil panenanmu sedikit, lalu nak Setio takut tak bisa makan, tak bisa menyekolahkan anak dan tidak bisa membelikan perhiasan istri nak Setio.

Nak Setio tahu kesalahan nak Setio dalam kondisi demikian? Nak Setio sudah mulai kurang percaya tuhan maha rohman rohim walau rajin sholat lima waktu, berdzikir suntuk tiap harinya dan bertaninya giat. Nak Setio lebih mempercayai bertani, cangkul, pupuk, pestisida, hasil panenan, dzikir, ibadah yang bisa memberikan rejeki dan keluarga nak Setio. Padahal kerja, ibadah, dzikir nak Setio adalah tugas nak Setio sebagai hamba dan kafilah Allah di bumi. Sementara rejeki; kekayaan, kesehatan itu hak Allah mau diberikan kepada siapa, waktunya kapan dan bentuknya apa”.

Begitulah. Kehidupan terus berubah dan mengalir. Setahun kemudian Setio berusaha mempraktekkan apa yang dipetuahkan Ki Banar. Tetap bertani, beribadah, berdzikir, bersilaturahmi, belajar sabar, mulai mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia dan mulai menggalakan pupuk alami; kotoran sapi, kambing, ayam dan pupuk kompos; daun-daunan. Dan terpenting mulai belajar menata hati untuk bersikap pasrah menerima.

Namun Setio kemudian menghadapi kenyataan, jumlah petani semakin sedikit. Kaum petani, baik petani brambang, petani tembakau, petani padi, kebanyakan hidup mereka dalam garis kemiskinan, cuma cukup buat makan atau kebutuhan sehari-hari.

Semula Setio hanya mengatakan pada mereka seperti yang dipetuahkan Ki Banar, terutama untuk bersabar dan pasrah. Namun hal demikian tak bisa bertahan lama. Mereka kebanyakan tak tahan, sementara orang-orang yang di atas begitu betahnya dengan kekayaan dari hasil korupsi. Mereka ikut demo dan ikut-ikutan demo layaknya mahasiswa.

Dan akhirnya Setio bertanya dan mengadukan permasalahan kebanyakan petani tersebut pada Ki Banar di tahun kedelapannya bertani.

Jawaban Ki Banar, “Tetap bertani, beribadah, berdzikir, bersilaturahmi, pasrah, sabar. Terus masalah petani dengan penguasa, sebagai petani bermusyawarahlah dengan baik, dengan hati dan pikiran tenang untuk menemukan kebenaran dan keadilan. Kuatkan budaya saling bantu dan gotong royong. Kalau itu dirasa tidak bisa mengatasi masalah yang kalian hadapi, adukanlah masalah tersebut dengan cara yang baik pada penguasa. Kalau penguasa repot, adukan masalah tersebut kepada wakilmu di parlemen. Ingatlah gunakan cara yang baik, dan hindari sifat merusak yang menambah masalahmu sendiri”.

Baca juga:  Serat Anbiya

Setahun kemudian Setio berusaha mempraktekkan apa yang dipetuahkan Ki Banar tersebut. Namun Setio kemudian menghadapi kenyataan, demo mereka semula biasa-biasa saja, menuntut pemerintah dan parlemen agar memperhatikan nasib mereka. Namun ketika tuntutan mereka tidak direspon dengan jelas, demonya disertai ancaman, tidak membayar pajak, tidak ikut pemilu dan pilkada. Setio bingung melihat perkembangan situasi.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Sebelum sempat mengadukan masalah tersebut kepada Ki Banar, Setio menghadapi kenyataan lagi, kebanyakan petani melakukan demo dan aksi disertai ancaman tersebut, ternyata menjelang pemilu dan pilkada, banyak yang menjadi panitia penyelenggaraan pemilu dan pilkada di desanya. Kemudian kebanyakan mereka menjadi tim sukses partai, tim sukses calon bupati, tim sukses calon gubernur, tim suksesnya calon presiden. Setio kembali bingung.

Dan akhirnya Setio bertanya dan mengadukan kebingungannya tersebut pada Ki Banar di tahun kesembilannya bertani.

Jawaban Ki Banar, “Tetap bertani, beribadah, berdzikir, bersilaturahmi, pasrah, sabar. Terus soal para petani yang mengatasi masalahnya dengan berdemo disertai ancaman, kamu tidak usah ikut-ikut mengancam.

Soal tidak sedikit petani yang berjuang tidak konsisten dengan ancaman apakah nak Setio ingin mengikutinya? Kalau nak Setio tidak bisa berbuat baik dan bermanfaat untuk banyak, berusahalah berbuat baik untuk keluarga dan diri nak Setio sendiri. Kalaupun nak Setio tetap tidak bisa, maka janganlah berbuat jelek dan menambah kerusakan”.

Setio diam. Diam. Dan diam. Namun persoalan terus datang, Setio jadi malu datang dan mengadukannya kepada Ki Banaran. Setio merasa bodoh sekali, dari sembilan pertemuan, pertanyaan, aduannya, terus saja dijawab, tetap bertani, tetap rajin sholat lima waktu, tetap berdzikir, tetap bersilaturahmi, tetap sabar dan tetap pasrah. Malunya Setio jadi males kalau datang lagi, merasa menjadi orang tak tahu diri, karena Setio sekarang sudah mulai malas bertani dan berkhayal jadi politisi. Toh resikonya ketahuan korupsi hanya dipenjara sebentar saja, teman masih setia, masih kaya serta masih boleh menyebut tuhan dan minta ampunan.

Sambil menimbang keinginan berubah jadi politisi Setio teringat petuah Ki Banar terakhir, “benar dan betul, kebenaran itu milik Allah dan aku kebetulan saja bisa berkata demikian.[] Temanggung, Juni, 2016

ki banar - Setio dan Petuah Ki Banar

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi