Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan masa latihan riset antropologi

Tulisan ini berisi retorika yang bersumberkan dari catatan yang sebelumnya bersifat pribadi. Saya senang berkesempatan untuk mengungkapkan itu dalam lingkup forum yang lebih komunikatif dan membuka peluang untuk kritik. Dari sekian catatan yang ada saya menjatuhkan pilihan pada tiga lokasi, Pertama: Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah; Kedua: Desa Kaligintung, Kecamatan Temon, Kabupaten Wates, DIY; dan Keempat: Lamakera, Solor Timur, Flores Timur, NTT – sebuah titik yang membuahkan sebuah skripsi.

Gunung

Mendekati bulan Februari 1994, Kemant disibukkan dengan sebuah kegiatan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Ini sudah menjadi kegiatan rutin bahwa setiap tahunnya paling tidak “Jurusan Antropologi” atau lebih tepatnya keluarga Mahasiswa Antropologi melakukan kegiatan di lapangan atau disebut TPL. Kegiatan ini setahu saya memuat tiga hal pertama Rekreatif, kedua Meditatif, dan ketiga (baru melakukan hal yang bersifat) romantis. Kegiatan ini tidak memberikan porsi berupa beban akademis yang berat, hampir mirip pramuka, bermain sambil belajar.

Seingat saya, tanggal 2 atau 3 Februari saya tergabung dalam satu tim advance (tiga orang) berangkat  ke Kenalan di lereng barat Gunung Merbabu. Saya saat itu membayangkan kira-kira apa yang akan dilakukan nanti setelah sampai di sana. Dalam kepala saya (dan menjadi kekhawatiran saya) Apa bisa saya mencari informasi yang dijadikan data berdasarkan kesepakatan di beberapa coaching persiapan TPL.

Penduduk di sini kelihatannya baik-baik dan begitu berbeda dengan diri saya yang berasal dari daerah dataran sebelah tenggara Merapi merbabu. Hawa yang dingin dan pemandangannya yang indah benar–benar menguras perhatian dan kemampuan fisik saya. Malam hari waktu saya habiskan untuk berbincang-bincang dengan teman dan pak dukuh (tuan rumah) di dapur, sambil minum teh hangat Sewaktu saya ditanya pak dukuh, “mas kuliah di mana ?”. Saya menjawab singkat, tanpa bayangan komentar balik dari dia. Dia berkomentar, “ wah Antropologi, besok kalau sudah lulus akan jadi astronot. Demi mendengar jawaban ini saya betul-betul heran (ngglangsar). Saya hanya dapat tersenyum tanpa maksud menjelaskan lebih jauh karena menyadari sayapun belum mengetahui persis Antropologi itu termasuk binatang apa.[1] Setelah malam menjelang tidur, saya kemudian ingat dengan jelas lagunya Hedi Diana yang berjudul “Mari bermain Antrophonologi”. sebuah permainan yang sering dianggap serius mengenai arti dan makna huruf-huruf alphabet. Sambil menyanyikan lagu itu saya melakukan gurauan dengan teman-teman lainnya.

Keesokan sorenya sekitar Jam 15.00 WIB, teman-teman TPL lainnya datang, semuanya termasuk Tim advance berjumlah 15 orang. Semua sepakat menggunakan dan berlatih metode Etnoscience.  Metode ini begitu rumit serta njlimet dan berpontensi menjebak dalam kebingungan bagi siapa saja yang tujuan atau orientasinya kurang kuat. Pergantian topik dan tema penelitian sering terjadi.

Baca juga:  Perempuan dalam Data Etnografi Ekonomi

Saya berhasil membuat laporan yang kemudian dikembangkan dalam bentuk paper di berapa mata kuliah. Saya belajar sesuatu bahwa sebuah sejarah/pengalaman di lapangan merupakan salah satu landasan terkuat bagi argumentasi yang akan dibangun.[2] Saya membandingkan dengan waktu sebelumnya, paper saya selalu dieyeli/dibantah Mas Pujo.

Dataran

Saya melakukan banyak persiapan untuk melakukan TPL di Kaligintung. Banyak teman yang membantu menyediakan bahan-bahan untuk membuat proposal penelitiannya. Ketertarikan saya pada aspek religi di masyarakat. Pertemuan pertama Coaching, Proposal yang saya bangun dengan kerja keras akhirnya dirubah dengan penekanaan pada penelitian yang lebih meluas dengan tidak menafikan ketertarikan dari masing-masing peserta TPL yang berjumlah 30 orang. Diskusi yang dibuka dan ditemani Mas Pujo pada akhirnya sepakat untuk membuat sebuah etnografi sebuah masyarakat dengan isi apapun ketertarikan dari masing-masing peserta TPL.

Saya sebagai koordinator semua teman-teman dijatuhi sebuah beban kerja yang memmecahkan kepala. Setiap waktu harus menyediakan waktu untuk diskusi-diskusi pendek (sering) dengan masing-masing anggota TPL dengan tidak mengabaikan penelitian saya sendiri. Dari banyak permasalahan yang ditemui, saya merasa mendapatkan banyak pelajaran dari masyarakat kaligintung dan teman-teman sendiri. Sejauh yang saya pahami, orientasi kami dilapangan lebih ditekankan pada pergaulan yang semakin hari-semakin dekat (kalau belum boleh dikatakan mendalam). Semua perubahan topik/tema yang dialami oleh semua anggota TPL dikarenakan interaksi yang pada titik tertentu membangkitkan pengertian-pengertian dari saya dan teman-teman bahwa Masyarakat Kaligintung mempunyai permasalahannya sendiri dan orientasi sendiri. Kami masing-masing seolah melakukan negosisasi berkali-kali dengan jaringan sosial interaksi kami. Hal ini mengkondisikan pada saya untuk berpikir, etnografi bukanlah semata-mata kerja individual. Meskipun pada galibnya pertanggungan jawab (dampak tulisan tersebut) ada di masing-masing pribadi. Sebuah pekerjaan yang penuh tanggung jawab bagi saya sering merupakan tantangan yang sangat realistis.

Hidup kita di suatu masyarakat bukan sekedar lewat layaknya kafillah. Suara-suara yang terdengan bukan sekedar suara gongongan anjing yang begitu saja dapat diabaikan tanpa harus menghinakan sumber suara tersebut. Keberadaan kami yang berjumlah 30 orang benar-benar memberikan dampak yang sangat jelas (mudah saya temui) bagi masyarakat Kaligintung. Masing-masing menjadi sangat jelas identitasnya, siapa orang-orang yang TPL dan siapa Masyarakat Kaligintung. Dengan sangat terorganisirnya saya dan teman-teman membongkar ingatan kejadian serta beberapa informasi yang sebenarnya tertutup bagi beberapa kalangan di Kaligintung.

Saya dan beberapa teman tidak sekedar belajar Antropologi di lapangan tapi juga belajar tentang hidup. Beberapa informan tua secara gamblang mengatakanya kepada saya untuk memberikan bekal –padahal saya bermasud mendapatkan informasi itu dan saya perlakukan hal itu sebagai data[3] hal ini berkebalikan dengan penilaian informan (bahwa hal ini sangat serius). Untuk menerima keadaan itu akhirnya saya benar-benar menyadari penuh bahwa saya disini adalah seorang murid yang belajar dari guru (informan)—sebagai murid harus rajin dan lulus dengan sebaik-baiknya.

Baca juga:  Biola Berdawai

Lautan

Lamakera Solor Timur (NTT). Beberapa orang ahli menganggap bahwa masyarakat yang hidupnya di pesisir mempunyai sifat yang terbuka terhadap berbagai perubahan dan kemungkinan. Hal ini di dasarkan pada tingginya intesitas hubungan dengan masyarakat atau orang-orang dari bebrbagai asal dan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Meskipun begitu, bukan berarti lepas dari stereotip bahwa masyarakat pesisir mempunyai sifat atau karakter yang kasar. Stereotip jenis ini lebih tepat untuk dikenakan pada orang-perorang bukan untuk dijadikan pengetahuan yang dilabelkan pada suatu komunitas masyarakat tertentu.

Dengan berbekal pada minimnya literatur tentang masyarakat pesisir (Antropologi)[4]. Saya merencanakan sebuah penelitian di kawasan Indonesia Timur, dengan catatan, menggunakan bahasa yang sama sekali belum saya kuasai. Semua perencanaan ini dibingkai besar dalam sebuah ekspedisi yang bernama ekspedisi Lamakera (1996).

9 orang termasuk saya, mempersiapkan ekspedisi ini dengan dibantu oleh Mas Made, Pak Laksono, dan Pak Hans. Saya dengan salah satu teman berkewajiban khusus untuk mempersiapkan Proposal Penelitian dan dibantu seorang teman angkatan 92 untuk mengurus perijinan dan collecting dana.

Seperti pengalaman di Merbabu, saya diperbantukan dalam tim Advance yang terdiri dari dua orang untuk mempersiapkan segala keperluan adminstratif di lokasi Ekspedisi. Kami berdua berangkat pada awal Julli 1996. Sesampainya di Kupang saya berkenalan dengan orang-orang yang banyak sekali membantu dengan memberikan pandangan-pandangan baru mengenai tempat yang akan kami datangi. Setelah 1 minggu di Kupang segera kami menyeberang ke Pulau Flores. Kami sampai ditujuan keesokan sorenya.

Ketika tiba di sana, saya teringat kembali pada proses yang akhirnya membawa saya berada di Lamakera. Pak Hans, dalam setiap coaching yang dihadirinya, dapat dikatakan tidak pernah untuk memberikan sebuah gambaran sebuah masyarakat NTT yang dapat dijadikan referensi. Semua aksinya seolah mengatakan everything is gonna be Allright, dan saya setuju dengan sudut pandang optimis seperti itu –meskipun tidak ada yang saya khawatirkan. Semua akan menjadi jelas ketika kita nanti mengahadapinya secara langsung (pengalaman langsung)[5].

Saya berpendapat tidak ada yang lebih berharga dari pengalaman langsung. Pada titik ini Etnografi lebih dari sekedar binatang akademis yang darinya gelar kesarjanaan ditahbiskan. Kedua kutub itu menjadi begitu kabur dan saya merasa cukup untuk menyandarkan diri saya untuk tetap mencatat, bertanya, dan menjalankan hidup bersama dengan orang-orang yang ada di lingkungan di mana saya berada. Bukan saya yang mengetahui kebiasaan orang-orang tapi juga mereka tahu persis kebiasaan saya dan apa yang saya sukai dari sebuah waktu luang

Baca juga:  Proposal Cinta

Perkenalan saya dengan sesorang yang berasal dari Jawa Barat (Saya tidak tahu tepatnya dari mana) telah menyebabkan perubahan yang menurut saya sangat besar. Suatu saat, Ujang (nama teman saya tersebut) Meminjam semua perlengkapan saya termasuk topi dan tas pinggang. Di perjalanan menuju Adonara dengan sebuah perahu, dia duduk di anjungan perahu dan seraya berdiri sambil menunjuk ke arah sebuah perkampungan dan berteriak “ DI SANA ADA PERADABAN ! ! ! ! ! ”.  Demi melihat dan mendengar hal itu saya segera disergap dengan sebuah de javu yang kental dengan kolonialisme. Saya tidak lagi melihat siapa si Ujang orang Sunda itu, saya melihat kompeni, teman-teman, diri saya dan akhirnya semua kembali seperti sedia kala. Sebuah gurauan yang menyentuh eksistensi.

Saat berjalan di pasar Wai Werang saya masih dihantui kejadian di perahu tadi. Di sini Ada MASALAH. Kembali, sadar diri saya sendiri. Saya melihat tingkah laku Ujang itu bukan siapa-siapa tapi diri saya sendiri, bagaimana sebuah kungkungan cara berpikir dan disposisi saya yang masih memiliki akar kuat di tradisi Etnografi kolonis – saya juga melihat hal itu di “sosok” (semua) orang lain juga. Sebuah ketercerabutan dari akar (Budaya) sendiri. Hal ini tidak dapat diselesikan begitu saja dengan permasalahan keberpihakan, lebih  dari sekedar itu untuk peka terhadap perspektif yang dimiliki. Perspektif yang seperti apa. Kuncinya ada pada Perspektif. Saat itu saya belum menemui istilah yang cocok dan berguna untuk mengkomunikasikan hal itu pada orang lain.[6]

Siklus

Perjalanan di lapangan sebagai Antropolog sinonim dengan peziarahan panjang bertemu dengan manusia-manusia—yang memberikan dampak bagi kehidupan saya. Siklus perputaran panjang air dari gunung melalui sungai menuju dataran lebih rendah kemudian ke laut untuk  menguap kembali menjadi awan dan hujan.[]

Catatan Kaki

[1] Kata astronot, ya dekat-dekat itulah dgn argonaout-nya Malinowski (asosiasi bebas).

[2] Saya benar-benar bersyukur.

[3] Cara kerja pemikiran akademis.

[4] Sedikit sekali perhatian terhadap masyarakat pesisir di masa OrBa dan riset-riset mengenai masyarakat pesisir.

[5] Saat itu saya ingat dengan sebuah ujar-ujar ZEN mengenai minum teh dan rasanya.

[6] Suatu saat jauh setelah kejadian di Lamakera, Dalam suatu perbincangan dengan Mas Pujo di Kandang Antro. Dia mengungkapkan dua buah Kata, ETNOGRAFI BUMIPUTERA. Itulah “nama” yang pantas dan sekaligus sebuah orientasi dengan segala konsekuensinya.

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi