Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan swaetnografi

Kesenian adalah puncak ekspresi spiritual manusia. Cipta, rasa dan karsa bergumul menjadi satu melahirkan karya yang menjadi pondasi bagi peradaban bangsa. Gerak, bunyi, gambar yang harmonis menjadi dasar penciptaan Wayang, Tari, Gamelan, Keris, Silat dan yang lainnya.

Tari Rodat misalnya, adalah representasi irodat Allah yang dibunyikan melalui tarian. Sehingga menari adalah berarti mengingat Allah. Kemudian, Brahi adalah representasi diri yang sangat berahi kepada Allah. Berahi adalah ‘asyiq, rindu yang mendalam kepada sang Pencipta. Dan brahi ini adalah ekspresi spiritualitas melalui kesenian berupa bebunyian rebana, yang kemudian dikenal rebana Brahi. Konon pula Tari Saman adalah representasi dari puja puji hamba berdasarkan Thoriqoh Samaniyah.

Kelindan antara aspek keindahan dan ibadah dalam dzikrullah adalah cara Ulama terdahulu untuk menancapkan paku keimanan di bangsa yang telah lekat dengan tradisi dan seni. Bukan hanya penekanan pada unsur fisik saja, tetapi yang batin tetap terpenuhi. Seimbang antara tanzih dan tasbih, antara yang imanen dan transenden, antara yang syariat dan yang hakekat. Demikian Syekh Yusuf Al-Makassari “dawuh” dalam kitab Qurrat Al-‘ain.

Baca juga:  Ideologi

Bahkan kesenian yang lahir melalui tradisi pertahanan diri dan lekat sebagai media untuk menyerang, melukai dan membunuh seperti pencak silat pada akhirnya juga tunduk menjadi media membangun silaturrahim melalui rekayasa kebudayaan yang dilakukan oleh para Ulama masa lalu. Bukan lagi sebagai alat untuk anggak-anggakan, menang-menangan, ataupun menyombongkan diri seperti sebelumnya.

Ceritanya dulu bangsa ini adalah bangsa petarung. Sudah masyhur bahkan diseluruh dunia. Karakter orangnya keras dan tidak mau direndahkan. Raffles di buku fenomenalnya berjudul The history of Java juga merekam itu. Bertarung, saling menantang antar jagoan, dan “ngeluruk” sudah menjadi kebiasaan. Hampir di masing-masing kebudayaan seluruh Nusantara bahkan menyediakan arena bertarung untuk mempertahankan kehormatan setiap orang, di Sulawesi ada tarung sarung, di madura ada carok, di jawa ada pencak genjot (kemudian dikenal pencak dor), dan yang lainnya. Bahkan itu juga terekam dalam salah satu legenda paling fenomenal yang sangat berpengaruh bagi perkembangan kesenian di Nusantara, legenda itu bercerita tentang Inu Kertapati yang menaklukkan para jagoan dengan cara adu jago.

Baca juga:  Tamu Allah dari Negeri Bawah Angin

Adu jago atau sabung ayam, adalah representasi dari alam berpikir primordial bangsa ini yang menyukai pertarungan. Tidak hanya di level dirinya sebagai manusia, tetapi juga penggunaan hewan sebagai medianya.

Bertarung tentu membutuhkan keahlian tersendiri dan itu adalah insting primordial manusia untuk mempertahankan diri. Terlebih di negeri yang paling banyak spesies binatang buasnya ini. Tanpa keahlian itu tentu manusia disini tidak akan bertahan dari binatang-binatang itu. Tidak akan ada predikat jagoan, representasi dari nama ayam jago yang “menangan“. keahlian itu tumbuh menjadi suatu alat pertahanan yang dipelajari, diturunkan dan dianut bersama, itulah kebudayaan yang akhir kemudian di kenal dengan nama silat.

Entah sejak kapan nama silat itu muncul sebagai representasi dari keahlian beladiri organik bangsa ini. Namun, silat dalam konteks terminologis dapat dikaitkan dengan bahasa Arab dari fi’il madi washala yang berarti menyambung. Lalu apa beda sabung ayam dengan sambung menyambung ini? Bayangkan, alat membunuh dan keahlian dalam bertarung ini pada kurun selanjutnya telah bertransformasi menjadi alat untuk saling menyayangi dan bertegur sapa.

Baca juga:  Perang Aceh

Terma silat sering dikaitkan dengan silaturrahim, yang secara istilah memiliki arti idkhalu as-surur fi qolbi al-insan (memasukkan kebaikan di hati setiap manusia). Di beberapa perguruan silat kemudian juga sering terdengar istilah sambung sedulur. Bahkan ada tradisi di mana jabat tangan adalah tanda untuk menyambut saudaranya dengan kebaikan, tentu melalui pertarungan yang biasa disebut sabung atau sambung. Jika tidak disambut, itu adalah suatu penghinaan karena proses idkhalu as-surur menjadi terhambat sehingga tidak sampai kepada qolbi al-insan.

Maka ketika sambung atau pertarungan terjadi, itu sudah tidak lagi untuk saling mengalahkan tetapi telah bertransformasi menjadi media untuk saling mempererat persaudaraan.

Inilah bangsa ini dengan segala kepakarannya. Olah fisik yang dilakukan secara simultan selalu dibarengi dengan riyadloh batin yang diperuntukkan sebagai penyempurna gerak dan jurus. Menyambung wasilah, mencipta keselarasan antara syariat dan hakikat, mencapai rasa sejati, menuju Allah. Sehingga, “nek gak kepepet ojo digawe” Kalau tidak terdesak jangan digunakan.[]

silat - Silat adalah Silaturahmi

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi