Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Otoetnografi Pendekar Silat

Bak..!! Buk…!! Bak..!! Buk..!!. Suara pukulan dan tendangan yang keras menghujam tubuh mengiringi teriakan aba-aba “Persiapan!! Tarik!! Haik!!”. Pernafasan adalah salah satu hal yang tidak terpisahkan dari latihan pencak silat, melalui latihan pernafasan yang dilakukan secara berkesinambungan seolah-olah para pesilat tersebut telah mati rasa ketika menerima pukulan-pukulan dari benda keras.

Tak hanya tendangan dan pukulan, bahkan kayu usuk yang biasa digunakan sebagai penyangga genteng rumah juga dipukulkan secara bertubi-tubi. Puluhan batu bata di-kepruk-kan ke kepala dan disusun di perut para pesilat untuk kemudian dibenturkan dengan batu bata lain dengan sekencang-kencangnya menggunakan tangan sampai remuk menjadi serpihan-serpihan kecil. Tidak ada yang terlihat kesakitan, hanya posisi yang bergeser namun keseimbangan tetap terjaga ketika tendangan diperut dilakukan sekeras-kerasnya saat pernafasan dengan kuda-kuda tengah.

Ketika melihat gerakan-gerakan peregangan yang dilakukan selama latihan, seolah-olah latihan ini hanya merupakan senam biasa, karena seperti halnya SKJ (senam kesehatan jasmani) latihan ini diawali dengan peregangan-peregangan yang dimulai dari kepala, pundak, tangan, pinggul, kaki, sampai peregangan dengan posisi duduk di tanah, split, cium lutut dan seterusnya. Namun, yang membuatnya berbeda adalah peregangan yang dilakukan disertai dengan latihan pernafasan di sela-selanya. Ketika ada aba-aba “jatuh depan!!” Dengan posisi push up, dan “jatuh belakang” dengan posisi kepala diangkat, kaki kiri ditekuk dan kaki kanan diangkat dengan lutut saling bersentuhan melindungi kemaluan, maka yang terjadi setelah itu adalah “pembantaian” yang tiada habisnya.

Baca juga:  Revolusi Prancis, Laksana Air Terjun

Uniknya, setiap kali memulai latihan di perguruan yang menekankan spiritualitas ini selalu diawali dengan berdo’a, bertawasul kepada para guru dan ulama’ setelah itu dilanjut dengan membaca syahadat, istighfar dan sholawat masing-masing tiga kali. Do’a dan tawasul selesai, latihanpun dilanjutkan dengan menggerakkan gerakan salam perguruan dan hormat pelatih. Tawasul dan salam ini suatu hal yang wajib dan tidak dapat dihilangkan. Statusnya sakral, suatu cara penghormatan bagi perguruan dan para mushannif gerakan-gerakan yang akan dipelajari, berbeda dengan gerakan lain setelahnya yang bisa dikurangi atau ditambahi sesuai kebutuhan dan tingkatan keilmuan.

Tidak hanya itu, syahadat, sholawat dan istighfar adalah suatu hal yang wajib dibaca dalam hati ketika pernafasan dilakukan oleh para pesilat. Hal ini juga krusial, karena diyakini bahwa ketika pernafasan seseorang akan menyedot energi dari Alam. Tanpa ridho dan ampunan dari Allah serta syafaat dari Nabi tidak ada yang bisa menjamin bahwa energi yang terserap tersebut merupakan energi yang positif. Konsentrasi penuh juga ditekankan pada situasi ini, fokus pada satu titik, kosongkan pikiran. Tapi tidak boleh kosong sepenuhnya, hadirkan Tuhan dan Nabinya melalui syahadat, istighfar dan sholawat. Pikiran kosong yang sekosong-kosongnya hanya akan mengundang syetan untuk menguasai pikiran seseorang.

Latihan biasanya dilakukan pada malam hari, meskipun tidak harus. Dimulai dari jam 20.00 tepat sampai minimal pukul 24.00, pada tahapan latihan yang lebih lanjut bahkan bisa berlanjut sampai pukul 02.00 dini hari. Efektifnya biasanya dilakukan dua kali dalam seminggu. Kemudian secara lengkap jika melihat tahapan-tahapan latihan dari mulai awal sampai akhir terdiri dari empat tahapan. Pertama, doa pembuka dilanjut gerakan salam dari organisasi yang menaungi perguruan tersebut, kemudian dilanjut salam perguruan dan setelahnya adalah hormat pelatih.

Baca juga:  Negara Islam

Kedua, pemenasan yang dilakukan dengan melakukan peregangani-peregangan dari posisi berdiri hingga tidur terlentang. Selama peregangan tersebut diselingi dengan beberapa pernafasan dasar, di antaranya pernafasan kuda-kuda tengah dengan fokus perut, pernafasan duduk simpuh dengan fokus dada, pernafasan posisi shit up dengan fokus perut bagian atas, dan pernafasan per perut bawah dengan fokus perut bagian bawah.

Setelah pemanasan selesai para pesilat dipersilahkan untuk istirahat sekitar 15 menit dan dilanjutkan dengan mempelajari gerakan-gerakan dasar seperti pukulan, tendangan, tangkisan dan seterusnya. Porsi gerakan yang dipelajari akan meningkat dan akan terus ditambah sesuai dengan kualitas gerakan para pesilat yang mengikuti latihan. Terakhir sekali latihan akan ditutup dengan gerakan salam organisasi, salam perguruan dan hormat pelatih kemudian tawasul bersama dan bacaan syahadat, istighfar sholawat. Salah satu yang menjadi tradisi, setelah ditutup akan dilanjutkan dengan melakukan jabat tangan secara bergiliran dengan diiringi dengan sholawat nabi.

Biasanya dengan porsi latihan demikian para pesilat di perguruan yang bernama Tegal Istighfar ini akan dianggap telas (habis) masa latihan dasar ketika sudah berlatih dengan konsisten selama enam bulan. Prosesi telasan tersebut dilakukan setahun dua kali yaitu pada bulan rajab dan bulan muharram. Kedua bulan tersebut merupakan bulan yang dianggap utama dalam islam sehingga sakral bagi perguruan ini. Selain bulan itu tidak akan ada prosesi telasan untuk perguruan ini. Setelah telasan latihan para pesilat akan lebih ditekankan pada gemblengan secara batin melalui berbagai tirakat seperti istiqimah dalam melatih, berpuasa dengan berbagai metode, berdzikir dan berbagai laku tirakat lain.

Baca juga:  Memaafkan, Tak Melupakan...

Meskipun pada dasarnya perguruan ini tidak pernah membatasi kuantitas pendaftar yang akan mengikuti latihan tetapi seringkali para pendaftar tersebut hanya bertahan beberapa kali pertemuan saja dalam mengikuti latihan. Tentu alasannya sudah jelas, yaitu porsi latihan yang sangat keras. Meskipun pada dasarnya selalu ada alasan lain untuk tidak melanjutkan latihan. Sehingga, sampai latihan dinyatakan selesai dan para santri (istilah bagi yang belajar silat) secara resmi dianggap sebagai warga perguruan seutuhnya, biasanya hanya menyisakan tidak lebih dari empat orang.

“Dulu almarhum Mbah Huda (guru besar) pernah dawuh, kata beliau ora usah akeh-akeh nek iso ojo luweh seko papat, siji wae wis apik (tidak usah banyak-banyak, kalau bisa jangan lebih dari empat, satu saja sudah bagus)” Kang Ari selaku yang pertama kali membuka latihan perguruan pencak silat ini di Yogyakarta mengenang pesan almarhum guru besar dari perguruan ini kepadanya, Kang Ari juga menambahkan “mungkin wes disabdo, mulane latihan sek nek kene gak pernah luweh seko papat sek lulus (mungkin sudah disabda, makanya latihan yang di sini tidak pernah lebih dari empat orang yang lulus)”.[]

coversilat - Silat, Nafas, dan Doa

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi