Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Otoetnografi Pendekar Silat

Posisinya kaki sejajar lurus ke samping, terbuka sekitar satu setengan bahu. Kaki kiri menekuk 90 derajat ke samping dan kaki kanan lurus. Pandangan lurus ke depan. Posisi tangan kanan ditekuk ke atas sekitar 140 derajat, jari telunjur mengarah ke atas dan empat jari ditekuk pada pergelangan jari-jari yang kedua. Posisi telapak tangan berada di dalam. Sedangkan telapak tangan kiri diletakkan di bisep lengan dengan posisi siku diangkat sejajar dengan posisi kedua lengan.

Posisi tersebut disebut posisi pasang alif, yaitu salah satu kuda-kuda yang identik digunakan di salah satu perguruan di bawah naungan Pencak Silat Pagar Nusa, yaitu perguruan  Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia, biasa dikenal dengan sebutan GASMI. Pendiri perguruan ini sekaligus juga pendiri Pencak Silat Pagar Nusa, organisasi pencak silat yang menaungi sebagian besar pencak silat yang memiliki afiliasi dengan pondok pesantren. Namanya Maksum Jauhari, pendekar yang terkenal sakti dengan rambut kebal senjata dan berkilau api itu.

Biasanya di berbagai perguruan pencak silat lainnya, istilah alif digunakan untuk merujuk pada sikap berdiri sempurna. Maka alif bukan sebagai sebuah “pasang” tetapi merupakan sebuah “sikap”, yaitu sikap alif. Alif sebagai sebuah pasang (kuda-kuda) memiliki keistimewaan. Coba saja, meskipun tanpa menguatkan genggaman, jika seseorang menggunakan pasang alif ini pergelangan lengan tidak mudah untuk ditekuk dan dipatahkan.

Baca juga:  Catatan Kaki dari Amuntai

Punggung terasa tertarik dan menjadi keras terisi. Sehingga, punggung bagian kanan kita yang terlihat menjadi blind spot sebenarnya adalah senjata tersendiri untuk mengecoh lawan. Ketika lawan terkecoh dan menyerang “blind spot” ini, dia akan terjebak. Tangan kanan yang kuat dengan pasang Alif-nya telah siap menyambut serangan dengan tangkapan maupun tangkisan. Selanjutnya adalah penyelesaian. Merujuk dari perguruan ini, maka penyelesaiannya bisa jadi adalah bantingan. Maklum, bantingan adalah khas dari perguruan ini.

Selanjutnya, konon pasang alif ini memiliki filosofi. Filosofinya sesuai dengan hakikat huruf alif dalam pemahaman tasawuf. Dilihat dari simbolisasi gerakannya hal ini menjadi kontekstual, jika telunjuk yang munujuk ke atas tersebut dimaksudkan untuk simbolisasi yang merujuk pada Ketauhidan atas Tuhan. Melihat itu, maka ma’rifat huruf yang ditulis oleh Ibnu ‘Arabi dalam kitab futuhat al-makiyyah dapat menjadi tinjuan.

Baca juga:  Teori Negara dan Feminisme

Alif adalah zat yang satu dan tidak mungkin dihubungkan dengan huruf apapun ketika berada di permulaan tulisan. Alif adalah perlambang akan “jalan lurus” yang diminta oleh jiwa ketika ia berkata “ihdidinas-siratal-mustaqim” (QS. 1:6). Pasang Alif dengan telapak tengan menghadap ke dalam adalah perlambang menantang musuh, jika di balik maka itu menjadi menyambut “silaturrahim sambung” dari sedulur sendiri. Karena menantang musuh, maka jiwa pendekar haruslah ihdidinas-siratal-mustaqim, berharap ditunjukkan jalan yang lurus dan pasrah diri kepada Alif sejati, Allah.

Huruf alif tidak menerima pemberian harakat, padahal sebuah huruf tidak akan bisa diketahui jika belum diberi harakat. Maka pasang alif adalah kuda-kuda tak terduga, tak diketahui pergerakannya dan tak terprediksi langkah selanjutnya. Sehingga, para pendekar melalui sikap pasang ini akan terilhami bahwa Alif Sejati tidak bisa menerima adanya pergerakan (harakah) yang bisa dipahami akal.

Selain itu, sudah menjadi ajaran yang umum bahwa meskipun para pendekar memiliki kelebihan dalam melakukan pertahanan diri, namun pendekar tidak boleh semena-mena dalam menggunakan ilmunya. “nek orak kepepet ojo digunakke” (kalau tidak kepepet jangan digunakan) itulah pesan yang mungkin selalu didengar oleh para pendekar dari para guru dan pelatihnya.

Baca juga:  Hegemoni

Hal ini kontekstual, karena huruf Alif dapat tersambung dengan huruf lain hanya dalam kondisi di mana alif terletak setelah huruf lain tersebut. Tanpa keberadaan alif tersebut huruf-huruf tidak akan memiliki mad. Mad dari huruf-huruf tersebut adalah rahasia tentang “permintaan bantuan” (al-istimdad). Maka, ilmu bela diri para pendekar diumpamakan dengan itu, hanya untuk menolong. Bukan untuk menyerang atau bahkan memulai perkelahian.

Seperti halnya manusia sebagai khalifah di alam semesta, maka alif adalah khalifah di alam huruf. Melakukan pasang alif bagi para pendekar adalah wasilah doa seorang hamba agar tetap sadar atas tugas keterwakilannya. Manusia, Alif dan Allah adalah ketersambungan yang ritmis antara makhluk dan khalik. Maka, “alif walik, alif sunsang, alif tegak, sejatine tetep Alif”.[]

coversilat - Pasang Alif dan Ibnu Arabi

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi