Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sumbangan Imam al-Ghazali dalam dunia biologi dan kedokteran

Siapa yang tak kenal dengan Imam al-Ghazali? Tokoh besar mayapada Muslim ini masyhur sebagai seorang ulama, filsuf, ahli teologi (ilmu kalam), dan ahli tasawuf (sufi). Sebagai ulama besar dan ahli teologi, Al-Ghazali dikenal sebagai pilar utama aliran teologi Asy’ariyah yang kemudian dalam dunia Islam disebut aliran Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah.

Sebagai teolog dan filosof, dia dengan gigih menyerang pikiran-pikiran filsafat Islam, terutama yang dikembangkan oleh al-Kindi dan Ibnu Sina. Terlepas dari pelbagai kecaman al-Ghazali yang sempat melumpuhkan filsafat Islam itu, yang jelas tak ragu lagi, dia mempunyai peranan amat besar dalam perkembangan peradaban Islam.

Dikenal di dunia Barat dengan julukan Algazel, nama lengkapnya adalah al-Ghazali Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (1058-1111 M), yang lahir dan menjadi dewasa di Naisabur dan Baghdad. Al-Ghazali adalah ulama yang orisinal. Dia menduduki posisi unik dalam sejarah Intelektual Islam umumnya, dan pada bidang teologi, sufisme dan filsafat khususnya. Dengan standar atau ukuran apa pun dia dinilai, yang jelas al-Ghazali membawa nafas keilmuan dan keaslian (orisinalitas). Dia telah ditahbiskan sebagai “Pembuktian Islam”, ‘Hiasan Keimanan” atau “Pembaharu Agama”.

Demikian tingginya tempat al-Ghazali. Dia seorang manusia dengan pengetahuan yang amat luar biasa, yang menyerap keseluruhan kebudayaan keilmuan pada zamannya. Al-Ghazali terlibat dalam pengembangan ilmu teologi, filsafat, astronomi, politik, ekonomi, sejarah, hukum, sastra, musik, etika, sufisme, kimia, ilmu kedokteran, serta biologi.

Baca juga:  Al Razi

Pengaruh al-Ghazali dalam mayapada Islam tak dapat dibantah lagi dan begitu meluasnya. Hingga dewasa ini, karya-karya tulisnya dan pemikirannya dalam pelbagai buku tetap digemari dan dibaca secara meluas di seluruh dunia Muslim. Lebih dari pemikir-pemikir Islam lainnya, buku-buku Al-Ghazali terus-menerus dibicarakan tak terpermanai.

Pengaruhnya dalam masyarakat Islam diperhitungkan jauh lebih besar daripada ahli teologi Muslim mana pun dalam sejarah. Pengaruh-pengaruh pemikirannya juga terlihat dalam kalangan Yahudi dan Kristen, yang pada perkembangan selanjutnya berpengaruh kepada pemikiran para filsuf modern semacam Rene Descartes, Blaise Pascal, Clarke, dan Spinoza. Melalui karya-karya terjemahan St. Thomas Aquinas, seorang filsuf dan ahli teologi Kristen terkemuka dan dominan dalam abad pertengahan, amat sering merujuk ke pemikiran al-Ghazali.

Amat menarik mengkaji kembali karya dan pemikiran al-Ghazali pada bidang yang tidak banyak diketahui khalayak, dalam hal ihwal ini pada bidang ilmu biologi dan kedokteran. Dan, pada disiplin ini pun tak kurang al-Ghazali menancapkan pengaruhnya, hingga mempunyai saham besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern. 

“Cahaya seketika”

Pacu jantung (pacemaker) asli dari hati adalah suatu kumpulan mikroskopis dari jaringan urat jantung atau sel-sel yang disebut dalam buku kedokteran sebagai sinoatrial node (istilah latinnya; nodus sinuatrial). Jaringan urat atau sel itu terletak pada ujung teratas dari sulcus terminalis; pada persimpangan vena-vena puncak dan atrium kanan. Ritme (denyutan) jantung secara normal bersumber dari node ini yang biasanya disebut node Keith dan Flack. Kedua orang ini menemukan teori ini pada 1907. A. Keith (1866-1955) adalah seorang ahli anatomi dan antropologi bangsa Skotlandia, sedangkan MW. Flack (1822-1931) adalah seorang ahli fisiologi Inggris.

Baca juga:  Kala Mas Joko Rajin Ke Masjid

Terlepas daripada penemuan kedua sarjana itu, yang jelas menurut penelitian sejarah dan pengkajian atas pemikiran-pemikiran al-Ghazali, ternyata dialah yang pertama kali menemukan hal ihwal sinoatrial node. Penemuannya ini dapat dibaca pada buku-bukunya; Al-Munqidh min Al-Dhalal, Ihya Ulum Al-Din dan Kimia Al-Sa’adat.

Tatkala persoalannya adalah menjelaskan hati sebagai pusat pengetahuan intuitif dengan segala rahasianya, maka al-Ghazali berbicara perihal suatu titik dalam hati. Dia selalu merumuskan titik ini secara simbolis sebagai suatu “mata batin” (inner eye) yang menemukan ilhamnya dalam Munqidh min Al-Dhalal (diterjemahkan oleh C. Field, Confession of Al-Ghazali–“Pengakuan al-Ghazali”, Penerbit John Murra, 1909, hlm. 53). “Mata batin” ini juga dirumuskan dalam Ihya, sebagai “instink elektrik atau cahaya” (electical or entighted instict), karena al-Ghazali menyatakan, “Di dalam hati terdapat suatu instink yang namanya adalah ‘Cahaya Tuhan”. Al-Ghazali juga menyebutnya sebagai “mata hati” (eye of the heart) sebagaimana diungkapkannya, atau ‘anak-anak hati”, dan “keintiman hati dan rahasia hati”.

Baca juga:  Berhadap-hadapan dengan Iblis

Jika “titik hati” al-Ghazali itu dibandingkan sinoatrial node sebagaimana dikenal dalam kalangan para fisiologis dan anatomis, maka akan ditemukan, bahwa “titik hati” al-Ghazali itu berhubungan erat dengan sinoatrial node. Al-Ghazali menyatakan, titik tertentu ini tidak dapat dilihat dengan alat-alat sensoris, karena ia adalah mikroskopis. sinoatrial node juga dirumuskan sebagai mikroskopis oleh para sarjana modern. Al-Ghazali mengkualifikasikan titik ini secara simbolis sebagai suatu “cahaya seketika” (instantaneous flash) yang membagi-bagikan cahaya Tuhan dan elektrik. Menurut pemikiran modern, setidaknya sekali sedetik, suatu impuls elektrik yang berasal dari sinoatrial node mengalir ke bawah melalui dua atria dalam sebuah gelombang setinggi 1/10 milivolt sehingga otot-otot atrial dapat berkontraksi.

Dengan semua kenyataan ini, maka kita melihat bahwa sebelum Keith dan Flack muncul dengan teori sinoatrial node-nya, Al-Ghazali telah membicarakan wujud eksistensial “benda” dimaksud. Setidaknya secara simbolis.[]

imamalghazali - Sinoatrial Node

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi