Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip tulisan Arswendo Atmowiloto yang dimuat di "Teguh Srimulat" oleh HG Janarto(1989)

Tanggai 7 Mei, secara resmi akan dinamai Hari Lawak Nasional. Setiap tahun, pada tanggal itu selama sepekan lebih akan dilangsungkan segala kegiatan yang berhubungan dengan lawak. Seminar, diskusi, ceramah, penataran, lomba, penerbitan buku, mencapai puncaknya dengan ajakan tertawa. Boleh kecil dan seadanya, boleh terbahak.

Tanggal 7 Mei adalah Hari Gerrr Nasional, di mana tak ada ketegangan, tak ada wajah tertekuk atau tampang segi delapan. Ini, sebuah imajinasi. Sebuah gambaran keinginan, yang bisa terjadi bisa tidak. Imajinasi hanya mungkin lahir karena ada sesuatu perasaan dari diri kita yang terangsang. Dan yang boleh berimajinasi bukan hanya mereka yang dikenal dengan atribut seniman.

Yang merangsang lahirnya hari istimewa itu, karena pada tanggal 7 Mei tahun 1908, telah lahir seorang bayi mungil yang kelak dikenal sebagai Raden Ayu Srimulat. Dari lingkungan adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang ketat dengan tata krama, dari benteng dinding kawedanan, suatu wilayah seperti distrik lebih luas dan kecamatan dengan bobot zaman dulu, Srimulat yang berdarah ningrat minggat. Meng-ikuti imajinasi, mengikuti langkah hati, mengembara dalam mega kehidupan.

Bahkan sampai saat ini pun, sembilan puluh satu tahun atau nantinya seratus tahun kemudian, agak susah dibayangkan betapa beraninya, sikap keras menentang arus.

Tapi itulah Raden Ajeng, sebelum akhirnya menikah dan menjadi Raden Ayu Srimulat. Dalam usia kepala dua, ia telah menjadi sri mahapanggung. lak ada kegiatan dalam ukuran masa kini sekalipun, yang tak dijalani. Almarhumah adalah penari yang jempol, penyanyi yang merampok segala perhatian dalam lagu Jawa Melayu atau Belanda, pengiklan produk rokok, pemain andalan lakon-lakon ketoprak dan wayang orang, melawak, pengelana dalam artian sebenarnya sampai ke dusun-dusun terpencil, melewati batas pulau, pendiri dan kemudian pemimpin sebuah kelompok, dan sesungguhnyalah seorang superstar, sebelum istilah itu ditentukan.

Srimulat adalah mahawanita.

Srimulat adalah wanita yang memiliki kelebihan, yang meletakkan dasar-dasar seorang artis modem. Sikapnya terbuka kepada segala jenis tarian dan tidak hanya gaya asal budayanya. BahlLin kelompok lawak¬nya berasal dari wilayah budaya, yang saat itu boleh dikatakan “musuhan” Ia memerani radio-radio yang sekarang menjamur, dengan turun ke pelosok, ke pusat keramaian, menyanyikan secara live lagu ngetop. Ia meninggalkan panggung dan menuju umpat terbuka, sesuatu yang secara pakem dianggap bukan perbuatan terpuji. Ia menyeruak ke hati masvarakat yang sedang panen tebu yang tak memiliki hiburan apa-apa, mengibaskan selendangnya seolah mematikan kesedihan dan penderitaan masyarakat yang mengalami begitu banyak penderitaan — seperti yang juga dialami — pada zaman Belanda maupun Jepang. Ia menjadi talk of the town, menjadi kembang lambe, menjadi buah bibir karena kehidupan pribadi dan perkawinannya. Ia menjadi the hottesst woman, dan mungkin akan menjadi The Woman of the Year, karena apa yang dilakukan banyak mempengaruhi generasinya dan generasi penerusnya. Ia menjadi pendiri, pengelola, pelindung, tapi sekaligus juga pemain utama dari apa yang kita kenal sekarang sebagai grup pabrik tawa Srimulat. Jenis lawakan yang dibakukan, sampai sekarang masih terus berlanjut. Mempengaruhi cara kita tertawa, cara kita menjadi bahagia.

Baca juga:  Friksi Urang Banjar

Boleh dikatakan semua nama besar yang kita kenal se rang ini, sebagian besar bahkan secara langsung berhubungan dengannya, menjadi saksi nyata kiprahnya. Nama-nama besar dalam dunia kesenian, maupun bukan.

Tak banyak yang mengetahui ratu panggung yang begitu besar peranannya. Tidak juga mereka yang terlibat langsung dalam grup lawak tersebut.

Barangkali dari sisi ini, buku yang disusun oleh Herry Gendut Janarto-yang barangkali waktu kecil-nya memang gendut, meskipun sekarang tidak dilarang menganggap dia gendhut, menjadi istimewa. Justru karena ia, dengan sangat tekut dengan ratusan kali wawancara dengan ratusan orang, berhasil menampilkan the golden girl in the golden years. Merangsang imajinasi, menggali inspirasi tanpa henti. Karena gambaran yang diberikan mendetil di sana- sini, dan sebagian masih tetap terbuka sebagai data, kita diajak masuk ke permasalahan.

Ke akar permasalahan yang masuk manusuk, dan anehnya toh masih aktual hingga sekarang.

Baca juga:  Sejarah Kubah

Di balik segala nalar, apa sebenarnya yang membuat seorangSrimulat begitu berani melangkah keluar benteng yang menjanjikan ketentraman dan kebahagiaan yang terjamin? Di balik selendang merah dan kain motif barong, wanita macam apakah beliau ini, yang mampu menjadi CEO dari sebuah organisasi yang begitu susah ditata manajemennya?

Ataukah justru karena kaum wanita memang mem¬punyai kekuatan yang liat tapi membaja, tahu secara
intuitif kapan bersikap tegas keras, dan kapan tega dan kering?

Semakin banyak pertanyaan, semakin berhasil apa yang dikandung dalam buku ini. Karenanya, hadimya buku ini bisa lebih merangsang penulisan sejenis, baik oleh yang mendahului ataupun yang lain. Letikan mt saya kira kelewat berharga untuk dilewatkan begW saja.

Lebih membumi permasalahannya, lebih basa dengan contoh, karena Herry mampu mendekati ngan rekaman yang komplet. Keberhasilan, tetapi juga keunikan Bu Sri, menemukan kerangka manusiawi ketika pertemuan dengan Teguh. Satria bergitar yang sedang tumbuh mekar ini menemukan persemaian vang luar biasa suburnya. Teguh menemukan semua impian lelaki dalam diri Bu Sri. Seorang istri yang ngemong, sekaligus ibu yang memberi perlindungan, masih ditambah peran kekasih yang bisa memanjakan dari segi gairah kesenimanannya. Lakon asmara mereka berdua, adalah bibit-bibit kreativitas yang serta
merta dipraktekkan secara langsung.

Buku ini juga menggambarkan bagaimana Teguh remaja belajar segala jenis pendidikan yang tak diajarkan di perguruan tinggi mana pun di jagat ini. Barangkali di antara selingan keringat, diantara mengatur panggung atau ranjang, di antara — atau bahkan selama — saat-saat berdua, Bu Sri memberikan arah, menentukan kiblat.

Teguh beruntung.
Sangat beruntung.

Dan yang kemudian, kita mengenal Pak Teguh yang kukuh itu tahu bagaimana mensyukuri keberuntungannya. Gagasan, keinginan “Yu Sri’-nya yang belum rampung, diberi bentuk konkret. Harapan yang belum terumuskan, diberi bentuk panggung: Diberi bentuk kesenian yang begitu guyub, serba menyatu.

Tradisi yang terus mengalir.

Peralihan pimpinan yang tak menimbulkan rasa kuatir.

Alih generasi yang bening.

Dengan nama grup Srimulat, Pak Teguh menjadi inspirator, menjadi bapak, menggantikan semua posisi yang dulu ditangani oleh istrinya. Zaman keemasan, the next golden years berlangsung dalam gebyar.

Baca juga:  Pernik Konflik Jagat Wayang

Kalau kemudian menjadi pudar, atau mendekati kesuraman, karena Teguh— barangkali saja—kurang mengkader the second in command dalam artian seperti ketika Teguh berguru kepada Srimulat. Peranan Jujuk yang, cemerlang di panggung, primadona dan bunga segala pemeran wanita, tidak cukup kuat menangkap perubahan zaman. Tantangan yang dihadapi makin
beragam. Pilihan makin banyak. Dan nilai-nilai yang dulu menyatukan seperti kebersamaan, persaudaraan, diuji.

Secara grup, keutuhan Srimulat mulai mreteli. Kebocoran yang tak bisa ditambal dengan mengatasi satu atau dua persoalan. Karena yang terjadi adalah badai keserentakan tawaran, yang belum begitu tajam di masa lampau.

Kalau itu harus diterima sebagai kenyataan, barangkali menunjukkan betapa Bu Sri memangsulit tergantikan. Peranannya tidak terhenti sebagai sri mahapanggung, tidak berhenti sebagai ibu pengasuh, sebagai istri pemanja, tapi juga segalanya.

Tak apa.

Dunia tak berhenti berputar bersama Bu Sri.

Dunia lawak dan kesenian tidak harus ikut lenyap. Tidak juga grup lawak Srimulat. Akan ada saatnya bangkit kembali, ketika distribusi wewenang, pembagian tanggung jawab, pemberian pujian dan hukuman, menjadi jelas batas-batasnya.

Barangkali ini bukan diri satu orang, karena dinamika masyarakat menuntut spesialisasi. Barangkali ini bukan dalam pertunjukan yang seperti Kita kenal sekarang ini.

Barangkali……

Berbagai barangkali merupakan lahan yang menawan untuk bisa terus kita perbincangkan. Karena menurut pendapat saya, Srimulat sebagai grup lawak bisa kandas, tapi sebagai warisan budaya, terbuka untuk aktualisasi- Baik bentuk lawakan, maupun tokoh-tokoh sempalan-nya, bisa tetap lepas untuk kemudian menemukan bentuknya yang pas. Baik model lawakan atau pengorganisasiannya, membuka tawaran untuk dikaji kembali.

Ini istimewanya buku semacam ini.

Tanggal 7 Mei sebagai Hari Gerrr Nasional, adalah catatan kecil untuk ingatan kita, bahwa saat itu telah Jahir sri mahapanggung yang selalu menitiskan inspirasinya tanpa henti. Sampai manemukan bentuk penjelmaan kembali.

Tanggal 7 Mei, tidak terjadi hanya sekali.[]

coversrimulat - Srimulat : Imajinasi Tanpa Henti

Raden Ayu Srimulat

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi