Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Refleksi Ramadan

Dunia sufi, yaitu tasawuf identik dengan konsistensi ritual ibadah, zikir dan perjuangan menyucikan hati (baca ; mujahadah). Berkontemplasi menyibak alam malakut, menghilangkan tirai hijab hati yang menjauhkannya dari Allah. Tiada hari tanpa muatan ukhrawi, orientasinya jelas tegas ; mencoba sedekat mungkin pada Tuhan, dalam berbagai kondisi. Menjadi wali Allah adalah cita-cita tertinggi, muaranya berupa keberkahan hidup,  syukur kalau diberikan karamah oleh Allah.

Konon, dalam khazanah esoteris kaum sufi ; dengan ijin Allah, mereka mampu berjalan di atas sungai, berpindah jauh dalam waktu singkat, shalat jumatnya di masjidil haram, padahal raganya di belahan bumi jauh adalah sederet pengalaman batiniah yang sering kita dengar dari para saksi, mulut ke mulut.

Fenomena tersebut mesti dilihat dari kacamata iman, karena Quran pun berbicara tentang berpindahnya Istana Ratu Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman dalam sekedip mata oleh seorang yang saleh pada masa itu (QS. An-Namlu :  38-39).

Khalifah Umar bin Khatab juga pernah berteriak keras dari mimbar khutbahnya di Kota Madinah, memberikan kode bahaya pada pasukan tempurnya di perang Nawahand, Iran, yang berjarak ratusan kilometer dari Madinah, seolah terlihat jelas peperangan itu di matanya. Kisah ini terekam dalam Kitab Sang Legenda Umar bin Khatab karya Yahya bin Yazid Al Hukmi Al Faifi.  Kun fayakun, begitulah kepercayaan kita. Tak ada kemustahilan dalam kehendak preogratif Tuhan.

Karamah adalah “mukjizat pasca kenabian”, sifatnya pilihan, pemberian ilahiah atas keimanan dan ketakwaan seorang Muslim pada Allah. Bagi wali Allah, karamah hal biasa, bagi awam itu keajaiban. Ajaib, karena sangat sedikit orang mendapatkannya, fenomena langka. Hikayat lokal populer masyarakat Aceh tentang Tgk. Chik Di Tiro dalam perang Aceh ikut menegaskan eksistensi karamah ; setiap pedangnya menebas sebuah pohon labu, satu tentara Kolonial Belanda tewas seketika. Dahsyat!.

Baca juga:  Masjid Bambang Di Pertigaan Jalan

Menjadi sufi tidaklah mudah, terlebih di era Modern kini. Tawaran nafsu duniawi begitu nyata, kebutuhan hidup makin kompleks, nilai-nilai religi jadi asing, harta menjadi rebutan, uang menjadi tuhan. Status sosial diukur dari materi bukan lagi kebaikan diri. Anda kaya, maka suara anda lebih berharga untuk didengar. Bila iman tidak kuat, sedalam apapun ilmu moral dan agama , bakalan tenggelam dalam arus duniawi, paling buruk agamapun dijual untuk memenuhi ambisi jiwa.

Berat memang, tapi bagi kaum sufi, di situlah letak tantangannya. Modalnya dalam menahan godaan dunia yaitu mengikuti suatu Tarekat yang dibimbing para Mursyid (baca ; guru spiritual). Melalui tarekat (jalan/panduan), kaum sufi larut dalam zikir, ritual ibadah dan mujahadah menyucikan hati. Bagi sufi, kesucian hati sangat sakral, sumber kebahagiaan  hakiki dan tujuan agung praktek kesufiannya.

Ruang “Suci” Kaum Sufi

Konsekuensi kesufian, seorang sufi lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat-tempat tertentu ; masjid, majelis zikir, rumah mursyid, pesantren, dayah, bahkan kadang agak esktrem bagi sebagian sufi, menempuh jalur pertapaan/isolasi diri di gua-gua atau tempat hening lainnya, menjauhkan dirinya dari hiruk pikuk dunia, persis seperti Nabi Muhammad bertahannus sendiri di Gua Hira sebelum diangkat jadi Rasul.

Suatu keniscayaan, seseorang yang sering terikat pada “tempat suci” , maka lisan dan raganya mesti suci, pikirannya bersih, jiwanya bening, jauh dari anasi-anasir keburukan yang merusak ; sikap ujub, sombong, angkuh, dengki, khianat, bohong, dusta, ghibah dsb. Walaupun bukan jaminan tabiat-tabiat buruk seketika lenyap saat berada di ruangan-ruangan suci itu. Tapi setidaknya, nilai-nilai sakral bangunan suci dimaksud, bisa mengkondisikan psikologis penghuninya untuk bersikap suci, setidaknya untuk saat itu.

Baca juga:  Halimah dan Bunga Ombak di Pantai Nipah

Dalam tingkatan ini, bagi saya kesufian seorang sufi belumlah teruji. Mengurung diri dalam  bangunan suci tidak lantas membuat seseorang  suci secara hakikat. Dia hanya lah baru permulaan dalam membekali diri sebelum bertempur di alam realita. Seseorang berzikir di masjid, ngaji, shalat sunnah memang sudah seharusnya dilakukan, dan memang Allah mudahkan. Terkondisi dengan sendirinya.

Kaum Sufi ; ayo ngopi

Ragam potret di warung kopi, pasti. Tidak ada formalitas. Penghuninya begitu merdeka. Tak ada aturan absensi, pun begitu banyak kaum berdasi rehat sejenak di dalamnya. Tak ada “topeng” sama sekali, tiap orang hadir dengan ragam tingkah, obrolan dan gayanya masing-masing. Serba spontan, penuh ekspresi dan warna-warni, bukti Tuhan Maha Kreasi.

Di sinilah kesufian kaum sufi teruji, dalam keriuhan warung kopi, masih sanggupkah dia berzikir dalam hati. Dalam kepungan asap tebal, bisakah dia tidak menjadi jengah pada perokok. Ini dunia yang beda ; tidak ada lantunan zikir jamaah, apalagi ceramah agama. Mereka ngopi sambil tertawa terbahak main game, ada yang mengetik skripsi, banyak yang bersuara lantang, tidak sedikit wanita yang mendedah aurat duduk mesra dengan kaum pria.

Belum lagi, hilir mudik kaum peminta berbaju kumal, tukang sapu sepatu menawarkan jasa, kaum pengamen dengan atribut punk nyentriknya. Sungguh kondisi yang tidak normal seperti ruangan-ruangan suci yang sering kaum sufi tempati.

Baca juga:  Perjalanan Nestapa

Nabi pernah bersabda “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At-Tirmizi 1906). Pesannya, iman seorang muslim mesti ada ujian dan tantangannya. Berdiam diri sepanjang waktu di tempat ibadah bukanlah harapan Nabi. Mukmin, termasuk sufi sekalipun mesti hadir nyata mewarnai dan memperbaiki kondisi-kondisi “abnormal” sekelilingnya sembari meresapi fenomena kekayaan ilahi dalam ruang-ruang publik ; mall, pasar, jalan raya, restoran, pusat festival keramaian.

Tujuannya yaitu membersamai kaum non-sufi agar mereka juga bisa merasakan aura-aura ketenangan hidup, mendengar seruan-seruan keimanan, selingan petunjuk-petunjuk kebahagian tanpa mesti menjalani kehidupan layaknya sufi. Karena tiap orang punya kecondongan berbeda, terbatas oleh ruang dan waktu. Punya kesibukan dan keahlian sendiri, dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.

Anda tentu masih ingat aksi “nyentrik” seorang daí di pulau Jawa kan? Berdakwah di diskotik, lalu mengajak para pengunjungnya melantunkan shalawat Nabi. Gus Miftah!, beliaulah sang dai itu. Tidak berjarak dengan pelaku maksiat, rendah hati, tidak menggurui, membersamai kaum pendosa dengan hati, menyentak sesaat untuk mengajak mereka ingat pada ilahi, syukur ada diantara mereka yang dihampiri hidayah suci. Begitulah idealnya potret sufi sejati!. Kaum sufi, mari sering ngopi di warung kopi.

“Dan serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan teladan yang baik (QS. An-Nahlu : 125)

Zakir Kupi, Banda Aceh, 21 Ramadhan 1441 H

gus miftah - Sufi di Warung Kopi

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi