Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang apa arti menjadi anak muda?

“…tak pernah ada titik sejarah di mana pemuda memainkan peranan sendiri.”  (Onghokham) sumpah galau pemuda

“Sejarah itu tempat berangkat… Sejarah itu awal dari semuanya. Kalau itu pun nggak disadari, semua kacau-balau seperti sekarang ini” (Pramoedya Ananta Toer).sumpah galau pemuda

MOMENTUM Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap tahunnya (28 Oktober), serasa laiknya menengok kembali peranan pemuda di republik ini yang begitu adiluhung. Tak dinyana, jika indonesianis sekaliber Benedict Anderson yang begitu terpukau dengan kehebatan para pemuda, tidak sungkan menamakan revolusi Indonesia pasca-kemerdekaan sebagai “Revolusi Pemuda” (Anderson, 1972). sumpah galau pemuda

Pemuda mempunyai tempat istimewa dalam narasi sejarah dan politik Indonesia. Sepertinya tidak ada peristiwa penting di negeri ini yang tidak melibatkan pemuda, mulai dari pembentukan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Revolusi Agustus 1945, sampai mundurnya Suharto sebagai presiden pada Mei 1998. Mereka hadir sebagai kekuatan yang berjasa menyelamatkan negeri dari marabahaya dan mengantar masyarakat ke gerbang kehidupan yang adil dan makmur.

NARASI seperti ini biasa menguat di masa krisis, ketika kekuatan-kekuatan sosial lain seperti buruh dan petani atau borjuis dan kelas menengah tidak mampu mengendalikan keadaan. Gagasan “potong generasi” yang intinya menuntut kekuasaan diserahkan kepada kaum muda adalah salah satu bentuk paling mutakhir. Klaim itu tentu saja mengandung kebenaran. Dalam semua peristiwa politik yang disebutkan di atas, peran pemuda memang sangat menonjol, jauh melampau kekuatan-kekuatan sosial lain, apalagi partai politik.

Namun, orang kerap lupa bahwa keadaan itu tidak selalu direncanakan. Tidak semua pemuda ingin memenuhi “panggilan sejarah”. Keterlibatan dalam politik atau perjuangan, bukan karena ada kualitas tertentu yang inheren dalam diri setiap pemuda, tapi karena situasi tertentu. Bobot dan peranan  yang sering melekat pada kata “pemuda”–misalnya, “pemuda harapan bangsa”–itu diberikan oleh pihak lain dan belum tentu meresap dalam kesadaran para pemuda sendiri (Farid, 2011: 73).

Tidak semua orang berusia muda mengidentifikasi diri sebagai “pemuda” atau senang disebut  “pemuda”, justru karena atribut moral dan politik yang melekat padanya. Mereka mungkin lebih nyaman dengan sebutan netral seperti “anak muda”, karena istilah ini bebas dari campur tangan otoritas di luar mereka. Dengan kata lain, istilah seperti “anak muda” lebih memberi agency kepada yang bersangkutan tinimbang “pemuda” yang makna dan tempatnya ditentukan oleh pihak lain.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Hegemoni
Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Dalam perjalanan sejarah, kita berulang kali melihat bagaimana orang berusia muda meronta dan berontak terhadap intervensi itu. Justru pemberontakan inilah, setidaknya dalam beberapa kasus, menjadi tanda bahwa mereka hidup secara politik. Jauh lebih hidup daripada kalau mereka memenuhi panggilan sejarah sekadar menjadi “pemuda harapan bangsa”. Masalahnya, pembentukan ideologi di kalangan anak muda itu kerap dinafikan. Sejarah memotret pemuda sebagai orang yang senantiasa berjuang tanpa pamrih untuk kepentingan bangsa. Sesuatu yang sangat abstrak! Padahal, senyatanya pembentukan ideologi pemuda sangat konkret sekaligus kompleks.

PERSOALAN yang terus-menerus melanda pemuda Indonesia hingga detik ini ialah bagaimana mereka menempatkan diri dalam dunia yang didominasi oleh “kaum tua”. Hal ihwal ini selalu memunculkan dikotomi dalam terminologi sejarah dan politik Indonesia, lewat istilah “golongan tua” dan “golongan muda”. “Kesenjangan generasi” (generation gap) yang berlangsung di antara mereka, yakni tatkala kaum tua tak mampu lagi mengakomodasi keinginan dan aspirasi kaum muda. Kaum tua sangat berhasrat memaksakan keinginannya kepada kaum muda, sesuai dengan idealisasi mereka sendiri, sehingga yang muncul adalah kooptasi kaum tua terhadap kaum muda (Ahsan, 2011).

Dalam sebuah masyarakat yang didominasi oleh tatanan lama yang kolot dan mapan, anak-anak muda biasanya muncul untuk mendobrak tatanan ini dengan ide-ide baru yang mereka peroleh. Di sinilah muncul jurang generasi: ketegangan antara orang tua yang menjadi simbol tatanan lama dengan anak muda yang mengusung ide-ide baru. Di Indonesia, sejarah terbentuknya jurang generasi seperti itu bisa ditarik sejak awal abad ke-20. Saat itu, anak-anak muda yang mengenyam pendidikan Barat–buah dari permberlakuan “Politik Etis” Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda–muncul dengan pelbagai gagasan, seperti kemerdekaan, nasionalisme, modernitas, dan sebagainya. Mereka mengkritik konservativisme golongan tua, yang tidak lain adalah orang tua mereka sendiri, yang menjadi alat birokrasi kolonial dan sebagian besar tidak pernah mendapatkan pendidikan modern ala Barat. Kaum muda ini menilai kau tua terlalu kolot dan hidup dalam kemapanan yang menghayutkan. Hal ihwal ini juga memunculkan kelompok elite baru dalam masyarakat Indonesia: mereka yang memperoleh kedudukan dalam masyarakat lewat pendidikan modern dan bukan melalui garis keturunan. Sejak itu, pola pertentangan antara kaum muda dan kaum tua selalu muncul dan terus berlanjut dalam sejarah politik Indonesia modern.

Baca juga:  Biola Berdawai

Aria Wiratma Yudhistira misalnya, dalam karyanya Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an, memaparkan bahwa pada masa awal konsolidasi kekuasaan Orde Baru, pemerintah hendak “membentuk” anak-anak muda Indonesia. Saat itu, rezim Orba mengeluarkan sebuah kebijakan “aneh” yang melarang anggota masyarakat, terutama anak-anak muda, untuk menggondrongkan (memanjangkan) rambut. Melalui lembaga Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), pemerintah memerangi anak muda berambut gondrong lewat serangkaian operasi besar-besaran berskala nasional (Yudhistira, 2010).

Menurut penguasa, rambut gondrong adalah simbol selera kebarat-baratan yang tidak cocok dengan gaya hidup  dan “adat” ketimuran. Penilaian demikian segera menyulut kontroversi di kalangan anak muda. Pemerintah dianggap terlalu mencampuri wilayah pribadi masyarakat dan menunjukkan bahwa Orba mulai paranoid terhadap rakyatnya sendiri. Ini merupakan gejala awal yang yang menjadi titi mangsa watak otoriterianisme Orba.

Kasus ini menunjukkan bagaimana kecemasan orang tua saat itu terhadap perilaku anak muda yang dinilai telah melanggar dan melampaui “batas-batas” budaya ketimuran. Bagi orang tua, sikap seperti itu bisa membuat anak muda semakin apatis terhadap proses pembangunan bangsa yang saat itu tengah digencarkan pemerintah Orba. Lebih jauh dari itu, menurut para orang tua, semangat kebangsaan mereka perlahan namun pasti akan luntur. Kegalauan demikian, sebagaimana ditunjukkan Aria, sebenarnya merefleksikan dari ungkapan “buruk rupa cermin dibelah”. Apa yang dikhawatirkan oleh orang tua sesungguhnya mewakili “wajah buruk” mereka sendiri: wajah bopeng dan tua yang tengah dirongrong sejumlah kemerosotan.

Di sisi lain, reaksi dan kecemasan orang tua ini dinilai berlebihan. Anak-anak muda meyakini bahwa apa yang dilakukan masih dalam batas kewajaran. Masalahnya, bukan lagi pada soal apakah para pemuda “melanggar” budaya ketimuran atau tidak, melainkan sejauh mana orang tua bisa memafhumi perilaku anak-anak muda dalam konteks zaman yang sudah berubah. Orang tua sebenarnya didera oleh kecemasan yang mereka ciptakan sendiri.

Baca juga:  Sukarno dan Revolusi yang Tak Rampung

Pemerintahan Suharto juga tak pernah berhenti “mengideologisasi” anak muda sesuai dengan selera kekuasaan. Potongan kalimat (baca: nasihat) “pemuda harapan bangsa” yang digembar-gemborkan rezim tiranik itu adalah salah satu contoh bagaimana anak (muda) diidealisasikan dan diberi tugas maha berat sebagai generasi penerus perjuangan bangsa. Karena itu, anak-anak muda harus dikontrol dan dibina, agar tidak melenceng dari apa yang dikehendaki orang tua.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Menurut para orang tua, anak-anak muda masa itu perlu meneladani generasi muda sebelumnya–biasanya yang dirujuk Angkatan 1945–yang tiada lain adalah generasi mereka sendiri. Generasi 45 diidealisasikan sebagai generasi pejuang nan patriotik tanpa pamrih dengan semangat 45 sebagai suluhnya. Romantisasi semacam itulah yang hendak mereka terapkan untuk anak-anak muda masa Orba. Generasi muda diharapkan bisa melanjutkan estafet generasi sebelumnya yang berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan mengisi pembangunan bangsa di alam kemerdekaan (Yudhistira, 2010).

Fenomena ini setidaknya telah mencerminkan satu hal: konsep politik “pemuda” sekarang ini udah bergeser menjadi sekadar generation gap, bukan lagi soal intelektualitas dan semangat. Masalah ini menyisakan problematika tersendiri bagi anak-anak muda. Bukankah ada jarak waktu antara generasi tua dan generasi muda? Generasi muda punya cara sendiri untuk menghadapi zaman yang tentu saja sangat berbeda dengan zaman generasi tua. Orang tua mungkin lupa, bahwa selalu ada zeitgeist (jiwa zaman) yang membentuk karakter setiap generasi.

ARKIAN, “Apa arti menjadi anak muda?” kata kuncinya adalah “perubahan” dan “eksperimen”. Masa muda adalah ketika semua yang diserap terasa baru. Tak jarang mereka menemukan ruang di sekelilingnya berjalan di tempat atau kalaupun bergerak, kecepatannya tidak dapat mengikuti irama perubahan yang begitu dinamis di kepala mereka. Mereka pun melakukan sejumlah eksperimen untuk mengubah ruang atau setidaknya menandai tempatnya di dalam ruang. Pertanyaan yang “genit” misal, apa arti menjadi anak muda revolusioner dan progresif yang berhadapan dengan (dan juga) berpartisipasi dalam sebuah transformasi virtual, seperti misalnya, fenomena Korea-Pop (K-Pop) kekinian?

sumpahpemuda - Sumpah “Galau” Pemuda

Sumpah Pemuda

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi