Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang hidup, banalitas, dan spiritualitas

Abote kaya nyangga telese udan. Paite kaya nyangga lakune jaman. Cirebon, 2017

Untuk apa hidup jika hanya menunggu mati. Untuk apa berkarya jika hanya menghasilkan uang. Apa yang belum aku miliki di hamparan dunia megah ini? Uang? Nama? Popularitas? Pemujaan? Seks? Keluarga? semua sudah aku peroleh. hanya saja semua itu tidak membuatku menjadi tenang.

Aku menanggung luka yang jauh lebih dari yang bisa disebutkan. Aku memangku banyak kepedihan kepedihan hidup yang aku sendiri aku tak sanggup menjelaskan. Di mana dalam kebergelimangan semua hal itu, hatiku mengalami kehampaan yang aku sendiri sulit menjelaskan. Aku seakan menerima kebutaan dalam pengertian yang aku sulit mengungkapkan.

Di negeriku, siapa yang tidak berkata bahwa aku ini seksi, dan indah. Kepopularitasan namaku bahkan melampaui hingga negeri negeri asing. Hanya saja semua itu tidak bisa membuatku menjadi tenang.

Gelisah bahkan terus melandaku, siang pagi, sore dan petang. Aku seakan terserap sesuatu yang selalu membutuhkan pemuasan pemuasan yang jauh lebih laknat ketimbang sebelumnya.

Aku telah berusaha berobat di banyak negara dan banyak negeri. Hanya saja hasilnya tetap sama. bahwa aku melihat banyak pertanda yang semakin hari justru semakin membuatku bingung. Tentang apa sebenarnya yang tengah aku alami.

Entah kemana aku harus pergi mencari kesembuhan atas hidup sakit yang aku alami. Entah kemana aku harus pergi mencari kesembuhan atas hidup sakit yang aku alami.

Apa yang orang sebut kebenaran kemudian terasa menyakitkan bagi jiwaku. Serasa betapa sangat aku akui, bahwa tak ada satu pun yang mengetahui derita yang aku tanggung dan aku alami selain Tuhan semata. Meski aku sendiri tak mengerti mengapa ia sampai sejauh ini tak juga menemukan kesembuhan.

Apa yang disebut sebagai agama bagiku tak bisa memberikan apapun selain perasaan perasaan bahwa betapa nyata aku tenggelam dalam hidup yang sama sekali berbeda dengan manusia mana pun.

Kemunafikan kemunafikan terus aku lewati demi menjaga derita lara yang aku alami dalam ruangku sebagai sosok pujaan di negeriku.

Aku tidak ingin terlihat lemah di mata siapapun. termasuk suamiku, atau pun para pemujaku. Aku bisa jadi munafik sejati. Yang di satu sisi membela normativitas seksual. Sementara di sisi yang lain, aku justru memperturutkan hawa nafsu sebebas bebasnya, dengan bercinta dengan siapa pun yang aku inginkan.

Baca juga:  Sukiman Mati, Senin Pagi

pemisah 300x21 - Surat dari Kanada

Siapa di negeriku yang akan menolak tidur dengan diriku, sedang mereka memuja uang dan kenikmatan tubuh. Sebuah pola hidup yang secara otomatis akan terus menerus membutuhkan pemenuhan pemenuhan sahwat yang semakin besar, termasuk ongkos ongkos desperadonya.

Aku jelas bukan manusia normal sebagaimana imaji tiap bocah di tiap negeri. Aku bisa jadi telah menjadi perempuan laknat yang mengandung banyak racun juga petaka mematikan.

pemisah 300x21 - Surat dari Kanada

Aku tak memiliki harapan lagi. Untuk kemudian bisa jauh lebih bisa bernafas selain pasrah dengan seorang lelaki asia yang aku sendiri tidak begitu mengenalnya.

Ia lelaki sendirian. Sederhana dan tidak memiliki mimpi apapun selain melayani siapapun yang mencari Tuhan.

Ia tidak terikat dengan materi sebagaimana lelaki di jamannya. Ia tidak terikat dengan nama dan penghormatan sebagai manusia pada umumnya.

Ia teramat sederhana bahkan jauh lebih sederhana ketimbang sehelai daun kering. Padanya aku menemukan kesembuhan. Meski rindu ini kemudian menyembul dalam pada perasaan perasaan tak menentu tentang untuk apa sebenarnya hidup ini diadakan?

Sesuatu yang aku sendiri serasa ingin menangis dan menghamburkan pelukanku padanya. Ialah yang dimataku pilihan Tuhan.

Aku, lewat pandangan matanya, melihat semua kekeliruan eropa dan kehancuran asia. Itu bisa jadi hal teraneh dari seluruh pengalamanku. Bahwa bagaimana bisa terdapat satu manusia yang sanggup menghentikan dengan cara yang sepenuhnya sangat sederhana. bahkan sama sekali tak bergeming dari posisinya.

“Kau mengenalku?” Ucapnya padaku dengan tubuh tanpa memberiku tatapan sama sekali.

Aku tahu. Kau tidak sedang bertanya. Meski aku tak mungkin sanggup menjawab, bahkan pertanyaanmu yang paling sederhana. Oh wahai, yang semua tanda kulihat meliputinya.

Apakah aku berdosa jika aku berharap lewat dirimu, aku bisa mengenal kebenaran hidup, dan mengerti apa itu yang dikisahkan sebagai kebaikan.

Beberapa kisah mungkin akan terdengar menggelikan. Manakala kukatakan pada semua lelaki eropa, bahwa aku jatuh hati pada asia, dalam pengertian yang aku sendiri tak mengerti arti dan definisinya.

Baca juga:  Jomblo Fundamentalis

Itu bukan cinta yang bisa dimengerti oleh kisah dan imaji imaji. Itu juga bukan cinta yang biasa dikisahkan oleh buku buku dan film. hanya saja aku tak mungkin sanggup memiliki kata untuk mengungkapkannya.

Penguasaan diriku atas nalar dan rasionalitas juga sentimentilitas dalam mana psikologis, telah membuatku menjadi mahluk robot di sisi lain, dan mahluk tanpa kasih di sisi yang lain.

Selain gerak adrenalin. Juga libido berikut pertimbangan pertimbangan nalar matematis akan semua itu, tak ada lagi yang mengendalikan diriku. Meski jujur dalam pengertian yang lumrah, aku bosan dengan semua yang telah aku miliki.

Bagi mereka harta itu bisa jadi impian. Untuk agar ia bisa menjadi terhormat. Bagi mereka popularitas bisa jadi impian untuk agar ia bisa menjadi terhormat dan dipuja puja. Bagi mereka seks. Bisa jadi surga untuk agar mereka bisa menjadi berharga. Atau terlihat normal.

Hanya saja bagiku. Semua itu tak lagi memiliki makna yang sama. aku justru mengenalnya sebagai sesuatu hal yang menggelikan sekaligus mengerikan.

Spiritualitas bagiku adalah dusta. Ia tidak lebih dari uang yang banyak. Minuman, buah, daging dan seks. Sele bihnya hanyalah omong kosong tentang pemujaan pemujaan atas diri sebagai ‘yang’ menyedihkan. Kata lain adalah Mengenaskan.

Apa yang orang konsepsikan sebagai loyality atau kesetiaan adalah dusta belaka. Tak ada yang disebut kesetiaan.

Di negeriku. Siapa yang tidak mencintai daging, buah, uang, minuman dan perempuan. Di negeriku, siapa yang tidak suka terlihat gagah dan terlihat berkuasa. Di negeriku siapa yang tidak suka terlihat sebagai tuhan dan terlihat tidak akan pernah kalah?

Beberapa kasus mungkin bisa jadi menunjuk tekad dan tekanan yang berbeda. Akan tetapi semua itu tidak kemudian menghilangkan betapa dustanya sesuatu yang disebut orang sebagai “kesetiaan”.

Ini membawaku pada perasaan perasaan dingin. Juga agresi agresi aneh akan kuatnya hasrat dan rasa milikku atas minuman minuman alkohol. Uang yang berlimpah. Daging yang segar. Pakaian yang bagus. Dan seks yang bersifat skandal.

Baca juga:  Membaca Etnografi

aku terkadang iri dengan kebanyakan asia, yang secara fakta, mengalami gejala gejala ketergantungan akan hebatnya rasa lapar dan hebatnya rasa cemas, tidak kebagian makanan.

Tentang bagaimana kisah kisah seorang manusia yang terlunta lunta sebab kehilangan keluarga, lalu terdampar dalam suatu ketidakpastian nasib, antara mimpi untuk terus menjadi dirinya, dan menjadi miliknya. Dan kenyataan, bahwa secara sosial dan biologis, ia butuh penyesuaian penyesuaian, yang itu berarti, ia mesti mengadaikan sebagian diri yang ia miliki, untuk kemudian menjadi milik keterdesakan, dan milik sesuatu yang disebut sebagai pandangan umum.

Ini Sebuah kegilaan maniak yang mengerikan. Begitu pikirku. Dan aku tidak memiliki pemahaman apapun atas situasi situasi tersebut selain hanya melihat dan terus memandangnya dengan tanpa pernah meratapinya sama sekali.

Dunia ini. Juga hidup ini. Jelas akan runtuh dan hancur sepenuhnya. Hanya saja sebelum hari itu tiba, aku berharap terus bisa duduk sebagai ratu yang menguasai semuanya dengan tanpa pernah terlihat lemah dan terlihat memiliki kekalahan sama sekali.

Dalam histeria analisis. Aku seakan kemudian membuat penyederhanaan penyederhanaan tentang apa yang terjadi sesungguhnya berkisah soal seks. Yakni soal lubang vagina di satu sisi, dan penis di sisi yang lain. Selebihnya adalah seberapa banyak asupan daging yang kau makan, seberapa banyak uang yang ada di almari.

Dan lebih dari itu. itu semua, tidak lebih hanya soal bumbu dramatis. Agar sebuah ciuman dan pelukan berlangsung dengan semangat yang selalu meledak dan liar.

Ditransliterasikan dengan sistem gramatikal oleh Teguh Wangsa dari pengakuan jujur seorang artis Amerika.

Itu bisa berupa piringan hitam, dan kotak gramaphon, bisa pula sebuah buku, kudapan kudapan. Dan yang pasti. Seperti sebuah motor, alkohol selalu menjadi pemantik utama. Untuk agar semua hasrat tersebut bisa diraih dengan kerakusan kerakusan yang tak ada puasnya.

Dalam bahasa puitik. Seorang pemabuk kerap menggambarkan semua itu, dengan sebuah ungkapan. Bahwa “aku” katanya, “ingin bercinta denganmu dengan tanpa ada hentinya. Sungguh pun kemudian kusaksikan semua pohon tumbang dan mobil mobil bertabrakan.”[]

zuk1 - Surat dari Kanada

Debu di bawah telapak kaki para ahlul bait lebih mulia dari wujudku. Kunjungi kolek lukisan Zuk www.zuk.my.id

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi