Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Dunia Jawa Tumiran

Hari itu 2 September 2013, cuaca sedang panas di seluruh Indonesia. Konon bulan September ini adalah puncak-puncak kemarau. Menurut prediksi institusi berwenang, baru pertengahan Oktober nanti, hujan pertama, meski tidak merata, akan terjadi di Indonesia. Susunan Bata Kehidupan

Hari masih pagi sekali. Kira-kira baru setengah jam setelah jamaah sholat subuh keluar dari mushola. Beberapa jamaah terlihat langsung berolah raga pagi, tanpa pulang ke rumah mereka dulu. Ya, olahraga kecil. Sekedar lari-lari kecil, senam pelemasan otot dan jalan pagi. Ada juga ada yang berbincang ringan soal berita di televisi.

Dan hampir setiap hari, seperti itu, hari dimulai, di pagi hari, di sebuah kampung di pusat kota Ponorogo, Jawa Timur.

***

Tidak begitu jauh dari mushola itu, sepasang suami-istri, sehabis salat subuh berjamaah langsung bergegas pulang kerumah. Kopi, rokok, teh dan tiwul telah mereka persiapkan, sebelum menuaikan sholat berjamaah, langsung mereka santap.  Setelah menyelesaikan sebatang rokok, tiga sruputan kopi dan sedikit Tiwul, Tumiran dan Sugiyah segera beranjak menuju halaman rumah mereka. Adonan lumpur yang mereka siapkan, di malam hari telah menanti di cetak.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Tumiran dan Sugiyah adalah sejoli yang menggantungkan hidupnya dari membuat bata merah. Musim kemarau seperti saat ini adalah berkah bagi mereka. Mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk itu. Dari setiap adonan lumpur sawah yang mereka beli Rp. 80.000,-, mereka bisa menghasilkan 400 biji batubata merah mentah. Oleh para tengkulak, per seribu biji bata merah jadi, akan dibeli ditempat sebesar Rp. 500.000,-. Menurut mereka, batubata lebih baik dibeli tengkulak daripada mereka pasarkan sendiri. Para tengkulak ini biasa langsung mengambil ditempat, dan Tumiran tidak perlu capek mengangkut batubata merah tersebut ke truk.

Baca juga:  Cantik dalam Serat

Dalam sehari, jikalau Tumiran dibantu penuh oleh sang istri, maka akan berhasil mencetak hingga 800 – 1000 biji. Namun berdasar matematika ekonomi, mereka hanya menjual 10.000 biji per tiga bulan. Hal itu disebabkan rumitnya proses pra dan pasca cetak batubata merah. Dibutuhkan waktu jeda lama untuk menghasilkan kualitas batubata merah yang baik. Dalam hitungan mereka, membakar batubata mentah  sebanyak 1000 biji atau 10.000 biji memerlukan biaya sama besarnya. Jadi batubata mentah yang sudah kering sempurna, akan segera ditata ditempat pembakaran, hingga jumlahnya mencapai 10.000 biji.

Pengorbanan Tumiran dan Sugiyah untuk bekerja sedari pagi ini, akan segera terbayar dalam waktu tidak jauh. Karena pada musim kemarau ini, mereka bisa cepat sekali menghasilkan batubata merah berkualitas dalam jumlah banyak. Panas matahari di puncak kemarau, mempercepat siklus mereka dalam produksi bata. Pun ketika harus membakar, tidak diperlukan waktu banyak karena batubata mentah telah kering sempurna di bawah sinar matahari.

Pekerjaan membuat batubata merah bukanlah pekerjaan yang menjadikan mereka kaya. Bagi mereka, pekerjaan ini cukup saja memberi hidup. Toh, mereka di rumah itu mereka hanya hidup berdua saja. Dua orang anak mereka telah berpisah lama dengan mereka. Seorang anak mereka, laki-laki 60 tahun, telah puluhan tahun tinggal di Tanjungkarang, Propinsi Lampung. Sedang, seorang lagi perempuan 55 tahun, tinggal kampung sebelah, tidak jauh dari tempat tinggal mereka sekarang.

Rumah Tumiran dan istri tidak terlalu jauh dari makam Bathara Katong, putra Prabu Brawijaya dari Majapahit sekaligus, bupati pertama Ponorogo. Untuk mencapai rumah mereka dari komplek makam, hanya tinggal lurus pada perempatan pertama, lalu masuk ke kiri. Rumah Tumiran, adalah rumah kedua di sebelah kanan. Tepatnya rumah yang memiliki halaman luas, penuh dengan tumpukan batubata merah dan tanah liat sawah.

Baca juga:  Kepada Facebook Kita Mengadu

Rumah besar, namun sudah tidak begitu kokoh, itu merupakan warisan dari orangtua sang istri, Sugiyah. Dari empat bersaudara Sugiyah, masing-masing mendapat bagian warisan rumah dari orangtua mereka. Letak rumah joglo bertembok milik mereka ini, tidak jauh satu sama lain. Dua rumah berdiri berdampingan dan dua rumah lagi terletak di seberang jalan. Rumah-rumah itu kini terkesan kumuh, nampak kusam, terkesan lama sekali tidak mendapat perawatan. Mungkin dari pekerjaannya membuat batu bata merah, yang dilakoni Tumiran sejak tahun 1977, penghasilan Tumiran hanya cukup untuk makan mereka berdua. Tiada sisa uang untuk menabung, apalagi memperbaiki rumah.

***

Di usianya yang mencapai 82 tahun, Tumiran tetap bekerja giat. Meski dia mengakui bahwa, sudah tidak segesit dulu lagi. Tapi ia senang sekali menjalankan pekerjaannya. Baginya bekerja sebagai pembuat batubata merah disela-sela aktivitas bertani adalah olahraga yang menyehatkan sekaligus mendatangkan rejeki. Dia tidak pernah mengeluh soal pekerjaannya yang butuh otot dan ketelatenan itu. Bagi Tumiran, tumpukan batubata merah yang menjulang, adalah juga tumpukan harapan keluarganya. Tidak boleh dia menyerah pada kesulitan.

Pengalaman hidup susah sebagai yatim piatu sejak kecil menjadi bekal ketegaran Tumiran saat ini. Dia ingat betul, betapa seringnya dia berpindah-pindah orangtua asuh. Dan pada orangtua asuh terakhir, yaitu saudara laki-laki almarhum bapaknya, dia berhasil meniti ilmu kehidupan hingga akhirnya dewasa dan menikah. Dia ingat, perkawinannya dengan Sugiyah adalah hasil perjodohan antar orangtua asuhnya dengan bapak Sugiyah. Dimata orangtua asuh, Tumiran kecil adalah seorang giat bekerja dan pintar mengembalakan lembu.

Baca juga:  Setio dan Petuah Ki Banar

Dari rumah warisan orangtua sang istri, tumpuan hidup masadepan Tumiran dirajut lewat doa. Baginya doa dan sholat adalah kekuatan dasyat satu-satunya yang bisa menjamin masadepan bahagia di akhirat dan mungkin di dunia. Senyumnya akan terkembang dan kemudian tertawa lepas, ketika di rumahnya yang rapuh itu kedatangan para cucu dan cicitnya.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Ia bersyukur, salahsatu anaknya masih tinggal tidak jauh dari kampungnya. Terlebih anak itu adalah anak perempuan, biasanya, anak perempuan ketika menikah lebih dekat ke orangtuanya daripada ke mertua atau suami. Berbeda sekali dengan anak laki-laki, yang kadang hanya seperlunya pulang dan nge-bel dirinya lewat iparnya. Satu kekecewaannya adalah, anaknya terpaksa berhenti Sekolah Pendidikan Guru (SPG), tanpa dia ketahui jelas sebabnya. Jika dia berhasil lulus SPG, mungkin hari ini akan menjadi guru dan nasibnya akan lebih baik dari dirinya.

Bagi Tumiran, hari-harinya lebih baik pada masa pemerintahan sekarang ini. Jauh berbeda dibanding pada masa Sukarno dan Soeharto. Pada masa ini segalanya sudah tersedia. Bantuan-bantuan dari pemerintah sering mereka terima. Dirinya dan keluarganya pun tidak begitu sengsara untuk sekedar makan.

Dia tidak membayangkan, jika masih hidup di jaman Jepang yang harus pakai kain goni, makan  menir katul dan jaman Soekarno yang terus dalam keributan politik itu. Mengalir mengikuti air sembari terus bersyukur, dipercaya Tumiran sebagai jurus ampuh untuk memperpanjang umur dan menyehatkan pikiran.[]jamu - Susunan Bata Kehidupan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi